Destiny In My Life

Destiny In My Life
mengklaim kepemilikan


__ADS_3

Mendengar namanya dipanggil membuat misha dan Riyan membalikan badannya menatap ke arah suara.


"Tuan Arthur". Jawab Misha dengan sedikit melirik ke arah Riyan.


Gak lama Misha merasakan tangan yang memeluk pinggangnya dengan posesif. Dia juga melihat arah pandang Arthur dengan tatapan kaget. Tapi misha tahu Arthur sepertinya sedang menyembunyikan itu semua.


"Nona misha habis dari mana membawa koper??". Tanya Arthur basa basi melihat koper berwarna pink di tangan Riyan.


"Habis jalan cari udara segar". Jawab Misha dengan sedikit tersenyum.


"Ekhm, , ". Dehem Riyan membuat kedua orang itu menatap ke arahnya. Misha tahu Riyan saat ini sedang cemburu.


"Maaf tuan Arthur, saya permisi dulu kasihan pacar saya capek mau istirahat, permisi". Lanjut Riyan dengan menekan kata 'pacar' dengan tegas.


Tanpa menunggu jawaban Arthur, Riyan menggandeng pinggang Misha memasuki lift yang baru terbuka. Meninggalkan Arthur yang masih mematung disana.


"Emang harus ya bilang seperti itu". Kata Misha menatap Riyan.


"Jika tidak seperti itu dia gak akan tahu". Ujar Riyan dengan wajah kesal. "Kamu tahu gak dia berpikiran bahwa kamu itu adik aku". Lanjut Riyan.


"Hah,,!! Adik??". Kaget misha.


Flashback


Sore hari saat Riyan keluar dari apartemen misha, dia dikagetkan dengan Arthur yang menyapa.


"Tuan Riyan tinggal disini juga??". Tanya Arthur dengan so dekat.


Riyan yang mendengar itu mengangkat alisnya bingung. Dia tidak sedekat itu sama Arthur. Riyan hanya tahu dia CEO salah satu perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan bokapnya.


"Iya".


"Oh ya, adik tuan Riyan kemana ya saya ada perlu dari kemarin saya gak melihat dia di apartemen ini??". Tanya Arthur membuat Riyan tambah merasa aneh.


"Adik??".


"Iya, adik tuan Riyan, nona Misha". Kata Arthur sedikit tersenyum saat menyebutkan nama Misha.


"Adik". Riyan tersenyum mengucapkan nama adik berkali kali. "Tuan Arthur tidak perlu tahu keberadaan dia. Saya permisi".


Riyan yang kesal langsung meninggalkan Arthur yang kebingungan tanpa menjelaskan apapun.


Flashback end


"Hahahaha, , , ". Tawa ngakak mengiringi langkah mereka memasuki apartemen misha. Untung saja suasana sangat sepi membuat Riyan tenang karena wajah kekasihnya yang sedang tertawa tidak terlihat orang lain.


"Ck kenapa kamu ketawa, seneng amat disebut kakak adik sama aku". Ujar Riyan pura pura ngambek.


"Bukan begitu. Tuan Arthur emang buta apa gimana?? Aku sama kamu kakak adik?? Mirip dari mananya bilang kaya gitu". Kata Misha disela tertawanya sambil menunjuk dirinya dan Riyan.


"Aku juga gak tahu kenapa dia beranggapan seperti itu". Riyan membaringkan tubuhnya di sopa dengan memejamkan kedua matanya.


"Apa gara gara waktu di puncak ya". Pikir misha.


"Dipuncak?? Emang kenapa??". Riyan langsung menatap Misha mencari tahu.


"Apa mungkin karena aku bilang mami papi sama orang tua kamu".


"Mungkin!!, Ini juga pasti karena papi perhatian kan sama kamu". Tunjuk Riyan dengan mata menyipit.


"Ck emang papi Rendra seperti itu sama aku. Kamu kaya gak tahu aja".


"Bukan gitu. Semua orang yang liat pasti kaget karena papi dikenal dengan orang yang sangat dingin dan datar sama semua orang kecuali keluarganya". Jelas Riyan apa adanya.


"Oh gitu, iya sih waktu papi perhatian sama aku disitu ada tuan Arthur".


"Emang Arthur ada disana juga kok aku gak tahu".


"Itu waktu hari pertama kamu kan belum sampai disana". Jelas Misha.


Mereka membaringkan tubuhnya di sandaran sopa dengan kepala misha yang diletakan di bahu kekasihnya dengan nyaman.


Perlahan matanya ditutup karena dia sedikit kecapekan akibat jalan jalan di pantai tadi apalagi saat cuaca sedang panas terik.


