
Malam ini Riyan tidur di sopa apartemen Misha. Mungkin dia ketiduran disana saat Misha kembali ke kamar duluan.
Semalam memang Misha ke kamar duluan karena dia ada pekerjaan yang harus di kerjakan . Meninggalkan Riyan yang juga bekerja di ruang tamu.
"Morning sayang". Sapa Riyan terbangun akibat Misha yang sedang memasak di dapur.
"Morning,, kamu kebangun karena aku?? Maaf ya".
"Tidak apa". Riyan mencium kepala Misha dengan sayang.
Pagi ini misha membuat nasi goreng. Biasanya Misha tidak makan nasi tapi pagi ini dia memilih menu itu karena semalam mereka melewatkan jam makan malam dengan memilih makan cemilan saja.
"Tumben makan nasi". Tanya Riyan heran.
"Lagi kepengen".
Nasi putih yang memang jarang dimakan Misha di pagi hari tapi untuk nasi goreng tidak apa.
Misha juga sering di marahin nyokapnya Riyan karena jarang makan nasi. Mami Vita menasehati Misha untuk sarapan nasi walau perbandingannya 1 : 10. Dia gak mau Misha sakit apalagi dengan sibuknya bekerja di perusahaan Riyan.
"Kamu mandi dulu sana nanti kita sarapan bersama, kalau telat aku makan duluan". Titah Misha.
"Jangan dong, aku gak akan lama tinggu ya."
Riyan langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi. Di lemari pakaian misha memang ada pakaian Riyan dengan jenis apapun. Semua barang mereka sudah tercampur di ruangan pribadi masing masing.
Yang belum hanyalah mereka tidur malam bersama. Kecuali saat Misha sedang sakit, dia selalu ingin tidur memeluk Riyan. Tapi beda jika Riyan yang sakit.
Misha akan di suruh sedikit menjauh agar tidak tertular. Padahal dalam hatinya ia ingin dimanja, tapi itulah riyan. Dia mending dirinya yang sakit daripada kekasihnya tertular.
.....
Pukul 07.00 mereka berangkat bersama seperti biasa. Lalu berpisah di lantai dimana tempat Misha bekerja.
Seperti biasa dari jam 8 sampai jam 4 ditambah 2 jam lembur dihabiskan Misha dengan bekerja. Dia hanya makan siang dengan memesan makanan di kantin.
Sedangkan Riyan ada meeting diluar jadi mereka tidak makan siang bersama.
Riyan juga tidak ke ruangan Misha seharian itu hanya mengirim beberapa chat untuk memberi kabar. Dia memang sudah terbiasa memberitahu apapun kegiatannya setiap hari kepada Misha.
Misha hanya fine fine saja dengan apa yang Riyan lakukan. Tapi tidak untuk dirinya, Misha akan memberitahu Riyan jika itu dianggap penting saja.
Drrrttt
Drrrttt
Drrrttt
📞My boyfriend ❤️ is calling, , , ,
"Iya Yan ada apa??". Tanya Misha to the point dengan ponsel menempel di telinga dijepit dengan bahu.
Tangan misha memang masih terus mengetik keyboard dan pandangannya menatap layar komputer.
["Pulang kerja kamu ke ruangan aku dulu aku masih ada beberapa dokumen yang belum selesai". ]
".....". Misha diam saja saking fokusnya dengan pekerjaannya yang sebentar lagi selesai sampai sampai ucapan Riyan ia hiraukan.
["Yang, , sayang,, , , ". Panggil Riyan. ]
".....".
["Sayang lagi apa sih?? Sha, , Misha". Riyan terus memanggil Misha dari sebrang telpon tapi tidak ada jawaban sama sekali. ]
["Misha". Panggil Riyan lagi dengan suara sedikit keras. ]
"Hah apa,?? Kamu bilang apa??". Misha sedikit tersentak dengan panggilan Riyan. Lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi yang sedang ia duduki.
["Kamu lagi apa!? Aku panggil dari tadi gak nyahut". ]
"Maaf aku lagi ngetik saking fokusnya aku lupa kalau lagi angkat telpon". Ucap Misha merasa bersalah.
["Kebiasaan kamu mah". Riyan sedikit kesal dengan Misha. Dia sudah sering menasehati kekasihnya agar tidak terlalu fokus bekerja dan menjaga kesehatan nya agar tidak sakit. Tapi Misha selalu keras kepala dengan pendiriannya.
__ADS_1
"Iya maaf, tadi kamu bilang apa??".
