Destiny In My Life

Destiny In My Life
Kecelakaan


__ADS_3

Duarrrr!!


Mobil masuk ke dalam jurang yang tidak terlalu dalam makin gak lama terdengar suara ledakan yang sangat besar.


Melihat kejadian itu. Gadis yang ada di dalam mobil lain menyeringai melihat rencananya berjalan lancar.


Tidak mau lama lama berada di lokasi, mobil itu melaju kencang meninggalkan lokasi untuk menghilangkan barang bukti.


.


.


.


Di sisi lain bersamaan dengan ledakan mobil, Riyan yang ada di kantor dikagetkan dengan photo kekasihnya yang tergantung di tembok tiba tiba jatuh.


"Ada apa?". Angga yang mendengar dari ruang sebelah bergegas masuk ke dalam ruangan Riyan.


Namun pemuda itu tengah melamun menatap photo tersebut.


"Riyan!!". Pekik Angga mengguncang tubuh Riyan sampai lamunannya buyar seketika.


"Hah?".


"Ada apa? Kenapa photo Misha bisa jatuh?". Tanya Angga tegas.


Bukannya menjawab, Riyan malah mengambil ponsel nya yang ada di atas meja untuk menelpon Misha. Akan tetapi ponsel kekasihnya sedang tidak aktif.


Hal itu membuat Riyan tambah panik dan perasaan bertambah tidak enak.


"Ai Shattt!!".


Tidak mendapatkan jawaban dari siapapun membuat Riyan berlari untuk mengeceknya sendiri ke apartemen.


"Biar gue yang nyetir". Cegah Angga saat sudah berada di parkiran mencegah Riyan mengemudi karena terlihat sangat emosi.


Tidak ada perdebatan membuat mobil cepat meninggalkan perusahaan menuju apartemen.


Apartemen Misha


Riyan berjalan sangat cepat menuju lantai unit apartemen Misha. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, pemuda itu masuk dan tidak menemukan kekasihnya dimana mana.


Drrrttt drrrttt drrrttt


Ponsel Riyan berdering membuat pemuda itu cepat mengangkatnya.


"Hello tuan Riyan, maaf saya habis meeting makanya tidak langsung menerima penggilan tuan muda". Ucap seorang wanita di sebrang telpon.


"Kamu sedang bersama Misha?". Tanya Riyan to the point.


"Tidak tuan, nona Misha sedang melakukan pemotretan di puncak, pagi--, , ".

__ADS_1


"KENAPA KAMU TIDAK KABARIN SAYA HAH!!". Teriak Riyan memotong ucapan Maya, asisten pribadi Misha.


PIP*


Panggilan telepon dimatikan lalu mengecek schedule milik Misha yang selalu dikirim Maya tiap bulan.


Tanpa menunggu lagi, Riyan pergi untuk menyusul Misha ke puncak setelah mendapatkan lokasi tempat pemotretan. Riyan tidak bisa tenang sampai bisa melihat kekasihnya dengan mata kepala nya sendiri.


..


Melihat Riyan yang seperti itu membuat Angga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ntah kenapa perasaannya juga menjadi tidak enak setelah mendengar Misha sedang berada di puncak.


Sampai di pertengahan jalan tiba tiba mobil di berhentikan oleh seorang bapak bapak dengan wajah panik.


Mobil berhenti dan Angga menurunkan kaca mobil di sebelah Riyan. "Ad--, , ".


"Mas tolong ada kecelakaan ke jurang. Tolong mas". Ucap bapak itu panik membuat kedua pemuda yang ada di dalam mobil kaget.


Seperti bergerak sendiri, Riyan keluar dari mobil dengan cepat sedangkan Angga menghubungi anak buahnya agar datang ke lokasi. Dia tidak mungkin menghubungi polisi karena pasti akan tercium oleh wartawan dimana disana ada Riyan, pewaris utama keluarga Mahendra.


Riyan yang ada di sisi jurang melihat keadaan mobil yang sudah hancur dan masih terdapat api serta asap mengepul ke udara.


"Apa kejadiannya sudah lama pak?". Tanya Riyan membuka suara.


Bapak itu sedikit panik membuat Riyan dengan cepat memenangkannya agar lebih baik.


"Kurang lebih 1 jam yang lalu mas, soalnya lokasi saya agak jauh. Tapi karena terdengar suara ledakan, saya langsung ke sini. Dan melihat mobil itu sudah terbakar di dalam jurang". Jelas bapak itu.