Drrrttt


Drrrttt


Drrrttt


Tidur Misha terganggu saat suara ponsel berdering. Tapi saat melihat ponselnya Riyan yang berdering membuat Misha membangunkan orangnya dengan cepat.


"Yan bangun ada telpon". Ucap misha memukul mukul perut kekasihnya yang tidak mau bangun.


"Emm,, angkat aja smaa kamu".


"Males cepat bangun". Teriak Misha tapi matanya masih tertutup rapat.


Misha merasakan tubuh Riyan yang bangkit lalu misha membenarkan tubuhnya melanjutkan tidurnya yang terganggu.


"Hm,".


["Ck lama banget sih ngangkatnya, Lo dimana?? Meeting 5 menit lagi dimulai". Pekik Angga diseberang telpon. ]

__ADS_1


Riyan sedikit membuka matanya melihat jam yang melingkar di tangannya menunjukan pukul 3 sore.


"Lo handle semuanya jangan ganggu gue".


["Jangan bilang lo lagi tidur di apartemen Misha". Tebak Angga. ]


"Iya, bye".


Pip, , !!!


Panggilan diputuskan secara sepihak membuat Angga mendengus kesal. Dari kemarin Riyan memang seperti itu. Selalu menghabiskan waktunya di apartemen Misha, tapi Angga belum tahu bahwa Misha sudah balik.


Riyan langsung merebahkan kembali melanjutkan tidurnya. Misha yang sudah tahu langsung meletakan kepalanya kembali seperti semula di bahu Riyan.


......


Ntah berapa jam mereka tertidur diatas sopa dengan posisi seperti itu. Mata misha perlahan terbuka dengan menetralkan cahaya ruangan.


Ruangan itu memang akan menyala secara otomatis saat jam 6 sore walaupun tidak ada orang sekalipun.


Awalnya misha kaget tapi lama kelamaan dia akan terbiasa dengan itu semua.


Misha melirik ke arah Riyan yang masih tertidur pulas dengan tangan di bahu kiri merangkul.


Lalu dia bangkit berjalan ke arah kamar untuk membersihkan badan. Selesai mandi, memakai pakaian, barulah misha berjalan menuju dapur untuk membuat makanan.


Tapi rencananya harus diurungkan saat isi kulkas kosong hanya terdapat beberapa minuman botol.


"Gue belum belanja bulanan ternyata". Gumam Misha menutup kembali kulkas. Lalu berjalan ke arah Riyan yang sudah terbangun terus menatap dirinya disetiap langkah.


"Mandi cepetan, kita makan malam dibawah aku belum belanja bulanan". Titah misha membuat Riyan langsung bangkit menuju kamar.


Riyan sudah terbiasa keluar masuk kamar pribadi misha, misha juga terbiasa dengan itu jadi dia akan mengeluh apapun.


15 menit kemudian Riyan keluar dengan pakaian yang berbeda dan rambut yang masih basah sedikit membasahi kaos yang dia pakai.


"Riyan, kamu itu kebiasaan sih,, udah tahu rambut basah kenapa gak dikeringkan dulu baru keluar". Omel misha berjalan mendekati Riyan.


Sedangkan Riyan hanya nyengir tanpa dosa menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


Tangan yang ada dileher langsung misha tarik masuk ke dalam kamar. Dia dengan cepat mendudukam kekasihnya di tempat tidur. Lalu mengambil handuk kecil di samping tempat tidur.


Dengan telaten misha menggosok rambut riyan agar cepat kering.


Posisi misha yang berdiri dan riyan yang duduk di atas tempat tidur langsung melingkarkan tangannya di pinggang wanita yang sangat dia cintai selain maminya sedikit mendekat.


"Yan apa yang kamu lakukan??". Tanya misha masih asik menggosok rambut riyan.


"Ck udah, ayok aku udah lapar banget". Ajak misha meletakan handuk kecil itu kembali.


Tapi saat ingin melepaskan tangan riyan malah mempererat kan pegangan itu sampai wajahnya mendusel duselkan di perut Misha yang membuat sedikit geli.


"Riyan jangan seperti itu, geli". Misha berusaha melepaskan diri dari dekapan sampai akhirnya Riyan menengadahkan wajahnya keatas dengan senyum manis.


Riyan berjalan keluar dengan menggandeng tangan Misha. Pegangan itu gak akan pernah lepas dari tangan Riyan sampai kapanpun jika bukan Misha yang mengeluh/melakukan hal lain.


Ting, ,!!


Pintu lift terbuka, Riyan membawa misha masuk ke dalam restoran yang ada disana.


Tanpa mereka berdua sadari ternyata ada seseorang yang terus memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Apalagi setelah kejadian sore tadi.


