
...Happy Reading...
...❤️...
.
Seminggu setelah Riyan menemui Misha di perusahaan RV gamstore saat nyokapnya tidak ada membuat Riyan tidak lagi bisa masuk ke sama untuk beberapa saat.
Ternyata orang tua Riyan sangat sangat serius dengan perkataannya dulu, jika sebulan berarti sebulan tidak akan lebih atau pun kurang.
Hari ini Misha tidak terlalu banyak bekerja. Dia hanya perlu datang untuk pemotretan produk baru milik RV gamstore. Untuk yang lainnya tidak ada.
Pagi ini Misha membuat sarapan lebih awal. Setelah shalat subuh, Gea langsung turun kebawah.
Dia membuat sandwich untuk orang tua Riyan dan beberapa potong ia masuki ke dalam kotak bekal.
Baru mau pergi ke atas untuk bersiap siap, Gea melihat orang tua Riyan turun sudah menggunakan pakaian rapih dan diikuti maid membawa beberapa koper.
"Mami mau kemana??". Tanya Misha yang terdiam di depan tangga.
"Mami mau ikut papi Rendra buat dinas kerja di Beijing sayang".
"Loh kok, berarti misha di rumah sendiri dong". Ucap Misha sedih, ia tidak pernah nyaman jika berada di kediaman Mahendra seorang diri. Rumah yang besar tapi hanya dihuni oleh dia sendiri. Walaupun banyak maid tapi mereka tidak pernah ada di rumah utama kalau bukan waktu mereka bekerja.
"Iya sayang tidak apa, nanti kamu akan berangkat dengan sopir buat kerja".
Mau tidak mau Misha harus setuju, mau membantah pun misha tidak enak takut dibilang tidak tahu terima kasih.
Mereka sarapan berdua sedangkan misha harus pergi ke kamar untuk bersiap siap pergi bekerja.
Seperti yang nyokapnya Riyan ucapkan, hari ini Misha berangkat diantar supir menuju RV gamstore. Tapi sebelum itu Misha meminta pak supir untuk pergi ke perusahaan tempat Riyan bekerja terlebih dahulu.
Jam menunjukan pukul 8 dimana jam segitu semua karyawan sudah masuk waktu bekerja membuat lobi tidak terlalu ramai oleh karyawan.
"Pak tunggu sebentar, saya hanya ingin menitipkan ini di resepsionis". Ucap Misha kepada sang supir saat mobil berhenti pas didepan pintu masuk perusahaan.
"Baik nona".
Misha segera keluar, satpam yang ada disana mengenal Misha dan sedikit menundukkan kepala. Sebenarnya itu membuat Misha risih karena mereka lebih tua dari Misha tapi diperlakukan seperti itu.
"Pagi mba". Sapa Misha kepada resepsionis.
"Pagi nona, mau bertemu tuan Riyan". Ucap resepsionis itu dengan ramah.
"Tidak mba saya hanya ingin menitipkan ini buat Riyan, jika ditanya saya sedang buru buru ada pekerjaan yang lain, kalau begitu saya permisi mba". Pamit Misha setelah memberikan bekal sarapan untuk Riyan.
Di dalam kotak itu ada sandwich, buah sudah dipotong potong dan gelas yang berisi susu hangat.
"Baik nona nanti saya sampaikan".
Setelah tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, Misha pergi meninggalkan perusahaan Riyan menuju tempatnya bekerja.
Padahal beberapa saat Misha meninggalkan lobi perusahaan lift terbuka menampilkan Riyan yang tidak tahu akan pergi kemana.
Di lobi perusahaan Riyan
Riyan dan Angga baru keluar dari lift. Ntah kenapa matanya tertuju pada mobil yang ada di depan merasa familiar dimata dia.
Sampai saat dua pemuda itu mau melewati meja resepsionis, mereka dipanggil membuat langkah kakinya berhenti.
"Tuan Riyan". Panggil salah satu resepsionis mendekati pemimpin mereka.
"....". Tidak ada yang menjawab, mereka hanya menatap ke arah resepsions yang membawa bekal makanan.
"Nona misha barusan datang ke sini menitipkan ini buat tuan Riyan". Resepsionis itu menyerahkan bekal makanan yang dia bawa.
"Misha?? Dimana dia sekarang??".