Riyan ada di lokasi kejadian tanpa berniat pergi padahal tadi dia ingin menemui Misha. Tapi tidak tahu kenapa perasaannya mengatakan ia harus ada disana.


"Lapor tuan, sepertinya tidak ada korban jiwa. Tidak ada tanda tanda orang di dalam mobil". Ucap salah salah satu anak buah Riyan.


Bersamaan dengan itu, anak buah lain datang ingin melapor. Tapi melihat bosnya sedang berbicara membuatnya mendekati Angga.


"Tuan, saya menemukan ini". Anak buah itu menyerahkan syal rajut kepada Angga.


Angga mengambil nya dan merasakan ada yang aneh. Perlahan pemuda itu mendekatkannya ke hidung dan mencium parfum yang sangat familiar.


"Mungkin kebetulan sama". Batin Angga lalu berjalan ke arah Riyan.


"Yan gue--, , ".


Belum selesai berbicara, Riyan sudah merampas syal yang ada ditangan Angga dan memastikan sesuatu.


~RiySha♡~


Deg


"DIMANA LO NEMUIN INI". Teriak Riyan.


"Ada anak buah lo yang nemuin tak jauh dari lokasi". Jawab Angga.

__ADS_1


Riyan langsung berlari untuk turun kebawah, tidak ada yang mencegahnya sama sekali Angga terdiam kaku.


"Gak mungkin kan?". Batin Angga memegang dadanya yang tiba tiba sakit.


"Kerahkan semua orang untuk mencari korban kecelakaan itu disekitar sini. Gue yakin mereka gak bakal bisa jauh". Perintah Angga dengan tegas lalu berjalan menyusul Riyan.


.


.


Kembali ke Riyan.


"MISHA~!!!".


"MISHA, KAMU DIMANA?".


"SHA~!!".


Riyan berjalan di sekitar lokasi kecelakaan dengan sesekali berteriak. Dia yakin yang kecelakaan itu mobil kekasihnya dan Riyan juga yakin Misha ada di sekitar sana saat mendengar laporan dari bawahannya yang mengatakan tidak ada orang di dalam mobil.


"MISHA~!!".


Sampai pandangan Riyan melihat ada pohon bergoyang seperti ada yang menggerakkannya.


Seketika mata Riyan membuat melihat Tomi, supir Misha yang terbaring dengan banyak luka. Dia juga pelaku yang menggerakkan pohon kecil itu dengan memberi sinyal.


"Misha mana?". Ucap Riyan saat ada di samping Tomi. Lelaki itu membuka matanya sedikit dan melihat siapa yang ada di hadapannya saat ini.


"T,,,ua,,n no,,na". Tomi tidak bisa berucap lagi dan menghembuskan nafas terakhir nya dengan menggerakkan tangannya ke arah lain.


Riyan menatap ke arah yang ditunjukan Tomi bersamaan dengan Angga datang.


Melihat kekasihnya yang terbaring di bawah membuat Riyan dengan cepat mendekat. "Sayang bangun". Riyan memindahkan kepala Misha ke pangkuannya dan menepuk pipi kekasihnya pelan.


Air matanya sudah mengalir deras. Pikirannya melayang kemana mana dengan berpikiran negatif.


"Woy cepetan bawa ke atas". Ucap Angga memegang pundak Riyan.


Tanpa merasa berat, Riyan menggendong Misha yang terluka parah ala bridal style untuk di bawa ke rumah sakit.


Untuk Tomi akan di urus oleh anak buahnya dan saat diperiksa ternyata Tomi sudah meninggal dunia.


Di perjalanan menuju rumah sakit Riyan terus memandang wajah Misha yang sudah pucat dan beberapa darah yang mulai kering. Namun darah dari bagian kepala terus mengalir membuat Riyan menelannya agar tidak keluar.


Sedangkan untuk Angga, pemuda itu fokus mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi. Dia juga sudah menghubungi manajer rumah sakit milik Riyan untuk menyiapkan dokter terbaik.


Sesampainya di rumah sakit Misha langsung dibawa ke ruang UGD untuk diperiksa. Riyan yang ada di luar tidak bisa diam karena mencemaskan keadaan kekasihnya apalagi saat mengingat luka yang ada di kepalanya terus mengeluarkan darah.


Sampai gak lama terdengar suara langkah kaki menggema di koridor rumah sakit.


"Gimana keadaannya?".

__ADS_1


To be continued.


__ADS_2