"Mau pesan apa??". Tanya Riyan.


"Apapun itu asal nasi". Seru misha yang fokus pada pada ponselnya yang terus membalas pesan di group chat teman lama yang baru kemarin ketemu lagi.


Riyan langsung memesankan makanan yang misha suka. Sedari awal dia memang sudah tahu apa misha suka ataupun tidak suka.


...Group SMK (8)...


Tina


|Sha kenapa lo gak ada kabar kunyuk.


|Kemarin lo bilang mau jalan lagi, gue tunggu tunggu gak ada kabar.


Aji


|Iya nih, gue juga chat gak dibales sama tu anak


Adit


|Si Kevin juga ngilang sama aja. @kevin @misha


^^^Misha ^^^


^^^Apaan sih panggil panggil gue, kangen ya lo| sama gue @adit^^^


Adit


|Ck asu lo, gak ada dari sananya gue kangen sama Lo yang ngeselin itu.


Sinta

__ADS_1


|Woy lo pada ketemuan tanpa gue gimana rasanya??


|Gak enak kan.


Aji


|Wih malah gue bersyukur lo gak ada. Bebas hidup gue


Tina


|Apa urusan nya sama lo adanya Sinta sama nggak.


^^^Misha ^^^


^^^Apa jangan jangan???|^^^


Sinta


|Dih apaan sih lo pada, gak asik ah


Tina


|😂😂


Misha


|2in


Adit


|3in


Aji


|Lo pada kaya anak TK masih belajar ngitung


^^^Misha ^^^


^^^Tahu ah gue ikan|^^^


Melihat kekasihnya sedang tertawa membuat riyan mengerutkan kening heran. Setelah duduk di kursi restoran fokusnya selalu tertuju dengan ponsel digenggaman dia. Sampai sampai Riyan teralihkan.


"Ah Riyan kenapa ambil ponsel aku". Rengek misha saat ponsel yang ada di genggaman nya sudah berpindah tempat.


"Aku kamu cuekin gara gara chat sama teman teman kamu". Keluh Riyan dengan wajah sedih.


"Aku-".


"Hai sha boleh gabung gak, lama gak ketemu sama lo?? Dari mana aja". Tanpa basa basi Mark yang baru datang membawa minumannya duduk di samping Misha.


Tentu saja hal itu membuat mereka saling pandang.


"Alamat, , kena lagi gue". Batinnya.


Wajah Riyan sudah mulai tidak bersahabat sama sekali.


"Permisi tuan nona ini pesanannya". Salah satu pelayan datang dengan membawa pesanan Riyan yang dibungkus.


Misha gak tahu ternyata Riyan membungkus makanan itu padahal Misha ingin makan di tempat.


"Ayok sayang katanya udah lapar?? Kita makan di apartemen aja". Ajak Riyan memegang tangan Misha agar cepat bangun dari duduk.


Mark yang melihat itu langsung memasang wajah cengo. Dia gak tahu hubungan mereka berdua, padahal dia tadi sebelumnya mereka sudah pernah ketemu tapi mereka gak pernah berkenalan.


"Mark permisi aku mau lewat". Ujar misha karena memang iya gak bisa lewat karena dia duduk di pojok.


"Ah, kalian kenapa gak makan disini??". Tanya Mark.


"Kita ingin berdua gak mau ada yang mengganggu". Bukan Misha yang jawab melainkan Riyan dengan perkataan penuh menekankan.


"Tapi gue ingin ngobrol dengan Misha??".


"Ada perlu apa lo sama pacar gue?? Gak penting". Ucap Riyan masih dengan nada tidak suka.


"Pacar??". Cengo Mark menatap wajah Misha dan Riyan bergantian.


"Iya kenapa?? Kaget".


"Misi Mark gue mau lewat??". Ucapnya lagi karena Mark tidak membiarkan Misha lewat sedangkan tangannya terus dipegang Riyan yang menggantung dihadapan Mark.


Dengan kaget Mark berdiri membiarkan Misha keluar untuk pergi bersama kekasihnya itu.


Masih sedikit kaget dengan perkataan pemuda yang mengaku pacarnya Misha membuat dia duduk kembali mencerna setiap ucapan.


Awalnya memang Mark tidak tahu bahwa Misha sudah memiliki kekasih karena di dalam sosial media nya dia gak pernah posting photo bersama pria.


Yang Mark tahu bahwa hanya ada beberapa gosip saja antara riyan dan Misha tapi sama sekali gak curiga. Mark hanya menganggapnya mungkin Riyan itu kakak atau saudaranya saja.


...--------...


...TBC ...


...Happy Reading, , Babay!!!!!...

__ADS_1


__ADS_2