
Haina sudah menunggu suaminya hingga tengah malam, namun ia tak kunjung mendapati suaminya pulang. Padahal ia ingin sekali berterima kasih karena sudah diizinkan ikut kursus memasak. Ya, ia betulan berterima kasih. Sedikit banyak ia mensyukuri takdirnya pada sang pencipta.
Pernikahan yang awalnya benar - benar tak ia inginkan, ternyata tak seburuk yang ia pikirkan. Suaminya memperlakukan dirinya dengan cukup baik. Melindunginya dan menjaganya dari apapun yang mungkin menyakitinya. Ia tahu itu, meski sering kali bersikap arogan dan dingin namun Tuan Muda Harly tak pernah bertindak kasar dan menyakitinya.
Meskipun status suami istri mereka sampai sekarang masih diatas kertas saja. Karena lelaki itu benar - benar belum menyentuhnya lebih jauh. Hal itu membuat Haina lega sekaligus waspada. Selalu ada peperangan batin di dalam hatinya. Tentang perasaannya dan harapannya pada pernikahan mereka.
Haina sudah menimbun tubuhnya dengan selimut dan bersiap ke alam mimpi. Tapi tiba - tiba pintu kamar terbuka. Ia bangkit dari posisi tidurnya dan menyalakan lampu.
"Kenapa kau belum tidur?" tanya Tuan Muda Harly.
"Aku menunggumu"
Haina mengekori suaminya ke ruang ganti. Dengan sigap membantu suaminya menanggalkan dasi, jas dan kemeja yang dikenakannya. Sesekali ia mencuri pandang pada suaminya yang terlihat berbeda dari biasanya.
"Apa kau sudah makan malam?" tanya Haina memulai percakapan lagi.
"Sudah" jawab lelaki itu singkat.
"Jun tidak mengabari kalau kau ada lembur. Sepertinya kau sibuk sekali" ujar Haina lagi. Ia ingin menuntuntaskan isi pikirannya saat ini. Bahwa ia ingin berterima kasih.
Tuan Muda Harly tidak menyahut dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Meninggalkan Haina yang terpaku seorang diri. Gadis itu meraba dadanya.
"Sikapnya sangat dingin seperti pertama kali kami bertemu. Kenapa aku merasa sakit saat dia mengacuhkanku?
Sadarlah Haina! Ingat siapa dirimu dan kenapa kau ada disini. Kau tidak boleh berharap lebih pada pernikahan ini"
Haina kembali ke tempat tidur setelah beberapa saat. Segera tidur lebih baik baginya dari pada berlarut dengan lamunannya tentang Tuan Muda Harly. Ia kembali menimbun dirinya dengan selimut dan menutup matanya, perlahan nafasnya menjadi teratur dan benar - benar tertidur.
Tuan Muda Harly keluar dari kamar ganti. Ia sudah selesai membersihkan diri dan berpakaian. Perlahan ia naik ke atas tempat tidur dan merebahkan diri. Ia mencoba untuk langsung tidur. Tapi hingga beberapa menit berlalu kantuk tak juga mendatanginya. Ia menggeser tubuhnya ke samping mengahadap istrinya yang sudah terlelap.
"Dasar gadis bodoh. Jangan bersikap seolah kau benar - benar istri yang baik, aku akan merasa bersalah padamu" bisiknya pelan.
Satu tangannya bergerak, menyetuh wajah cantik yang tertidur. Ia mengamati dengan seksama setiap inci wajah itu, menatapnya dalam.
Bibir merah muda Haina tampak lembab dan menggoda. Menarik minatnya untuk menyesapnya sekali lagi. Manisnya bibir Haina kemarin masih melekat diingatannya. Jadi ia putuskan untuk mencium gadis itu lagi.
Ia mendekat dan semakin mengkis jarak. Sedikit lagi ia akan menikmati manisnya bibir istrinya. Tapi tiba - tiba ia berhenti dan tak jadi mencium istrinya.
"Tidak. Aku bukan tipe lelaki yang meyerang saat wanita sedang tertidur"
"Memangnya kenapa? Dia istriku"
Sesaat ia merasa ragu tapi kemudian menginginkan bibir itu lagi.
Haina menggeliat membuatnya mengurungkan niat. Tapi setengah tubuhnya masih ada diatas tubuh Haina, ia menyangganya dengan kedua tangannya.
