
Haina kembali ke kamar usai memergoki para pelayan yang sedang menggunjing dirinya. Ini baru hari kedua sejak ia menjadi istri tuan muda di rumah ini, tapi ia sudah mendapati para pembencinya. Perbedaan status sosial yang sangat jelas memang selalu menjadi masalah klasik yang membuat sebuah pernikahan diterpa cobaan.
"Memang kenapa kalau aku ini gadis desa? Kenapa mereka membenciku? Seharusnya mereka salahkan Tuan Mudanya itu. Kenapa dia memilihku?" gerutu Haina menahan kesal.
Semakin kesal lagi saat ia hanya berdiam diri di kamar. Kalau tidak menonton televisi ya bermain ponsel. Ia bosan dan mati gaya. Apalagi saat melihat tayangan singkat kesibukan teman - temannya di story akun sosialnya. Berdiam diri saja seperti ini sama sekali bukanlah dirinya.
Tok tok tok
Suara pintu diketuk memutus lamunan Haina. Dengan malas ia bangkit dari posisi rebahannya lalu duduk manis di sofa dan mengambil sebuah majalah di meja, pura - pura mebaca.
"Nona boleh saya masuk?" tanya seseorang dari luar.
"Ya, masuklah" sahut Haina.
Ceklek.
Pintu terbuka lalu Vivi masuk dengan membawa nampan berisi sepiring buah dan segelas minuman.
"Waktunya makan kudapan, Nona" ujar Vivi sembari menyajikan apa yang dibawanya di meja kaca ruang santai itu.
"Terima kasih ya, Vi"
"Sama - sama Nona. Kalau begitu saya permisi" ucap Vivi sambil memegang nampan di antara pinggang dan tangan kirinya.
"Tunggu, Vi. Kamu duduklah dulu, temani aku sebentar."
Vivi mengangguk patuh dan duduk disebuah kursi berhadapan dengan Haina.
"Iya Nona. Apa Nona bosan? Dirumah ini ada perpustakaan, gym dan kolam renang juga. Kalau Nona mau saya bisa temani" tawar Vivi dengan semangat.
Haina menggeleng pelan. Rasanya malas kalau harus mendapati tatapan tidak suka lagi saat ia berada diluar kamar. Bukannya Haina takut, ia hanya tidak ingin merusak harinya dengan memikirkan tanggapan orang lain tentang dirinya. Dalam masa beradaptasi dengan status barunya ini ia ingin merasa nyaman berada di rumah itu.
"Tidak usah Vi, kita disini saja. Ceritakan sesuatu padaku ya. Aku ingin mengobrol" sahut Haina akhirnya.
"Mengobrol apa ya Nona. Emm...Apa pagi tadi Kak Mar yang menyiapkan kamar mandi dan keperluan di kamar ini, Nona?" Dengan ragu Vivi mengutarakan keingintahuannya dengan hati - hati.
"Dia hanya menyiapkan kamar mandi saja. Yang lainnya aku yang menyiapkan. Kenapa, Vi?"
"Saya pikir Nona harus berhati - hati sama Kak Mar itu. Dia dekat dengan Nonya Besar, saya takut..."
"Takut kenapa Vi?" Rasa penasaran Haina terpancing untuk menngenali lebih dalam bagaimana keluarga suaminya.
"Mungkin Nona sudah tahu. Tuan Muda pernah bertunangan dengan aktris terkenal itu, Jovanka. Pertunagan itu tidak jadi lanjut karena Nyonya Besar..." ujar Vivi antusias.
__ADS_1
"Apa Nyonya Besar tidak mereatui?"
Vivi menganngguk cepat, membenarkan dugaan Haina. Ia sudah bekerja selama hampir dua tahun sebagai pelayan dirumah keluarga Benjamin ini. Selama itu pula Tuan Muda Harly harly mengencani Jovanka selama satu tahun. Kemudian mereka bertunangan, tapi tak sampai setahun kemudian pertunangan itu batal.
"Iya Nona. Nyonya besar tidak menyukai Jovanka"
"Kenapa? Mereka terlihat cocok"
Vivi mencebikkan bibirnya mengingat bagaimana marahnya Nyonya Besar saat tahu cucunya bertunagan secara diam - diam dengan gadis yang katanya tidak pantas bersanding dengan cucunya.
"Emm...sepertinya Nyonya Besar keberatan karena Jovanka seorang aktris yang sering tampil bermesraan di layar tivi" terang Vivi.
"Cuma itu?"
"Jovanka berasal dari keluarga sederhana menurut Nyonya Besar"
"Oh ya? Keluarga seperti apa memangnya?"
"Saya kurang tahu juga. Tapi sepertinya tak cukup untuk mengesankan Nyonya Besar" jawab Vivi.
Haina tersenyum masam mendengarnya. Dirinya bahkan bukan siapa - siapa. Ia hanya gadis desa, dari keluarga tak punya pula. Sedang mantan tunagan suaminya yang sudah punya nama besar itu saja tak direstui, bagaimana dirinya?
Ah sudahlah biarkan Tuan Muda Harly yang mengurus itu. Toh bukan dirinya yang minta dinikahi. Ia akan bersikap masa bodoh saja. Tapi, apa Haina mampu menghadapi penolakan demi penolakan? Mempertahankan harga dirinya di atas penghinaan yang mungkin akan ia dapat esok hari.
"Ceritakan semua yang kamu ketahui tengang Tuan Muda Harly, Vi!"
