
Sepertinya takdir sedang bermain - main dengannya sekarang. Setelah hari - hari suram dalam kasus teror dan penculikan yang dialaminya kemarin, hari ini mimpi buruk yang coba ia halau kemarin telah jadi nyata.
Awalnya karena pesan yang membawa petaka itu ia diculik. Berpikir si pengirim pesan menepati janjinya untuk tak menyebar luaskan video tentangnya. Seseorang memintanya berbicara empat mata, menunggunya di basement. Tapi sayangnya semua hanya jebakan belaka.
Tamara, sebesar itukah kebeciannya? Haina tak menduga wanita itu begitu licik dan tak punya hati.
Haina berdiri mematung disamping brangkar diruang rawat VVIP. Sesak menekan dadanya sampai sulit bernapas. Ia gemetar dengan tatapan mata kosong. Namun air mata berjatuhan tanpa izinnya.
BRAK!
Ponsel dalam genggaman terjatuh ke lantai disusul tubuhnya yang luruh dilantai mermer. Haina mulai menangis tersedu. Begitu pilu sampai pengawal yang berjaga didepan pintu kalang kabut melihatnya terisak demikian hebatnya. Ia menangis dan membenamkan kepala di antara lutut dan dadanya. Bahunya naik turun bergetar seirama isakan tangisnya.
Tak ia sangka Tamara tega merekam kejadian enam tahun lalu. Saat dirinya dirundung di gudang sekolah. Hampir diperkosa preman suruhan Tamara. Sekarang rekaman itu telah tersebar luas. Seluruh masyarakat dapat melihat betapa ia dihinakan hari itu. Hari dimana ia mendapat rasa sakit dan trauma tak berkesudahan. Hari dimana harga diri dan kehormatannya nyaris dicabik - cabik menjadi serpihan pahit di masa remajanya. Sekarang masa lalu yang menyakitkan itu kembali ke permukaan saat ia telah berusaha mati - matian mengubur ingatan menyakitkan itu. Kejadian mengerikan yang ia simpan jauh - jauh dalam ingatannya. Kini siapa saja dapat menyaksikannya lewat rekaman video itu.
Sayang sekali bila hanya kau yang mengingat kejadian mengerikan ini. Jadi kuputuskan memberi tahu orang - orang. Biar semua tahu, kau hanya gadis kotor yang menjijikkan! —pesan yang baru saja dikirimkan dari nomor tak dikenal diponsel Haina.
"Nona! Apa yang terjadi? Anda baik - baik saja?" Steffi panik dan memerintahkan pengawal lain untuk memanggil dokter.
Haina masih terus menangis saat Steffi mencoba menenangkannya. Sungguh ia tak tahu bagaimana menyingkirkan sesak dan rasa sakit didadanya selain menangis dan meraung. Ketakutan dan rasa malu mulai menggerogoti jiwanya saat ini.
Bagaimana mungkin ia dapat menunjukkan wajahnya pada dunia setelah hari ini? Sungguh, ia malu dan takut.
Sementara Steffi mencoba menghungin Tuan Muda Harly. Pintu kembali terbuka, Ben muncul disana dengan wajah bingung menyaksikan tangisan Haina yang tak kunjung reda.
Ben mengernyit dan menatap Steffi meminta penjelasan. Steffi yang belum tahu apa - apa menggeleng. Tapi Ben adalah lelaki intelek yang selalu tanggap dalam setiap keadaan. Ia mendekat dan menyambar ponsel Haina yang tergeletak dilantai. Menekuninya sesaat lalu menyugar rambut dengan gusar.
"Haina, tenangkan dirimu! Semua akan baik - baik saja. Aku berjanji!" Ben memegangi bahu Haina yang terus gemetar.
Isakan Haina masih terdengar. Tapi tangisnya mulai reda saat Ben menangkup pipinya dan menatapnya lekat.
"Hei, dengar! Menit ini juga video yang tersebar akan aku hapuskan. Percaya padaku!"
"Paman...paman aku malu. Semua orang akan menertawakan aku...aku...ta..takut" terbata gadis itu menyahuti perkataan Ben.
Ben menarik gadis itu dengan hati - hati dan mendudukannya diranjangnya. Ia mengeluarkan ponsel dan mengomando orang - orangnya untuk segera menghapus video yang tersebar.
Beberapa saat setelahnya Tuan Muda Harly datang dengan setengah berlari. Mendapati wanitanya yang meringkuk dibalik selimut dengan sisa isakan yang masih terdengar jelas membuat hatinya perih.
