
Misha bangun lalu ingin berjalan keluar apartemen untuk menjemput temannya dibawah, tapi naas, pandangan Misha yang menatap Riyan tajam yang ada di dapur membuat Misha tidak melihat jalan. Sampai.,. ,
Bug, ,
"Aaaakkkhhhhh, , ".
...-----------------------------...
Srak
Belanjaan yang ada di atas meja berhamburan di atas langit akhirnya kaki Misha yang menabrak meja dengan kerasa.
"Baby kamu baik baik saja". Pekik Riyan panik saat mendengar teriakan Misha yang begitu kencang.
"Kaki aku sakit".
Misha duduk kembali di atas sopa single. Lalu Riyan mengecek keadaan lutut nya yang menabrak meja.
Saat celana piyama yang digunakan Misha diangkat terlihatlah luka memar berwarna kebiruan disana.
"Lutut kamu memar". Seru Riyan memandang wajah Misha yang meringis kesakitan. "Aku ambil kompres dulu".
Riyan yang ingin bangkit langsung di cegah oleh Misha karena teman temannya sudah menunggu di bawah.
"Nggak usah aku minta tolong beresin ini semua ya aku mau kebawah dulu".
"Tapi kaki kamu sakit. Apa kamu bisa jalan?? Biar aku saja yang jemput". Tawar Riyan dengan wajah tidak tega.
"Aku baik baik saja. Kamu beresin ini saja". Tolak misha mengelus kepala Riyan ditambah dengan senyuman tulus.
"Ya udah pelan pelan".
Kepala Misha mengangguk, lalu bangkit meninggalkan ruangan dengan mengambil kartu akses yang ada diatas nakas.
Misha berjalan dengan perlahan, lututnya sangat sakit akibat benturan itu. Sesekali misha juga meringis kesakitan karena dibawa jalan.
"Nona misha mau kemana??".
Lamunan Misha yang sedang menunggu pintu lift dibuyarkan dengan pertanyaan seseorang dari belakang.
"Tuan Arthur!! Saya mau kebawah". Balas Misha dengan ramah.
Setelah kejadian kemarin tidak mengharuskan Misha untuk bersikap tidak sopan kepada orang yang bertanya asalkan dengan sikap yang sewajarnya saja.
Terlihat Arthur yang menganggukkan kepala, sedangkan seseorang di sampingnya hanya memperhatikan mereka. Misha bisa menebak bahwa dia asistennya Arthur karena beberapa kali terlihat bersama saat bertemu.
Di dalam lift hanya ada keheningan. Misha berdiri di samping kanan dengan menyandarkan tubuhnya di dinding sambil bermain ponsel membalas chat temannya yang sudah lama menunggu di bawah.
Ting, ,
"Tuan Arthur saya permisi duluan". Ujar Misha langsung lari tanpa menunggu jawaban dari orang tersebut.
Misha berlari menuju tempat tunggu yang ada di lobi apartemen. Dari kejauhan bisa dilihat beberapa temannya sedang menunggu dirinya menjemput mereka.
"Guys sorry lama ada kendala sedikit, ayok masuk". Ajak Misha dengan sedikit ngos-ngosan.
"Lo yakin mending duduk dulu sambil nunggu Kevin". Seru aji.
"Iya keliatannya lo capek banget, apa lo turun pakai tangga". Sambung Adit.
"Kagak lah gue gak mau kalian nunggu lama makanya gue lari lari. Udah yuk duluan katanya Kevin datangnya siang an".
Mereka berempat akhirnya setuju untuk naik duluan. Mereka berjalan dengan banyak pertanyaan yang dilontarkan kepada Misha saking penasarannya.
Mereka terutama Tina gak percaya kenapa Misha bisa tinggal di apartemen mewah ini. Dia juga gak tahu apa pekerjaannya Misha. Terakhir dia dapat kabar Misha hanya kerja sebagai pelayan caffe.