"Ada apa? Kau membutuhkan sesuatu?" ujar Haina pelan saat meraih kesadarannya setelah membuka mata.
__ADS_1
Tuan Muda Harly menggeleng dan masih menatapnya lekat.
"Kalau begitu ada apa?" tanya Haina sekali lagi. Jujur saja, jantungnya berdebar kecang sekali. Posisi mereka saat ini membuatnya begitu tersudut sekaligus kaget. Ingatan tentang ciuman kemarin melintas dibenaknya. Mungkinkah pria itu ingin mengulanginya lagi?
"Tidak ada. Sebaiknya kau tidur" ujar Tuan Muda Harly sambil membetulkan posisinya, ia bangkit dan segera merabahkan diri.
Haina memutar tubuhnya menyamping, menghadap Tuan Muda Harly yang tidur terlentang. Ia menatap suaminya yang sudah memejamkan mata. Ia tahu lelaki itu belum tidur.
"Terima kasih, aku sangat menyukai tempat kursusku dan sudah memilih kelas yang kuinginkan. Itu semua berkat kau" ujar Haina sabil menatap sosok suaminya dari samping.
Cup!
Tiba - tiba saja keberaniannya datang entah dari mana. Nekat sekali ia mengecup pipi Tuan Muda Harly tanpa izin lelaki itu. Tapi Haina sudah tidak mempedulikan rasa malunya. Ia hanya ingin berterimasih. Ya, dengan memberi satu kecupan ia pikir akan membuat lelaki itu senang.
"Apa yang kau inginkan?"
"Apa? Tidak ada" ujar Haina kaget.
"Kau tidak bersikap manis tanpa memnginginkan sesuatu sebagai imbalan!" ujar Tuan Muda Harly yang sudah merubah posisinya jadi menghadap samping. Membuat mereka saling berhadapan di tempat tudur.
"Ti...tidak ada" sahut Haina lagi.
Sebenarnya ada. Ya, ia ingin sekali pulang ke desa walau hanya sebentar saja.
"Kalau begitu tidurlah!" ujar Tuan Muda Harly lalu memejamkan matanya.
Haina termenung dengan pikiran ingin pulang ke desanya. Ia takut akan membuat lelaki itu marah apabila ia mengatakan keinginannya. Tapi ia betul - betul ingin pulang. Selain kedua orang tuanya, ia juga sangat merindukan Hagi. Sudah berbulan - bulan lamanya ia gak melihat langsung wajah sang adik.
"Tidak!"
"Hah?"
"Tidak sekarang atau dalam waktu dekat ini. Tidur dan jangan membahasnya lagi!" titah Tuan Muda Harly dan langsung membalikkan tubuhnya. Ia tidur memunggungi Haina yang masih kecewa dengan penolakannya yang sungguh sangat cepat sekali.
Haina tidak punya pilihan lain selain menerima keputusan itu. Ia hanya bisa memeluk kerinduannya bersama angannya di dalam mimpi.
"Tidak Apa. Aku pasti bisa pulang lain kali" batin Haina menghibur diri sebelum ikut terlelap ke alam mimpi
*
Rumah besar Benjamin hari ini kedatangan seorang tamu istimewa. Tamu itu adalah Tuan Frank Cornor, pemilik jaringan swalayan terbesar di negeri ini. Ia datang bersama putrinya Rebeca Cornor. Dua anak beranak berdarah campuran itu dijamu langsung oleh Nyonya Besar Ananta dan putrinya Anggita. Mereka berbincang diiringi tawa kecil sambil menikmati teh dan camilan.
"Jadi kau pasti bersedia dengan rencanaku, Rebeca?"
"Oh, Nenek sebenarnya aku patah hati saat mendengar berita pernikahan Harly. Tapi mendengar langsung dari mulutmu bahwa wanita itu tidak pantas untuknya membuatku ikut sedih dan merasakan kekhawatiranmu" ujar Rebeca dengan wajah sedih.
Nyony besar Ananta tersenyum dan menatap Frank Cornor dengan penuh arti. Sebenarnya Rebeca lah yang ia inginkan untuk menjadi cucu menantunya. Rebeca berasal dari keluarga konglomerat seperti Benjamin. Memiliki bisnis retail yang tersebar di seluruh negri. Tidak hanya itu, keluarga Cornor juga mewarisi sebagian besar usaha tambang milik keluarga di luar negri. Jadi Rebecalah yang paling pantas bersanding dengan pewaris keluarga Benjamin.
