Destiny In My Life

Destiny In My Life
Berkunjung


__ADS_3

...Happy Reading...


Keesokan harinya Misha terbangun dengan perut yang sangat sakit. Tak jarang jika hari pertama haid dia melakukan itu. Tapi itu semua terjadi saat dia kecapekan.


Memang benar bulan ini Misha memang sangat padat bekerja dan Minggu ini juga dia harus pergi ke Japan untuk pemotretan salah satu brand.


Tapi untung saja sebelum berangkat kesana Misha ada hari libur 3 hari yang akan dipakai dia untuk beristirahat di apartemen.


Awalnya dia ingin mengajak Riyan menghabiskan waktu berdua tapi diurungkan dan akan mengajak liburan saja di Japan selama beberapa hari.


Terlihat langit masih gelap dan jam masih menunjukan pukul 4 pagi. Misha tidak lagi bisa tidur memutuskan untuk duduk di balkon sambil menonton film.


Setelah matahari mulai muncul, misha memutuskan keluar dari kamar menuju dapur untuk membuat sarapan.


Dilihat dari seluruh apartemen, dia tidak melihat keberadaan Riyan sama sekali. Bisa ditebak bahwa malam ini Riyan tidur di apartemen miliknya atau tidur di apartemen Misha dan sekarang sedang mandi. Itu yang ada dipikiran Misha saat ini.


Menu sarapan pagi ini pancake dan susu hangat. Pagi ini Misha ingin makan makanan yang manis. Ia juga berencana membuat brownies dan salad buah kesukaannya mumpung sedang libur bekerja.


Terlihat jam sudah menunjukan pukul 6.30 tapi tidak terlihat tanda tanda Riyan masuk ke apartemen lagi. Biasanya Riyan akan kembali untuk sarapan berdua walaupun tidur di apartemen miliknya yang ada didepan.


Misha yang sedang memotong buah buahan untuk salad dihentikan dan berjalan menuju apart Riyan.


Masuk ke dalam apartemen Riyan dia tidak melihat keberadaan pemuda itu bahkan tidak terdengar suara air di kamar mandi.


"Yan, Riyan kamu dimana??". Teriak Misha memenuhi semua ruangan.


"Apa jangan jangan dia udah berangkat ke kantor". Gumam misha mengecek semua ruangan. Tapi nihil gak ada sosok Riyan disana.


Jadi Misha memutuskan untuk keluar dari apartemen Riyan untuk menelpon pemuda itu. Namun saat ia ingin masuk ke apartemen nya terlihat Riyan yang keluar dari lift dengan membawa sesuatu.


"By habis dari mana??". Tanya Riyan saat melihat misha.


"Aku yang nanya, kamu dari mana?? Aku cari kamu buat sarapan".


"Ambil titipan bokapnya Angga dibawah". Riyan menunjukan papar bag yang dia bawa kepada misha.


"Ya sudah sekarang sarapan dulu. Udah siang nanti kamu telat ek kantor". Ujar Misha masuk ke dalam diikuti Riyan di belakang.


Mereka sarapan bersama di meja makan tanpa Misha melanjutkan pekerjaannya di dapur. Dia gak mungkin meninggalkan Riyan untuk sarapan bersama karena pemuda itu kepastian akan merajuk.


Setelah sarapan, riyan pamit pergi dan Misha melanjutkan membuat salad yang tadi sempat terhenti.


Hari menjalang siang, Misha yang bosan ada di apartemen memutuskan untuk pergi ke kantor Riyan sambil membawakan brownies buatannya sendiri.


Siap dengan pakaian rapih tanpa lupa membawa masker, misha berjalan keluar apartemen sambil membawa paper bag berisi brownis.


Sebelumnya ia sudah memesan ojek online. Dia ingin berjalan kaki tapi cuaca siang ini cukup panas dan itu membuat misha malas padahal jarak apartemen ke kantor Riyan gak terlalu jauh.


Sesampainya di kantor Riyan, Misha langsung masuk ke dalam lift menuju ruangannya. Dia hanya menyapa resepsionis sebentar karena Misha mengenalnya saat bekerja disana dulu.


