Destiny In My Life

Destiny In My Life
Penghianatan


__ADS_3

...Happy Reading...


...❤️...


.


1 jam lebih menempuh perjalanan yang sangat panjang. Biasanya mereka hanya menghabiskan waktu kurang dari satu jam saat berangkat bekerja. Mungkin karena mereka terjebak macet berkali kali membuat mereka jadi lebih lama sampai ke perusahaan Riyan.


Misha menatap ke arah luar jendela mobil yang terlihat beberapa wartawan yang menunggu di depan perusahaan Riyan dengan satpam yang menjaga di dekat pintu masuk.


"Sepertinya bakal susah masuk ke dalam kalau seperti ini". Gumam Misha yang saat ini masih ada di mobil yang terpalkir di palkiran biasa. Semua itu emang atas pemintaan misha sendiri agar tidak berhenti di palkiran khusus yang malah akan membuat wartawan curiga.


"Gimana nona apa nona bakal masuk ke dalam?? Sebaiknya kita pulang aja ini sangat berbahaya". Ucap Tomi, sang supir.


"Tapi aku harus masuk kak".


Misha membenarkan topinya agar menutupi wajahnya. Tapi dia lupa membawa masker. "Kak Tomi punya masker tidak??".


"Punya nona". Ucapnya dengan membuka tas miliknya yang ada di kursi samping.


Misha melihat ke arah pandang apa yang tomi lakukan dan melihat hoodie di sana.


"Itu Hoodie kakak?!".


"Iya nona".


"Bagus. Kak Tomi pakai itu buat nutupin seragam dan masuk ke dalam sama misha". Ucap Misha membuat Tomi kaget.


"Tapi nona-".


"Gak ada penolakan pokonya harus, cepetan pakai. Kakak tomi gak mau kena masalah kan kalau aku kenapa napa jadi kakak harus nurutin apa kemauan misha". Potong Misha dengan sedikit ancaman.


"Baiklah". Tomi hanya pasrah dengan apa yang Misha perintahkan.


Setelah semua persiapan siap mereka berdua keluar dari mobil tanpa dibukakan pintu mobil karena Misha menolak.


Tomi tidak menutupi wajahnya saat keluar dari mobil sedangkan Misha hanya terlihat matanya saja yang tertutup masker dan topi.


Mereka berdua berjalan melewati beberapa wartawan yang ada di depan kantor riyan dengan tenang. Kepala Misha sama sekali tidak ditundukkan toh tidak terlihat juga oleh mereka semua.


Misha berjalan dengan langkah percaya diri sampai depan resepsionis yang akan menghadang langkah kakinya misha sedikit menaikan topinya agar bisa dikenali. Tomi juga memastikan agar pantulan Misha tidak terlihat dari luar.


Tangan misha berada di mulutnya dengan isyarat diam saat resepsionis itu mengenali siapa yang ada dihadapan dia. Hanya dengan anggukan kepala membuat misha melanjutkan langkah kakinya menuju lift khusus diikuti Tomi di belakang.


Misha menekan lantai 45 dimana tempat ruangan Riyan berada.


Ting


Pintu lift terbuka mereka berdua berjalan keluar dan hanya Misha saja yang berjalan ke arah ruangan riyan. Tomi akan menunggu disana tanpa misah hiraukan.


"Mba Siska tidak ada, apa sekarang ada meeting?? Tapi kata Angga tidak ada". Batinnya menerka-nerka.


Karena sudah bisa keluar masuk ruangan Riyan sang kekasih. Misha langsung membuka pintu perlahan tanpa membuka masker serta topi yang dia kenakan.


Satu langkah kaki nya memasuki ruangan Riyan tubuhnya menjadi kaku tidak bisa digerakkan.


Deg

__ADS_1


Hatinya sangat sakit melihat apa yang dia lihat dihadapan nya langsung dengan mata kepalanya sendiri.


Matanya kian memanas dan hatinya sangat sakit melihat posisi kekasihnya dan wanita lain yang sangat intim di atas sopa.


Semenit kemudian kesadaran misha kembali dan buru buru dia ingin pergi meninggalkan ruangan itu tanpa menggangu mereka.


Tapi saat berbalik Misha melihat Siska yang membawa nampan berisi minuman ingin menyapa. Sebelum suara Siska sekertaris nya Riyan terdengar, Misha dengan cepat pergi begitu saja meninggalkan tempat itu membuat Tomi yang ada didekat pintu lift kebingungan.


Bahkan siska juga bingung melihat Misha yang seperti itu. Saat siska lanjutkan langkah kakinya memasuki ruangan Presdir nya.


Pranggg


Nampan yang berisi minuman dan kopi terjatuh ke lantai membuat kedua orang ada di dalam terperanjat.


"Tuan, tuan apa yang tuan lakukan".


Itulah ucapan yang terakhir Misha dengar sebelum pintu lift terbuka.


Misha hanya diam sesekali menghapus air matanya yang akan menetes. Dia menghapusnya dengan kasar membuat Tomi yang ada dibelakang nya tambah heran.


Sepeninggalan dari kantor Riyan. Misha hanya diam dengan menatap ke arah luar jendela mobil yang terus menangis.


Tomi bisa melihat nonanya itu menangis dengan tatapan kosong karena Misha sudah melepaskan maskernya jadi Tomi bisa melihatnya dengan jelas.


"Nona". Tomi menyerahkan kotak tisu kepada Misha yang ada dibelakang.


Misha menatap ke depan lalu mengambilnya. "terimakasih".


Misha menghapus air matanya yang terus mengalir dan berusaha menetralkan dirinya agar lebih tenang.


Ponsel misha berdering beberapa kali yang ada di dalam tas. Nama Riyan tertera di layar ponsel dan banyak pesan yang masuk.


