
...Happy Reading...
...❤️...
.
Misha memakai dress dibawah lutut dengan tangan panjang transparan. Tak lupa rambutnya digerai dengan sedikit di kerli.
Tok tok tok
"Nona ini saya??". Suara maid terdengar di luar kamar.
"Masuk bi".
Teriak misha dari dalam membuat maid itu masuk ke dalam kamar.
"Maaf nona didepan ada taksi yang menunggu. Katanya den Angga yang mengirim buat nona". Ucap maid itu.
"Iya bi, Angga sudah bilang sama saya".
"Baik nona kalau begitu saya permisi".
Misha menyemprotkan parfum kesukaannya ke beberapa bagian tubuh lalu mengambil tas dan pergi keluar kamar untuk berangkat.
Karena tidak diizinkan masuk ke pekarangan rumah. Misha harus berjalan menuju gerbang yang lumayan jauh menuju taksi yang sudah menunggu.
Gerbang otomatis dibuka oleh penjaga saat melihat Misha ingin keluar. Dia langung masuk ke dalam mobil saat supir itu membukakan pintu.
"Maaf pak nunggu lama". Ucap Misha gak enak.
"Gak papa nona".
"Kita ke jln xxxx tapi kita mampir dulu di universitas xxxx ya pak sekalian serah juga". Ucap Misha dengan sopan.
"Baik nona".
Taksi melaju menuju tempat yang penumpangnya katakan. Misha akan mampir di universitas Tomi terlebih dahulu untuk membalikan ponselnya takut ada hal penting karena ponselnya sedari tadi tidak bisa diam.
Gak lama taksi berhenti di palkiran universitas yang misha katakan tapi dia tidak tahu keberadaan Tomi dimana. Universitas kan tempat yang sangat luas dan banyak jurusan.
Walaupun merasa tidak sopan, Misha mencari kontak yang bisa dihubungi atau mungkin teman Tomi yang satu fakultas.
Misha menekan nama itu yang mungkin dekat dengan Tomi dan memanggil nya dengan via telpon. Kalau chat takut balasnya lama.
Di sisi lain
Ketiga pemuda yang sedang duduk di kantin fakultas kebingungan melihat nama yang menelponnya padahal orang nya ada dihadapannya sedang makan.
"Lo kenapa??". Tanya pemuda lain yang merasa bingung.
"Ini orangnya ada didepan gue kenapa telpon gua". Ucap pemuda itu heran menunjukan ponsel nya ke hadapan mereka.
Uhuk, , uhuk, , uhuk
Tomi yang sedang minum langsung tersedak. Seketika ia ingat bahwa ponselnya belum dikembalikan oleh kekasih anak majikannya, ingin diambil tapi dia juga merasa tidak enak.
"Gue yang angkat". Ucap Tomi langsung mengambil ponsel temannya dan mengangkat panggilan itu. "Hello nona".
Ucapan Tomi membuat kedua temannya saling pandang heran dengan kata yang tomi ucapkan tapi seketika mereka mengangkat kedua bahunya acuh. Dan mereka akan menanyakannya nanti.
"Hello kak Tomi, ini misha".
__ADS_1
"Iya nona ada apa nona telpon teman saya??".
"Saya ada di depan universitas xxxx buat kembalikan ponsel kamu. Sedari tadi banyak yang masuk takutnya itu penting dan malah menganggu kuliah kakak".
"Didepan universitas?? Bagian mana nona??".
"Em,, di dekat palkiran yang ada air mancurnya".
"Baiklah saya kesana segera nona". Ucap Tomi dengan tergesa gesa meninggalkan kedua temannya yang menatapnya cengo tapi seketika mereka ikut berlari mengejar Tomi.
Di sisi Misha
Gadis itu turun dari taksi menunggu Tomi yang akan datang kesana. Iya melihat banyak mahasiswa/i yang sedang berkumpul di taman hanya sekedar belajar, mengobrol atau sebagainya.
Tak lama Misha melihat Tomi datang menghampiri nya dengan diikuti dua cowok di belakang yang terus memandang dirinya. Sedikit risih tapi mau gimana lagi toh mereka juga tidak mengganggu.