Tapi
Banyak photo liburan yang misha unggah di sosial media membuat mereka tidak percaya. Apalagi tempatnya jauh contoh nya saat misha liburan ke Bali.
Gak lama mereka sampai di lantai dimana tempat apartemen misha berada. Mereka berempat masih tidak percaya dengan keberadaan mereka sekarang.
Klik
"Ayo masuk, ingat jangan anggap rumah sendiri". Canda Misha.
"Aish, , yang ada anggap sebagai rumah sendiri bego". Seru Adit.
Dari kedelapan orang yang sering berkumpul ini hanya Adit yang selaku ceplas-ceplos. Mulutnya seperti wanita.
Pandangan mereka mengelilingi setiap ruangan yang ada. Misha berjalan ke arah dapur untuk mengambil makanan dan minuman.
Meja yang kosong membuat Misha menebak bahwa cemilan yang tadi disimpan Riyan di dapur.
Misha berjalan ke dapur dengan celingukan. Ia tidak melihat keberadaan Riyan sama sekali.
("Kemana dia pergi??". Batin misha. )
"Mau nonton apa??". Tanya misha duduk di sopa dengan temannya yang saling bercanda.
Dia duduk di atas sopa dengan memegang tab untuk mencari film yang cocok. Tak lupa juga gorden yang ada dibelakang sopa di tutup agar terkesan berada di bioskop.
Beberapa gadget yang ada di atas sopa Misha singkirkan agar tidak jatuh. Bisa dilihat itu semua milik Riyan yang selalu ada disana.
__ADS_1
Drrrttt
Drrrttt
Drrrttt
"Sha Ponsel lo bunyi??". Tunjuk Tina ke arah ponsel yang ada di atas nakas.
Misha langsung melihat ke arah yang ditunjuk Tina. Dia mengerutkan kening karena ponsel miliknya ada di atas meja yang ada dihadapannya terus itu milik siapa.
Saat dilihat layar ponsel tertera nama Angga. Yang sudah bisa ditebak bahwa itu ponsel milik Riyan.
"Hello".
Cklek
Suara pintu kamar dibuka menjadi pusat perhatian semua orang. Ditambah dengan keluarnya pemuda tampan dengan pakaian santai ditambah dengan wajah tanpa ekspresi.
Misha yang sedang mengangkat telpon pun seketika blank. Dia lupa memberitahu teman temannya bahwa dirinya tidak sendiri di apartemen.
["Sha, Misha". Teriakan di sebarang telpon membuat kesadaran misha kembali. ]
"Hah, sebentar ga".
Pandangannya dipindahkan menatap keempat orang yang banyak pertanyaan dibenak mereka.
"Guys dia cowok gue. Sorry gue lupa kalau dia ada disini". Ujar Misha.
"Lo tinggal berdua di apartemen ini??". Tanya aji dengan pikiran yang tidak tidak.
"Nggak, gue tinggal disini sendiri. Dia kesini hanya main karena tahu gue gak kerja". Jawab Misha.
Riyan yang berjalan mendekati misha langsung duduk tangan sopa samping misha.
"Kenalin ini Riyan, Yan mereka teman aku, aji, Tina, Adit dan putri ceweknya Adit". Seru misha menunjuk satu persatu.
Tanpa ekspresi apapun Riyan bertos ala cowok kepada Adit dan aji sedangkan kepada perempuan Riyan memberi salam tanpa bersentuhan.
Keheningan menyelimuti ruangan itu setelah misha mengenalkan pacarnya kepada mereka. Mereka memilih untuk kembali melihat film di layar televisi sambil memakan cemilan.
"Oh ya, Angga telpon". Misha memberikan ponsel kepada Riyan yang masih terhubung dengan panggilan itu.
Riyan bangun lalu mengelus kepala Misha dengan sayang berjalan menuju dapur. Dia akan bicara disana karena ruangan sedikit berisik karena suara telivisi.
