
Keesokan harinya sebelum matahari terbit. Misha sudah bangun sedari tadi. Dia sekarang sedang duduk di balkon kamar melihat matahari terbit.
Langit orange dan hamparan kebun teh yang berwarna hijau membuat senyum terukir di bibir misha. Tidak menyangka bahwa ia akan melihat pemandangan yang sangat indah seperti ini.
Kemarin dia melihat matahari terbit di pantai, sekarang dia melihat matahari terbit di puncak.
Hal ini tidak pernah ada dalam pikiran Misha sedari dulu. Dia belum menyangka bisa bertemu dengan pemuda yang baik hati seperti Riyan.
Padahal pertama bertemu dulu mereka selalu bertengkar tapi sekarang Riyan melakukan apapun untuk melihat Misha tersenyum.
("Terimakasih sudah datang di hidup aku,, aku yang dulunya tidak bisa membuka hati kepada siapapun akhirnya bisa mencoba membuka hati buat kamu". Batin misha. )
("Aku harap kita berjodoh dan bisa selalu bersama selamanya. )
Misha belum tahu kedepannya seperti apa. Tapi dia akan menjalani hidupnya seperti air yang mengalir. Dia akan melakukannya sebaik mungkin tanpa menyakiti siapapun.
........
Setalah puas memandang pemandangan pagi, Misha turun kebawah untuk membuat sarapan.
Tapi saat keluar dari kamar, Misha berpapasan dengan mami Vita yang sedang menaiki anak tangga.
"Morning sayang". Sapa mami Vita yang pertama melihat Misha.
"Morning mi,, mami udah bikin sarapan??". Tanya Misha.
"Nggak sayang, mami gak bikin sarapan, kita akan sarapan di luar bersama sama mencari suasana yang berbeda". Ujar mami Vita.
"Apa yang lain udah bangun??".
"Papi dan Angga udah, tadi mami lihat Angga mau olahraga, sedangkan riyan mami juga gak tahu". Jawab mami Vita mambuat misha menganggukkan kepala mengerti.
"Kamu siap siap dulu gih nanti kita berangkat jam 7 ". Lanjut mami Vita dengan lembut.
"Iya mi".
Misha masuk kembali ke kamar untuk bersiap siap setalah pamit kepada mami vita. Dia hanya menggunakan kaos yang dimasukan ke dalam rok selutut dan memakai badan simpel. Ntah kenapa dia ingin memakai bandana itu saat melihatnya di dalam koper.
Misha sengaja tidak mengeluarkan semua barangnya dari koper untuk mempermudahnya packing saat pulang nanti. Dia juga tidak ingat melegakan bandana itu disana saat packing kemarin.
Setalah gajian di akhir bulan, misha selalu memberi barang online padahal dia gak tahu kegunaannya. Saat melihat itu Misha hanya membeli saja karena lucu.
Bisa dibilang pakaian dan barang Misha dibeli dari olshop online semuanya. Tapi siapa sangka saat dipakai di tubuh Misha pakaian itu sangat pas dan terlihat mewah.
Misha sangat menyukai outfit Korea. Terlihat simpel tapi elegan.
Di lantai bawah belum juga ada siapapun. Misha mengira bahwa mereka masih ada di kamar masing masing.
"Sha mau kemana??". Tanya Angga yang keluar dari ruang olahraga.
"Oh~ kamu belum siap siap?? Mami ngajak buat sadapan diluar".
"Aku baru mau siap siap". Seru Angga meninggalkan misha sendiri.
Misha melihat jam yang melingkar di tangan kanannya. Jam sudah menunjukan pukul 06.50 pagi, 10 menit menuju waktu perjanjian.
"Pasti ngaret". Gumam Misha mendudukkan dirinya di sopa ruang tengah.
"Sayang sudah siap??".
Mami Vita berjalan menuruni tangga bersama papi Rendra. Mereka berdua sudah siap sedangkan kedua pemuda tampan itu belum terlihat batang hidungnya.
"Udah mi,, tapi kayanya Riyan dan Angga belum siap. Angga baru selesai olahraga sedangkan Riyan gak tahu". Jawab Misha apa adanya.
"Ya sudah kamu bangunin Riyan gih pasti dia masih tidur, mami sama papi berangkat duluan nanti kamu nyusul sama mereka".
"Iya mi".
Sepeninggalan orang tua Riyan, Misha naik kembali ke lantai atas menuju kamar Riyan.
