
Hari ini Misha sangat malas untuk beranjak dari tempat tidur. Ia tidak mau melakukan apapun selain berbaring disana. Tapi perutnya mengkhianati suasana pagi ini.
"Ck, gak bisa diajak kompromi udah tahu gue malas jalan". Gerutu misha dengan wajah sebal berjalan ke kemar mandi.
30 menit misha keluar dengan wajah segar dan pakaian berbeda.
Pagi ini Misha mengenakan kaos pendek dengan dimasukan ke dalam rok selutut berwarna crem. Sedangkan untuk kaosnya berwarna belang hitam putih.
Rambut hitam yang digerai dengan wajah memakai riasan natural membuat Misha tambah terlihat sangat cantik.
Misha memang sangat menyukai style Korea yang selalu dia lihat di sosial media. Simpel tapi terlihat elegan dan cantik.
Sepatu sneaker melingkari kedua kaki nya. Lalu berjalan ke depan cermin.
"Perfect".
Senyum manis tercetak di bibir peach pink yang sudah ditambah dengan lipstik kesukaannya.
Misha mengambil tas dan ponselnya berjalan meninggalkan kamar hotel untuk mencari makan. Dia masih belum memikirkan menu apa yang akan dimakan untuk mewakili aktivitas pagi menjelang siang.
Pertama keluar dari lobi langsung mengedarkan pandangannya menatap sekeliling. Dia sengaja tidak memesan ojek online karena ingin makan.
Perutnya sangat tidak bisa diajak kompromi sama sekali. Jadi makan memutuskan untuk makan di restoran yang dekat dengan hotel.
Masuk ke dalam restoran itu Misha langsung memesan makanan. Lalu makan dengan cepat setelah makanan itu sampai dihadapannya.
Tapi saat asik makan, pandangan misha terkunci pada satu orang yang tidak jauh dari kursi yang Misha duduki.
Mata Misha menyipit melihat orang itu sampai akhirnya helaan nafas terdengar.
Ia langsung bisa menebak siapa orang itu.
" Ck akhirnya gue ketahuan juga". Batin misha.
Tidak ingin pusing dengan orang itu, Misha melanjutkan makannya dengan tenang. Ntah kenapa saat mata mereka bertemu tatapan rindu bisa dilihat Misha dimata dia.
Dengan cepat Misha mengambil ponsel nya untuk mengetik sesuatu.
...My boyfriend ❤️...
^^^Jika ingin mendekat, mendekat lah aku gak| ^^^
^^^akan kabur^^^
Room chat yang banyak pesan masuk akhirnya dibuka oleh Misha. Misha tahu kekasihnya ini sangat merindukan dia.
Ponsel Misha diletakan di tas meja. Lalu makan dengan tenang sampai seseorang duduk dihadapannya dengan menatap dirinya dengan mata berkaca-kaca.
"Sejak kapan kamu disini??". Tanya Misha masih asik makan.
Tidak ada jawaban sama sekali membuat misha mengangkat wajahnya melihat seseorang yang duduk dengan Hoodie menutup kepala dan masker menutupi wajah tampannya.
"Riyan". Panggil misha dengan lembut.
Perlahan Riyan membuka masker itu dan menetap misha dengan tatapan kerinduan. Jika mereka tidak ada di tempat umum kemungkinan Riyan akan memeluk misha dengan erat.
Misha tersenyum ke arah Riyan melihat wajah kekasihnya yang seperti itu.
"Udah makan??".
"....". Riyan menggelengkan kepala masih terus menatap ke arah misha.
"Mau pesan makanan??".
".....". Lagi lagi Riyan hanya menggeleng kepala.
"Ya udah kalau begitu". Misha meminum ice cappucino kesukaannya lalu mengangkat tangan. "Mba minta bil".
__ADS_1
Pelayan yang dipanggil datang dengan mengerjakan tagihan makanan yang dimakan Misha.
