
Seperti yang diucapkan Riyan. Mami Vita mengantarkan Misha kembali ke perusahaan dengan aman setelah terjebak macet saat perjalanan dari restoran ke perusahaan.
Wanita paruh baya itu juga memutuskan untuk masuk terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah. Mami Vita ingin menemani Misha sebentar karena iya masih merindukan gadis cantik itu.
"Mami gak ingin istirahat di rumah aja". Seru misha saat mereka berjalan di lobi perusahaan.
"Nggak mami masih-".
Byurrrr
Ucapan mami Vita terpotong dengan seseorang yang menyiram tubuh Misha dengan kopi.
"Apa apaan kamu". Teriak mami Vita marah.
"Saya tidak ada urusan dengan anda. Saya ada urusan dengan wanita gak tahu diri itu, wanita murahan". Pekik wanita itu menunjuk-nujuk Misha.
Misha saat ini belum bisa melihat wanita dihadapannya karena matanya sangat perih karena kopi itu disiram pas wajahnya. Apalagi itu kopi dingin.
"Sha kamu gak papa". Seru mami Vita membersihkan wajah misha dengan tisu yang di berikan resepsionis.
"Misha baik baik saja".
Misha masih mendengar ucapan makian yang dilontarkan wanita dihadapannya dengan begitu keras. Tapi sepertinya misha tidak asing dengan suara wanita itu.
Saat pertama melihat, iya kaget ternyata benar itu Shela. Wanita yang pernah menerornya sampai masuk ke rumah sakit.
"Stela".
"Oh jadi dia yang namanya stela itu. Cih pantesan Riyan gak mau sama kamu". Ucap mami Vita meremehkan.
"Jaga ucapan anda. . Ibu sama anak sama sama murahan. ". Ujar stela sinis.
".....". Walaupun emosi mami Vita begitu menggebu melihat wanita yang bernama stela dihadapannya dia kaget dengan ucapannya saat ini.
("Ternyata gadis ini gak tahu siapa saya". Batin mami Vita menyunggingkan senyuman. )
Beberapa anak buah yang menjaga ingin menyeret wanita itu keluar tapi dengan cepat mami Vita mengangkat tangan membiarkan wanita dihadapannya puas berbicara.
Ucapan yang keluar dari mulut stela hanya caci maki untuk Misha dan mami Vita. Misha ingin sekali membalas berteriak dihadapannya tapi tangannya terus dipegang agar tidak melawan.
"Sekarang giliran saya".
Dengan cepat mami Vita mengambil minuman yang dipegang oleh salah satu karyawan yang tidak jauh dari sana. Mami Vita menyiramnya juga pas di wajah stela dengan keras. Minuman itu sama halnya dengan minuman yang disiram ke wajah Misha sebelumnya.
"Apa apaan ini". Teriak Riyan baru masuk ke dalam diikuti Angga dan Siska.
"Riyan tolongin aku, mereka tiba tiba nyiram aku padahal aku ingin ketemu sama kamu". Adu stela memegang tangan Riyan dengan tangisan palsu.
Bukannya simpati, Riyan malah menaikan alisnya sebelah menatap ke arah nyokapnya dan kekasihnya.
Dia sudah bisa menebak apa yang terjadi. Apalagi saat Riyan melihat wajah kekasihnya yang sudah basah. Dan wajah sang mami sedang menahan amarah.
"Apa yang kamu lakukan??". Tanya Riyan dengan tatapan tajam menatap ke arah stela.
"Dia nyiram aku sayang, baju mahal aku rusak gara gara mereka". Lanjut stela terus memeluk tangan Riyan. "Ibu dan anak emang sama sama gak berpendidikan".
"Ibu dan anak??". Celetuk Riyan pelan tapi masih didengar oleh stela.
"Riyan urus wanita itu jangan sampai dia sentuh calon mantu mami seujung kuku pun. Kalau masih terjadi mami sendiri yang akan turun tangan sampai kamu sendiri gak bisa ketemu sama misha". Kata mami Vita membawa misha masuk ke dalam lift.
Semua karyawan yang ada disana riuh dengan apa yang terjadi.
