
Akibat tarikan yang tiba tiba dari Riyan membuat misha kaget dan tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya. Apalagi karena tenaga Riyan sangat kuat.
Kening Misha terbentur dada Riyan yang keras sampai kesakitan. "Aww~riyan sakit ih". Keluh misha mengelus keningnya yang sakit.
Keningnya saat ini sangat merah apalagi ditambah dengan misha yang terus menggosok kening untuk menghilangkan rasa sakit.
"Sayang jangan di gosok kening kamu tambah merah". Cegah Riyan menurunkan tangan Misha.
"Kamu sih narik aku gitu aja. Gak tahu apa kekuatan kamu itu gede". Omel misha cemberut berjalan ke arah lemari kaca untuk melihat keningnya yang sakit.
"Ya maaf kan aku hanya ingin kamu lebih lama disini". Elak Riyan terus menatap ke arah misha.
"Ini masih jam kerja, pekerjaan aku banyak,, lagian sebentar lagi juga makan siang kan bisa ketemu aku". Ucap Misha memberi tahu. Dia tidak pernah melarang Riyan untuk bertemu dengannya asalkan itu tidak di jam kerja dan mengganggu pekerjaan masing masing.
"Baiklah nanti kamu makan siang sama aku ya jangan nolak pokonya".
"Iya aku pergi dulu".
Tidak mendapat jawaban dari Riyan yang sedang cemberut menatap ke arah Misha terus sampai orangnya hilang dibalik pintu.
Siska yang melihat kekasih Presdir nya ingin berdiri memberi hormat. Tapi,
"Siska jangan macam macam kamu". Ucap Misha kepada Siska dengan ultimatum yang keluar.
"Iya nona maafkan saya". Siska hanya tersenyum dengan kelakuan dirinya yang selalu dilarang untuk memberi hormat.
Misha berjalan masuk ke dalam lift menuju lantai 2, dia akan langsung menyerahkan surat itu kepala divisi staf. Lalu pergi ke lantai bawah menuju kantin untuk membeli minuman sekalian saja mumpung Misha sedang keluar dari ruangan. Dia juga menunjukan uang di saku celananya yang sedang digunakan hari ini.
Beberapa staf yang lain juga ada yang membeli makanan ringan dan minuman di kantin. Riyan memang membiarkan karyawannya untuk membawa beberapa jenis makanan ke dalam ruangan masing masing tapi masih bisa di jaga. Ada makanan yang boleh atau tidak boleh di bawa ke ruangan tertempel di mading setiap ruangan.
Tentu saja peraturan itu berbeda beda di setiap divisi. Karena bagian pekerjaan nya juga berbeda tidak ada yang sama persis.
"Mba ice cappucino boba nya satu". Pesan Misha.
"Baik nona tunggu sebentar".
Gak sampai 10 menit minuman itu selesai. Lalu misha kembali ke ruangannya setelah membayar.
Banyak karyawan yang menyapa misha dengan sopan, walaupun dari kejauhan misha juga mendengar karyawan lain bergosip yang enggak enggak tentang dia.
("Emang gue budeg apa ya,, gini gini telinga gue tajam". Batin misha kesal. )
Banyak karyawan yang baik di depan tapi dibelakang membicarakan nya dengan karyawan lain.
Itulah alasan kenapa Misha tidak dekat dengan karyawan disana. Termasuk satu divisi dengan dia.
Mereka seperti orang yang bermuka dua. Hanya ingin dipandang baik di depan atasan.
Misha sih hanya cuek yang penting pekerjaannya tidak terganggu sama sekali. Masih bisa dimaklumi lah.
Saat masuk ke dalam ruangan, Misha dikagetkan dengan keberadaan Riyan diruangan itu. "Yan ada apa?? Kok kamu udah disini??". Tanya Misha berjalan ke arah singgasananya.
"Ajak kamu makan siang".
"Makan siang??". Ucap Misha kaget. Lalu melihat ke arah jam tangan yang melingkari. "Masih 1 jam lagi ke jam istirahat". Lanjut Misha menatap ke arah Riyan.
"Aku gak ada pekerjaan jadi bosan di ruangan terus makanya aku kesini". Seru Riyan enteng.
Seorang Presdir berkata gak ada kerjaan. Padahal saat misha masuk ke ruangannya banyak banget dokumen di atas meja Riyan. Ntah udah dikerjakan atau belum dia gak tahu.
Misha mengambil telpon kantor untuk mengubungi Angga dari sana. Nomer setiap bagian sudah ada di buku catatan yang ada di samping telpon. Dari lantai 1 - ke lantai 20 termasuk telpon di ruangan Riyan.