__ADS_1
"Nona Misha langsung pergi tuan, katanya ada pekerjaan penting makanya nona tidak memberikannya langsung kepada tuan".
"Apa jangan jangan mobil yang barusan pergi". Tebak Riyan.
"Iya tuan".
Riyan menatap ke arah Angga yang ada di sampingnya, ekspresi wajah Riyan membuat Angga mengerutkan kening heran.
"Jangan macam macam, meeting pagi ini sangat penting lo harus datang ke sana". Ucap Angga memperingati Riyan, takut nya cowok bucin itu malah kabur untuk menemui sang pujaan hatinya yang sudah lama tidak bertemu.
"Ck, dasar jones". Decak sebal Riyan terdengar ditelinga Angga, pemuda itu langsung pergi membawa bekal yang kekasihnya berikan keluar dari perusahaan menuju mobil yang sudah disiapkan.
Kembali ke Misha , ,
Sesampainya di RV gamstore, Misha langsung pergi ke ruang tunggu untuk make up sebelum pemotretan.
Maya, manajer pribadi Misha sudah ada disana menyiapkan beberapa kostum untuk dia kenakan hari ini.
Hanya ada 2 outfit yang akan misha kenakan dan untuk perhiasan yang akan dia kenakan berupa perhiasan satu set paket. (Cincin, gelang , kalung dan anting).
"Nona, ada beberapa kiriman buat nona". Ucap Maya.
"Dari siapa mba??". Tanya misha tanpa menoleh.
"Dari beberapa fans, mereka mengirimnya ke gedung ini nona".
"Nanti saya cek dan kalau ada tolong makanannya bawa kesini buat dimakan yang lain". Pinta Misha. Tapi dengan nada yang sopan.
"Baik nona".
Setengah hari misha disibukan dengan pemotretan disana. Tidak ada lagi jadwal yang lain untuk hari ini.
"Hai, hai, hai, , ". Teriak seseorang menggema di ruangan itu. Dia adalah Seli, salah satu model di RV gamstore.
"Seli berisik,". Ucap seseorang Diana tidak terlalu serius. Diana juga salah satu model disana.
"Hehe maaf mba". Ucap Seli cengengesan.
"Sel bukanya kamu ambil cuti??".
"Iya, gue kesini mau bagiin ini. Taddaaa,,!!!!". Pekik Seli menunjukan undangan ditangan gadis itu lalu membagikannya satu persatu kepada keempat model yang ada didalam ruangan. Misha juga kebagian karena beberapa kali dia juga bekerja bersama Seli jadi dia sedikit akrab.
"Kamu mau nikah sel, kok gak cerita cerita??". Tanya Misha saat dia membaca undangan yang ada ditangannya.
"Iya, ini kan cerita".
"Gak ada berita apapun tuh". Sahut aris.
"Aku senagaja, calon suami aku gak mau acaranya diketahui media. Jadi kita mengadakan pernikahan yang tertutup".
"Benarkah, kenapa??".
"Kepo". Celetuk Seli sambil tertawa ngakak. "Dah ya gue pulang dulu, jangan lupa buat datang kalau nggak gue marah sama kalian, terutama lo sha". Tunjuk Seli kepada Misha.
"Iya nanti gue usahain".
"Oke bye semua".
Seli pergi meninggalkan ruangan itu. Misha yang sudah selesai ganti pakaian bersiap siap untuk pergi karena pemotretan memang sudah selesai.
Misha melihat jam yang menunjukan pas jam makan siang membuat ia berniat untuk pergi ke restoran terlebih dahulu.
"Sha udah mau pulang!?". Tanya Diana dari kursi tempat dia duduk.
"Iya Din, tapi mau makan siang dulu diluar".
"Gimana kalau lo ikut kita kita aja sekalian biar ramai". Ajak Diana.
__ADS_1
"Ikut kemana??".
"Kita mau makan siang di blue caffe, ikut yuk biar ramai". Ucap Diana dengan wajah memohon.
"Iya sha sekali kali sambil nongkrong, Lo kan sibuk banget kerjanya gak ada waktu pasti buat hang out". Sahut aris.
"Em ya udah aku ikut tapi aku berangkat sama supir, ngikutin kalian dari belakang".
"Oke gak masalah yang penting lo ikut".