Ben menyingkir memberi ruang pada keponakannya. Begitu pula Steffi langsung mundur teratur.
"Sayang, jangan khawatir. Semua akan teratasi dengan cepat, aku janji. Tamara akan mendapatkan hukumannya."
Belaian lembut ia beri dipuncak kepala sang istri. Namun Haina enggan dan malah menarik diri. Ia ingin sendirian sekarang.
"Tinggalkan aku sendiri," lirih suara gadis itu diantara isakannya.
"Tidak, aku akan bersamamu. Kau butuh aku disini."
"Aku butuh waktu sendirian! Kau dengar aku?!" Seru Haina lantang dengan mata bergetar dan berair.
Gadis itu ingin sendirian. Nyatanya ia belum siap berhadapan langsung dengan orang - orang yang mungkin akan menatapnya berbeda mulai hari ini. Ia belum siap menerimanya. Mungkin termasuk suaminya sendiri.
Apakah lelaki itu akan menatapnya iba? Apakah ia akan malu terhadapnya? Bisakah lelaki itu melupakan gambaran dirinya yang kacau dan memalukan pada hari itu setelah menonton video itu?
Karena itu ia butuh waktu untuk menerima semua keadaan ini. Merenungi dan menyelami rasa sakitnya sekali lagi sampai ia puas. Mengeluarkan emosi yang terpendam di hatinya. Kemudian menguatkan diri menerima semua.
*
Sementara itu di rumah besar Benjamin teriakan Nyona Ananta bergema memanggil putrinya, Anggita.
__ADS_1
"Anggita! Cepat antar aku menemui prempuan itu!"
Anggita berlarian dari arah kamar mendengar teriakan ibunya yang ia tahu pasti murka. Kabar tentang tersebarnya video pelecahan terhadap Haina juga menyangkutpaukan nama Tuan Muda Harly. Sekarang semua orang tahu siapa istri yang disembunyikan pewaris Benjamin Corps.
"Biarkan saja, Bu. Harly pasti akan melakukan sesuatu. Dia tidak mungkin berdiam diri saja, video itu pasti sudah menghilang besok," sahut Anggita.
Berniat menenangkan sang ibu dan menghentikannya menemui Haina. Setidaknya ia bisa melakukan itu agar dinilai berjasa oleh sang keponakan.
"Tutup mulutmu dan temani saja aku!" Gertak Nyonya Ananta tidak terima penolakan.
Ia harus membuat perhitungan dengan perempuan itu. Berani sekali mempermalukan nama besar Benjamin didepan publik.
Istri seorang Tuan muda Harly Benjamin adalah seorang korban pemerkosaan?
Kenapa seseorang yang sempurna seperti Tuan muda Harly Benjamin menikahi gadis kotor seperti itu?
Bukankah itu sangat menggelikan?
Itukah alasannya menyembunyikan identitas istrinya selama ini?
Pria yang malang. Menikahi perempuan malang. Apa dia mengasihaninya? Harusnya dia mengasihani diri sendiri, kenapa memilih gadis seperti itu untuk dijadikan istri?
Ragam komentar penuh hinaan telah tersebar diluar sana. Opini publik berkembang mematri stigma negatif dalam ingatan setiap orang. Betapa memalukannya itu. Pewaris Benjamin Corp akan memiliki keturunan dari gadis kotor seperti itu.
Tak berapa lama dua anak beranak itu sampai di kantor pusat Benjamin Corp. Nonya Ananta turun diikuti Anggita yang keheranan. Mereka memasuki gedung diiringi sapaan hormat dari semua orang yang berlalu lalang.
"Ibu...Ibu...Ibu!"
"Cepat sedikit! Kenapa kau lelet sekali?!" Seru Nyonya Ananta. Langkah kakinya lebar dan gesit untuk ukuran seorang wanita tua kepala tujuh.
"Haina ada dirumah sakit, Bu. Dia diculik kemarin, semua kacau. Lebih kacau hari ini. Tapi aku tidak mengerti kenapa kita malah kesini? Kalau ingin melabrak harusnya ke rumah sakit, bukan?"
Mereka sampai di lantai tiga puluh. Dimana para eksekutif perusahaan berkantor disana. Tanpa menjawab satupun pertanyaan putrinya, wanita tua itu masuk kesebuah ruangan.
Jun dan Rebbeca.
"Apa Anda bisa menjamin tidak terlibat dalam semua kekacauan ini?"
