
Misha yang duduk disamping Riyan hanya menatap kekasihnya dengan kebingungan. Dia tidak tahu kenapa Riyan bisa seperti ini.
"Yan??". Panggil misha.
RRRRRRRRRRRRRR
Panggilan masuk di ponsel Riyan, hal itu membuat Misha teracuhkan begitu saja.
"Hm".
["Lo dimana?? Ada berkas yang harus lo tandatangani". Ucap seseorang di sebrang telpon. ]
"Gue di ruangan Misha".
Pip, , !!!!
Ponsel kembali diletakan di atas meja. Riyan tidak sama sekali menjawab panggilan Misha. Bahkan melirik pun tidak.
"Hufh". Hembusan nafas berat terdengar dari mulut Misha.
Ini pertama kalinya Riyan bersikap seperti itu kepada dia. Sampai sampai Misha bingung harus melakukan apa.
Tanpa berbicara lagi Zee mengambil selembar uang lalu meninggalkan ruangan itu. Dia ingin membeli minuman untuk menjernihkan pikiran nya yang sangat kalut. Pekerjaan yang banyak dan kelakuan Riyan yang seperti itu membuatnya pusing.
"Loh sha mau kemana??". Tanya Angga saat lift dibuka.
"Aku kebawah dulu, Riyan ada didalam". Jawab Misha dengan wajah datar. Tidak ada keceriaan sedikitpun di wajahnya membuat Angga menaikkan alisnya sebelah.
Misha masuk ke dalam lift lalu menekan tombol menuju lantai dasar.
"Mas, ice cappucino boba 2". Pesan Misha saat sudah ada di kantin.
"Siap nona, tunggu sebentar".
Misha berjalan ke arah meja yang kosong. Dia menunggu pesanan dengan menatap ke sekeliling. Misha juga sengaja meninggalkan ponselnya diruang kerja.
"Nona ini pesanannya". Seru seseorang membelikan minuman kepada Misha.
Setelah membayar Misha pergi meninggalkan kantin dengan aura yang berbeda. Bahkan semua karyawan yang berpapasan juga kebingungan dengan tampang Misha yang tidak biasa.
Ting, , ,
Lift terbuka di lantai 10, misha langsung pergi ke ruangannya yang masih terdapat Riyan disana. Tapi sudah tidak ada Angga lagi.
Misha meletakan meminum di depan Misha tanpa berbicara. Lalu kembali berjalan ke arah tempat duduknya.
Dia melanjutkan semua pekerjaannya dengan baik. Tidak ada suara apapun di ruangan itu hanya ada suara ketukan keyboard dari kedua belah pihak.
Kring
Kring
Kring
"Dengan Misha bagian administrasi, ada yang bisa saya bantu??". Ucap Misha setelah mengangkat telpon dengan dijepit antara telinga dan bahu. Sedangkan tangannya terus mengetik keyboard.
["Maaf mengganggu nona, ada kiriman buat nona Misha". ]
"Buat saya??".
["Iya nona, kiriman itu ada di bagian resepsionis, mau diambil pulang kerja apa mau diantar sekarang??". ]
"Antar saja ke ruangan saya".
["Baik nona, OB akan mengantar ke ruangan nona". ]
"Iya terimakasih".
Pip, , !!!!
Gak lama kemudian pintu ruangan Misha diketuk dari luar.
"Masuk".
"Permisi nona saya menghantarkan kiriman buat nona". Salah satu ob masuk membawa kotak. Bisa dilihat isinya pasti kue atau makanan.
"Terimakasih".
OB itu menunduk lalu meninggalkan ruangan itu. Misha mengambil kotak itu lalu membukanya. Ternyata benar kotak itu berisi kue ulang tahun.
"Selamat sore manis". Gumam Misha membaca tulisan yang ada di atas kue.
"Dari siapa??".
"Astaghfirullah". Misha terkejut dengan keberadaan Riyan berdiri di sampingnya apalagi dengan suara yang sangat dingin. "Ngagetin tau".
__ADS_1
"Dari siapa??". Tanya Riyan lagi dengan suara yang sama.
"Gak tahu". Ucap Misha apa adanya.
Misha menatap wajah Riyan yang sudah tidak bersahabat.