Setelah membayar Misha mengajak Riyan untuk pergi. Dipalkiran dia melihat mobil Lamborghini milik Riyan lalu berisi di sisi mobil itu.
Riyan yang paham langsung membukakan pintu mobil agar Misha masuk. Lalu berjalan mengitari mobil menuju kursi kemudi.
Setelah masuk, bukannya menjalankan mobil. Riyan malah memeluk tubuh Misha dengan erat.
Misha hanya bisa tersenyum dengan tangan mengelus punggung Riyan. Lama kelamaan misha merasakan pundaknya basah akibat air mata dari kekasihnya itu.
Dia gak nyangka bahwa saat ini Riyan sedang menangis di pelukannya.
"Yan kenapa kamu nangis". Seru Misha ingin melepaskan pelukan itu tapi Riyan mencegahnya.
"Aku kangen sama kamu,, kamu jangan ninggalin aku". Kata Riyan dengan suara serak akibat menangis.
"Salah kamu sendiri nyiekin aku". Seru Misha dengan tatapan sedikit kesal.
"Ia aku salah. Aku cemburu sama kamu".
"Makanya kalau ada masalah bilang jangan malah cuekin aku". Omel misha.
"Iya maaf aku salah, tapi kamu jangan pergi lagi". Seru Riyan masih menatap Misha dengan sendu.
"Nggak kok, aku cuma ingin jalan jalan aja makanya aku cuti".
Riyan kembali memeluk Misha dengan erat sampai dia puas baru dilepaskan.
"Kamu pulang ke apartemen ya". Pinta Riyan menggenggam tangan misha sambil menjalankan mobil dengan kecepatan sedang.
"Aku ingin main ke pantai". Ajak misha.
"Apapun untuk kamu sayang". Riyan tersenyum ke arah Misha lalu melajukan mobilnya ke arah pantai.
Mereka jalan jalan berdua di pinggir pantai dengan banyak pengunjung yang datang. Dengan wajah Riyan yang tampan membuat para pengunjung menatap mereka. Misha sudah tidak heran jika mereka menjadi pusat perhatian. Bukan mereka sih lebih tempatnya Riyan.
Syaratnya dia harus mencari minimarket terdekat untuk membeli sun block untuk mereka pakai. Mau tidak mau misha menyetujui nya daripada dipaksa pulang.
Puas berjalan jalan di jembatan yang ada di pantai itu membuat misha kecapekan.
"Yan haus". Ujar Misha menatap ke arah Riyan yang sedang memegang payung.
Riyan memeng memaksa Misha untuk memakai payung saat berjalan jalan. Tidak hanya mereka beberapa pengunjung ada juga yang melakukan itu.
"Ayo cari minum sekalian cari makan aku lapar".
"Aku pengen bakso".
Riyan memegang tangan Misha berjalan mencari apa yang makan mau. Dia tentu saja tidak akan menolak apa kemauan Misha sedari awal mereka bertemu.
Di salah satu kedai penjual bakso. Riyan dan Misha duduk berdampingan dengan bakso dihadapan mereka berdua.
Misha yang kehausan sudah menghabiskan 2 botol minuman dingin belum lagi satu gelas es teh dihadapannya yang masih utuh.
"Haus apa doyan sayang". Celetuk Riyan.
"Haus tau, gak lihat tuh cuaca panas sepeti itu". Seru Misha mengerucutkan bibir.
Rambut panjang misha yang terurai membuat susah saat misha makan. Melihat itu Riyan bangkit dari duduk menuju penjual bakso.
"Bu apa ibu punya ikat rambut apa karet??". Tanya Riyan.
"Gak ada mas. Kalau ikat rambut tuh ada di penjual sama". Tunjuk penjual itu ke arah pedagang yang tak jauh dari mereka.
"Makasih bu."