"Yan kenapa kamu biarin wanita dan ibunya itu masuk ke perusahaan kamu, sedangkan aku tidak diizinkan sama anak buah kamu yang sialan itu". Ujar stela dengan wajah pura pura sedih.
"Saya sudah peringatan kamu sedari awal. Jangan pernah muncul lagi dihadapan saya apapun alasannya. Sekarang kamu berani datang bahwa menjelekkan 2 wanita yang paling berharga di hidup saya". Ucap Riyan penuh penekanan.
"Tapi Riyan anak dan ibu itu memang sama sama murahan. Dia gak pantas sama kamu. Riyan aku sangat mencintai kamu aku gak mau kehilangan kamu".
__ADS_1
"Murahan kata kamu,, kamu yang murahan dasar ****** gak tahu diri". Teriak Riyan mambuat stela gemetaran.
"Ada apa Riyan?? Stela?? Kenapa dia ada disini??". Angga yang baru datang kaget melihat stela sedang menangis dihadapan Riyan yang sedang tersulut emosi.
Riyan memang tidak pernah main tangan sama wanita manapun, tapi kalau sampai stela terus memancing emosi Riyan. Angga tidak tahu kondisi wanita itu akan seperti apa.
"Urus dia, saya tidak mau dia kembali lagi di sekitar keluarga Mahendra terutama Misha". Perintah Riyan langsung meninggalkan lobi memasuki lift.
"Riyan,, harusnya ibu dan anak ****** itu yang kamu usir bukan aku,, Riyan kembali". Teriak stela seperti orang kesurupan.
"Apa kamu bilang". Mata Angga membulat mendengar ucapan stela. Iya bisa menebak anak dan ibu yang dia ucapkan menjerumus kepada siapa.
Plak, , ,
Tamparan keras mendarat di pipi stela sampai ujung bibirnya berdarah. Emosi Angga mulai melingkupi tubuhnya, bahkan wajahnya sangat merah menahan amarah.
"Bawa dia ke kantor polisi sekarang juga, pengacara akan datang membawa semua bukti dan pastikan wanita itu membusuk dipenjara".
Mendapat perintah dari atasannya. Beberapa anak buah memegangi stela yang terus berusaha meminta dilepaskan.
Saat ingin diseret keluar. Angga menekan kedua pipi stela dengan kasar. "ingat ucapan saya, ibu yang Lo hina itu adalah Vita Mahendra. Istri dari Rendra Mahendra dan ibu dari Riyan Mahendra. Ingat itu baik baik".
Stela yang mendengar itu membulatkan mata tidak percaya. Dia memang tidak tahu wajah orang tua Riyan sebelumnya karena indentitas nya sangat dirahasiakan. Jarang ada orang yang tahu apalagi tentang Vita Mahendra yang sangat tertutup itu.
Mami Vita yang ada diruangan Riyan masih berusaha untuk meredam emosinya yang belum kian menghilang. Apalagi dengan kedatangan Riyan membuat emosinya kian bertambah.
Saat ini mami Vita sangat geram dengan kelakuan Riyan yang tidak membereskan masalah dengan benar. Dia tidak menyangka anaknya mengambil keputusan sembarangan tanpa dipikir kembali.
"Mami Riyan minta maaf, Iyan gak tahu wanita itu akan datang lagi setalah ancaman tempo hari". Bujuk Riyan duduk dihadapan sang mami.
Tok
Tok
Tok
"Terimakasih, kamu bisa kembali".
Dengan cepat mami Vita mengambil papar bag itu lalu berjalan masuk ke kamar pribadi anaknya yang ada diruangan itu untuk menyerahkan pakaian ganti kepada Misha yang sedang mandi.
Seluruh tubuh misha sangat lengket, jadi dia memutuskan untuk mandi dan mencuci rambut.
Untung saja tamu bulanan nya sudah selesai, bisa sekalian mandi besar juga. Karena jika tidak itu akan bermasalah kalau Misha mencuci rambutnya disaat datang bulan belum selesai.
"Sayang pakaian kamu ada di atas tempat tidur ya". Teriak mami Vita mengetuk pintu kamar mandi.
"Iya mi, makasih". Balas Misha dengan teriakan juga.
Setelah memberikan pakaian ganti, mami Vita kembali ke ruangan kerja anaknya sekalian berbicara empat mata.