"Siang mba siska, Riyan ada??". Sapa Misha kepada Siska, sekertaris nya Riyan yang ada di meja kerjanya.


Siska yang mendengar namanya disebut langsung menengadahkan kepalanya menatap ke arah suara. " Siang nona, lama gak jumpa. Tuan Riyan sedang ada meeting di ruangannya tapi sebentar lagi selesai kok". Balas Siska.


"Em udah lama meetingnya??".


"Iya, nona bisa tunggu di dalam. Apa nona butuh sesuatu biar saya siapkan??". Tawar Siska.


"Gak usah mba, saya tunggu didalam aja".


Misha masuk ke dalam ruangan Riyan yang kosong gak ada orangnya. Awalnya Misha ingin terus berbincang dengan Siska tapi takut mengganggu pekerjaan dia.


Di dalam ruangan misha hanya duduk di sopa tanpa sambil bermain ponsel.

__ADS_1


Gak lama kemudian terdengar pintu dibuka membuat Misha mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Lalu terlihatlah wajah Riyan, tapi wajahnya terlihat kesal membuat Misha berkerut heran.


"Ada apa?? Apa ada masalah". Batin misha.


"Sayang udah lama disini??". Tanya Riyan berjalan mendekati Misha yang duduk di sopa.


"Gak lama, paling beberapa menit yang lalu aku datang". Balas Misha mengelus punggung Riyan yang langsung memeluknya dengan menggunakan wajahnya di leher Misha dengan anteng mencium aroma mawar khas misha.


"Tuan, ini -".


Ucapan Angga terhenti saat melihat mereka di dalam ruangan. Dia merutuki kebodohannya karena masuk tanpa mengetuk pintu malah melihat adegan yang ada di dalam ruangan.


"Maaf mengganggu, cuma mau antar berkas berkas yang tadi diminta. Saya permisi". Ujar Angga meletakan dokumen itu di atas meja lalu langsung pergi meninggalkan ruangan tanpa menunggu jawaban.


"Yan, kamu baik baik aja??".


"Em, biarkan aku begini sebentar". Ucap Riyan dengan suara tertahan.


Misha hanya mengusap punggung Riyan dengan lembut membiarkan posisi nya seperti itu.


Drrrttt, , drrrttt, , drrrttt.


Suara dering ponsel berbunyi, Misha langsung menerima panggilan yang tertulis nama manajernya di layar.


"Hello mba ada apa??". Tanya misha to the point.


"Mba hanya menyampaikan ada kiriman buat kamu dari brand prada ke perusahaan, mau diambil apa dikirim ke apartemen". Ujar Maya dari sebarang telpon.


"Kirim ke perusahaan Riyan aja mba. Aku lagi disini".


"Baiklah nanti ada orang yang ngantar kesana beberapa menit lagi".


"Iya misha tunggu, apa ada yang lain??". Tanya misha lagi.


"Siang mba".


Pip.


Panggilan dimatikan, Misha meletakan kembali ponselnya di atas sopa karena tubuhnya sama sekali tidak bisa bergerak masih dengan posisi yang seperti itu.


"Kamu bawa apa by??". Tanya Riyan menegakan tubuhnya saat sudah puas menghirup aroma yang menenangkan diri nya.


"Brownis cobain deh kurang apa?? Aku buat sendiri". Ucap Misha sambil membuka paper bag itu.


Tanpa pikir panjang Riyan langsung memakan brownies itu dengan lahap. Misha hanya melihat Riyan yang sedang makan dengan lahap sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan Riyan. Bahkan bibirnya sudah belepotan seperti anak kecil.


Misha mengambil tisu lalu membersihkan mulut Riyan yang kotor, sedangkan orangnya hanya nyengir tanpa dosa menatap ke arah misha.


"Makannya pelan pelan, kaya anak kecil aja". Ujar Misha membersihkan mulut Riyan.


"Soalnya enak banget".


"Iya tapi pelan pelan".


Tok, , tok, , tok.


"Masuk". Teriak Riyan saat mulut nya kosong.