"Kenapa nona repot-repot datang kesini hanya untuk mengembalikan ponsel saya". Ucap Tomi sedikit ngos-ngosan.
"Tidak apa kak, sekalian lewat. Saya ada urusan juga. Maaf ya kemarin lupa untuk balikin". Ucap Misha tak enak.
"Tidak apa nona. Malah saya yang meminta maaf karena merepotkan - nona ".
"Ekhm, , ekhm, , ". Deheman orang lain membuat mereka teralihkan.
Misha menatap ke arah dua pemuda di belakang Tomi yang masih tersenyum ke arah dia.
"Kenalin napa tom". Celetuk salah satu dari mereka.
"Ck kalian-".
"Kenalin gue Indra". Potong orang itu malah sedikit menggeser tubuh Tomi mengulurkan tangannya ke hadapan misha.
Sedari bicara dengan Tomi, misha memang tidak menunjukan ekspresi apapun.
"Gue sandi". Lanjut pemuda lain memperkenalkan diri.
"Misha".
"Nona maafkan teman teman saya yang sudah lancang membuat nona risih". Ucap Tomi tidak enak hati membuat kedua temannya kebingungan. Cuma kenalan doang tapi Tomi bereaksi seperti itu, pikir mereka berdua.
"Tidak apa kak, kalau gitu saya permisi dulu. Permisi semuanya". Pamit misha dengan sopan membuat orang yang bernama Indra dan sandi melambaikan tangan ke arah Misha dengan tersenyum.
Misha masuk ke dalam taksi dan melanjutkan perjalanannya menuju gedung dimana tempat konferensi pers berlangsung beberapa menit lagi.
Sedikit Misha bisa melihat ke arah belakang bahwa Tomi dan kedua temannya terlihat adu mulut mungkin Tomi sedang menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi membuat Misha menggelengkan kepala.
30 menit akhirnya misha sampai ke tempat yang Arthur ucapakan. Dia menelpon pemuda itu untuk menginformasikan bahwa dirinya sudah sampai dan pasti tidak akan bisa masuk karena banyak wartawan di depan gedung itu.
"Aku sudah ada di depan, banyak wartawan disini aku gak bisa masuk". Ucap misha terus melihat ke arah depan.
"Nanti aku konfirmasi kepada bodyguard yang akan mengawal kamu. Kamu turun langsung di depan pintu masuk".
"Oke". Ucapnya langsung menutup panggilan secara sepihak. "Pak berhenti didepan ya". Pinta Misha kepada supir taksi.
Taksi berhenti dimana tempat yang sudah Arthur perintahkan. Melihat Misha keluar dari taksi membuat semua wartawan mendekat dan mengajukan banyak pertanyaan ke arah misha.
Beberapa bodyguard yang menjaga Misha langsung membawa Misha masuk tanpa ada hal yang diinginkan terjadi.
Konferensi pers akan berlangsung beberapa menit lagi. Misha hanya diam di ruang tunggu mendengar kan beberapa orang yang sedang berbicara.
"Sha apa kamu siap??". Tanya Arthur yang dijawab dengan anggukan kepala.
__ADS_1
Sebenarnya misha sangat gugup karena ini pertama kali nya tersorot oleh kamera di depan umum. Tangannya pun sangat gemeteran dan wanita yang ada diruangan itu hanya dirinya saja.
"Baik semuanya acara konferensi pers akan segera di mulai, saya harap rekan media sekalian bisa diam dan mengangkat tangan sebelum mengajukan pertanyaan". Ucap mc yang memimpin acara.
"Silahkan tuan Arthur untuk memulai, rekan media bisa bertanya setelah dipersilahkan oleh tuan Arthur sekalian".
Saat ini posisi Misha dan Arthur duduk berdua di depan banyak wartawan yang datang. Mereka duduk sedikit berjauhan agar tidak terjadi masalah yang berkelanjutan.