["Aku mau kamu ke ruangan aku saat pulang nanti, aku gak mau kamu pulang sendiri dan aku ada beberapa dokumen yang harus diselesaikan hari ini juga". Kata Riyan dengan jelas. ]
"Aku langsung ke ruangan kamu saat ini juga, pekerjaan aku kebetulan udah selesai semua".
["Ya udah aku tunggu, apa kamu lapar?? Jika ia nanti aku pesankan sambil nunggu aku selesai kerja". Ucap Riyan perhatian. ]
"Aku tidak ingin makan apapun, lagian sebentar lagi jam makan malam nanti yang ada aku gak makan lagi hanya nyemil dong". Tolak misha.
[" Terserah kamu saja, aku tunggu". ]
"Iya aku kesana sekarang, bye".
Pip, , , !!!!
Telpon dimatikan, lalu Misha dengan cepat membereskan meja kerjanya untuk pergi ke ruangan Riyan karena sudah selesai bekerja. Lagian jam juga sudah menunjukan pukul 6 lewat.
Saat keluar dari ruang kerja, Misha melihat beberapa karyawan yang masih lembur. Lalu dia langsung masuk ke dalam lift dan memencet lantai yang dituju menuju ruangan Riyan.
Ting, , !!!!
Pintu lift terbuka di lantai 40 dengan cepat Misha berjalan menuju ruangan kekasih nya.
"Siska belum pulang??". Tanya Misha saat dihadapan meja siska yang masih bergelut dengan komputer.
"Sebentar lagi nona. Nona mau pulang??".
"Iya tapi mau nunggu Riyan,, saya permisi masuk dulu". Pamit Misha.
"Iya nona silahkan".
Misha masuk langsung disambut dengan heboh oleh Riyan. Riyan langsung berjalan memeluk Misha karena ia sangat merindukan kekasihnya itu.
"Aku merindukanmu". Peluk Riyan dengan erat.
"Tadi pagi juga kita ketemu".
"Tapi aku gak ketemu seharian ini". Ujar Riyan dengan cemberut.
"Ck lebay kamu mah,, udah sana selesaikan pekerjaan kamu biar cepet pulang. Aku mau ke shalat dulu". Ucap Misha melepaskan pelukan itu.
Kedua pipi dan kening Misha dicium riyan tanpa henti. Hal itu membuat Misha geram dan pergi meninggalkan ruangan itu dengan masuk ke kamar pribadi Riyan.
Seperti biasa ringan itu memiliki semua kebutuhan Misha padahal tempat itu tidak pernah dipakai oleh Misha hanya dipakai saat keadaan darurat.
Selesai sembahyang Misha langsung keluar menghampiri Riyan yang masih bekerja.
"Shalat dulu nanti dilanjutin". Ujar Misha.
Tanpa membantah Riyan pergi untuk sembahyang sebentar dan kembali langsung melanjutkan pekerjaan yang belom selesai.
Sedangkan untuk Misha menunggu sambil menonton film di ponsel miliknya dengan berbaring di sopa.
Beberapa jam kemudian, pekerjaan Riyan sudah selesai. Lantas dia mengajak Misha untuk pulang tapi sebelum itu mereka akan makan malam terlebih dahulu di salah satu restoran.
Diperjalanan Misha hanya diam memandang jalanan yang sedikit macet. Mungkin karena jam segini banyak orang yang pergi ntah kemana ataupun baru pulang kerja.
"Mau makan apa sayang??". Tanya Riyan mengelus kepala Misha dengan lembut.
Misha langsung menoleh ke arah Riyan dengan tatapan hangat. Suasana hati Misha sangatlah nyaman saat ada disamping Riyan. Ia merasa Riyan sangat menyayangi nya dengan tulus.
"Apa aja, yang penting makan, aku sudah lapar banget".
"Maaf ya gara gara aku kita pulangnya lama". Ujar Riyan merasa bersalah mengelus tangan Misha.
"Tidak apa. Aku juga mau tungguin kau kan".
Riyan mengecup tangan Misha dengan satu tangan masih memegang stir kemudi.
Mobil yang dikendarai Riyan memasuki palkiran restoran Jepang.
Misha yang suka makan tentu saja tidak akan mengeluh makan apapun. Tapi konsekuensi nya jika Misha tidak suka makanannya ia akan memberikan itu kepada Riyan tanpa dihabiskan.
__ADS_1
Dia memang sudah untuk tidak menyukai makanan sebelum mencicipinya jadi Riyan sering mengajak Misha pergi makan yang sudah sering misha makan saja daripada mood Misha akan jelek nantinya.