Benar saja pemuda yang katanya ganteng melebihi aktor Korea masih tertidur pulas di tempat tidur hanya terlihat kepalanya saja.
__ADS_1
"Yan bangun.. Riyan".
Misha terus menggoyangkan tubuh Riyan agar terbangun. Dia tidak berani membuka selimutnya karena kepastian Riyan tidur dengan bertelanjang dada.
Tidak ada pergerakan sedikitpun dari Riyan, Misha berjalan untuk membuka gorden kamar. Sekali ditarik, cahaya matahari masuk menyilaukan mata Riyan yang masih tertidur.
Pergerakan mulai terlihat. Tapi bukannya bangun Riyan malah menyembunyikan wajahnya masuk ke dalam selimut.
"Bangun,, mami udah nunggu di restoran buat sarapan". Ucap Misha duduk di ujung tempat tidur.
"Five minits".
"Gak ada. Sekarang bangun aku lapar". Keluh Misha dengan nada merajuk.
Mendengar ucapan dari Misha, Riyan membuka mata nya menatap kekasihnya yang ada didepan dia.
"Kamu lapar kenapa gak sarapan duluan dibawah". Seru Riyan meregangkan otot nya yang kaku.
"Mami ajak sarapan diluar masa iya aku sarapan duluan".
Riyan tersenyum mengelus pipi Misha dengan lembut. "Good morning". Sapa Riyan.
"Morning,, udah sana cepetan mandi aku tunggu dibawah".
"Iya".
Riyan langsung pergi ke kamar mandi. Sedangkan Misha membereskan tempat tidur Riyan terlebih dahulu sebelum turun ke bawah.
Saat keluar kamar Riyan bersamaan dengan Angga yang sudah rapih dengan setelan kasual.
"Riyan mana??".
"Lagi mandi, kita tunggu di bawah aja".
15 menit Riyan turun dengan setelan yang pas dengan yang digunakan Misha. Perpaduan warna putih dan cream. Sedangkan Angga menggunakan pakaian kasual dengan warna gelap.
Mereka berangkat dengan 2 mobil, Angga tidak ingin menjadi obat nyamuk di antara pasangan yang bucin itu.
"Kenapa kalian lama sekali". Keluh mami Vita yang memang hampir telat 1 jam.
"Mereka siapa mi??". Tanya Riyan mengalihkan pembicaraan.
"Mereka kolega papi kamu". Riyan menganggukkan kepalanya tanpa menjawab.
Mereka duduk di kursi yang kosong untuk sarapan bersama.
Misha melihat punggung kolega yang di katakan mami Vita merasa tidak asing tapi dia menghiraukan nya begitu saja tidak ingin memikirkan yang tidak penting.
Bukan Riyan namanya kalau tidak memanjakan Misha. Dia memesan begitu banyak sarapan untuk Misha dan beberapa makanan favorit dia.
Sebenernya Misha tidak memiliki favorit dalam makanan apapun. Dia akan makan jika makanan itu enak di mulutnya dan akan menolak jika tidak cocok.
Saat itulah Riyan akan menghabiskan semua makan yang menurut misha tidak enak. Walaupun Misha tidak mengucapkan apapun tentang makanan itu, Riyan akan tahu semaunya dari mimik wajah Misha yang tidak bisa disembunyikan.
Habis sarapan Riyan mengajak misha untuk jalan jalan. Sedangkan yang lain pergi ke tempat yang berbeda.
Di dalam mobil misha melihat pemandangan hamparan kebun teh yang sangat indah. Apalagi saat mobil Riyan dibuka atasnya Misha ingin sekali berdiri tapi ultimatum Riyan keluar membuatnya takut.
"Oh ya aku ingin menunjukan tempat bagus ke kamu??". Ucap misha dengan antusias.
"Dimana??".
"Nah itu aku lupa.. aku hanya ingat itu berada di atas bukit". Misha langsung sedih. Ia memang sedikit lupa jalan ke tempat itu.
Riyan melajukan mobilnya menuju tempat yang iya tebak saat dia mengecek keberadaan Misha tempo hari.
Saat misha melihat batu besar tempat dia mencari sinyal senyumannya kembali mekar.
"Aku ingat dengan batu batu itu". Seru Misha ceria.
Dia langsung keluar dari mobil mendekati batu itu.
__ADS_1
"Stop jangan naik". Cegah Riyan melihat kekasihnya ingin naik ke atas batu itu.
