
1 bulan kemudian , , , ,
Setelah bantuan itu membuat Riyan dan Angga selalu datang ke caffe hanya untuk mengerjakan pekerjaan nya bahkan mereka sering berbuat janji dengan orang lain disana yang menyangkut pekerjaan.
Sana halnya dengan sekarang siang hari caffe memang tidak terlalu ramai. Di meja biasa ada Riyan dengan beberapa orang sedang membicarakan pekerjaan disana.
"Kenapa mereka tambah sering datang ke sini??". Bisik Tasya pelan disamping Misha.
"Gak tau".
"Bukannya kalian dekat cuma kebetulan saja.. apa jangan jangan". Tasya menunjuk wajah Misha dengan pikiran yang aneh aneh.
"Jangan mikir yang nggak nggak". Balas misha dengan tatapan tajam yang membuat Tasya hanya bisa tersenyum lebar mengangkat tangan meninggalkan Misha sendirian.
Hari ini dia sedang bergantian dengan nana yang memegang bagian kasir tetapi Riyan yang terus menatapnya tanpa henti membuat Misha risih. Padahal dia sedang ada pertemuan tetapi wajahnya hanya menatap ke arah Misha tanpa memperhatikan orang didepannya sedang berbicara.
"Na,,,!!". Seru Misha memanggil nana yang habis mengantarkan pesanan. "Kita tukeran gue yang didalam". Lanjutnya saat nana mendekat.
Mengambil nampan yang dibawa nana dengan cepat tanpa menunggu jawaban pergi ke dapur.
Banyak pertanyaan yang terlintas di pikirannya tentang Riyan. Dari pertama ketemu mereka selalu bertengkar tetapi akhir akhir ini berbeda. Dia selalu datang tapi tidak pernah menyapa sama sekali hanya memandang dari jauh. Hal itu membuat misha heran dan memilih untuk menghindar.
Jika berpapasan hanya Angga yang akan menyapa sedangkan Riyan menatap Misha ntah dengan artian apa. Sampai teman teman Misha pun pada heran dengan sikap Riyan akhir akhir ini.
.................
Hari ini hari Minggu, tidak banyak pelanggan yang datang dan semua karyawan bisa kerja dengan santai.
"Sha mau makan siang apa??". Tanya Laura menghampiri Misha di depan meja kasir.
"Gak tau terserah Lo aja,, samain". Misha menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel. Hanya bermain sosial media sedikit.
"Gue juga bingung. Yang lain pun sama bosen gak ada yang baru itu itu aja". Sambung Laura dengan wajah lesu. "Pelanggan tidak terlalu banyak gimana kalau kita cari makan diluar aja yuk". Ajak Laura dengan wajah senang.
"Gak mungkin lah kita tinggalkan caffe begitu aja,, bang Rafa juga gak ada disini". Balas Misha menatap Laura yang langsung mengerucutkan bibirnya dengan tolakan Misha.
Suasana hening menimpa mereka berdua asik dengan pekerjaannya masing masing. Sampai melihat seluruh caffe tidak ada pelanggan, Miha mengajak tasya untuk karaokean menghilangkan bosan.
Sering kali tidak ada pelanggan para karyawan akan memanfaatkan waktu luang untuk karaokean bersama disana. Caffe itu dikelilingi kaca di setiap dan memiliki kedap suara yang membuat mereka mengaktifkannya saat karaokean berlangsung.
Asik dengan lagu yang dinyanyikan sampai tidak sadar ada beberapa pelanggan yang datang dan membuat Misha malu sendiri.
"Saking asiknya gue gak sadar jika ada pelanggan". Bisik Misha pelan pada Tasya.
"Biarin aja lagian gak banyak juga". Balas Tasya cuek.
Saat melihat ke sudut pojok caffe, ia dikagetkan dengan suara seseorang yang ia temui baru baru ini sedang memandangnya dengan tatapan berbeda.
__ADS_1
"Oii,, sial!!!". Gumam Misha meninggalkan tempat karoke dengan cepat.
"Kak kok berhenti nyanyi lagi dong suara kakak enak,, aku bisa rikwes lagu gak kak". Teriak salah satu pelanggan membuatnya menghentikan langkahnya.
"Ia kak lanjut dong". Sambung yang lain.
"Maaf ya saya gak bisa sama kakak itu aja". Ucap Misha sambil tersenyum menunjuk Tasya yang ia tinggalkan.
"Sha ayo lah lo sendiri yang ngajak tadi". Kata tasya menggunakan mic yang dia pegang.
Mendengar itu misha hanya menatap Tasya dengan tajam dan suara seseorang mengagetkan.
