
Beristirahat beberapa saat akhirnya Misha memutuskan untuk pulang. Dia hanya bisa mengingat jalan pulang saja karena dia sungguh gak tahu keberadaannya dimana.
Ingin bertanya pun dia gak tahu bertanya apa. Nama villa yang dia tinggali pun lupa namanya apa. Ataupun pertunjukan apapun ia tidak tahu.
Berkali kali misha berhenti di pinggir jalan karena kakinya yang sakit jika dipaksa mungkin kakinya akan tambah sakit lagi.
Saat Misha duduk di pinggir jalan sambil memijit kakinya yang sakit. Tiba tiba ada mobil Mercedes Benz yang berhenti di dapan Misha.
Misha hanya menatap mobil itu heran. Dia tidak tahu siapa dan mau apa.
Pertama yang Misha lihat Riyan keluar dari mobil dengan wajah panik bersama Angga. Mereka berdua mendekati Misha yang sedang duduk dengan wajah cengo.
"Sha kamu kenapa?? Apa yang terjadi sama kamu??". Tanya Riyan panik.
"Aku baik baik saja".
Riyan dengan cepat menggendong Misha ala bridal style. Lalu memasukan ke dalam mobil dengan cepat.
"Ck aku bisa jalan sendiri". Keluh Misha dalam gendongan.
"Diam".
Mendengar suara Riyan yang tidak bersahabat membuat Misha diam. Dia tahu saat ini Riyan sedang marah kepadanya atas apa yang dia lakukan.
"Bawa sepeda ke villa". Perintah Riyan kepada Angga yang terbengong di luar mobil menatap bosnya yang sedang tidak baik baik saja.
Riyan mengendarai mobil menuju villa dengan cepat. Suasana di dalam mobil itu sangat hening, tidak ada yang membuka suara.
("Duh gue harus gimana?? Riyan pasti marah banget sama gue". Batin misha mencuri pandang. )
Sampai di villa, Riyan langsung keluar duluan dan berjalan ke dalam duluan.
Misha yang melihat itu berusaha berjalan sendiri. Kakinya sungguh sakit untuk digerakkan. Mungkin karena dia memaksa untuk terus mengayun sepeda saat ingin pulang tadi.
"Aww, ".
Misha meringis dengan kakinya yang terasa sakit. Dia berusaha menahan suaranya agar tidak keluar tapi seperkian detik tubuhnya terangkat dengan tiba tiba.
"Eh yan apa yang kamu lakukan". Ucap Misha kaget.
Dia kembali digendong masuk ke dalam villa. Wajah Riyan masih seperti semula. Sangat dingin dan datar.
Misha di turunkan untuk duduk di sopa, lalu Riyan mengambil kotak obat.
Saat itu misha kaget kenapa Riyan tahu bahwa dia sedang tidak baik baik saja.
"Riyan, , ". Panggil Misha lirih.
Suasana di villa hanya ada mereka berdua. Misha tidak tahu keberadaan orang tua Riyan dimana sekarang.
Riyan hanya diam terus mengobati kaki Misha yang sedikit membengkak kebiruan. Misha sangat merasa bersalah dan hanya menatap Riyan dengan mata yang sudah berembun.
Air matanya ingin mengetes tapi Misha berusaha menahan sekuat tenaga. Dia tidak mau di bilang wanita cengeng.
"Kamu mandi dan langsung turun lagi, aku siapkan kamu makan". Riyan langsung pergi tanpa mendengar jawaban dari Misha.
Hati Misha sungguh sakit. Dia tahu dia salah tapi Riyan gak seharusnya nyiekin dirinya seperti ini.
Tidak mau berpikir yang aneh aneh. Misha pergi ke kamar untuk membersihkan badan.
__ADS_1
Hanya 20 menit dihabiskan di kamar, dia turun kembali dengan pakaian santai. Menuruni anak tangga dengan perlahan dengan menahan kakinya yang sakti.
Matanya sedikit merah akibat menangis saat di kamar mandi. Sesampainya di kamar, tangisannya tidak bisa dibendung lagi.
"Sha aku bantu ya". Seru Angga membantu Misha menuruni anak tangga.