Tanpa pikir panjang, Misha mematikan ponsel nya dan kembali memasukannya ke dalam tas.


"Kak boleh pinjam ponsel kakak". Ucap misha dengan suara serak.


Tomi langsung memberikan ponselnya tanpa bertanya terlebih dahulu. Ponsel biasa bermerek china ada ditangan Misha. Ia ragu tapi harus bisa untuk beberapa jam ke depan.


"Kak kalau ponsel kakak Misha matikan apa tidak mengganggu tentang kuliah kakak". Ucap Misha membuat Tomi sedikit kaget. Padahal dia tidak menjawab pertanyaan Misha tentang pertanyaan tadi tapi saat dia menatap ke arah beberapa buku paket di kursi samping membuatnya bisa menebak.


"Tidak masalah nona. Tapi kalau saya boleh tanya kenapa Ponsel saya harus dimatikan??". Tanya Tomi penasaran.


"Nanti juga kamu tahu. saya minta tolong sekarang kamu bawa saya ke tempat yang tenang. Saya ingin menenangkan diri saya dulu".


"Tapi nona sebaiknya kita pulang saja. Kita sudah lama ada di luar rumah".


"Hanya sebentar, plissss". Ucap Misha memohon.


"Nanti saya kena marah nona".


"Biar saya yang urus dan jelasin kepada mereka, hanya untuk beberapa jam saja.. ayo lah kak".


"Baiklah nona tapi janji hanya sebentar".


"Janji". Ucap misha mengangkat kelingking ke atas untuk meyakinkan Tomi sedangkan tangan yang satunya Misha lipatkan jari tengah dan telunjuk.


Misha mematikan ponsel Tomi lalu memasukannya ke dalam tas miliknya sendiri untuk berjaga jaga.

__ADS_1


Ntah kemana misha akan dibawa Tomi notebenya adalah baru pertama kali kenal pagi tadi juga.


Sampai akhirnya mobil berhenti di sebuah taman yang terlihat sangat sepi. Misha diajak berjalan memasuki taman itu dan sampai di dekat danau yang cukup indah.


"Tempat apa ini??".


"Nona bisa duduk di rumah pohon itu untuk menenangkan diri, saya bakal tunggu dibawah". Ucap Tomi menunjuk rumah pohon kecil yang mungkin hanya akan masuk 2 orang saja.


Tapi karena takut ada orang yang menyangka mereka berbuat yang tidak tidak. Tomi akan menunggu dibawah tanpa naik sedikitpun dan meminta Misha untuk bilang kepada dirinya jika membutuhkan sesuatu. Jadi Tomi hanya naik untuk membukakan pintu rumah pohon itu lalu kembali turun.


Dengan perhatian misha naik ke rumah pohon duduk menatap ke arah danau dengan kaki yang ditekuk dan dia peluk.


Tas nya sudah dia lepaskan dan diletakan dengan sembarangan. Saat Misha melihat sekeliling ia melihat banyak karakter dan beberapa buku di sana. Sepertinya rumah pohon itu sangat terawat dengan baik.


Misha bersandar dengan satu bantal dan bantal lain dia peluk. Dia melihat lihat buku yang ada di rak kecil dan melihat buku novel disana.


Tanpa pikir panjang ia mengambilnya dan mulai membaca. Misha yang hobi membaca pun merasa terhibur dengan membaca novel yang dia temukan. Saat ini misha sudah tidak teringat akan kejadian yang baru saja dia lihat dan mulai tenang.


Setelah pikirannya jernih, Misha turun dan duduk di samping Tomi yang juga sedang membaca buku. Ntah kapan dia mengambil buku itu yang tadi Misha lihat ada di dalam mobil.


"Apa ada yang nona inginkan??". Tanya Tomi menutup buku yang sedang dia baca.


Misha hanya menggeleng tanpa menjawab. Sesekali misha menghela nafas perlahan menatap ke arah depan.


"Nona baik baik saja??". Tanya Tomi.


"Em, saya baik. Tapi ntah sampai kapan".


"Maksud nona??". Tomi bertanya kembali karena perkataan Misha yang sangat tidak jelas.


"Apa kamu tahu kak apa yang telah terjadi sama saya sekarang ini". Ucap Misha menatap ke arah Tomi.


".....". Hanya gelengan kepala yang Tomi berikan tanpa menatap ke arah Misha.


"Saat saya masuk ke dalam ruangan Riyan. Saya melihat hal yang tidak saya percaya tapi saya melihat dengan kepala mata saya sendiri kak, hati Misha sakit kak". Ucap Misha dengan tatapan kosong menatap ke arah depan.


"Apa yang nona lihat??".


"Saya melihat Riyan sedang bersama wanita lain dengan posisi sangat intim". Ucap Misha pelan. Tidak ada air mata yang menetes kembali karena Misha sebenarnya sangat cepek hari ini setelah sekian lama ia menangis saat diperjalanan tadi. "Sudahkah kak jangan dibahas lagi".


"Maaf ya nona jika saya lancang". Ucap Tomi tidak enak hati.


"Gak papa kak".


Misha terus menatap ke arah depan sampai keheningan melanda. Dia bisa melihat Tomi yang kian melihat ke arah jam tangan nya sedari tadi.


"Kakak kenapa??".


"Ini sudah lewat jam makan siang nona. Sebaiknya nona makan siang dulu sebelum pulang, karena ke kediaman Mahendra sangat jauh dari sini".


"Tapi misha gak lapar kak". Tolak misha.


"Sedikit aja nona. Jika tidak makan nona bisa sakit apalagi sedari pagi nona belum makan apa apa kata kepala maid tadi".


"Ya udah terserah kakak".


To be continued, , ,

__ADS_1


__ADS_2