Banyak yang mereka bicarakan sampai akhirnya Misha keluar dengan pakaian yang sangat pas seksi di mata Riyan.
Dress berwarna putih dengan kerah sabrina dan panjang diatas lutut membuat misha bertambah cantik. Tak lupa dengan bentuk tubuh yang pas dengan dress yang dipakai tidak ada celah sedikitpun.
"Mami apa gak ada pakaian lain??". Tanya Misha yang terus menurunkan dress itu.
Misha tidak nyaman memakai pakaian diatas lutut seperti itu.
"Kenapa sayang kamu sangat cantik dengan dress itu".
"Tapi ini terlalu pendek mi". Keluh Misha.
"Tidak sayang itu pas".
Mami Vita menatap Misha dari atas sampai kebawah. Tapi saat melihat kakinya tanpa alas apapun. Mami Vita langsung tersenyum cerah.
Paper bag yang ada diatas sopa langsung dibuka dan mengambil sepatu berwarna silver.
__ADS_1
"Kamu pakai ini". Pinta mami Vita meletakan sepatu itu di hadapan Misha.
"Misha gak yakin bisa jalan".
Sepatu itu memang memiliki tinggi 10 cm yang membuat Misha kurang percaya diri. Dia belum mahir memakai sepatu hak tinggi diatas 5 cm apalagi dengan high yang kecil.
"Percaya sama mami kamu pasti bisa". Ujar mami Vita memberi dukungan.
"Baiklah, sekarang mami pamit pulang dulu, mami harus ke kantor papinya Riyan dia sudah menunggu dari tadi". Sambung mami Vita pamit dengan memeluk Misha dengan erat.
"Mami hati hati ya, nanti misha ke rumah kalau mami mau ke US".
"Janji ya harus nginep tapi".
"Iya".
"Besok mami tunggu". Mami Vita terus memastikan Misha datang ke rumah sebelum lusa berangkat ke USA.
Plak, ,. ,
Pukulan mendarat di kepala Riyan dengan keras. Sedari tadi Riyan terus memandang misha tanpa kedip. Hal itu tentu saja membuat tangan mami Vita gatal jika tidak memukulnya.
"Mami sakit". Keluh Riyan.
"Siapa suruh mata kamu jelalatan seperti itu".
"Mami mah sama pacar sendiri juga,, weekk".
"Bukan muhrim". Ucap mami Vita sambil menjewer telinga Riyan dengan keras membuat orangnya kesakitan.
"Aduh aduh aduh mami sakit lepasin.. oke oke gak bakal gitu lagi tapi lepasin". Keluh Riyan dengan kesakitan menggosok telinganya yang sakit setelah dilepaskan.
"Dah sayang mami pergi dulu".
"Tunggu mami, Misha bareng mami". Pekik Misha berlari memegang tangan mami Vita berjalan keluar ruangan.
Sedangkan Riyan yang di tinggalkan hanya saja menggerutu dengan pelan. Dia ingin mengurung kekasihnya di ruangannya tapi gak berani karena ada sang mami yang galak. Kepastian Misha akan meminta tolong agar bisa terlepas dari genggamannya saat ini.
Lift terbuka di lantai 10 membuat Misha harus berpamitan kepada nyokapnya Riyan dan meminta maaf tidak bisa mengantar sampai kebawah.
Misha kembali ke ruangannya untuk mengerjakan dokumen yang Elma minta tadi. Untung saja dokumen itu selesai sebelum jam 3 sore.
...My boyfriend ❤️...
|Sayang nanti jam 4 aku ke ruangan untuk jemput kamu pulang.. gak ada kata lembur oke
^^^Ada apa emangnya|^^^
|Nanti kamu tahu sendiri
|Gak ada alasan apapun,, titik,
Read
Misha hanya bisa pasrah, tentu saja misha gak bisa melakukan apapun saat Riyan memiliki keinginan.
Beberapa dokumen yang urgent Misha akan bawa ke apartemen agar bisa dikerjakan nanti malam mengurangi pekerjaan besok pagi.
Itupun misha kerjakan ketika ada waktu saja.
Jika tidak, ya alamat dikerjakan di kantor.
...---------...
...TBC...
...Happy Reading.... Babay!!!!!...
__ADS_1