
Di sebuah restoran mewah, Riyan yang selesai meeting langsung meminta Angga untuk kembali ke Jakarta. Dia mengerjakan pekerjaan di sana dalam waktu yang singkat karena ingin cepat bertemu dengan sang kekasih. Padahal mereka tidak bertemu hanya 2 hari tapi Riyan sudah seperti itu.
"Yan kalau lo pergi ke luar negeri buat dinas gimana nasib lo disana??". Tanya Angga sedikit kesal dengan kelakuan atasan plus sahabatnya itu yang sudah terkenal virus bucin.
"Gue bakal bawa misha". Celetuk Riyan tanpa pikir panjang.
"Tch, , terserah lo gue nyerah".
Angga meninggalkan Riyan terlebih dahulu masuk ke dalam mobil. Mereka sudah terbiasa seperti itu jika diluar pekerjaan.
Baru keluar pintu ruangan meeting atau klien sudah pergi, sikap Angga akan berubah 360° kepada Riyan.
Di depan perjalanan menuju bandara hanya ada keheningan. Tidak ada sedikitpun suara yang angga keluarkan karena dia paham apa yang Riyan jawab pasti akan mengarah pada Misha atau tentang kebucinan yang mendarah daging.
"Oh ya apa lo siapkan hadiah buat Misha??".
"Dia gak suka hadiah, Lo ajak makan aja dia udah senang, jangan buang buang tenaga Misha buat nolak semua pemberian lo". Kata Angga apa adanya.
Misha memang selalu menolak apa yang riyan belikan apalagi kalau hadiah itu sangat mewah dan mahal. Misha akan terus mengomel menasehati Riyan dan ujung ujungnya Riyan akan dicuekin Misha seminggu penuh.
"Gue lupa,, Gue juga gak mau dicuekin Misha seminggu, tapi kok hadiah dari nyokap bokap gue gak pernah ditolak??". Riyan selalu heran dengan apa yang Misha lakukan. Padahal hadiah dari nyokap bokapnya sama harganya dengan apa yang Riyan berikan.
"Ya karena dia gak tega kalau nolak pemberian nyokap bokap Lo,, bego kok dipelihara". Jawab Angga yang tentunya langsung mendapat jitakkan yang keras di kepala.
*****
Malam hari di apartemen yang sangat sepi, Misha menghabiskan waktu menonton drama tentunya sambil mengistirahatkan pikiran dari beberapa pekerjaan siang yang menguras pikiran.
Hanya dengan menonton drama kesukaannya bisa merilekskan pikiran Misha dan membuat moodnya kembali enjoy di pagi hari.
Besok hari Sabtu tapi dia harus berangkat bekerja karena ada beberapa pekerjaan yang harus di bereskan. Tapi kalau pekerjaan itu selesai sebelum makan siang berarti dia akan bekerja setengah hari saja.
Ting tong Ting tong
("Siapa yang datang, bukannya Riyan ada di Bali, apa mungkin mami??". Batin misha kaget.)
Apartemen yang ditempati misha dijaga sangat ketat. Tidak ada seseorang pun yang berani datang ke sana karena hanya beberapa orang yang memiliki privasi tinggi yang bisa masuk.
Misha tahu beberapa kamar berisi beberapa artis atau anak pejabat tapi Misha tidak berani untuk ikut campur akan privasi mereka sedikitpun.
Jika ada teman atau siapapun orang yang ingin datang berkunjung, orang itu harus menjemputnya sendiri di lobi atau berbicara di bawah jika tidak terlalu penting. Beberapa hari yang lalu juga Misha sempat melihat pemilik apartemen disebelah kamarnya ternyata itu salah satu artis terkenal disana. Tapi misha tidak bisa berbuat apa hanya bisa diam berjalan masuk ke kamar dengan sopan.
Hanya ada 3 orang yang bisa keluar masuk ke saat ingin datang ke apartemen Misha tanpa izin orangnya, yaitu Riyan, Angga dan mami Vita.