Pasti di setiap bagian pun ada buku catatan itu di samping telpon.
"Hello ga kamu dimana??". Tanya misha membuat Riyan kaget. Misha bisa melihat Riyan mendekat ke arahnya tapi dia cuekin begitu aja.
Misha memang jarang berbicara formal kepada Riyan dan Angga saat di kantor. Itu karena Misha kesal dengan kelakuan mereka yang memperlakukannya berbeda dengan karyawan lain.
"Di ruangan. Emang kenapa??". Suara Angga diseberang telpon sangat kebingungan.
"Apa Riyan gak ada kerjaan sekarang??".
"Ck masa iya seorang Presdir Rendra company gak ada kerjaan.. banyak lah sha ini juga sebagian gue yang ngerjain bagian dia. Emang ada apa sih??".
__ADS_1
"Riyan,. , ". Ucap Misha penuh penekanan.
"Riyan ada diruangan lo sekarang??". Tanya Angga kaget.
"Iya, udah dulu gue mau telpon mami". Maureen langsung menutup panggilan itu secara sepihak.
"Sayang ngapain telpon mami, aku ke ruangan sekarang juga tapi jangan telpon mami. Aku gak mau dikirim ke Amrik". Bujuk Riyan.
"....". Misha hanya diam dengan tatapan yang tajam. Dia gak mau menjadi alasan Riyan meninggalkan tanggung jawabnya sebagai Presdir.
"Aku pergi sekarang tapi nanti kita makan siang diluar ya,, kamu jangan marah".
"Gak ada makan siang diluar. Kamu makan siang di ruangan kamu jangan masuk ke ruangan aku sampai jam pulang". Ancam Misha penuh penekanan.
"Sayang , , ".
Melihat tatapan Misha yang kurang bersahabat membuat Riyan pergi meninggalkan ruangan misha.
Mimik wajah Riyan seketika berubah saat keluar dari ruangan itu. Bahkan semua karyawan menunduk dengan aura yang Presdir mereka yang dikeluarkan.
"Hufh, , bikin pusing aja". Gumam Misha memijit kepalanya yang sedikit pusing.
Bekerja di kantor yang sama dengan Riyan berasa sedang mengurusi bayi besar yang keras kepala. Pekerjaannya harus ekstra.
Misha menghubungi nomer siska melalui ponsel pribadi. "Hello mba, aku boleh minta tolong gak??". Ucap Misha setelah panggilan diterima.
["Boleh. Apa yang bisa aku bantu??". ]
"Apa Riyan ada di ruangannya sekarang??". Tanya Misha memastikan.
["Presdir baru saja masuk ke dalam ruangan. Apa kamu ingin berbicara dengan Presdir sekarang??". ]
"Nggak aku ingin minta tolong kamu pesankan makan buat Riyan dan aku buat makan siang. Siapkan semuanya di ruangan Riyan pas jam makan siang nanti apa kamu bisa??". Ucap Misha dengan menyebutkan menu favorit kekasihnya itu.
["Bisa, nanti aku siapkan segera mungkin". ]
"Baiklah terimakasih mba Siska yang cantik". Ucap Misha dengan ceria.
["Iya kalau ada apa apa hubungi aku ya". ]
Panggilan dimatikan. Lalu Misha melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.
.....
Sampai jam makan siang Misha mendapat pesan dari Siska sekertaris Riyan bahwa semua makanan sudah siap tinggal di tata di ruangan Riyan saja. Saat ini makanan itu ada di dapur yang ada di lantai 20.
✉️ Mba Siska
Sha makanan sudah siap semua. Aku juga udah pindahkan ke atas piring. Mau dimasukin sekarang ke ruangan Presdir???
^^^Misha ✉️^^^
^^^Jangan dimasukin dulu Mba tunggu aku ke atas sekarang.^^^
✉️Mba Siska
Baiklah
Gak lama Misha sampai di lantai 20. Dimana tempat berandanya ruangan Riyan. Dia berjalan ke dapur. Lalu membawa semua makan ke dalam ruangan Riyan.
Riyan yang ada didalam tentu saja kaget dengan banyak makanan yang dibawa Misha. Tapi dia hanya melihat tanpa ingin mendekat. Padahal siska sudah pamit untuk keluar meninggalkan ruangan Presdir nya bersama anak kekasih.