"Pertama, saya memang mengaku salah karena sudah memposting tanpa izin. Awalnya saya hanya iseng makanya saya hapus kembali. Mungkin itu yang memicu semua orang menganggap saya punya hubungan lebih dengan nona misha. .
. . Saya dan nona Misha hanya teman biasa tidak lebih dari itu. Kami juga jarang bertemu dan photo photo yang beredar di media sosial saat kami berdua bertemu di restoran. Itu hanyalah kebetulan". Ucap Arthur panjang lebar.
Salah satu wartawan mengangkat tangan ingin menyangkal. "Tapi tidak ada kata kebetulan jika terjadi lebih dari sekali". Ucapnya yang disetujui oleh semua orang.
"Kenapa tidak. pertama apartemen kita di gedung yang sama sesekali saya nginap disana karena dekat ke kantor saya, kedua mall adalah tempat umum jadi biasa saja kita kebetulan bertemu dihari yang sama". Jelas Arthur membuat semua orang diam.
"Terus saat di Korea, apa kalian liburan bersama??".
"Saya disana sedang ada perjalanan bisnis tidak tahu jika nona Misha sedang liburan disana juga kalau kita tidak bertemu di lobi hotel dan keesokan nya saya kembali ke Jakarta tanpa pergi kemanapun lagi. Berbeda dengan nona Misha yang baru sampai".
Suara Arthur terdengar tegas dan dingin. Jujur mereka semua baru pertama kali mendengar seorang Arthur Irawan Wirjawan pemimpin AT Company berbicara panjang lebar di depan media.
"Untuk nona Misha apa pendapat nona tentang tuan Arthur?? Jika nona single, apa mungkin tuan Arthur masuk ke dalam kriteria nona Misha??".
Pertanyaan yang beruntun membuat Misha tambah gugup. Dia gak tahu harus menjawab apa.
"Nona tolong jawab. Apa sebenarnya nona sudah memiliki kekasih??".
Perlahan Misha menutup matanya dan menghela nafas untuk menangkan diri.
"Saya sudah memiliki kekasih. Tapi maaf ini urusan pribadi saya dan saya tidak ingin menjelaskannya secara rinci yang akan menganggu urusan pribadi saya. Sekali lagi saya minta maaf". Ucap misha dengan tegas membuat semua wartawan saling pandang.
"Apa saat berlibur ke Korea, nona Misha berlibur dengan sang kekasih?? Apa tuan Arthur mengenal kekasih nona Misha??".
Misha maupun Arthur hanya diam, tidak ada yang menjawab sama sekali. Misha takut pertanyaan mereka malah lebih mengarah kepada keluarga Mahendra.
"Oke semua rekan media, untuk konferensi pers kali ini sudah selesai. Semua sudah jelas bahwa diantar tuan arthur dan nona Misha hanyalah teman biasa. Saya harap kalian semua bisa mengerti dan memahami apa yang mereka sampaikan. Terimakasih". Ucap mc menutup acara konferensi pers itu.
Misha dan Arthur dibawa ke ruangan tunggu sebelum pulang karena masih banyak wartawan yang menunggu mereka.
"Kalau begitu saya permisi pulang dulu". Pamit Misha kepada arthur.
"Aku udah siapkan mobil buat mengantar kamu pulang. Kalau aku yang antar pasti kamu menolak".
"Terimakasih. Dan terimakasih untuk semuanya. Saya permisi".
Misha keluar dari ruangan langsung dikawal oleh beberapa bodyguard suruhan Arthur.
Tapi saat Misha berjalan ke arah mobil yang disediakan. Dia melihat tomi disana tersingkir oleh para bodyguard.
Misha mendekat ke arah Tomi dengan dia berbicara dengan bodyguard itu bahwa dia mengenal orang itu.
"Nona ikut dengan saya". Ujar Tomi.
"Pak saya pulang sama dia saja".
"Baik nona saya antar sampai mobil".
Misha masuk ke dalam mobil yang ditunjukan oleh Tomi. Dia sedikit heran kenapa Tomi membuka pintu mobil dengan hati hati dan misha masuk secepat mungkin saat melihat tatapan dari Tomi.
To be continued, , , ,
__ADS_1