"Sebenarnya saya tidak begitu tahu kisah cinta Tuan Muda Harly, Nona. Itu cuma cerita yang saya dapat dari teman - teman yang sudah senior"
"Ya sudah, terima kasih Vi"
"Tidak masalah Nona. Tapi tolong jangan beri tahu Pak Sun kalau saya cerita ya, Nona. Nanti beliau bisa marah" pinta Vivi setengah berbisik.
"Oke, tidak akan!" sahut Haina.
"Kalau begitu saya permisi Nona." Vivi undur diri meninggalkan Haina yang mulai sibuk dengan pikirannya.
*
Malam sudah semakin larut tapi Haina belum juga terlelap. Padahal Tuan Harly tidak ada karena dinas di luar kota, harusnya ia bisa tidur dengan nyaman tanpa merasa gugup seperti sebelumnya.
Karena merasa frustasi dengan insomnia yang menyerangnya Haina memutuskan turun ke dapur dan membuat segelas minuman pengantar tidur. Ia malas kalau harus membangunkan pelayan untuk melayaninya tengah malam begini.
Haina memasukkan satu batang kayu manis kedalam gelas dan menuangnya dengan air panas. Lanjut ia memotong satu buah pisang lalu memasukkannya ke dalam gelas berisi kayu manis itu, terakhir Haina menuang sedikit bubuk vanila agar semakin nikmat dan wangi . Ia biasa membuatkannya untuk sang ibu yang sering susah tidur saat sakit dulu. Paduan yang akan membuat otot rileks dan mengahdirkan sensasi menenagkan.
__ADS_1
Haina memegang gagang gelas besar ditangannya, menaiki anak tangga dengan hati - hati.
Suara beberapa orang dari arah ruang tamu membaut Haina menghentikan langkahnya ditengah tangga.
"Bukan Tuan Muda, siapa itu?"
Suara langkah kaki terdengar mendekat ke ruang tengah tempat tangga berdiri kokoh. Haina buru - buru naik ke atas saat melihat tiga orang wanita berjalan dibawah sana.
Ia menghentikan langkah saat sudah melewati tangga dan bersembunyi dibalik guci besar setinggi manusia.
"Bagaimana bisa kita kecolongan seperti ini? Cucuku menikah tanpa memberitahu aku. Dia melakukannya diam - diam. Kenapa tidak seorangpun menyadari apa yang dia lakukan. Seseorang harusnya melapor padaku dna menghentikannya!" dengan setengah berteriak Ananta—Nyonya Besar Benjamin itu menghempaskan tas jinjing kecil miliknya ke sofa di ruang tengah.
Haina dapat melihat dan mengenali siapa wanita tua yang sedang marah itu. Ia sudah mengingat wajah - wajah anggota keluarga Benjamin meski belum semuanya.
"Ibu tenang saja dulu. Besok ayo bicarakan dengan Harly. Sekarang ayo kita istirahat, Bu" Anggita yang berbicara, anak kedua Nyonya Besar Ananta Benjamin.
"Apa yang harus dibicarakan? Harly menikahi seorang gadis rendahan secara sembunyi - sembunyi lalu mengumumkan pernikahannya pada publik! Dia keterlaluan, sungguh terlalu!" Nada bicara Nyonya Besar semakin tinggi menunjukkan kekesalannya.
"Sudahlah Bu. Seperti yang Ibu bilang itu sudah terjadi. Buat saja mereka berpisah, bukannya itu perkara gampang untuk Ibu?" ujar Anggita sembari duduk dan meluruskan kakinya disofa.
"Tapi tetap saja, semua orang sudah tahu cucuku menikah. Menjadikannya duda akan membuat namanya sedikit tercoreng..."
"Siapa yang mempedulikan itu, Bu? Jutaan wanita rela mengantri jika ditawari menjadi istri Tuan Muda keluarga Benjamin. Apa yang ibu takutkan?"
"Tapi tetap saja...bagaimana kalau orang - orang tahu cucu menantuku hanya seorang gadis rendahan" Nyonya Besar berbicara dengan dengan kesal. Ia benar - benar tidak terima dengan fakta itu, bahwa cucunya berani menikah dengan gadis yang sangat jauh dari standar seorang menantu yang diharapkannya.
"Kalau begitu kita bereskan sebelum semua orang tahu, Bu" sahut Anggita lalu beranjak meninggalkan Ibunya yang masih marah.
"Apa maksudmu? Hei...Gita, Ibu belum selesai bicara. Jelaskan padaku! Apa rencanamu?"
"Aku mengantuk Bu. Masih ada hari esok!" seru Anggita tanpa menoleh lagi dan masuk ke kamarnya sendiri.
Ternyata gelisah Haina tadi memang ada sebabnya, sampai membuatnya tidak bisa tidur. Ternyata ada orang yang terus mengumpatnya—gadis rendahan.
Haina kembalinke kamarnya dengan langkah gontai. Sepertinya hari - harinya sebagai istri Tuan Muda Harly akan berat, mungkin sangat berat. Bertambah lagi dua pembencinya, pembenci yang sangat berat dan pasti akan mengacaukan pertahanan dirinya.
"Sudahlah. Memang apa yang aku harapkan?"
Haina tersenyum masam mendapati situasi yang tidak mengenakkan ini. Tapi ia tahu bahwa ia harus menyiapkan diri untuk dapat bertahan dan tidak terluka atas apa saja yang mungkin akan terjadi esok hari.
Untuk itu ia harus segera tidur. Mengistirahatkan fisik dan hatinya yang lelah, lelah menghadapi kenyataan.
Haina meminum ramuan pengantar tidurnya dan mematikan lampu. Merebahkan diri diranjang dan siap menuju alam mimpi.
__ADS_1
*
tbc.