Di blue caffe
Ini pertama kali Misha datang ke caffe itu. Disana terlihat sedikit tertutup dari kalayak luar. Pas jika mereka makan disana membutuhkan privasi tertutup, Bahakan setiap pegawai juga bisa dipercaya untuk menjaga rahasia para pengunjung yang datang.
Saat memasuki caffe yang ada di lantai 2, terlhat beberapa artis dan selegram yang ada disana sedang makan atau hanya sekedar nongkrong.
"Lo sering datang ke sini??". Tanya misha sedikit berbisik.
"Hanya beberapa kali kalau gue lagi gak ada kerjaan".
Misha hanya mengangguk, mungkin hanya dia yang baru datang kesana dilihat dari temannya saat baru pertama kali masuk ada orang yang menyapa mereka. Mungkin beberapa dari mereka juga mengenal misha tapi Misha tidak mengenalnya karena jarang melihat sosial media. Dia hanya main tapi tidak pernah melihat lihat yang lain apalagi sekarang pekerjaannya sangat sibuk.
Mereka berempat duduk di meja dekat kaca besar yang menunjukan ke caffe yang ada di balkon. Misha hanya menanggapi tanpa ikut menyela kalau tidak ditanya sambil menikmati pesanan yang mereka pesan masing masing.
"Permisi, dengan nona Misha??". Tanya salah satu pegawai caffe yang datang ke meja mereka.
"Dia mba". Tunjuk Diana kearah Misha. "Ada apa??".
"Ada pesanan untuk nona Misha dari pelanggan yang ada di meja sana nona, silahkan dinikmati". Ucap pegawai itu menunjuk ke arah meja yang gak jauh dari tempatnya duduk.
Misha melihat ke arah pegawai itu tunjuk lalu seketika Misha tersentak kaget.
"Riyan!! Dia juga ada disini". Batinnya.
Kue yang ada dihadapannya ternyata pemberian dari riyan, sang kekasih. Dia melakukan itu kemungkinan karena tidak bisa mendekatinya di tempat umum. Apalagi Riyan saat ini tidak tahu sedang berkumpul bersama siapa.
"Sha bukannya itu tuan Riyan, anak nyonya Vita pemilik RV gamstore". Bisik Diana di telinga Misha.
Bisikan itu membuat Misha kembali akan kesadarannya dan memutuskan pandangannya dari Riyan yang juga memandang dirinya sedari tadi.
"Ah kamu bilang apa tadi??". Tanya Misha lagi karena dia tidak terlalu mendengarkan ucapan Diana.
"Dia tuan Riyan kan??".
"Oh, sepertinya iya". Ucap Misha sedikit gugup.
"Cie gugup ya dilihatin sama cowok sendiri". Goda Aris dengan senyum lebar menatap ke arah misha.
Ucapan Misha tambah membuatnya kaget tidak percaya.
"Semua orang yang kerja di RV gamstore tahu kalau Lo sama anak pemilik perusahaan sudah menjalin hubungan lama. Nyonya Vita sendiri yang mengumumkan kepada semuanya saat rapat tahunan". Ucap Diana panjang lebar.
Ternyata itu semua ulah nyokapnya Riyan sendiri. Misha yang mendengar itu hanya bisa senyum malu malu yang malah membuat Aris tambah menggoda Misha.
Kue yang Riyan kasih emang diberikan untuk dibawa pulang tidak untuk dimakan disana. Setelah makanan habis dan Misha disana cukup lama, dia berencana untuk pamit pulang duluan.
Dia juga baru ingat bahwa setengah jam lagi dia ada pekerjaan yang sudah diingatkan oleh Maya tadi sebelum pergi.
"Gue pulang duluan, kalian masih lama kan disini??". Tanya misha sekalian pamit.
"Em paling sebentar lagi. Lo hati hati dijalan". Ucap Diana membuat Misha mengangguk.
"Lo gak pulang bareng dia?". Tanya Aris.
"Nggak gue pulang sama supir".
Misha cepaka cepiki sama Diana sedangkan kalau sama cowok Misha hanya tos saja. Lalu melambai kepada Diana, meninggalkan caffe terlebih dahulu membawa satu kotak cake pemberian Riyan untuk ia makan nanti di rumah.
__ADS_1
To be continued. . .