Cklek, pintu terbuka menampilkan Siska dengan membawa sesuatu masuk ke dalam ruangan.


"Permisi tuan nona. Ada kiriman buat nona Misha". Ujar Siska menyerahkan paper bag sedang ke hadapan misha.


"Kamu habis shopping by??". Tanya Riyan.

__ADS_1


"Nggak, makasih mba".


"Iya nona, kalau begitu saya permisi". Ucap Siska pamit keluar dari ruangan.


Misha langsung membuka kiriman itu dengan antusias. Bisa ditebak bahwa isinya tas dari brand prada.


"Terus ini??". Tunjuk Riyan.


"Ini kiriman buat aku, aku gak shopping sama sekali. Emang kamu kalau belanja gak pernah lihat dulu asal beli aja". Omel misha tanpa menatap ke arah orangnya.


Riyan yang mendengar ucapan sang kekasih nyengir tanpa dosa. Dia memang seperti itu jika sedang berbelanja, tapi bukan untuk dia melainkan untuk sang kekasih.


"Nanti malam dandan yang cantik aku mau ajak kamu dinner". Ucap Riyan membuat misha yang sedang melihat ponselnya menatap ke arah suara.


Riyan berjalan menuju kursi kebesarannya untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


....


Sore hari Misha pulang dari kantor Riyan dengan diantar supir atas perintah Riyan.


Sampai di apartemen, Misha langsung duduk di sopa untuk melanjutkan menonton film yang tadi sempat tertunda.


Sampai sore hari, misha baru teringat bahwa Riyan mengajak malam ini untuk dinner. Tanpa pikir panjang Misha masuk ke dalam kamar untuk siap siap. Masih jam 5 tapi dia gak mau kalau Riyan akan menunggu lama apalagi Misha dandannya sangat lama banyak yang harus ia pakai.


Ting


Saat sibuk merias wajah, ponsel nya berbunyi dengan mendapatkan pesan dari sang kekasih.


My boyfriend ❤️


By, nanti berangkat ke restoran nya di jemput Angga. Aku masih ada urusan.


^^^Me^^^


^^^Iya^^^


Singkat padat dan jelas. Misha memanglah seperti itu kadang pendiam kadang cerewet, tergantung situasi dan kondisi.


Gaun warna biru dongker terpasang pas di tubuh misha. Rambutnya ia kerli dan ditambah dengan bando kecil berwarna silver.


Tak lupa juga Misha yang suka memaki aksesoris seperti kalung dan anting. Untuk cincin dia memakai cincin mas yang dibelinya dulu saat di kampung halaman.


Ada juga yang di kasih Riyan tapi hanya dipasang jika dia mau saja karena takut hilang. Apalagi kalau diingat mengenai harganya mungkin bisa stres kalau hilang.


Ting tong Ting tong


Suara bel berbunyi. Bisa ditebak itu pasti Angga yang akan menjemput nya ditambah jam sudah menunjukan pukul 18.15 malam. Tapi itu terlalu cepat bagi misha, dia sangat malas kalau harus menunggu lama.


Misha berjalan untuk membuka pintu dan benar saja, disana terdapat Angga yang sedang berdiri dengan jas tak terpasang.


"Kanapa datangnya cepat banget sih". Keluh Misha mempersilahkan Angga untuk masuk.


"Gw mau numpang makan dulu, lapar". Ucap Angga melenggang pergi ke dapur.


Misha hanya menaikan sebelah alisnya heran. Gak biasanya Angga datang hanya untuk numpang makan.


"Napa lo??". Tanya misha duduk di kursi pantry melihat Angga yang sedang mencari makanan untuk ia makan. duduk di kursi pantry melihat Angga yang sedang mencari makanan untuk ia makan.


"Don't talking me".


Ucapan Angga membuat Misha tambah bingung. Lalu pergi meninggalkan Angga sendirian di sana memilih masuk ke dalam kamar.


Misha memang sudah menganggap Angga sebagai abangnya sendiri, jadi dia dibuatkan melakukan sesuatu hatinya di apartemen misha asal jangan buat ruangan berantakan.

__ADS_1


To be continued, , ,


__ADS_2