
Pukul 8 malam mobil Riyan memasuki rumah kediaman Mahendra. Mami Vita meminta mereka pulang ke sana dengan alasan agar Misha tidak dibawa pergi oleh Riyan dengan berbagai alasan.
Mami Vita tidak ingin Misha kecepekan karena besok misha kekeh untuk masuk kerja. Dia karyawan tentu saja Misha tidak enak dengan karyawan yang lain.
Saat keluar dari mobil, tubuh Misha sungguh pegal semua. Ia tidak bisa tidur diperjalanan tadi, dia memilih menemani Riyan mengobrol atau apapun itu agar tidak bosan.
"Kalian kenapa baru sampai. . Yang lain sampai 30 menit yang lalu". Ucap mami Vita dengan wajah mengintrogasi saat Misha dan Riyan baru masuk rumah.
"Tadi ada beberapa kali mampir dijalan makanya telat". Jawab Riyan duduk di sopa.
"Mau ngapain??".
"Tadi itu Misha -".
Bruk , ,
Dengan secepatnya misha menutup mulut Riyan agar tidak ember. Dia malu jika semuanya di ceritakan kepada semua orang disana.
Saking cepatnya tubuh Misha mendarat diatas tubuh Riyan. Hal itu membuat semua orang kaget, sedangkan Riyan memegang pinggang Misha agar tidak jatuh.
"Sha kamu kenapa??". Tanya Angga heran. Tidak pernah Misha berprilaku seperti itu apalagi mau berdempetan dengan Riyan seperti itu.
Palingan hanya sekedar bersandar di bahu. Saat Riyan memeluknya juga hanya sekilas tidak akan mau lama. Digendong juga jika itu keadaan mepet.
"Aku baik baik aja kok,, tadi kami mampir untuk beli cemilan aja karena Misha lapar". Ucap misha dengan cepat. Lalu menatap Riyan dengan tatapan tajam.
Setelah Riyan bisa bersahabat dengannya barulah Misha bangkit dan melepaskan tangan nya dari mulut Riyan. Dia tahu apa yang dilakukannya tidak benar apalagi dihadapan orang tua Riyan.
Tapi gimana lagi, awalnya misha ingin duduk di samping Riyan dengan menutup mulutnya. Karena panik jadi gak sengaja menubruk tubuh Riyan.
"Ya udah kalian bersih bersih dulu sana. Nanti kita makan malam bersama". Titah mami Vita kepada umat yang berbeda kelamin.
"Oke mi". Ucap misha ceria memberi hormat kepada mami Vita.
"Ckck tadi aja nangis". Ledek Riyan mengelus kepala Misha sampai rambutnya berantakan.
"Riyan, , ". Rengek Misha menatap Riyan yang membawa dua koper menaiki tangga.
Misha dengan cepat menyusul Riyan yang pergi duluan. Sedangkan yang lain tertawa dengan kelakuan Misha yang seperti itu. Sekian dekat Misha dengan keluarga Mahendra membuat sifat asli Misha keluar.
Dengan itu semua orang merasa misha sudah nyaman dilingkungan nya saat ini. Dia begitu karena percaya kepada orang orang di sekitar dia.
Mami Vita sudah paham akan sikap dan sifat banyak orang yang dia temui. Dia bisa melihat nya dengan jelas mereka seperti apa. Apalagi mami Vita juga memang tidak mudah untuk percaya kepada orang yang baru dikenal.
******
30 menit Misha akan turun kebawah dengan celana piyama dan atasan sweater. Sedangkan rambutnya digulung asal.
"Sha panggil Riyan sekalian". Teriak mami Vita dari lantai bawah.
Misha membelokan langkah nya menuju kamar Riyan. Setalah mengetuk pintu terdengar suara dari dalam menyuruhnya masuk.
"Mami minta kamu turun". Misha hanya memasukan kepalanya dengan menatap Riyan yang duduk memainkan ponsel di atas tempat tidur hanya menggunakan kimono handuk.
"Nanti aku kebawah."
Mendapat jawaban dari Riyan membuat misha turun terlebih dahulu. Mungkin Riyan akan memakai pakaian terlebih dahulu. Gak mungkin kan Misha ada disana.
"Gimana sha??". Tanya mami Vita saat misha sudah sampai di meja makan.
"Sebentar lagi turun mi".
Mereka makan malam bersama setelah Riyan turun menggunakan kaos oblong dan celana training.
Makanan itu dipesan dari luar karena mereka baru sampai dan tidak mungkin mami Vita mau masak dengan cepat apalagi mereka sangat kelelahan.
Selesai makan para wanita membereskan meja makan sedangkan para cowok berkumpul di ruang keluarga dengan kegiatan masing masing.
Mereka tidak diizinkan kembali ke kamar masing masing setelah makan. Takutnya mereka akan langsung tidur.