Misha hanya bisa menerima bantuan Angga dengan diam. Tidak ada sedikit katapun yang keluar dari mulutnya. Karena pikirannya hanya tertuju kepada Riyan yang sedang marah.
Angga membawa Misha duduk di meja makan. Dia tahu bawa Misha belum makan dan melihat Riyan sedang memasak di dapur.
"Jangan dipikirkan terus bawa heppan, nanti juga dia gak marah lagi". Kata Angga dengan lembut.
"Hm~ ini juga salah aku". Misha menundukkan kepala membuat Angga terus mengelus kepala Misha.
Gak lama Riyan datang membawa satu piring berisi nasi goreng. Dia melegakannya dihadapan Misha yang sedang duduk ditemani Angga.
Saat Riyan datang Angga langsung pergi membiarkan kedua pasangan itu menyelesaikan masalahnya dengan cepat.
Setelah meletakan piring, Riyan ingin langsung pergi tapi Misha memeluknya dari samping dengan erat.
"Yan aku minta maaf, aku tahu aku salah, aku pergi tanpa izin siapapun dan pulang seperti ini". Ucap Misha dengan suara pelan.
"....". Riyan hanya diam.
Misha hanya memeluk tubuh Riyan dari samping dan menyembunyikan wajahnya disana.
Lama kelamaan Misha kembali menangis di dalam pelukan Riyan. Riyan yang melihat kekasihnya menangis pun menjadi panik. Dia tidak atau kenapa misha menangis seperti itu.
"Jangan nangis,, aku hanya khawatir sama kamu". Riyan panik langsung memeluk Misha.
Bukannya berhenti Misha malah tambah menangis mengerutkan pelukannya. Riyan mencengangkan kekasihnya dengan membalas pelukan itu dan mengelus punggung misha dengan lembut.
Semua wajah misha merah karena menangis. Matanya juga merah dengan sedikit air mata yang tersisa.
"Tadi kamu nangis di kamar??". Tanya Riyan mengusap pipi misha dengan lembut.
Misha hanya mengangguk membenarkan ucapan Riyan. Dia hanya melihat wajah Riyan yang penuh kekhawatiran lalu tersenyum memeluk kembali misha dengan erat.
"Maafkan aku,, aku khawatir sama kamu, kamu pergi tanpa bicara kepada siapapun di villa. Pergi begitu aja di tempat yang baru dikunjungi itu tidak baik, kalau kamu tersesat gimana??". Kata Riyan. Ia menatap wajah misha dengan lembut. Wajah kekasihnya saat ini sungguh menggemaskan. Riyan tidak kuat ingin mencubit pipinya tapi dia urungkan daripada Misha kembali menangis lagi.
"Kamu gak salah, aku yang salah gak minta izin kepada mami saat pergi. Aku minta maaf". Seru Misha dengan suara serak.
"Iya iya kamu jangan ulangi lagi ya". Misha menganggukkan kepalanya mengerti. "Sekarang kamu makan".
"Kamu juga makan, aku tahu kamu belum makan dari pagi".
"Karena aku mikirin kamu terus dari tadi". Jawab Riyan mencubit pipi Misha gemes.
"Awww~ sakit,,". Keluh Misha memegang pipinya kesakitan.
"Habisnya kamu gemes banget. Dari tadi aku nahan biar gak nyubit kamu tapi gak bisa". Seru Riyan apa adanya.
"Ya udah gak papa anggap aja ini sebagai hukuman aku". Celetuk misha dengan senyum manis.
"Oh tidak bukan itu hukuman kamu".
"Hah~ apa??". Kaget misha.
"Hukumannya aku pending,, nanti di Jakarta aja, sekarang kamu makan dulu".
__ADS_1
Riyan ingin pergi tapi dengan cepat Misha menahannya dengan memegang tangan Riyan. "Kamu mau kemana?? Makan bersama". Ucap Misha.
"Aku ambil minum dulu".
Misha melepaskan tangannya membuatkan Riyan pergi. Gak lama dia kembali membawa air mineral untuk mereka minum. Tentu saja Riyan hanya membawa satu. Dia memang selalu minum di gelas yang sama dengan Misha tanpa ada rasa jijik atau apapun itu.
