
...Happy Reading...
...❤️...
.
.
Saat jam menunjukan kurang dari jam 8 malam, Misha membereskan semua barang barangnya untuk segera pulang.
Setelah beres dia mengambil ponselnya yang tidak melihat Riyan memberi kabar sama sekali. Kemungkinan dia masih sibuk.
Misha memutuskan untuk pulang berjalan kaki. Didepan juga masih banyak orang yang sedang berjalan jalan.
Melihat caffe yang masih buka tak jauh dari apartemen tempat dia nginap. Misha memutuskan untuk membeli beberapa makanan untuk dibungkus.
Saat Zee sedang duduk di meja sendiri menunggu pesanan selesai. Tiba tiba dia dikagetkan dengan kedatangan seseorang.
"Nona Misha sendirian aja disini??". Ucap orang itu membuat Misha menengadahkan kepalanya melihat orang itu.
"Ah tuan Arthur, iya saya sendiri".
"Arthur aja, biar lebih akrab". Ucap Arthur dengan ramah.
"Tuan juga menyebut saya nona".
"Apa saya boleh memanggil tanpa embel embel nona??". Tanya Arthur tiba tiba.
"Ah??". Ucap misha kaget. "Ah iya tuan tidak apa". Lanjut Misha sedikit ragu.
Misha melihat Arthur yang tersenyum. Tapi Misha hanya diam kembali menatap ke arah ponsel yang ia genggam. Dia hanya menskrol Instagram agar tidak terlalu akrab dengan Arthur karena di sisi lain ia sangat risih saat dekat dengan orang itu.
Misha tersentak saat merasakan seseorang memegang rambut yang ada di dekat telinga. "Apa yang anda lakukan??".
"Ah maaf kalau tidak sopan tapi di rambut nya ada kertas". Tunjuk Arthur.
Dengan cepat misha menggoyangkan rambutnya dan kertas itu jatuh. Kenapa harus dia ambil secara tiba tiba tanpa memberitahu misha sendiri kalau begitu kan dia gak akan kaget.
"Permisi nona ini pesanannya". Ucap pelanggan memberikan paper bag berisi makanan.
"Terimakasih ini uangnya". Misha memberikan uangnya dengan cepat membuat pelayan itu segera pergi. "Kalau begitu saya permisi dulu".
"Tunggu". Cegah Arthur membuat langkah kaki misha terhenti. "Biar saya antar toh tujuan kita sama kan".
"Gak usah makasih lagian jaraknya juga dekat.. permisi". Tolak Misha langsung pergi meninggalkan Arthur sendirian.
Di perjalanan menuju apartemen misha terus mengeluh sampai di lobi dia dipanggil Riyan dari belakang. Terlihat Riyan berlari mengejar misha agar cepat sampai.
"Aku ke kantor katanya kamu udah pulang". Ucap Riyan sedikit ngos-ngosan.
"Ah iya aku kira kamu masih sibuk. Aku beli makanan dulu di caffe depan". Ucap Misha menunjukan paper bag yang ia bawa.
"Ya udah yuk aku juga lapar". Ajak Riyan masuk ke dalam lift dengan menggandeng pinggang misha.
"Aw ini punya aku bukan punya kamu. Aku hanya beli 1 porsi".
"Kok gak beliin buat aku sih". Keluh Riyan dengan cemberut. Untung saja di dalam lift hanya ada mereka berdua saja.
__ADS_1
"Aku kira kamu sudah makan disana".
"Aku pengen makan bareng kamu". Rengek Riyan.
"Oke tapi dikit aja ya".
Riyan menganggukkan kepalanya seperti anak kecil membuat misha mengelus kepala nya dengan lembut mengacak acak rambutnya.
Di apartemen setelah membersihkan badan masih masing-masing di tempat yang berbeda. Misha dan Riyan duduk di meja makan untuk makan malam bersama. Sebelumnya Misha memesan makanan di restoran bawah karena dia malas untuk masak sendiri.
Disaat asik makan banyak notifikasi yang masuk ke dalam ponsel misha yang diletakan di atas meja yang ada didepan televisi.
"Lihat aja dulu siapa tahu penting sayang". Pinta Riyan disela sela makan.
Misha berdiri berjalan mengambil ponsel dan melihatnya. Terlihat banyak spam DM Instagram yang masuk membuatnya mengerutkan kening.
"Pacar?! Calon tunangan?? Apa maksudnya yang mereka tanyakan". Gumam Misha bingung melihat beberapa orang DM dengan pertanyaan yang sama.
Misha tidak pernah mengenalkan atau memberitahukan siapapun bahwa dirinya memiliki seorang kekasih walaupun banyak bukti jika dicocokkan tentang photo latar belakang Misha dan photo Riyan di Instagram.
"By ada apa kok lama??". Teriak Riyan dari meja makan.
"Ah iya benar".
Dia meletakan kembali ponselnya dan akan mengeceknya nanti setelah makan selesai.
Setelah makanan habis misha langsung mencuci piring dibantu oleh Riyan dan pergi ke sopa untuk nonton film.
Misha yang tidak suka nonton film sinetron tapi menonton drama Korea kesukaannya tanpa kata bosan. Sementara Riyan hanya bisa menemani sang pujaan hatinya menonton, kadang riyan menemani sambil mengerjakan pekerjaan kantor disamping misha.