Misha mengerucutkan bibirnya lalu berjalan ke arah tempat yang ingin dia tunjukan kepada Riyan dengan menggandeng tangan Riyan dengan erat.
Riyan hanya bisa pasrah tangannya ditarik oleh kekasihnya ke suatu tempat. Dia melihat satu pohon yang tumbuh di sekitaran kebun teh.
Dia bisa menebak bahwa Misha akan membawanya ke sana. Saat melihat jalanan yang sulit dilalui dia turun terlebih dahulu, lalu menggendong Misha untuk turun.
"Jangan bilang kamu kemarin jatuh disini??". Tebak Riyan yang langsung mendapat cengiran dari Misha.
Dia tidak bisa menjawab karena Riyan sudah bisa menebak itu semua. Misha tidak bisa menyembunyikan apapun dari Riyan. Walaupun tidak berbicara terus terang Riyan akan tahu apapun itu.
"Bagus kan pemandangan dari sini, udara sejuk, pemandangan indah dan suasananya sangat tenang". Ucap Misha dengan wajah ceria.
Hanya ada satu batu yang dulu diletakan oleh Misha untuk duduk. Jadi Misha duduk di atas pangkuan Riyan menatap pemandangan yang indah.
Dia tidak mau kekasihnya pegal berdiri disana.
Sore nanti mereka akan kembali ke Jakarta. Jadi Misha memutuskan untuk mengajak Riyan jalan jalan berdua mengabadikan setiap momen yang ada. Mereka berphoto bersama dan meng-upload nya di sosial media. Tapi hanya photo sendiri saja.
Bukannya dia tidak mau memposting photo berdua tapi Misha mau memposting kehidupan Riyan yang notabe nya anak pengusaha.
Di akun sosial pribadinya juga Riyan jarang meng-upload photo dirinya. Isinya hanyalah photo benda atau tempat. Tapi sesekali misha dengan iseng meng-upload photo Riyan di akun pribadinya yang membuat heboh akun pribadinya.
Pengikut kian bertambah dengan kebanyakan wanita. Bahkan banyak juga yang DM dia.
Bukannya tidak ada photo dia tapi Riyan lebih suka photo pemandangan yang dia ambil daripada photo dirinya. Dia sungguh jarang berada di depan kamera. Jika tidak dipaksa oleh Misha.
"Yan up di Instagram ya??". Ucap Misha yang sudah ada di dalam mobil untuk pulang ke villa.
Matahari sudah berada di atas kepala yang membuat mobil bagian atasnya ditutup. Misha yang hobi mengambil photo tidak henti menjadikan Riyan sebagai modelnya. Apalagi dengan wajah tampannya dari sudah manapun pasti akan terlihat bagus.
"Ayolah, photonya sangat bangus". Kata Misha dengan nada memohon. Dari tadi dia tidak mendapat jawaban apapun dari Riyan.
"Gak usah biar jadi koleksi ponsel kamu saja".
"Tch, gak asik". Misha mengerucutkan bibirnya ngambek. Dia sungguh sebal saat ini padahal photonya sangat bagus menurut dia.
"Ya udah, lakukan apapun yang kamu mau". Ucap Riyan memberikan ponselnya kepada Misha.
Riyan memang tidak ada yang disembunyikan dari Misha. Ponselnya atau apapun itu bebas dimainkan Misha sesuka hati.
"Yey".
Misha mengoyak Atik ponsel milik Riyan. Tapi satu yang tidak akan pernah Misha lakukan adalah membuka aplikasi chat di ponsel Riyan. Karena itu privasinya Riyan yang menurutnya tidak pantas untuk dilihat.
Walaupun Misha selalu bermain dengan ponsel Riyan dia hanya membuka sosial media atau menonton film.
"Tapi caption apa ya??". Pikir Misha memegang dagunya bingung.
Otaknya sungguh mentok tidak bisa memikirkan apapun lagi. Dia sungguh tidak bisa membuat kata kata untuk caption di sosial media.
Kebanyakan Misha hanya menambahkan emoticon saja.
"Caption nya apa??". Tanya Misha kepada Riyan yang sedari tadi diam.
"Terserah kamu".
Misha pasrah. Dia tidak bisa mengandalkan Riyan tentang sosial media.
Riyan_Mahendra
2661 Suka
Riyan_Mahendra 🍃🍃
Lihat semua komentar :
...-----------...
__ADS_1
...HAPPY READING.,...