"Tidak apa kamu lanjut aja caffe tidak terlalu ramai". Rafa yang baru datang sedikit mendorong pinggang Misha dengan pelan.
Misha yang sedikit ragu menatap semua temannya yang berada di meja kasir mengacungkan jempol membuatnya pasrah mendekati Tasya kembali.
Dia mulai bernyanyi tanpa menatap orang yang duduk di pojok caffe dengan mengikuti rikwesan lagu pada pelanggan. Tetapi hanya lagu yang dia bisa saja.
Sampai pelanggan kian ramai membuat Misha kurang percaya diri dan mengajukan kepada pelanggan jika ingin bergantian.
Meninggalkan tempat karaoke dengan alasan mengambil air minum kebelakang padahal ia sudah sangat malu dan tidak percaya diri. Tasya terus saja memintanya untuk bernyanyi beberapa lagu lagu tetapi langsung ia tolak mentah mentah.
Sebenernya dia suka bernyanyi tapi jika di depan banyak orang ia tidak akan pernah mau.
Setelah membuat minuman, Misha mendekati nana yang ada di meja kasir. "Dari tadi Riyan liatin lo tanpa berkedip". Bisik nana padanya.
"Dia baru saja pergi". Kata nana yang tau pemikiran Misha saat ini menatap ke arah meja yang selalu ditempati Riyan saat datang ke caffe.
"Dih siapa juga yang nyari dia". Ucap Misha meninggalkan Nana kembali ke belakang.
Nana yang melihat misha seperti itu hanya bisa tersenyum menggelengkan kepala. Dia melihat kelakuan temannya akhir akhir ini sangat berbeda dari sebelumnya.
Sore hari mereka akan bergantian untuk membersihkan diri di lantai 2 yang Raffa siapkan. Caffe itu sudah seperti rumah kedua mereka di sini bukan hanya tempat kerja.
Jika ruangannya besar Rafa akan meminta mereka tinggal disana daripada ngontrak di tempat lain. Bahkan mereka menghabiskan banyak waktu di caffe dan pulang hanya untuk beristirahat saja.
Saat ini Misha orang terakhir dan memutuskan untuk langsung pergi ke kamar yang ada di lantai 2. Sebelum pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan ia duduk di tempat tidur menggulung rambutnya dengan asal.
Membuka media sosial dan langsung melihat notifikasi dari teman sekolahnya yang menandai sisinya.
Kevin
30 menit yang lalu
Kapan kumpul sepeti biasa jangan pada sombong mentang mentang udah sukses. Menandai Misha Laurensia dan 7 teman yang lain.
92 suka 14 komentar
__ADS_1
[ Adit] : Bajingan..!! Lo sendiri yang susah dihubungi.
[Aji] : Menghilang tanpa jejak.
[Elma] : Pokonya harus datang ke pernikahan gue terutama Lo bertiga @misha Laurensia @shinta @tina.
[Adit ] : Beb kamu kok hianati aku sih T-T
[ Tina ] : Gue lagi gak ngerantau gak bisa datang @elma.
[Misha Laurensia] ; gue juga @elma.
[Adit] : bebeb Misha akhirnya datang juga @misha Laurensia.
[Rifal] : nemplok sana sini @adit.
[Kelvin] : @misha Laurensia Kerja dimana??.
[Misha Laurensia] : Jakarta pusat.
Setelah membalas komentar dari Kelvin ia meletakan ponselnya sembarang ditempat tidur menuju kamar mandi.
Dia bukan gadis yang menghabiskan waktu lama untuk membersihkan badan. Hanya beberapa menit Misha sudah keluar kamar mandi dengan pakaian ganti.
Kerja di caffe tidak memiliki pakaian seragam hanya memakai pakaian bisa dengan celemek yang senada setiap karyawan. Tetapi jika mereka berenam sering memesan pakaian couple terutama wanita dari online shop.
Misha yang bekerja tanpa kerudung sering menata rambutnya sebisa mungkin untuk mencegah rambut masuk ke dalam makanan. Bahkan ia sering memakai jepit rambut/bando simpel di atas kepalanya yang membuat wajahnya tambah terlihat muda.
Pipinya yang chubby membuat siapapun orang yang ada didekatnya ingin mencubit dengan gemes seperti halnya para temannya yang senang mencubit pipinya sampai dia marah.
...-----------------------...
Hai reader. . .
Maaf kalau banyak typo dalam setiap tulisan author hanya memakai handphone untuk mengaturnya . . .
Dukung terus author. .
Ingat ini hanya cerita fiksi tidak ada kaitan dengan siapapun. . .
Dilarang copas dan menjiplak hak cipta orang. . .
Happy reading semua. . . . .
__ADS_1