Riyan berjalan ke arah penjual aksesoris. Lalu kembali ke arah misha yang asik makan bakso tanpa memperdulikan keberadaan Riyan.
__ADS_1
Misha yang sedikit tersentak dengan tangan yang memegang rambut nya langsung menengadahkan kepalanya menatap orang itu.
Dia melihat Riyan yang sedang mengikat rambut sambil tersenyum ke arahnya.
Pemandangan itu tentu saja menjadi pusat perhatian para pengunjung.
Setalah selesai mengikat rambut Riyan duduk lagi untuk makan bakso miliknya yang langsung mengerutkan kening.
"Kayanya sedikit berkurang". Gumam Riyan menatap mangkuk dihadapannya.
Misha yang mendengar itu nyengir tanpa dosa menatap Riyan yang langsung mendapatkan elusan lembut di kepala.
"Mau lagi??". Tanya Riyan.
"Aaaa, , ". Misha membuka mulutnya langsung mendapatkan bakso dari mangkuk Riyan.
Riyan hanya bisa tersenyum dengan kelakuan kekasihnya yang selalu mencuri makannya dimanapun mereka makan.
Tentu saja Riyan gak akan protes, dia akan memesan apa yang masih mau jika kurang.
"Mau lagi??". Tanya Riyan melihat mangkuk bakso yang sudah habis.
"Udah kenyang".
Setelah asik jalan jalan dan kenyang makan, Riyan mengajak Misha pulang ke apartemen.
Tapi sebelum itu Misha harus mengambil barang barangnya di hotel tempat dia menginap.
Riyan tidak ikut masuk melainkan menunggu di lobi atas permintaan Misha. Dia gak mau orang orang disana menganggap yang tidak tidak saat misha mengajak laki laki masuk ke dalam kamar hotel.
Ya takutnya nanti malah digerebek orang. Bisa mampus dia.
Hampir 30 menit Misha turun kembali dengan membawa koper sedang. Dia tidak membutuhkan waktu lama membereskan barang barangnya karena memang dia tidak membongkar isi kopernya semua. Paling hanya beberapa benda penting yang ada di luar/atas meja rias.
"Udah selesai??". Tanya Riyan melihat Misha berjalan mendekati dirinya dari meja resepsionis.
"...". Tidak ada jawaban apapun hanya anggukan kepala yang terlihat. Sampai akhirnya Riyan mengambil alih koper yang misha pegang dengan menyeret nya keluar sambil berdampingan.
,,,,,,,
Diperjalanan pulang ke apartemen misha sedikit cemberut karena uangnya tidak kembali. Ia kesal dengan Riyan yang menolak untuk menginap di hotel itu satu malam lagi.
"Jangan ngambek sayang nanti aku ganti uang kamu ya". Bujuk Riyan mengelus kepala Misha.
"Janji". Tunjuk Misha dengan tatapan tajam.
"Iya, janji".
"Mana??". Misha menengadahkan tangannya meminta uang untuk mengganti uang misha.
Riyan mengambil dompet di dalam tasnya lalu memberikan kartu hitam ke tangan Misha.
"Uang bukan kartu". Seru Misha.
"Aku gak punya cash, itu aja buat kamu. Belanja sepuasnya".
"Ck". Misha memasukan kembali kartu itu ke dalam dompet Riyan. Dia memang selalu menolak saat dia dikasih kartu itu. Karena misha gak pantas mendapatkannya walaupun dengan status kekasih. Apalagi Riyan yang selalu memberikan barang barang mahal membuat misha tidak ada alasan lagi buat menerima kartu kredit dari Riyan.
Sesampainya di palkiran apartemen, Riyan membawakan koper milik misha naik ke lantai dimana apartemen nya berada.
Saat mereka masuk bersamaan dengan seorang pemuda dengan datar berubah menjadi ramah.
"Nona misha??".
...-------...
...TBC...
__ADS_1
...Happy Reading. ... Babay,!!!!!...