
Rapih dengan penampilan yang lebih segar dari sebelumnya. Perlahan Misha menuruni anak tangga sambil memasang celemek yang sering ia pakai saat bekerja. Berjalan menatap ke bawah merapihkan setiap pakaian agar terlihat cantik.
Dan saat mengangkat kepala ia langsung dikagetkan dengan keberadaan 2 orang yang sering ia lihat datang memasuki caffe dengan pakaian santai.
Ya mereka adalah Riyan dan Angga yang setiap hari datang ke caffe hanya sekedar ngopi. Melihat penampilan Riyan yang berbeda dari sebelumnya membuat Misha diam mematung menghentikan langkah kaki nya . Riyan yang datang ke caffe selalu memakai setelan jas lengkap atau kemeja kantor dan sekarang berbeda, dia datang memakai pakaian santai tetapi aura yang dipancarkan sangat berbeda. Hanya mengenakan hoodie dengan dipadukan celana jins membuat mata Misha tidak berkedip sama sekali.
Gak lama kemudian Misha tersadar dengan lamunan nya, menampar pipinya pekan untuk menyadarkan semua pikiran yang masuk dan langsung pergi menuju dapur. Riyan yang ada disana menatap punggung Misha dengan wajah bingung. Padahal dia ingin menghampiri nya tapi dia sudah pergi secara tiba tiba.
"Yan lo kenapa??". Tanya Angga yang ada disamping.
"Ah,,!!". Kaget Riyan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Lo kenapa?? Mau masuk gak??". Lanjut Angga heran.
Tanpa menjawab Riyan pergi meninggalkan Angga yang kebingungan menuju meja kosong di pojok caffe.
"Dih ninggalin gue gitu aja". Gumam Angga menyusul Riyan yang sudah duduk duluan sampai tiba tiba seseorang datang menghampiri mereka berdua.
"Mau pesan apa ganteng??". Tasya datang langsung menggoda dua laki laki yang baru duduk dengan tersenyum manis.
"Misha ada kan??". Bukannya menjawab Angga malah bertanya balik membuat Tasya pura pura tersinggung.
"Aku disini malah nanyain wanita lain.. oh sakitnya hati ini". Dramasir Tasya memegang dadanya. Angga yang melihat itu hanya bisa acuh karena terbiasa dengan kelakuan tasya yang seperti itu.
"Ok cantik tapi apa bisa panggil Misha". Ucap Angga dengan senyum menggoda.
Angga hanya akan menunjukan itu saat meminta sesuatu kepada Tasya. Karena dia Tasya tidak akan menganggapnya serius. Angga sangat dekat dengan teman wanita Misha yang selalu berteman tidak akan menaruh hati dan perasaan.
Melihat senyum manis Angga membuat Tasya tidak kuat untuk berteriak. Jika dia tidak berada di caffe mungkin dia akan teriak sekencang kencangnya.
"Aw,, siap laksanakan pangeran tampan". Ucap Tasya dengan girang memberi hormat. Lalu meninggalkan mereka berdua menuju dapur untuk memanggil temannya yang sudah ditunggu.
..............
Misha yang sedang membuat minuman dibuat bingung dengan Tasya yang sedang senyum senyum sendiri menghampiri dirinya.
"Lo kenapa??kesambet jin Tonang". Celetuk Misha menatap nya heran.
"Nih 2 pangeran tampan tanpa ketemu dengan tuan putri". Seru Tasya dengan menyerahkan buku catatan kecil.
Dengan mengerutkan kening ia mengambil catatan itu daripada mereka menerobos masuk yang membuat semua pekerjaan tertunda.
Berjalan dengan cepat menuju meja yang sering mereka duduki dan benar saja dia disambut dengan senyuman manis satu 1 orang tentunya.
__ADS_1
"Hai sha,,,!!!". Sapa angga tersenyum manis.
"Hai,!! Kalian mau pesan apa??". Ucap Misha tersenyum balik sambil mengucapkan tujuannya datang ke sana.
"Capuccino". Celetuk seseorang dari samping.
"Americano late". Sambung Angga. " Kamu yang bikin dan kamu juga yang antar". Lanjut Angga dengan menunjuk Misha sambil menggoda.
"Ok tunggu sebentar". Balas Misha langsung meninggalkan mereka.
Sepeninggalan Misha Angga hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan Misha yang tidak pernah tergoda sama sekali olehnya. Itu yang membuat Angga terus menerus ingin menggoda Misha padahal dia tidak pernah melakukannya dengan wanita manapun.
"Gue salut sama Misha ternyata temboknya kuat juga". Gumam Angga menatap punggung Misha yang kian menghilang.