"Baby, , ". Panggil Riyan dengan berteriak dari dapur.
Uhuk, , uhuk, , uhuk,
Tina yang sedang minum tersedak akibat teriakan itu lalu menatap Misha dengan nyengir tanpa dosa. "Sorry gue kaget". Ucapnya dengan mengangkat jari telunjuk dan jari tengah.
"Apa kamu ingin makan sesuatu??".
"Kalian pengen apa??". Bukannya menjawab, Misha malah bertanya kembali ke para temannya.
"Apa aja yang penting makanan yang belum gue makan".
"Apa?? Sebutin aja Napa, pizza atau apa??". Ujar Misha bingung.
"Boleh tuh, gue pengen rasain pizza". Sahut Adit dengan cepat.
"Lo belum makan pizza emangnya??".
"Hahaha makannya paket hemat ayam geprek dong tiap hari, gak ada yang namanya Adit beli pizza". Ledek Tina dengan keras.
"Ck emang lo pernah makan itu".
"Dih gue gini gini juga sudah pernah makan pizza ya". Ujar Tina dengan PD.
"Palingan dibeliin orang lain". Sahut aji yang langsung dibarengi dengan tawa ngakak.
Misha yang ada disana hanya tersenyum sedikit. Walaupun Misha bisa beli pizza tapi dia jarang membeli makanan itu.
"By mau apa??". Teriak Riyan lagi.
"Kenapa cowok lo gak kesini aja sih malah teriak teriak gitu". Bisik Tina disampingnya Misha.
"Udahlah gak papa gue serem lihat wajahnya". Sahut aji yang mendengar itu.
Misha yang mendengar itu hanya tersenyum. Pantesan mereka diam saat Riyan ada disana ternyata ada sesuatu yang misha gak tahu.
"Pizza aja yan dan ice cappucino". Teriak Misha menjawab pertanyaan Riyan.
"Ada lagi??".
"Udah itu aja". Seru misha. "Kalian gak usah takut dia baik kok orangnya". Ujar Misha kepada para temannya.
"Baik apa wajahnya datar kaya gitu nyeremin". Celetuk aji.
Misha yang geram menjambak rambut aji dengan keras. "cowok gue bego".
"Aduduh sakit Misha,, ck Lo maen jambak Jambak aja sih". Keluh aji kesakitan mengusap kepala nya.
"Bodo amat, wlee". Ujar misha dengan menjulurkan lidah.
__ADS_1
Riyan berjalan mendekati misha dengan duduk di samping Misha kembali. Bukannya ikut gabung menonton film, Riyan malah mengambil laptop dan saat dilihat dia sedang mengerjakan pekerjaan kantor tanpa terusik sama sekali padahal diruangan itu sangat ramai.
Bukan hanya suara telivisi tapi suara canda tawa mereka berlima menggema di setiap ruangan.
...
Ting, ,tong, , Ting , ,tong
Suara bel berbunyi membuat misha bangun untuk membuka pintu.
"Loh Angga, ngapain kesini?!". Tanya misha melihat Angga yang membawa beberapa bungkus makanan.
"Anterin dokumen, tapi malah suruh jadi pengantar makanan sama dia". Seru Angga kesal.
"Ya udah masuk". Misha langsung mengambil alih bungkusan itu untuk membantunya membawa beberapa.
"Wow ternyata rame". Ucap Angga pelan tapi masih didengar misha.
"Guys makanan datang". Teriak misha meletakan makanan diatas meja langsung diserbu.
Misha hanya mengambil ice cappucino lalu duduk kembali di sopa semula, sedangkan Angga sudah mengambil kursi lain untuk duduk di samping nya Riyan.
Mereka berdua sedikit berbincang tidak memperdulikan keramaian disana.
Beberapa permainan mereka lakukan sampai akhirnya Kevin gak jadi datang. Dia memberitahu bahwa ada urusan mendadak yang tidak bisa ditinggal kan. Tapi Kevin janji besok dia akan ikut jalan jalan.