Tidak ada bantahan apapun dari gadis itu karena dia tidak mungkin memaksa Riyan mengikuti apa yang dia suka.
.
.
.
.
Keesokan harinya jam 5 Misha terbangun dan setelah melajukan sembahyang Misha membangunkan Riyan lalu membuat sarapan untuk mereka.
Sampai saat di dapur Misha dikagetkan dengan suara bel yang menandakan ada tamu yang datang.
Ting tong Ting tong
Misha memandang ke arah jam dinding yang ada di apartemen itu. Jam masih menunjukan pukul 6. "Siapa yang datang pagi pagi sekali". Gumam Misha berjalan untuk membuka pintu.
Cklek
Pintu terbuka perlahan. Terlihat Angga yang masih menggunakan piyama tidur berdiri di depan apartemen.
"Aww, , Angga??". Ucap misha kaget.
"Riyan disini kan??". Bukannya menjawab Angga malah bertanya sambil mengintip ke dalam apartemen.
"Masuk". Pinta Misha bergeser membiarkan Angga masuk. "Riyan disini dari selama. Emangnya ada apa!?". Tanya misha heran.
__ADS_1
"Hufh, gue gak bisa hubungi dia makanya gue datang kesini". Ucap Angga merebahkan tubuhnya di sopa.
Misha yang melihat itu berjalan ke dapur untuk melanjutkan membuat sarapan. Hari ini dia membuat ayam goreng, capcay dan udang balado.
Melihat Misha yang biasa saja seperti tidak ada masalah apapun membuat Angga heran. Dengan cepat dia berjalan ke arah dapur mendekati Misha.
"Lo gak tahu berita yang beredar di media sosial dari semalam??". Tanya Angga menatap ke arah misha dengan intens.
"Berita apa??".
"Lo belum lihat ponsel?? Riyan juga". Ucap Angga dengan kaget.
Misha menggelengkan kepalanya dengan tangan yang masih sibuk memasak. "Semalam gue ketiduran saat nonton film dan paginya gue bangun tidur langsung masak". Jawab misha tanpa menatap ke arah Angga.
"Sudah gue duga, dimana Riyan sekarang??".
"Dikamar".
Dengan cepat Angga berjalan masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu, toh Misha nya juga ada diluar yang pasti didalam hanya ada Riyan seorang.
Brak
"Kodok loncat". Latah Riyan yang sedang berdiri memakai bathrop di depan lemari. "Anj*Ng, , kalau mau masuk ketuk pintu dulu napa sih". Riyan marah setelah melihat Angga si pelaku yang mendobrak pintu. Jika itu Misha mungkin akan beda cerita lagi.
"Ck, pake segala berduaan terus sama Misha gak tahu kan lo kalau misha sedang ramai di media sosial apalagi setelah mami up photonya saat Misha jadi model".
"Maksud lo apa??". Tanya Riyan bingung.
"Makanya punya ponsel dilihat". Ucap Angga melemparkan Ponsel milik Riyan yang ada di atas nakas ke arah pemilik ponsel tersebut.
Riyan langsung melihat apa yang masuk ke dalam ponsel nya membuat keningnya mengkerut heran.
"Apa ini juga yang semalam masuk ke ponsel Misha??". Gumam Riyan melihat berita sang kekasih di media sosial.
"Mungkin-".
"Ada apa??". Tanya Misha memotong ucapan Angga yang sudah berdiri di pintu kamar. "Apa ada masalah??".
"Sebaliknya misha tinggal di kediaman Mahendra saat gue masuk beberapa wartawan ada dibawah, mereka tahu tempat tinggal Misha saat ini". Ucap Angga membuatnya kebingungan.
"Kenapa??".
Belum menjawab pertanyaan Misha, riyan dengan cepat berlari ke kamar mandi untuk mengganti pakaian. Sama halnya dengan Angga yang mengambil pakaian untuk dirinya di dalam lemari milik Riyan. Tidak mungkin kan dia pergi lagi dengan piyama tidur.
Untuk Misha sendiri tak masalah jika keluar dengan piyama tidur yang akan dibalut dengan jaket. Tapi kalau kedua pemuda itu pasti akan banyak yang dipertanyakan.
Setelah Riyan keluar dari kamar mandi, dia menjelaskan semuanya kepada Misha dan untungnya Misha cepat mengerti.
Misha memasukan barang penting ke tas selempang serta ponselnya. Mereka akan langsung pergi tapi sebelumnya Misha meminta Angga untuk memasukan makanannya ke dalam rantang untuk dibawa. Karena Misha memang tidak suka membuang buang makanan.
"Dah siap?? Banyak anak buah lo yang jaga di bawah gue udah suruh mereka mengamankan. Tinggal lo saja yang berusaha agar tidak terkena media". Ucap Angga.
"Tapi Misha gimana??".
"Misha serahkan sama gue dan yang lain-".
"Gue gak akan jauh dari Misha". Potong Riyan keras kepala.
__ADS_1
Angga menghela nafas pasrah dengan keras kepalanya Riyan yang seperti ini. "Oke Lo bisa nyamar tapi ingat lo masuk ke mobil lain". Peringatan Angga yang tahu jika Riyan itu orangnya sangat nekat.
To be continued, , ,