("Bayi besar ngambek Nah kan ". Batin misha berjalan mendekati Riyan. )
Riyan memasang wajah ngambek dan cuek tapi tatapannya masih menatap ke arah misha. Tidak ada sambutan ataupun senyuman. Hanya wajah datar.
"Yan makna yuk aku udah pesenin menu makanan favorit kamu". Ucap Misha dengan senyum manis.
"Aku gak lapar".
"Katanya kamu mau makan sama aku, masa sekarang aku makan sendirian". Misha memasang wajah sedih.
Perlahan mimik muka Riyan mulai berubah. Misha mencubit kedua pipi Riyan dengan gemas.
__ADS_1
"Ayolah.. jangan ngambek gitu. Kalau kamu ngambek terus aku nangis nih". Ancam Misha dengan wajah yang mulai memerah.
"Jangan jangan aku gak marah lagi kok". Riyan berdiri memegang pipi Misha dengan mengelusnya lembut.
Mata Misha sudah mulai berair. Masih yang sedang ada tamu bulanan memang mudah sekali berganti ganti mood dengan cepat.
Riyan langsung mendekap tubuh misha dengan erat. Dia sungguh gak mau melihat kekasihnya menangis apalagi gara gara dia.
Setelah sedikit tenang, Misha duduk di sopa. Lalu sedetik kemudian Riyan mulai ke sifat aslinya saat berdua bersama Misha.
"Sayang suapin". Rengek Riyan bergelayut manja.
"Jangan manja, makan sendiri". Tolak Misha.
"Ikh sayang ayolah aku pengen disuapin sama kamu". Riyan terus memohon agar disuapin sama kekasihnya sampai akhirnya misha pasrah dengan kelakuan Riyan yang sangat manja itu.
Karena tidak mau ribet akhirnya Misha menyuapi Riyan makan dengan telaten. Dia sungguh manja saat ini.
Setelah selesai makan, Misha membereskan semua menuju dapur yang ada di lantai 20. Tak lupa juga mencuci semua piring yang kotor.
Beberapa menit lagi jam masuk kerja. Misha masuk kembali ke ruangan itu untuk pamit kepada Riyan. Dia harus kembali bekerja.
"Yan aku balik keruangan aku dulu ya". Ucap Misha baru masuk ke ruangan.
Riyan masih terduduk di sopa dengan menyandarkan tubuhnya di sandaran sopa seperti pertama kali Misha meninggalkan Riyan.
"Kok gitu". Seru Riyan lesu.
"Udah mau jam kerja, banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan".
Riyan bangun, lalu melangkah menuju meja kerjanya mengambil laptop dan beberapa dokumen. Dia berjalan meninggalkan Misha yang hanya terdiam disana.
"Mau kemana dia??". Gumam Misha berjalan mengikuti Riyan.
Riyan menekan tombol lift menuju lantai dimana tempat ruangannya berada. Sudah bisa ditebak olehnya dan Misha hanya membiarkannya saja. Toh dia juga bekerja.
Masuk ke ruangan misha, Riyan duduk di sopa dengan langsung bekerja tanpa menatap ke arah Misha. Wajahnya masih terlihat sangat bete dan datar.
Misha hanya acuh duduk di kursi kerjanya untuk melanjutkan bekerja. Dia langsung fokus pada semua pekerjaan yang belum beres bahkan Misha lupa bahwa Riyan ada disana.
.....
Tok
Tok
Tok
"Masuk".
Cklek.
Pintu dibuka dengan perlahan menampilkan Elma membawa dokumen ditangannya untuk diserahkan kepada Misha.
Misha melihat Elma menundukkan kepalanya ke arah sopa. Ia mengalihkan pandangannya ke arah sopa juga.
Seketika matanya membulat. Ia lupa bahwa disana ada Riyan yang sedang bekerja. Saking fokusnya bekerja dia sampai lupa.
"Nona berkas ini harus sudah selesai lusa, karena lusa bagian meeting setiap bulan". Ucap Elma.
"Baiklah nanti saya kerjakan".
"Dan saya ingin mengambil dokumen xxxx". Pinta elma.
"Sebentar".
Misha bangun, berjalan menuju kemari penyimpanan. Lalu mencari cari dokumen yang Elma pinta tadi.
Setelah menyerahkan dokumen itu, Elma langsung pamit keluar. Misha berjalan mendekati ke arah sopa, lalu duduk di samping Riyan.
Riyan acuh dengan keberadaan Misha, dia hanya fokus ke layar laptop dan dokumen di salah satu tangannya. Tidak terganggu atau tidak ada niatan untuk berbicara.
...--------...
__ADS_1
...HAPPY READING.,...