Di dapur Misha mencuci piring sambil berbincang bincang dengan mami Vita membicarakan apapun itu. Yang penting bukan tentang pekerjaan.
"Oh ya sha paspor sama visa kamu udah jadi??". Tanya mami Vita.
"Misha gak tahu mi, Riyan yang ngurus semuanya". Ucap misha apa adanya.
"Kirain udah,, mami mau ajak kamu lusa ke Korea untuk nemenin mami dinas kerja sekalian liburan".
"Mami Misha kan kerja jangan ajak Misha pergi di jam kerja ya, mami tahu misha gak enak buat nolak dan jika berangkat misha gak enak sama karyawan yang lain". Ujar Misha dengan hati hati.
"Itu kan perusahaan Riyan kamu gak usah khawatir".
"Tapi kan Misha disana kerja mi bukan main, banyak pekerjaan yang harus Misha kerjakan".
"Ya udah maafin mami sayang. Mami paham mami gak akan sembarangan ajak kamu pergi di jam kerja, maafin mami ya". Mami Vita memeluk Misha dengan sayang dia merasa bersalah apalagi melihat keseriusan di wajah Misha saat ini.
"Mami gak marah kan??". Tanya misha takut.
__ADS_1
"Nggak sayang".
Setelah pekerjaan dapur selesai barulah meraka semua masuk ke dalam kamar masing masing untuk istirahat.
*******
Seperti biasa alarm berbunyi di ponsel misha dengan menunjukan pukul 5 pagi. Sebelum mandi, dia mengambil wudhu untuk menunaikan ibadah shalat subuh.
Tidak mungkin misha mandi terlebih dahulu karena pasti akan kesiangan saat mengerjakan sembahyang nya nanti.
Setelah mandi dan lalu memakai pakaian kantor. Kemeja biru muda dan celana bahan membentuk tubuhnya yang cantik. Pakaian itu disiapkan Riyan begitu banyak di dalam lemari.
Misha membiarkan rambutnya terurai dengan sedikit menatanya menggunakan catok rambut. Semua barang untuk wanita membaur dikamar Riyan yang selalu Misha pakai saat berada di kediaman Mahendra.
Sebelum turun, Misha selalu menyiapkan pakaian kantor di atas tempat tidur. Riyan akan masuk ke dalam kamar untuk mengambil pakaiannya. Di kamar yang dia tempati tidak ada pakaian untuknya, dia menempati kamar itu hanya untuk tidur saja.
Misha membuat sarapan berdua bersama mami Vita. Hanya sandwich yang akan mereka buat. Tak lupa juga susu menemani pagi mereka.
Hanya Misha yang meminum susu coklat, sedangkan yang lain minum susu putih. Mami Vita memasukannya ke dalam daftar belanja nya khusus untuk misha, calon mantu kesayangannya.
........
Mereka berangkat dengan mobil terpisah sepeti biasanya. Tapi tidak untuk Riyan dan Misha. Mereka berdua sudah di perjalanan menuju kantor untuk bekerja.
Pakaian kali ini sangat serasi dengan warna biru. Padahal misha menyiapkannya dengan asal.
Tentu saja sesampainya di perusahaan, Misha menjadi pusat perhatian karena turun dari mobil Presdir mereka. Apalagi dengan pakaian yang sangat serasih.
Pagi ini Misha sudah menjadi topik pembicaraan di kantor.
("Hufh, , salah lagi gue". Batin misha merutuki kebodohannya saat menyiapkan pakaian yang senada dengan Riyan. )
Lift terbuka di lantai 10 tempat dimana ruangannya berada. Pertama masuk, Misha mendapati beberapa dokumen menumpuk di atas meja.
Semua dokumen itu bagian dari pekerjaannya di bidang administrasi. Dia langsung membalik telapak itu mengerjakan dokumen yang paling bawah dulu.
Dokumen yang paling bawah pasti akan digunakan dalam jangka dekat. Misha selaku berkerja dengan konsisten dan teratur.
Kring , , kring, , kring, ,
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu???". Ucap Misha dengan sopan.
"Nona Misha beberapa karyawan ingin meminta surat izin pemeriksaan tahunan.. karyawan ini yang tidak bisa ikut pemeriksaan beberapa hari yang lalu karena ada urusan penting". Seru seseorang dari sebrang telpon.
"Suruh mereka masuk ke ruangan saya".
"Baik nona,, terimakasih".
Tok tok tok. .
"Masuk".
Melihat beberapa orang yang masuk mambuat Misha mengerutkan kening. Dia pikir yang akan membuat surat izin hanya 2-3 orang, ternyata ada 10 orang.
"Kalian duduk dan tunggu sebentar".
Misha kembali menghubungi staf yang menelpon tadi.
["Hello mba ada yang bisa dibantu??". Ucap seseorang dari sebrang telpon. ]
"Mba apa ada lagi yang ingin meminta surat izin bar sekalian saya buatkan".