("Buset, bisa ngamuk ini mah". Batin misha membulatkan mata menatap ke arah Riyan. )
("Perang dingin dimulai". )
Tok
Tok
Tok
"Masuk". Teriak misha dengan gugup mengerejepkan matanya berulang ulang.
"Maaf nona ada kiriman lagi buat nona". OB yang masuk itu menyerahkan buket bunga merah kepada Misha.
Dengan bingung misha menatap ke arah Riyan yang sepertinya ini semua bukan dari dia. Lalu kembali menatap kue dan bunga yang diulurkan orang itu ek arah misha.
"Siapa pengirimnya??". Tanya misha membuat OB itu menarik kembali bunga itu karena lama diterima Misha.
"Saya tidak tahu nona, tapi sepertinya orang yang sama dengan orang yang berikan kue itu. Saya tadi melihat seorang cowok di depan resepsionis yang memberikan itu, , tapi kayanya bukan kurir nona". Jelas OB itu apa adanya.
Misha mengerutkan keningnya bingung lalu Riyan sedikit menggeser kursi yang sedang diduduki kekasihnya. Tangannya mengotak atik komputer Misha dengan cepat.
Gak lama rekaman cctv terlihat membuat Misha membulatkan matanya menatap layar komputer.
"Mark". Celetuk misha.
Riyan menatap Misha dengan penuh selidik. Matanya sangat tajam mengintimidasi Misha saat itu juga.
Saat ini Misha sangat gelagapan dan tangannya sedikit gemetar dengan tatapan yang diberikan Riyan.
Matanya juga sudah memerah ingin menangis. Dia tidak kuat dengan tatapan itu.
"Ini buat kamu terserah mau diapakan". Misha menyodorkan kue yang ada ditangannya ke ob yang masih berdiri dengan ketakutan.
Aura di ruangan itu sudah sangat berubah. Membuat semua orang yang ada disana ketakutan termasuk Misha.
"Bunganya nona". Seru OB itu.
"Bawa juga pergi".
Misha menatap ke arah Riyan yang sedang bersandar di meja dengan tangan melipat di depan dadanya. Tatapan itu masih sama, tapi tidak ada suara apapun yang keluar.
"Riyan, , ". Panggil misha lirih.
Cklek, , pintu terbuka dengan tiba tiba di waktu yang tidak tepat.
"Riyan ada-".
Ucapan Angga terpotong saat melihat kedua pasangan itu saling menatap dengan tatapan berbeda.
("Apa yang terjadi disini??". Batin Angga menatap Misha dan Riyan bergantian. )
"Handle semua pekerjaan gue dan antar Misha pulang". Ucap Riyan meninggalkan ruangan dengan cepat.
"Riyan tunggu,, aku mau bicara". Teriak Misha berjalan mendekati Riyan yang ingin keluar.
Langkah yang cepat membuat Misha tidak bisa mengejarnya. Riyan sudah hilang masuk ke dalam lift tanpa berbicara kepadanya sedikitpun.
"Sha, ,". Panggil Angga dari belakang.
Misha menatap seluruh ruangan. Saat ini dia menjadi pusat perhatian di ruangan itu.
Tidak ingin berlama lama dia kembali masuk ke dalam ruangan dengan wajah sedih diikuti Angga.
Misha duduk di kursinya dengan menundukkan kepala. Air matanya mulai mengalir begitu deras, hatinya sangat sakit.
Dengan kuat Misha menutup mulutnya agar suara tangisnya tidak terdengar orang lain.
"Hiks, , hiks, , ".
Tangan kekar terukir di punggung misha mengelusnya dengan lembut. Misha bisa menebak itu Angga karena tidak mungkin Riyan ada disana.
Angga yang ada disana hanya menenangkan Misha yang tidak kunjung berhenti menangis. Tidak ada ucapan apapun hanya elusan lembut di punggung.
........
Ntah berapa lama misha menangis. Akhirnya tangisannya berhenti tapi kepalanya sangat pusing. Kepalanya di letakan di atas meja dengan bertumpu kedua tangan.
"Aku antar pulang yuk". Ajak Angga.
__ADS_1
Misha menggelengkan kepalanya mengambil tisu untuk menghapus sisa air mata di pipinya.
Dia juga mengambil kaca untuk melihat wajahnya yang sangat kacau. Matanya merah sembab akibat menangis begitu lama. "Belum jam pulang, lagian pekerjaan aku masih banyak".