Tentu saja mereka bisa keluar masuk apartemen karena apartemen ini milik Rendra company. Siapa yang bisa mengusir atau menghalangi pemilik apartemen disana.
Cklek, ,. ,
"Sayang aku kangen". Teriak Riyan memeluk Misha.
Tapi Misha hanya bisa diam kaget melihat kedatangan Riyan padahal sore tadi mereka baru bertukar pesan bahwa dia masih ada di Bali.
Cup, ,
Kecupan hangat mendarat di puncak kepala Misha dengan sayang. "Aku bawa makanan buat kamu, apa kamu udah makan??".
__ADS_1
"Aku makan waktu pulang kerja tadi".
Mereka masuk ke ruang tv hanya berdua. Tentu saja Angga tidak mau ikut yang hanya ada di antara pasnagan bucin itu. Bisa bisa dia jadi obat nyamuk yang akan disuruh suruh oleh Riyan.
"Ya udah kita makan bersama oke aku belum makan di pesawat karena ingin makan berdua sama kamu".
Misha pergi ke dapur membawa beberapa alat makan untuk meletakan makanan di piring. Dia juga akan itu makan tapi tidak dengan nasi, karena Misha jarang makan nasi saat pagi dan malam hanya akan makan pada siang atau sore saja tapi itu juga dalam porsi kecil.
******
Keesokan harinya saat Misha bekerja, Misha dikagetkan dengan kedatangan mami Vita ke perusahaan.
Mami langsung masuk ke dalam ruangan membuat semua karyawan yang ada di luar heboh. Mereka tidak menyangka bahwa ternyata hubungan Misha dan anak Presdir utama sangatlah jauh dipikirkan mereka. .
Mereka tidak menyangka ternyata Misha dan orang tua Riyan begitu dekat, bahkan mami Vita terlihat sangat menyayangi Misha.
"Mami kenapa datang gak ngabarin Misha dulu". Ucap Misha berjalan ke arah mami Vita lalu memeluknya dengan erat.
"Surprise sayang . Mami hanya kebetulan habis meeting di restoran dekat sini makanya mampir". Kata mami Vita dengan senyum manis.
"....".
"Ruangan kamu enak banget sayang dan aow~ hanya menggunakan sendal jepit". Ucap mami Vita sedikit tersenyum dengan apa yang misha pakai.
Sedangkan Misha yang terciduk salah tingkah menggaruk kepalanya bingung. Dia berasa terciduk bos besar saat sedang bekerja.
Misha segera berjalan ke arah tempat duduknya untuk mengganti sendal ke sepatu kerja.
"Tidak masalah sayang,, pakai apa yang buat kamu nyaman lagian ini ruangan kamu juga". Kata mami Vita melihat Misha yang merasa bersalah.
Misha berjalan ke arah mami Vita yang sudah duduk di sopa.
"Mami bawa hadiah buat kamu". Mami Vita memberikan beberapa paper bag yang Misha tidak tahu isinya.
Tapi terlihat dari paper bag nya sudah bisa ditebak bawa isinya barang barang mewah dan mahal.
Misha selalu ragu saat menerima hadiah itu tapi mami Vita selalu bisa merayu Misha agar semua barang yang dia kasih diterima.
("Kalau gini terus aku bakal bicara perlahan dengan Riyan biar mami tidak memberikan aku barang barang ini". Batin misha. )
"Mami udah ketemu Riyan?? Apa mami mau langsung ke ruangan Riyan??".
"Mami datang kesini untuk ketemu kamu bukan ketemu Riyan".
"Oh~ anak yang ditelantarkan kasihan sekali". Celetuk seseorang yang baru masuk ke dalam ruangan.
"Sakit bangat". Drama Riyan memegang dadanya dengan wajah pura pura sakit.
"Riyan Angga kenapa kalian datang ke sini bukannya kerja".