["Tidak nona, hanya ada 10 orang yang belum". ]
"Baiklah terimakasih".
Misha mengambil kertas dan pulpen untuk mencatat nama mereka.
"Kalian catat nama dan id kalian dengan lengkap". Ucap Misha menyerahkan kertas pada salah satu karyawan.
"Catat juga hari apa kalian akan meminta izin untuk pemeriksaan, karena jika kalian pergi sekaligus, Presdir tidak akan mengizinkannya. Kalian bagi 2". Pinta Misha.
Saat sedang berbicara dengan mereka, tiba tiba beberapa pesan masuk di ponsel Misha.
✉️ Riyan
|Ngapain mereka semua disana???
|Sayang jangan terlalu dekat sama mereka.
|Aku tahu loh dari sini
|P
|P
|P
__ADS_1
|P
|Sayang
....
Banyaknya pesan beruntun dari Riyan membuat dia menatap ke arah cctv di ruangannya. Dia tahu sekarang kekasihnya itu sedang mengawasinya dari sana.
^^^Misha ✉️^^^
^^^Jangan awasi aku seperti itu aku sedang bekerja^^^
Setelah membalas pesan Riyan. Dia menonaktifkan notifikasi pesan agar tidak diganggu Riyan.
"Nanti kalau sudah saya hubungi staf dibawah". Ucap Misha saat catatan itu selesai.
"Baik nona kalau begitu kami permisi". Pamit salah satu dari mereka.
Misha hanya mengangguk lalu berjalan ke kursi singgasananya kembali bekerja setelah mereka semua pergi.
Karena surat ini akan digunakan besok jadi misha mendahulukannya terlebih dahulu toh surat itu juga dikerjakan hanya beberapa menit saja. Yang paling lama dia harus meminta tanda tangan kepada Presdir langsung.
Untuk HRD atau staf yang lain mungkin akan cepat tapi yang satu itu. Riyan pasti akan menahannya di ruangannya nanti.
....
Jam sudah menunjukan pukul 10, surat izin yang dibuat Misha sudah selesai tinggal tanda tangan Riyan saja yang belum.
Misha membawa dokumen itu ke lantai dimana ruangan Riyan berada. Tentu saja dia disambut dengan sopan oleh sekretaris Riyan.
Tok
Tok
Tok
"Masuk".
Misha masuk perlahan, lalu iya melihat Riyan yang fokus bekerja tanpa menoleh kepada orang yang baru saja masuk.
"Ada apa??". Tanya Riyan dengan nada tegas tanpa menatap orang didepannya.
"Saya mau meminta tanda tangan Presdir". Ucap Misha sopan.
Mendengar suara kekasihnya membuat Riyan menatap ke arah suara lalu dibalas dengan senyuman memperlihatkan gigi putih menawan.
Dia sungguh geli mengucapkan kata kata itu di depan Riyan. Ini pertama kalinya Misha mengucapkan kata ' Presdir '.
"Sayang, , ".
Riyan langsung bangun dari tempat duduknya memeluk kekasihnya dengan erat.
Tentu saja membuat Misha tersentak ke belakang akibat pelukan yang mendadak itu.
"Riyan ih lepasin". Keluh Misha berusaha menjauhkan Riyan.
Riyan bersandar di meja menatap wajah Misha dengan intens. "ada apa sayang, kamu kangen sama aku sampai datang ke ruangan aku". Ucap Riyan percaya diri.
"Ck aku cuma mau minta tanda tangan kamu". Seru Misha menyerahkan dokumen yang dia bawa.
Riyan mengambil dokumen itu lalu melegakannya begitu saja di atas meja. Misha mengerutkan kening, dia sudah bisa menebak sebelumnya akan seperti ini.
Bukannya menandatangani dokumen malah Riyan merentangkan kedua tangannya meminta dipeluk.
"Tanda tangan dulu".
Tanpa menjawab Riyan langsung menandatangani semua dokumen tanpa membaca terlebih dahulu dengan secepat kilat.
Misha memeluk Riyan dengan erat setelah tanda tangan selesai. Jika tidak dokumen itu gak akan kembali ke tangan Misha saat itu juga.
"Kamu gak baca isinya apa??". Tanya misha.
"Gak usah".
"Kalau sisinya pengalihan perusahaan atas nama aku gimana??". Canda Misha.
"Tidak dengan cara itu juga kamu akan menjadi pemilik perusahaan ini sayang". Jawab Riyan.
"...". Misha mengerutkan kening.
"Sebentar lagi kan kamu jadi istri aku, , Awww~ aduh aduh sakit sayang". Ucap Riyan diakhiri dengan rintihan kesakitan akibat misha mencubit perut Riyan dengan keras.
"Bodo amat".
Misha ingin pergi tapi Riyan menarik tangan Misha sampai dia tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.
Bruk, ,
__ADS_1
...----------...
...HAPPY READING.,...