
["Ah ~ oke oke sekarang Riyan meeting dulu, sekarang kasih telpon kepada Misha mi". ]
"Tidak ada".
Tut,,!!!
Satu tekanan tangan mematikan panggilan video anaknya yang sudah mengomel di sebarang telpon.
"Udah makan sayang??". Tanya mami Vita mengerahkan ponsel Misha.
"Belum mi nanti saja, sha kembali ke meja dulu takut mengganggu".
"Kamu disini saja tidak apa". Sahut papi Rendra mencegah Misha pergi.
Mami Vita menganggukkan kepala memegang tangan Misha untuk meyakinkan.
"Baiklah Pi".
"Maaf tuan Arthur sedikit memotong meeting kita sekarang kita lanjutkan,, dan kenalkan dia Misha, sha kenalkan dia salah satu kolega papi namanya tuan Arthur". Kata papi Rendra memperkenalkan.
Misha hanya membalas dengan senyuman dan mengatupkan tangan dengan sopan. Tentu saja dia tidak akan menjabat tangan dia apalagi jarak lumayan jauh. Dia sudah bisa melihat bahwa pemuda itu pemuda yang sama pagi tadi di apartemen.
Misha hanya mendengarkan mereka yang sedang meeting yang dia paham sedikit. Mami Vita juga memesankan makanan untuknya yang memang belum pesan.
Selesai meeting bersamaan dengan makanan yang sudah siap di atas meja. Mereka semua makan bersama sama.
RRRRRRRRRRRRRR
Dering ponsel membuat semua orang menatap ke arah Misha karena panggilan itu berasal dari ponsel Misha yang ada diatas meja.
"Maaf mengganggu, Misha angkat telpon dulu". Izin Misha meninggalkan meja mereka takut mengganggu acara makan itu.
Sedikit menjauh Misha mengangkat panggilan dari Elma, manajer divisi administrasi.
"Hello mba ada apa??".
["Hello nona, maaf mengganggu saya ingin menanyakan beberapa dokumen untuk hari Senin apa sudah selesai". ]
"Dokumen itu ada di ruangan saya di dalam lemari". Ucap Misha.
["Baiklah nona saya izin masuk ke dalam ruangan". ]
"Iya tidak apa masuklah. Ah~ saya baru ingat satu lagi dokumen ada di flashdisk di dalam kotak putih di atas meja. Mba Elma bisa periksa terlebih dahulu??". Pinta Misha.
["Tunggu sebentar nona ,, - flashdisk nomer berapa??". ]
"Nomer 4 ".
Suara hening di sebrang telpon membuat Misha menunggu Elma mencari flashdisk di sana.
["Tidak ada nona hanya ada 1 , 3, 6 sama 5". Kata Elma membuat Misha heran dan seketika mengingat sesuatu. ]
Misha berjalan ke arah meja masih dengan ponsel di telinga. Dia membedah tas nya dan menemukan flashdisk yang dicari.
"Maaf mba saya salah bawa flashdisk, nanti saya kirim ke email mba maaf sekali lagi". Ucap Misha merasa bersalah.
["Tidak apa nona saya tunggu". ]
Panggilan dimatikan lalu Misha bingung karena dia tidak mempunyai laptop/komputer untuk mengirimkan file yang dibutuhkan hari ini juga.
"Kenapa sayang??". Tanya mami Vita melihat Misha kebingungan.
"Misha ingin kirim email tapi tidak membawa laptop". Ya. Misha memiliki laptop di apartemen pemberian Riyan dengan alasan agar Misha tidak lembur di kantor setiap hari.
"Kamu bisa pakai laptop papi". Ucap papi Rendra, lalu sang asistennya menyerahkan laptop yang tadi pakai saat saat meeting tadi.
"Ah makasih Pi, Misha pakai sebentar".
Misha fokus pada laptop dengan melakukan dengan apa yang harus dilakukan. Untuk email nya Elma sudah mengirimkan lewat chat di dalam ponsel karena Misha tidak ingat semua email kantor.
Tanpa misha sadari ternyata pemuda yang bernama Arthur itu terus mencuri pandang ke arah dia dengan tatapan yang sulit diartikan.
******
Malam hari setelah makan malam, Misha pamit untuk masuk ke kamar. Dia pergi ke balkon untuk melihat pemandangan malam di puncak.
__ADS_1
Suasana yang indah dan sejuk membuat Misha membawa selimut berbaring di kursi panjang menatap bintang bintang di langit.