Mereka makan dengan sepiring berdua dengan Riyan yang terus menyuapi Misha. Awalnya Misha menolak tapi dengan keras kepala Riyan akhirnya dia setuju. Walaupun sedikit terpaksa.
Selesai makan mereka duduk di sopa dengan menonton film. Bukan mereka sih tepatnya hanya misha yang menonton. 2 pemuda yang menemaninya hanya fokus pada laptop di pangkuan masing masing.
Misha tidak mempermasalahkan itu. Dia hanya asik duduk dengan menyandarkan kepalanya di pundak Riyan yang duduk disamping.
"Misha,, kamu baik baik aja kan sayang. Kenapa kamu pergi gak bilang mami". Teriak mami Vita langsung memeluknya dengan erat.
"Misha baik baik aja mi,, maaf misha gak izin soalnya gak enak buat bangunin mami". Ucap Misha merasa bersalah membalas pelukan nyokapnya Riyan.
"Mami khawatir sama kamu, kamu udah makan??".
"Udah mi, Riyan yang masakin Misha". Jawab misha.
"Syukurlah, mami ingin terus sama kamu tapi mami harus nemenin papi buat survei lokasi, gimana kalau kamu ikut??". Ajak mami Vita dengan bahagia.
"Ah~".
Misha kaget dengan ajakan maminya itu. Dia gak mau maminya khawatir dengan keadaan kakinya yang sedang sakit. Tadi Misha meminta Riyan untuk tidak memberitahukan keadaannya kepada mami Vita.
"Sebaiknya misha istirahat ada mi,, pagi tadi dia habis bersepeda sangat jauh". Sahut Riyan saat melihat Misha yang kebingungan.
"Benar juga sih. Ya udah kamu istirahat aja kalau mau jalan jalan ajak Riyan jangan pergi sendiri".
"Iya mi".
Mami Vita pergi meninggalkan ruangan itu. Dia pulang ke villa hanya sekedar melihat kabar Misha saja dan akan kembali pergi bersama suaminya.
Misha menatap ke arah Riyan lalu dibalas dengan senyuman manis. Riyan paham bahwa Misha tidak mau berbohong sedikitpun kepada maminya karena Misha sangat menyayangi mami Vita seperti ibunya sendiri.
"Jangan banyak berpikir nanti kamu pusing". Seru Riyan mengelus kepala Misha.
Misha kembali menonton film kesukaannya yang bergenre romantis. Ia sangat suka nonton film drama luar negri apalagi dengan pemain yang sangat tampan.
Sering kali riyan mengeluh dengan tontonan Misha. Karena saat menonton Misha selalu memuji aktor itu langsung dihadapannya. Tentu saja membuat dirinya kesal.
Hanya satu ucapan yang selalu Riyan gunakan saat Misha memuji mereka. ' aku lebih tampan '. Dia selalu mengucapkan kata itu dengan percaya diri.
Dan Misha hanya bisa menjawab dengan deheman saja tanpa apapun lagi. Iya malas meladeni Riyan yang seperti itu. Apalagi saat misha memuji boyband Korea favoritnya, itu akan membuat Riyan kalang kabut dan paniknya sangat parah.
Padahal dipikiran misha, dia hanya mengaguminya dan untuk memilikinya hanya dalam angan angan saja tidak mungkin terwujud.
*****
Malam harinya mereka membuat BBQ di taman villa yang sangat indah. Kaki Misha sudah mendingan untuk dibawa jalan. Sedari siang, Riyan terus menjaganya dengan baik.
Besok mereka masih ada di puncak. Dengan banyaknya perdebatan segala makan malam itu. Hanya Misha dan Riyan yang terus berdebat sedangkan yang lain hanya menyaksikan.
Awalnya mereka mengira bahwa Misha yang akan menang, tapi ternyata bukan. Riyan yang menang dengan Misha harus mengikuti ucapannya untuk pulang ke Jakarta sore hari.
...----------...
...Happy Reading.,...
__ADS_1