"Tipe gue banget". Lanjut angga yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari orang didepannya yang membuat hawa panas padahal awalnya sangat sejuk.
("Hufh,, Riyan Riyan kalau lo suka bilang aja.. kalau diambil orang tau rasa". Batin Angga menatap Riyan yang duduk berhadapan).
("Sial,, awas aja kalau dia macam macam gue kirim ke Antartika sekarang juga". Batin Riyan geram.)
Berdebat dengan pemikiran mereka masing masing sambil saling menatap tajam. Misha datang dengan membawa nampan berisi pesanan 2 cowok yang banyak maunya ini.
"Ini pesanan anda,, jika ada yang kurang bisa panggil yang lain". Ucap Misha melegakan minuman di meja.
"Terima kasih dan ini tips buat kamu karena meladeni keinginan pelanggan". Angga menyerahkan kotak panjang kecil kehadapan misha dengan wajah bingung.
("Ah sialan,, pasti dia ambil saat di mobil tadi". Batin Riyan menatap ke arah Angga yang tersenyum padanya mengandung ledekan).
"Tips,,!!!". Seru Misha bingung.
"Iya".
"Tidak usah ga ini memang pekerjaan aku,, aku permisi kebelakang dulu". Pamit Misha ingin meninggalkan mereka tapi Angga mencegah dengan memegang tangan Misha.
"Tunggu dulu,,". Cegah Angga.
Melihat tangannya dipegang, dengan cepat Misha melepaskan pegangan itu dan melihat sekeliling caffe. Tapi saat melihat ke kasir teman ceweknya menatap kearahnya dengan tersenyum manis menganggukkan kepala.
(" Dih mereka pada kenapa". Pikir Misha menaikan alisnya).
"Ini bukan tips buat kamu tapi ini memang hadiah buat kamu". Lanjut Angga menatap Misha dan Riyan bergantian.
Angga mulai ketakutan saat melihat tatapan tajam yang Riyan berikan dan pendiriannya mulai goyah.
__ADS_1
"Sha,,,!!!". Seru Angga dengan wajah memohon menatap ke arah Misha yang tidak ada jawaban sama sekali.
"Tapi-".
"Udahlah jika tidak mau diambil jangan maksa". Celetuk Riyan yang membuat Misha mengalihkan perhatian pada suara itu.
"Maaf sebaliknya kamu kasih pada orang lain saja,, aku gak bisa menerimanya". Balas Misha masih menatap Riyan.
Angga yang mendengar itu hanya bisa membuka mulutnya tidak percaya dan bergantian menatap Misha Riyan bergantian.
(" Ngomong ke gue tatapannya ke orang lain".)
"Gimana mau kasih ke orang lain kalau dibikin khusus buat kamu". Angga membuka kotak itu dan memperlihatkan kepada Misha.
Misha tercengang dengan isi kotak yang diberikan oleh Angga. " Misha,,!!". Gumamnya membaca nama yang ada di kalung itu.
"Apa ada nama itu selain kamu.. ya mungkin ada tapi buat apa diperlihatkan ke kamu jika itu untuk orang lain". Lanjut Angga dengan tersenyum menatap ke arah Riyan tanpa Misha tau.
Kalung dengan nama Misha sangat cantik. Ia yang memang suka aksesoris pun menyukainya. Tapi ia tetap tidak bisa menerima kalung itu.
"Tapi maaf-".
"Plis ya terima anggap aja ini permintaan maaf aku kalau sering buat kamu repot". Ujar Angga memotong ucapannya.
Menatap ke arah Angga dan Riyan bergantian tanpa bicara apapun. Saat ia melihat Riyan, orang itu hanya santai meminum minumannya dengan memainkan ponsel di tangan yang lain.
"Baiklah,, terimakasih buat hadiahnya". Seru Misha tersenyum manis. "Kalau gitu aku permisi dulu". Pamitnya langsung diangguki oleh Angga.
Mengambil kotak panjang itu dan melangkah kan kakinya menuju dapur dengan sedikit menatap ke arah Riyan yang acuh.
Sampai di dapur ia meletakan benda itu di kantong celemek tanpa mau melihatnya lagi.
(" Kenapa hati gue sakit ya".)
...-----------------------...
Hai reader. . .
Maaf kalau banyak typo dalam setiap tulisan author hanya memakai handphone untuk mengaturnya . . .
Dukung terus author. .
Ingat ini hanya cerita fiksi tidak ada kaitan dengan siapapun. . .
__ADS_1
Dilarang copas dan menjiplak hak cipta orang. . .
Happy reading semua. . . . .