"Mami juga ngapain disini??". Bukannya menjawab Riyan malah mengajukan pertanyaan yang sama kepada nyokapnya.
Sedangkan Angga hanya duduk di samping mami Vita tanpa berbicara apapun dengan menyadarkan tubuhnya di sopa.
"Mami mau ajak Misha liburan ke puncak sekalian papi kamu ada pekerjaan disana".
__ADS_1
"Riyan-".
"Oh tidak,, hari ini Lo ada meeting penting jangan macam macam". Potong Angga memperingati Riyan yang tentu saja sudah paham akan pikiran dia.
"Ck lo -".
"Riyan ". Ucapan Riyan kembali terpotong tapi bukan olah Angga melainkan sang mami dengan tatapan tajam. Dia paham akan apa yang anaknya pikirkan.
Mami Vita tentu saja selalu meminta anaknya tidak menyepelekan pekerjaan hanya untuk hal yang tidak penting.
Saat Riyan ingin membantah lagi, dia menatap ke arah misha yang menatapnya dengan tatapan intens. Tatapan itu juga membuat Riyan menghela nafas berat.
"Ah oke Riyan akan nyusul ke sana setelah pekerjaan selesai".
"Sayang apa pekerjaan kamu sudah selesai, udah jam makan siang kita pergi makan dulu lalu siap siap berangkat hari ini juga,". Ucap mami misha dengan senyum manis.
"Mami yakin??". Tanya Riyan memastikan.
"Kenapa tidak bahkan papi kamu udah berangkat tadi pagi".
"Misha beresin berkas berkas dulu mi sebentar". Kata Misha menunjuk meja kerja yang masih berantakan.
"Iya sayang".
Misha bangkit berjalan ke arah meja untuk membereskan barang yang masih berserakan. Tidak lupa juga misha mencuci gelas miliknya yang sempat dia pakai membuat jus tadi pagi.
Tidak lupa juga misha melipat selimut yang selalu ia pakai di ruangan itu membuat Riyan tersenyum. Semua gerak gerik kekasihnya selalu ia pantau lewat cctv saat dia kerja. Masalahnya bukan untuk mengawasi Misha tapi dia ingin melihat wajah kekasihnya setiap hari. Walaupun satu perusahaan tapi dia tidak bisa datang setiap hari ke ruangan Misha.
"Udah selesai??". Tanya mami Vita melihat Misha berjalan ke arah sopa yang sudah siap pergi.
"Udah mi".
Mami Vita langsung menggandeng tangan Misha berjalan meninggalkan ruangan. Tak lupa juga misha membawa paper bag yang nyokapnya Riyan kasih tadi.
Meninggalkan 2 pemuda yang saling pandang melihat kedekatan nyonya Mahendra yang terbilang susah dekat dengan orang baru.
"Mami dekat banget ya sama Misha padahal dari dulu banyak cewek yang dekati dia agar bisa dekat dengan lo tapi gak seperti ini". Kata Angga heran. Tapi tidak ada jawaban apapun dari orangnya. Malah meninggalkan Angga sendirian tanpa bicara apapun.
"....".
"Sialan". Umpat Angga melihat punggung Riyan dari belakang.
********
Setiap jalan yang mereka lewati membuat Misha canggung. Ini kali pertama Misha berjalan bergandengan dengan istri pemilik perusahaan. Yang pasti membuat semua orang berpikir yang berbeda beda.
Misha hanya bisa diam tapi pikirannya berpikir yang aneh.
("Huh mereka pasti bicarakan aku yang tidak tidak apalagi aku bawa belanjaan yang dibawa mami tadi saat masuk". Batin misha .)
Misha masuk ke dalam mobil Ferarri yang sudah siap di depan perusahaan. Mami Vita memang selalu mengemudi sendiri tanpa didampingi supir.
...----------...
...Happy Reading.,...
__ADS_1