__ADS_1
"Jadi apa tindakanmu untuk mewujudkan impian kita mempersatukan kedua pewaris keluarga ini?" Frank Cornor yang berbicara. Sesungguhnya ia sangat menyayangkan status Tuan Muda Harly saat ini. Tapi apa mau dikata, Rebeca putrinya sangat menggilai pewaris Benjamin itu sedari dulu. Hanya ialah yang menjadi pujaan hatinya selama bertahun - tahun. Jadi ia akan menyetujui untuk menikahkan Rebeca dengan Tuan Muda Harly setelah Nyonya besar Ananta berhasil dengan rencananya.
Ditengah perbincangan mereka, Pak Sun muncul dari ruang tengah bersama Haina.
Semua mata tertuju pada Haina yang terlihat canggung berdiri disana diantara orang - orang yang tidak dikenalnya. Apalagi tatapan gadis berwajah eropa itu begitu mengintimidasinya sambil memeluk lengan Nyonya besar Ananta.
"Kau lihat dia, Rebeca? Dia hanya perlu waktu untuk tahu diri dan menyingkir dari sisi cucuku Harly" ujar Nyonya besar Ananta.
Rebeca tersenyum dengan sangat manis pada wanita tua itu. Lalu menatap Haina.
"Nenek benar, dia bahkan gemetar ketakutan sekarang. Harly benar - benar hanya memilih asal demi membuat nenek jengkel" timpal Rebeca dengan tatapan merendahkan.
Haina hanya diam, ia tidak perlu memperkenalkan diri pada tamu itu. Toh, mereka sudah menolak kehadirannya sejak awal. Ia hanya harus segera berlalu dari ruangan itu.
Pak Sun menghembuskan napas kesal dan segera mengantar Haina ke teras depan. Hari ini hari pertama nonanya mengkiti kursus di Aroma Kitchen Studio.
Mereka berlalu dari ruangan itu tanpa mengatakan sepatah katapun. Awalnya Haina hendak pamit, namun mulutnya terkunci setelah dihina langsung didepan wajahnya.
"Nona, jangan memikirkan apapun yang bisa membaut Anda tidak nyaman" ujar Pak Sun sesampainya mereka di teras depan.
"Ya, Pak Sun benar. Itu bukan urusanku juga" sahut Haina lalu masuk ke mobil. "Aku pergi dulu, Pak Sun"
"Baik, selamat jalan Nona" ujar Pak Sun melepas Haina yang sudah berlalu diantar supir.
Pak Sun mengekuarkan ponsel dari saku celananya dan mendial sebuah nomor. Ia berbicara beberapa saat ditelepon.
"Pak Sun!"
Pak Sun menoleh saat suara seorang wanita memanggilnya. "Ya, ada yang bisa saya bantu, Nyonya Anggita?"
Nyonya Anggita setengah berlari menghampiri Pak Sun.
"Aku tahu Pak Sun pasti melapor pada Harly kan? Pak Sun tidak mengatakan aku membantu Ibu kan?"
"Maksud Anda?"
"Ayolah Pak Sun, mulai sekarang aku tidak akan membantu Ibu mengusir Haina. Aku akan netral saja" ujar Nyonya Anggita dengan senyum diplomatis.
"Tapi Anda sangat bersemangat saat bersama Nyonya besar dan keluarga Cornor itu" ujar Pak Sun datar.
"Itu...itu hanya sebatas sopan santun menyambut tamu saja, Pak Sun. Ayolah, mulai sekarang Anda bisa mengecualikan aku" ujar Nyonya Anggita sedikit memelas.
"Baiklah. Saya tetap akan melakukan pekerjaan seperti biasa. Anda juga tidak perlu khawatir selama Anda dapat memegang kata -kata Anda sendiri. Kalau begitu saya permisi" ujar Pak Sun.
"Oke. Kalau begitu Pak Sun juga jangan memberi tahu Ibu tentang permintaanku ini. Biar aku yang mengurusnya.
"Tentu"
__ADS_1
*
tbc.