Sebenernya Misha orang nya suka kesunyian daripada keramaian. Dari dulu dia memilih banyak di dalam kamar walaupun para temannya mengajak jalan ke luar.
Tapi sesekali misha juga tidak bisa menolak ajakan teman dekatnya yang memang selalu ada disekitar Misha saat masih bersekolah.
Dia bisa menyesuaikan diri dimanapun berada dan dengan siapapun itu. Tidak ada kata jaim dan selalu menjadi diri sendiri tanpa dibuat buat.
Tidak ada chat atau panggilan dari Riyan yang membuat Misha sedikit kesepian. Riyan biasanya selalu bertukar pesan dengannya setiap malam jika tidak telponan.
Semakin malam suhu udara tambah dingin yang membuat Misha masuk ke dalam kamar dan memilih untuk beristirahat.
...🍂🍂🍂🍂...
Keesokan harinya Misha bangun lebih awal karena ingin jalan jalan di kebun teh sekalian joging.
Hoodie dan celana training dikenakan dengan warna senada yaitu warna biru. Tak lupa sneaker putih terpakai cantik di kedua kakinya.
Suasana villa masih sepi karena kemungkinan orang tua Riyan masih tidur.
Sebelum pergi, Misha meminum air mineral secukupnya lalu pergi keluar villa.
Saat Misha menatap ke arah kanan, ia melihat sepeda yang terpalkir disana. Alhasil dia mengurungkan niatnya untuk joging dan memutuskan untuk jalan jalan memakai sepeda.
Kemungkinan Misha akan pergi lebih jauh untuk mencari pemandangan yang lebih indah di sekitar puncak.
Di setiap jalan banyak penduduk yang menyapa Misha dengan sopan. Dia senang bisa berbicara dekat dengan mereka dan menanyakan tentang pemandangan disana.
Beberapa warga memberitahukan Misha tempat yang indah untuk dikunjungi disana. Tanpa takut tersesat.
Sampai di kebun teh yang terbentang luas membuat Misha memberhentikan sepedanya untuk berphoto. Dia ingin mengabadikan setiap momen pemandangan ataupun berselpi ria.
"Loh kok gak ada sinyal sih". Seru Misha menggerakkan tangannya ke atas mencari sinyal.
"Neng disini memang jarang ada sinyal,, apa neng baru pertama kali kesini??". Ucap seseorang yang mendekati Misha.
Bisa dilihat orang itu ingin pergi memetik teh saat melihat keranjang yang dia bawa di belakang punggungnya.
"Iya Bu saya baru pertama kali ke sini,, kira kira dimana ya saya bisa mendapatkan sinyal??'.
"Terimakasih bu saya akan coba ke sana".
"Iya neng saya permisi".
Misha tersenyum manis membuat ibu itu juga tersenyum.
Misha pergi ke tempat yang ibu itu tunjukan karena ia ingin memposting foto di media sosial buat kenang kenangan.
Beberapa menit kemudian Misha melihat banyak batu sedari tanpa sadar dia ada dimana. Padahal Misha sudah pergi sangat jauh dari villa tempat dia tinggal. Bahkan tanpa memberi tahu siapapun.
Misha Laurensia
738 suka
Misha Laurensia 🌄
Lihat semua komentar :
----------------------------------------
"Tempat yang bagus, Dimana itu?? Nanti kalau ada waktu luang aku ingin datang kesana".
"Indah sekali"
"Liburan day 🥳".
"Kemarin saya masih lihat ada di salah satu restoran tapi sekarang sudah di puncak".
Max \= "Pantas saja aku tidak melihat dia kemarin ternyata sedang pergi".
"Siapa @max apa dia teman Misha??"
"Tapi dia tampan sepertinya orang Korea 😍".
__ADS_1
-------------------------------------
"Max?? Sejak kapan dia tahu Ig aku". Gumam Misha melihat nama max di komen photo yang baru dia upload.
Pemuda itu pasti akan terus meneror dia di sosial media dan dunia nyata. Padahal dia sangat risih dengan keberadaan dia tapi misha tidak tahu harus bagai mana.
Mematikan ponsel dan menyimpan di kantong celananya. Dia pergi berjalan jalan kembali mencari tempat yang lain tanpa menggunakan sepeda.
Misha membiarkan sepedanya di dekat batu besar tanpa takut ada yang mencuri.