"Kamu pulang aja, daripada disini kerja pun gak fokus malah jadi berantakan". Usul Angga terus mengajak misha pulang.
".....".
"Udah ayok pulang aku anterin". Paksa Angga.
Angga mematikan komputer, sedangkan misha mengambil kacamata bening untuk dipakai dan mengambil tas nya tak lupa memasukan semua barang yang ada di atas meja kedalam tas.
Mereka berdua berjalan berdampingan menuju lantai bawah. Angga juga menghubungi Siska untuk menghandle kantor.
Di parkiran bawah tanah Misha masuk ke dalam mobil tanpa bicara apapun. Hanya kesedihan yang terpancar diwajahnya. Angga bicara apapun gak akan ada respon.
Sesampainya di depan apartemen, misha tak kunjung keluar. Tatapannya sangat kosong menatap ke depan.
"Sha udah sampai,, sha, Misha". Seru Angga memegang tangan misha.
"Hah apa??". Ucap Misha kaget.
"Udah sampai".
"Oh, makasih ya".
"Iya kamu istirahat aja jangan banyak berpikir, nanti kamu malah sakit". Angga mengelus kepala Misha dengan sayang. Dia sudah menganggap misha adiknya sendiri walaupun usianya gak jauh banget.
"....". Misha hanya mengangguk.
"Nanti kalau ada apa apa telpon aku".
Misha keluar dari mobil langsung masuk ke dalam. Dia berjalan menuju lift dengan tatapan kosong.
Dia mendengar namanya dipanggil tapi bukan suara Angga. Misha hanya acuh tanpa menengok ke belakang masuk ke dalam lift. Dari suaranya misha bisa mengenalinya karena telinga Misha sangat tajam.
Ting, ,
Pintu lift terbuka di lantai tempat apartemen misha berada.
Saat Misha ingin masuk tiba tiba ada seseorang yang menyapa. "Nona Misha". Sapa orang itu.
Misha membalikan badannya menatap orang itu. Dia tuan Albert, salah satu kolega papi Rendra saat bertemu di puncak tempo hari.
"Nona Misha baru pulang??".
"Iya". Jawab Misha dingin membuat orang itu terdiam terus menatap ke arah Misha. "saya permisi dulu".
Dengan cepat Misha masuk meninggalkan orang itu. Kepalanya sungguh pusing, ia ingin cepat tidur.
Sampai di kamar, Misha langsung merebahkan tubuhnya tanpa berganti baju dulu. Tapi dia gak kunjung tertidur.
Tanpa pikir panjang, misha bangun dan mengambil obat pusing kepala di kotak obat yang Riyan siapkan di nakas tempat tidur.
Setelah meminum itu misha mengganti pakaiannya dengan piyama tidur tanpa mandi lalu pergi tidur.
*******
Brak, , ,
Suara pintu terbuka dengan keras. Riyan baru sampai di rumah dengan pakaian kacau.
Dari kantor dia buru buru pulang dengan amarah yang memuncak. Awalnya dia ingin pergi ke apartemen tapi karena apartemen nya dan apartemen Misha berdekatan membuatnya mengurungkan niat memilih untuk pulang.
"Riyan kamu kenapa??". Pekik mami Vita keluar dari dapur.
"Gak papa".
Riyan pergi menuju kamarnya yang ada dilantai 2. Dia tidak ingin lama lama disana karena kepastian maminya akan mengintrogasi nya dengan pertanyaan berderet.
Bruk, ,
"Aaaakhhhhh, , , ,".
Suara teriakan menggema di kamar Riyan. Untung saja ruangannya itu kedap suara yang pasti tidak akan terdengar ke luar.
Prang, ,
Pecahan gelas berserakan di lantai. Tangannya gak sengaja menyenggol gelas yang ada di atas nakas.
Gelas itu memang selalu ada disana dengan salah satu teko kaca yang berisi air. Saat Misha tidur disana dia memang selalu menyediakan air minum. Karena jika tengah malam haus Misha gak harus turun kebawah.
Riyan membaringkan tubuhnya asal di tempat tidur sampai gak lama deru nafas teratur menandakan dirinya tertidur dengan pulas. Akibat pikirannya sangat kacau.
...--------...
__ADS_1
...TBC...
...HAPPY READING... BABAY!!!!...