
Matahari sudah menetas memancarkan sinar emas kemerahan di cakrawala. Menandakan waktu bagi para manuasia untuk segera kembali bertebaran di muka bumi.
Haina terbangun dari tidur nyenyaknya. Perlahan membuka mata dan mengumpulkan nyawa yang sempat berkelana. Saat kesadarannya sudah penuh ia bangkit dan menyibak selimut.
"Kapan dia pulang?" ujar Haina mendapati suaminya sudah kembali dan terlelap dalam tidurnya.
Haina memperhatikan wajah itu, terlihat damai dan memesona. Wajah tampan yang sempurna dengan kombinasi yang sangat pas. Rambut hitam legam yang halus dan lembut. Alis yang rapi dan cukup tebal, bahkan lebih tebal dari milik Haina. Mata yang sering menatapnya tajam itu, hidung yang mancung dan bibir merah muda yang memikat. Dibingkai rahang tegas nan kokoh.
"Kalau sedang tidur begini dia kelihatan seperti pria berkuda putih impian setiap wanita..." batin Haina dengan senyum diwajahnya.
"Kalau kau sudah puas menatapku pergilan mandi. Siapkan dirimu" ujar Tuan Muda Harly, matanya masih tertutup rapat, tapi rupanya ia sudah bangun. Ia masih ingin melanjutkan tidur karena terlambat tidur semalam.
Haina gelagapan, rupanya ia ketahuan sedang mengagumi ciptaan Tuhan di sampingnya.
"Aku tidak menatapmu kok" bohong Haina. Lalu ia turun dari tempat tidur, memulai aktifitas paginya.
Setelah memilih setelan kerja suaminya Haina ganti memilih pakaian untuk dirinya.
"Pakaian seperti apa yang cocok untuk dipakai pada pertemuan keluarga mertua..." ujar Haina.
Tangannya sibuk menyibak satu demi satu gaun rumah yang tergantung. Memilih mana yang kiranya cocok dan pantas ia kenakan.
Dua puluh menit cukup bagi Haina untuk membersihkan dirinya di kamar mandi. Ia keluar setelah menyiapkan air hangat untuk mandi suaminya. Dengan menggunakan handuk sebatas dada dan paha Haina saja, Haina sibuk mengeringkan rambut panjangnya dengan hair driyer. Ia harus cepat agar dapat segera berpakaian sebelum suamnya memasuki ruangan itu. Udara panas yang keluar dari alat pengering itu berhasil mengeringkan sebagian rambut di sisi kiri kepalanya.
"Eh? Kok tiba - tiba mati?" Haina mengayun - ayunkan hair driyer ditangannya, berharap alat itu hidup lagi setelah tiba - tiba mati.
__ADS_1
Alat itu tak juga mau berfungsi kembali. Sepertinya benar - benar rusak. Haina berjalan masuk kembali ke kamar mandi.
"Ya sudah, pakai handuk saja lah" ujar Haina sembari berjinjit berusaha mengambil handuk kecil yang terletak di ambalan khusus handuk. Di sana terdapat beberapa handuk yang digulung dan tertata rapi. Tapi ia kesulitan karena ambalan cukup tinggi dan susunan handuk juga banyak. Haina meloncat, mencoba meraih handuk gulung bagian paling atas.
BRAK!
"Aaakkhhh!"
BUKK!
Pintu kamar mandi tiba - tiba saja didorong dari luar. Tuan Muda Harly setengah berlari menuju closed.
Haina sungguh kaget dibuatnya. Saat mendaratkan kaki usai meloncat, pijakan kakinya jadi tidak sempurna karena kaget. Ia terjatuh ke lantai.
"Kenapa...?"
Tuan Muda Harly mematung ditempatnya. Masih menghadap closed dan merapatkan matanya.
"Sial! Kenapa aku menurut?" gerutunya kesal. Perlahan ia berbalik dan melihat Haina yang baru saja memperbaiki handuknya yang melorot. Ia melihatnya, tubuh indah terbalut handuk putih sebatas paha.
"Ck! Kau ini, sudah belum?" ujar Tuan Muda Harly setelah mebalik badannya lagi mengahadap closed. Pemandangan pagi yanh mendebarkan itu membuatnya jadi gelisah sendiri.
"Sudah..." Haina bangkit dari posisinya dengan wajah memerah sempurna.
"Jangan lihat! Kau tidak boleh melihatnya!"
__ADS_1
Haina berjalan dengan menyerat satu kakinya yang terasa sakit. Perlahan ia sampai diruang ganti dan duduk di kursi meja rias. Sambil menahan sakit ia mencoba menggerakkan kakinya yang sakit.
"Kemarikan, biar kulihat" ujar Tuan Muda Harly yang sudah menyusul Haina.
"Tidak perlu..."
"Jangan keras kepala. Kau harus ikut sarapan pagi ini. Ini hari pertamamu berkenalan dengan keluargaku"
Haina terdiam tak berkutik.
Tuan Muda Harly berjongkok dan menarik pelan kaki Haina ke pangkuannya. Mengerakkan pelan, memutar ke kanan dan ke kiri.
"Aduh sakit. Itu sakit" Haina meringis dibuatnya.
"Tahan sedikit"
Satu...dua...tiga.
Krek!
"Ahhh" Haina menjerit tertahan saat pergelangan kakinya di putar cepat.
"Coba gerakkan!"
Haina menurut.
__ADS_1
"Sudah tidak begitu sakit" cicit Haina dengan wajah tetunduk"
"Apa kau melihatnya?"