Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Kembali Bekerja


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat bagi yang punya kesibukan, sebaliknya terasa lambat bagi yang tidak punya kegiatan. Seperti Haina saat ini. Ia duduk melamun di bench, menyaksikan pemandangan senja dari balik kaca jendela. Dari ketinggian itu ia dapat melihat kesibukan warga ibu kota di jalanan.


Gadis itu menghela napas panjang. Semenjak pulang dari rumah sakit, ia hanya menghabiskan waktu dikamar. Sesekali bermain ponsel, mengecek media sosialnya yang semakin ramai jadi beranda ghibah orang - orang. Meskipun begitu ia tetap membaca setiap komentar. Meski sang suami telah melarang. Awal - awal ia akan menangis setelah membaca beberapa komentar. Tapi setelahnya ia tak lagi menangis. Mengingat perkataan Hagi padanya ditelepon beberawa waktu lalu ia kembali mendapatkan kekuatan.


Kakak tidak melakukan satu kesalahanpun. Jadi, jangan bersedih, berkecil hati apalagi menangis! Masa bodoh dengan nama baik suami Kakak. Pikirkan kebahagiaan diri Kakak sendiri! Tinggalkan masa lalu dan berbahagialah.


Ah! Begitu bijaksana bocah SMA itu. Mampu memberinya kekuatan menghadapi cibiran orang - orang di luar sana. Ya, seperti Haina yang seharusnya, kuat dan pantang menyerah. Seperti itulah seharusnya.


CEKLEK!


Suara bukaan pintu tidak membuatnya berpaling dari jendela. Entah siapa yang masuk, ia tidak ingin tahu.


"Sayang!" sapaan meluncur daru bibir Tuan Muda Harly. Ia berdiri tepat dibelakang sang istri yang betah mengamati pemandangan dengan memunggunginya.


"Kau pulang cepat hari ini?" sahut Haina tanpa menoleh. Sejak ia pulang dari rumah sakit du minggu yang lalu sang suami selalu bekerja lembur. Lelaki itu sering pulang menjelang tengah malam. Tapi hari ini berbeda, lelaki itu pulang lebih awal bahkan saat matahari masih belum tenggelam sempurna.


Entah perasaannya saja, Tuan Muda Harly lebih sering menghindarinya akhir - akhir ini. Sudah lama lelaki itu tak kembali untuk makan siang bersamanya diapartemen. Tentang hal itu Haina mencoba mengerti, mungkin saja suaminya itu memang sibuk sekarang.


Haina bahkan tak berharap bisa makan malam bersama malam ini. Tapi hari ini lelaki itu kembali lebih awal. Jadi ia akan mengenyampingkan perasaan asing dihatinya.


Haina bangkit dari bench, kursi panjang empuk yang setiap hari didudukinya saat sepi melanda. Ia merapatkan tubuhnya pada sang suami. Memeluk dengan erat berharap kerinduannya melebur dalam pelukan itu.


"Aku merindukanmu," gumamnya seraya menyandarkan kepala didada sang suami.


Lelaki itu membalas pelukan sama eratnya.


"Aku juga rindu kau."


Sesaat mereka masih berpelukan sampai sang lelaki mengurai pelukan dan mengecup sekilas bibirnya.


"Aku ingin mengatakan sesuatu. Aku akan pergi ke Australia selama seminggu penuh. Ingat, jaga dirimu baik - baik selama aku pergi," ujar lelaki itu kemudian kembali mengecup bibir Haina.


Haina mematung ditempatnya berdiri. Sedang sang suami beranjak keruang ganti. Entah kenapa berat rasanya melepas kepergian Tuan Muda Harly kali ini. Di saat skandal videonya masih hangat dibicarakan orang - orang, mereka harus terpisah sementara. Walau hanya seminggu, tapi ia tidak rela. Belakangan mereka jarang menghabiskan waktu bersama karena kesibukan lelaki itu.


"Kapan kau pergi?" tanya Haina lirih saat sampai diruang ganti.


Tuan Muda Harly baru saja menanggalkan pakaiannya. Ia akan mandi.

__ADS_1


"Besok, pagi sekali. Maafkan aku, ini sedikit mendadak," lelaki itu berkata sambil berjalan ke arah kamar mandi.


Haina mengekorinya dengan perasaan kian kacau. Ia hampir menangis menahan sesak yang tiba - tiba menghimpit dadanya.


"Sayang!" serunya lirih saat sang suami sudah membasahi diri dengan guyuran air dari shower tanam di dinding.


Lelaki itu menoleh heran. Jarang - jarang istrinya itu memangginya 'sayang'.


"Mau mandi bersama?" lelaki itu menaik turunkan alis dengan senyum nakal. Tak memperhatikan air muka Haina yang mulai mendung. Ia sibuk mengguyur tubuh polosnya dan mulai menyabuni.


Haina menggeleng cepat.