Berjalan lebih jauh lagi Misha melihat satu pohon ditengah kebun teh. Dia pergi kesana padahal itu adalah turunan yang mungkin akan membuatnya susah untuk naik lagi.
Tapi dia berhasil mencapai ke pohon itu dengan area yang sedikit luas. Disana dia bisa melihat pemandangan indah kebun teh yang sangat hijau bahkan bisa diberikan jika dia datang lebih pagi akan melihat matahari terbit dari sana.
"Indah banget disini pas buat memenangkan diri saat lelah seharian bekerja".
Sayangnya disana tidak ada tempat untuk duduk. Hanya ada 1 pohon besar untuk berteduh saat siang hari.
"Tapi kok disini kaya jarang ada orang ya". Misha melirik kanan kiri tidak ada siapapun. Dihatinya ada sedikit ketakutan tapi dia selalu OVT dengan apapun.
RRRRRRRRRRRRRR
Ponsel Misha berdering di saku celana membuat dia kaget. "Disini juga ada sinyal". Gumam Misha mengambil ponsel. Lalu tertera nama kekasihnya disana.
"Hel-".
["Sha kamu dimana sekarang??". Suara Riyan dengan cepat sebelum Misha menyelesaikan ucapan dia. Bahkan suaranya sangat panik di sebrang telpon. ]
"Suara kamu panik,, aku sedang jalan jalan keluar".
["Ini udah jam 10 berapa jam kamu keluar tanpa bicara kepada siapapun di villa, mami khawatir sama kamu apalagi kamu susah dihubungin". ]
"Maafkan aku udah buat kalian khawatir.. aku pergi dari pagi dan aku gak bisa kasih tahu mami karena mereka belum bangun".
["Terus kamu ada dimana sekarang??". ]
"Aku gak tahu.. tapi aku juga mau pulang sekarang".
["Misha jangan bercanda sekarang kamu dimana?? Kamu baru kesini". ]
"Aku bener gak tahu ini dimana,, tapi aku ingat jalan pulang".
Misha berjalan pulang sambil berbicara dengan Riyan ditelpon. Sebenarnya dia tidak yakin ingat dengan jalan pulang ke villa tapi dia gak mau membuat semua orang khawatir.
("Aduh ini gimana caranya aku naik". Batin misha melihat jalan yang menanjak apalagi satu tangannya dia memegang telpon karena Riyan tidak mau panggilan itu terputus. )
Misha memegang tangkai teh yang ada diatas dengan hati hati tapi kaki pijakannya tidak mulus karena tanah itu sedikit licin.
Hal itu membuat tubuh Misha tidak seimbang dan mendarat dengan kaki keseleo. "Awww". Pekik Misha dengan menahan suaranya agar tidak terdengar Riyan tapi sia sia, , ,
["Sha kamu kenapa??". Teriak Riyan dari sebarang telpon. ]
"Aku baik baik saja hanya tersandung batu".
Dengan sekuat tenaga Misha berjalan menahan kakinya yang sakit dan tangannya yang berdarah. Tangkai teh itu sedikit melukai tangan Misha saat menahan keseimbangan tubuhnya tapi karena dahan kecil membuatnya tetap terjatuh.
Misha juga mendengar deru nafas Riyan yang tidak tenang. Bisa dibayangkan saat ini Riyan sedang uring uringan.
Sampai di tempat sepeda yang sebelumnya dia simpan. Misha duduk terlebih dahulu mengistirahatkan tubuh nya yang kelelahan. Tangan dan kakinya sudah sangat sakit dan dia tidak mungkin langsung pulang mengendarai sepeda.
["Apa kamu pakai kalung pemberian aku??". Tanya Riyan tiba tiba. ]
"Hah apa??". Saking sibuknya meniupi luka ditangan misha tersentak kaget mendengar suara Riyan. Dia lupa bahwa panggilan itu masih terhubung.
["Kalung pemberian aku,, apa kamu memakainya??". Ucap Riyan lagi. ]
"Kalung?? Oh kalung, aku pakai emangnya kenapa??". Ucap misha bingung.
Panggilan itu tiba tiba terputus karena sinyal kembali hilang. Dia tidak tahu Riyan mendengar jawabannya apa nggak.
"Aduh perih banget celana dan sepatu aku juga kotor lagi".
Misha menatap sekeliling tapi tidak ada siapapun disana. Iya bisa melihat tempat itu sangat sepi dan hanya ada orang yang sangat jauh sedang memetik teh.
...----------...
__ADS_1
...Happy Reading.,...