Mereka masuk ke restoran dengan berjalan saling berdampingan tanpa pegangan tangan. Saat ini Misha masih menggunakan pakaian kantor tapi tidak untuk sepatu. Dia sudah mengganti nya dengan sendal biasa yang ada di mobil Riyan. Sandal itu milik nyokapnya yang tertinggal di mobil, jadi Misha pinjam sebentar.
"Mau pesan apa tuan dan nona??". Tanya pelayan saat mereka baru duduk.
"Chicken original bento, spicy chicken dan ebi maki". Ujar misha menyebutkan menu makanan yang ada di menu.
"Beef hot ramen dan crispy ebi tempura + chicken teriyaki. Minumnya apa sayang??". Tanya Riyan menatap ke arah Misha.
"Samain sama kamu".
"Minumnya es lemon tea 2".
"Baik tuan dan nona ditunggu pesanannya. Jika ada tambahan bisa panggil kami lagi". Seru pelayan meninggalkan meja mereka.
Menunggu makanan datang, Misha sibuk dengan ponselnya sedangkan Riyan sibuk memandang misha yang terlihat serius.
Ntah kenapa Riyan sangat suka menatap Misha padahal Misha sangat malu dengan apa yang dia lakukan.
"Misha". Panggil seseorang membuat misha menengadahkan kepala melihat siapa orang itu.
Saat tahu siapa yang memanggil membuat Misha langsung menatap ke arah Riyan yang sudah menegang wajah datar. Bahkan tatapannya sangat tajam.
("Buset bisa ngamuk ni anak". Batin misha. )
"Lagi makan juga disini?? Ini siapa? Temannya ya". Tanya orang itu menurut perasaan Misha sudah ketar ketir.
"Ah Mark, kenalin ini pacar aku, Riyan". Misha langsung memperkenalkan Riyan dengan jelas. Ia tidak mau terjadi yang nggak nggak nantunya apalagi Mark selalu terang terangan di sosial media.
"Pacar kamu??". Ujar Mark kaget.
"Iya".
"Oh, kenalin gue Mark teman Misha". Mark menyodorkan tangan untuk bersalaman.
"Teman?? Sayang kamu gak cerita punya teman yang namanya Mark??". Riyan langsung mempertanyakan itu semua dengan jelas.
"It-".
"Mungkin hanya kebetulan kami tinggal di apartemen yang sama, gue juga sering ketemu di supermarket bawah jadi kenalan disana ". Potong Mark.
("Ni orang apa apaan sih". Batin misha ingin sekali mengusir Mark tapi tidak enak juga. )
Riyan diam membuat keheningan melanda meja itu. Saat ini Misha hanya menatap wajah Riyan yang sudah tidak bersahabat dengan keberadaan Mark. Apalagi Mark saat ini malah duduk tanpa permisi di kursi yang kosong.
Setelah makanan sampai, mark yang ada disana pamit untuk pergi. Padahal menurut misha dan Riyan dia itu ibaratnya jelangkung. Datang gak dijemput pulang gak diantar.
Misha makan dengan hening. Ia tidak berani berbicara terlebih dahulu apalagi melihat wajah Riyan yang masih sama.
Riyan juga di hadapannya makan dengan tenang tanpa memperdulikan Misha. Ntah apa yang dia rasakan saat ini.
"Yan". Panggil Misha dengan hati hati.
"Makan aja, biar kita cepat pulang". Seru Riyan dengan datar.
("Aduh alamat panas dingin ini mah". Batin misha. )
"Ya udah aku ke toilet dulu". Izin Misha langsung meninggalkan Riyan yang sedang makan.
Di toilet Misha hanya alasan agar tidak terlalu canggung dengan Riyan. Saat seperti ini misha bingung harus berbuat apa. Jujur Misha gak pernah merayu terlebih dahulu. Jika kebetulan ia mungkin akan jago. Tapi ini!!!. Ntahlah Misha pusing.
"Ngambek ngambek lah gue pusing". Gumam misha meninggalkan toilet menuju ke meja yang ditempati Riyan lagi.
Saat sampai di meja, makanan Riyan tinggal sedikit. Ia mengira bahwa Riyan ingin cepat cepat pulang.
"Pulang aja yuk, udah selesai kan??". Ajak Misha. Padahal makanannya masih setengah belum dihabiskan.
"Habiskan makanannya dulu baru kita pulang". Seru Riyan.
Tanpa menolak, Misha langsung makan lagi. Seberapa sayang juga sih kalau gak dihabiskan. Tapi gimana lagi mood Misha sudah hancur.
......-----------......
__ADS_1
......TBC......
...Happy Reading, , , Babay,!!!!!!...