"Aku ingin ikut kalau boleh," ujar gadis itu lirih seakan ingin menangis. Cairan bening mulai bertumpuk.


Seolah tak mendengar, tak ada jawaban dari lelaki itu. Haina mendengus kesal.


"Aku bilang aku ingin ikut!" seru Haina sekali lagi. Lantang menyuarakan keinginannya.


Tuan Muda Harly menoleh dan menghentikan aktifitasnya.


Hah! Kenapa lelaki itu dari tadi tak bisa diajak bicara serius?


Haina kesal bukan main sampai sesak didadanya kian menghimpit. Tanpa bisa ditahannya lagi air mata menetes begitu saja.


"Hei hei hei ada apa? Kenapa menangis?" panik lelaki itu menghentikan kegiatannya lalu meraih handuk dan melilitkan dipinggang. Tidak peduli dengan busa yang masih menempel ditubuhnya.


Haina menyeka pipi yang mulai basah dengan kasar. Kenapa ia menangis? Tak bisasanya ia cengeng begini. Ia pun tak tahu mengapa sisi melankolisnya memuncak saat ini.


Yang ia inginkan adalah selalu berada didekat sang suami. Berjauhan membuatnya takut dan gamang.


"Aku juga ingin membawamu tapi tidak bisa karena perginya mendadak. Sekarang kau bahkan belum punya paspor dan visa yang diperlukan."


Benar juga. Mengapa Haina sampai lupa hal itu? Pergi ke luar negeri tak seperti ke kota sebelah. Butuh persiapan dan kelengkapan dokumen. Haina tidak punya semua itu.


Akhirnya ia hanya bisa menelan kecewa ditinggal pergi Tuan Muda Harly. Melewati hari demi hari dengan gelisah dan menahan rindu di hati.


Ia bagaikan dikurung dalam sangkar emas milik sang suami. Berdiam diri di apartemen mewah itu ditemani pelayan dan setengah lusin pengawal.

__ADS_1


*


Pagi ini, hari keempat ia ditinggal Tuan Muda Harly dinas ke Australia. Setelah perdebatan panjang ditelepon akhirnya ia diizinkan keluar apartemen dengan syarat diikuti semua pengawalnya. Maka dari itu jadilah ia pergi dengan iring - iringan tiga mobil.


Ia memutuskan pergi ke Restoramie setelah sekian lama. Membawa banyak kerinduan dalam setiap langkahnya. Pagi yang sibuk seperti biasa di restauran itu, semua staff menyapanya ramah.


"Hai! Akhirnya kau datang juga!" seru Alya dari arah dapur.


Mereka berpelukan lalu melanjutkan obrolan sambil mengawasi kinerja staf.


"Aku senang kau baik - baik saja setelah semua insiden itu," ujar Alya seraya mengelus lengan Haina.


"Aku memang harus baik - baik saja, Kak. Aku tidak peduli lagi dengan tatapan orang - orang!"


Ya, benar. Haina berujar penuh keyakinan. Ia tidak peduli dengan apapun komentar orang - orang tentangnya. Selama ia masih memiliki alasan untuk bahagia. Kedua orang tuanya, adik dan suami yang ia cintai. Selama gadis itu masih memiliki mereka tak ada alasan untuk menyerah. Ia akan terus maju melanjutkan hidup seperti keinginannya.


Merajut mimpinya perlahan sampai terwujud sepenuhnya. Ia tak akan berhenti, hanya karena rintangan yang datang dari orang - orang yang membencinya. Biarlah ada yang mengutuk atau menyumpahinya dibalik punggungnya, ia tak mengapa. Toh ia tak bisa memaksa semua orang untuk menyukainya.


"Jadi suami milyardermu sedang pergi keluar negeri?"


"Emmh, ya perjalanan bisnis selama seminggu. Karena itulah aku datang kesini. Aku memohon padanya agar bisa keluar. Bosan sekali terkurung di apartemen tanpa melakukan hal yang kusuka."


Alya menepuk bahu Haina kuat lalu menyampirkan sebuah apron dibahu gadis itu.


"Ini dia yang kau suka! Ayo ke dapur dan kembalilah bekerja. Stok sayuran segar baru saja tiba. Menunggumu minta dibersihkan!" seru Alya.


Dua gadis itu terkekeh seraya berjalan menuju dapur tanpa menyadari ada yang memperhatikan mereka dari balik kaca jendela.


"Maaf, Nona. Restauran buka tiga jam dari sekarang. Anda datang terlalu pagi," seorang pelayan menghampiri wanita berpakaian modis lengkap dengan kaca mata hitam bertengger dihidung mancungnya.


Wanita melenggang pergi tanpa menyahut sepatah kata pun pada pelayan tadi.


"Dasar orang kaya memang sombong!" gerutu sang pelayan lalu melanjutkan pekerjaannya memebersihkan kaca jendela.


*


tbc.

__ADS_1


__ADS_2