.....
Malam telah tiba beberapa para cowok mulai pulang sedangkan Tina masih di apartemen. Dia gak pergi karena memutuskan untuk menginap. Awalnya Misha mengajak putri juga nginap tapi gak diizinkan oleh Adit, pacarnya.
Jadi tinggalan 2 wanita dan pria di dalam apartemen itu.
"By aku mau pergi dulu, yakin kamu gak mau ikut??". Pertanyaan itu sudah kelima kali keluar dari mulut Riyan yang membuat Misha kesal.
"Nggak, udah kamu berangkat sama Angga saja".
Saat ini penampilan Riyan dan Angga sudah rapih dengan style jas. Mereka akan pergi ke acara ulang tahun salah satu kolega Riyan di perusahaan.
Riyan dari dulu selalu mengajak pergi saat ada acara seperti itu tapi Misha selalu menolak. Dia berasa gak percaya diri saat menghadiri acara seperti itu.
"Ya udah aku berangkat dulu".
Cup
Kecupan di kening yang sudah biasa Misha dapatkan tapi tidak untuk Tina. Ini pertama kalinya Tina melihat kejadian seperti itu antara Misha dan kekasihnya. Walaupun sedari tadi mereka selalu menempel tapi tidak pernah ada adegan seperti itu.
"Ck berasa dunia milik berdua". Celetuk Angga meninggalkan ruangan terlebih dahulu.
Sedangkan Riyan langsung menatapnya dengan tatapan tajam. Tapi tidak biasa dilihat karena Angga membelakangi mereka.
"Oh ya nanti aku pulang ke rumah". Misha menganggukkan kepala pertanda mengerti.
Sepeninggalan kedua pemuda itu, Tina langsung menggeser duduknya mendekati Misha.
"Apa lo??". Tanya Misha yang tahu pikiran tina saat ini.
"Lo udah lama pacaran sama dia?? Serem sih tapi kayanya dia sayang banget sama lo". Seru tina pelan.
"Beberapa bulan yang lalu, tapi dari kenal sampai sekarang mungkin udah lebih dari setahun".
"Kenal dari mana??". Tanya tina kepo.
"Dulu gue ketemu saat kerja di caffe. Ya awalnya gue selalu berantem tapi karena gue lebih dekat dengan Angga jadi kamu selalu ketemu,, kepo lo ah". Misha sedikit menjauhkan tubuh tina agar tidak terlalu menempel.
Namun ketika misha ingin bangun, tangannya langsung ditarik kembali menjadi terduduk seperti awal.
"Gue belum selesai maen kabur aja".
"Apa lagi??". Tanya Misha lesu.
"Kabar Kevin gimana?? Apa dia tahu??".
"Dia tahu gue punya pacar tapi siapa siapanya dia gak tahu". Jawab Misha apa adanya.
"Uh sakit hati gue". Drama tina memegang dadanya dengan lebay. Tina tahu bahwa dari dulu Kevin memang menyukai Misha tapi dari dulu juga Misha tidak memberi harapan apapun sama Kevin.
Plak, , " gak usah lebay".
"Hehe nggak emang nyatanya gitu,, btw besok gimana kabar Kevin saat lihat lo sama tuh kulkas 7 pintu".
"Ntahlah, gue gak tahu.. Riyan juga gak tahu mah ikut apa nggak dia gak suka keramaian".
"Kecuali keluar berdua sama lo". Celetuk tina dengan nada mengejek.
"Tau aja lo". Seru Misha dengan tersenyum lebar menggoyangkan tubuh tina.
"Gue tahu cowok model an kaya gitu".
"Oh iya lo kan anak drakor".
"11 12 sama lo bego". Ngegas tina kesal dengan ucapan Misha.
...----------------...
__ADS_1
...TBC...
...Happy Reading,,, Babay!!!!!...