"Kau gila? Kenapa seorang nona muda Cornor sepertiku harus bersaing dengan gadis menjijikkan itu?"
Rebbeca menatap sengit kemudian mengemasi beberapa barang yang dilemparkan ke dalam sebuah kotak. Sekretarisnya kelabakan merapikan isi kotak itu, mengiringi langkah cepat Rebbeca.
Beberapa berkas, pigura poto dan barang pribadi lainnya telah ia lempar ke dalam kotak dengan asal.
"Mulai saat ini aku mengundurkan diri. Aku tidak akan mengirim surat pengunduran diriku, karena itu cuma basa - basi. Aku bukan lagi penasihat keuangan perusahaan ini!" Ujar Rebbeca diakhir kegiatan mengemasi barangnya.
Jun melempar tatapan sengit dengan satu senyum smirk menghiasi wajahnya.
"Benar, Nona Rebbeca Cornor yang terhormat. Tidak perlu repot - repot mengirim surat pengundiran diri, karena Anda dipecat saat ini juga!"
Rebbeca menganga tak percaya. Ia tak terima dengan pernyataan dari seorang asisten seperti Jun.
"Kau tidak berhak!" Tunjukknya didepan wajah Jun.
Jun mengedikkan bahu. Wanita didepannya ini benar - benar meremehkannya. Tidak tahu hak istimewa yang dimilikinya diperusahaan ini.
"Beberapa perusahaan memiliki aturan berbeda dan unik dengan caranya sendiri. Saya bahkan diberi wewenang untuk memberhentikan direktur sekalipun dalam keadaan tertentu!"
Jun menyuarakannya dengan lantang. Sebagai tangan kanan wakil presdir yang akan segera menduduki kursi presdir ia telah diberi wewenang khusus. Meskipun pelantikan presdir belum dilakukan namun segala wewenang telah dilimpahkan pada Tuan Muda Harly. Itu artinya Jun telah memilki kewenangan khususnya. Memberhentikan staff dalam keadaan tertentu, seperti hari ini pada Rebbeca.
__ADS_1
Rebbeca seolah muak mendengar ujaran penjelasan Jun. Ia segera angkat kaki dari ruang kerjannya.
Tapi Nyonya Ananta yang sedari tadi menguping menghadangnya dengan wajah masam diambang pintu.
"Apa lagi ini," gumam Rebbeca pelan, jengah.
"Katakan! Apa itu perbuatanmu? Apa suruhanmu itu menyebarkan video si*alan itu? Beraninya!"
Wanita tua itu berujar dengan marah. Membuat lipatan dikeningnga semakin dalam.
Rebbeca tersenyum masam.
"Nenek selalu berjanji dan berjanji kepadaku. Aku sudah lelah menunggu Harly selama delapan tahun. Sedikitpun dia tidak pernah menghargai cintaku padanya. Sekarang aku menyerah, Nek," ujar Rebbeca dengan tatapan sendu. Hatinya sungguh terluka saat ini.
"Jadi apa kerena itu kau membeberkan video memalukan gadis kampung itu?"
"Hah! Nenek menuduhku, juga? Aku benar - benar sakit hati sekarang padamu."
"Bukannya kau..."
Jun menghampiri. Membuat Nyonya Ananta seketika menutup mulutnya.
"Aku tidak ikut campur lagi. Bagaimana dan apa yang akan Nenek lakukan untuk memisahkan Harly dari gadis kampung itu. Aku tidak lagi peduli."
"Kirimkan saja barangku ke alamatku!" titahnya pada sang sekretaris yang masih berkemas.
Rebbeca melenggang pergi tanpa berniat menuntaskan rasa penasaran wanita tua itu. Berjalan angkuh dengan mengakat dagunya tinggi. Ya, setidaknya ia masih harus menjaga harga dirinya didepans semua orang, bukan? Ia berlenggok bak model di cat walk, menatap lurus kedepan dengan sorot mata memancarkan keangkuhan nona nuda Rebbeca Cornor.
Tapi sikap angkuhnya seketika luruh saat tatapan matanya beradu dengan milik lelaki yang berjalan lurus kearahnya. Lelaki yang ia puja bertahun lamanya.
Rebbeca meremat ujung gaunnya kuat - kuat. Berjalan lurus tanpa berniat menyapa.
"Aku rasa kita perlu bicara," ujar Tuan Muda Harly begitu Rebbeca melewatinya dikoridor.
Rebbeca seketika berhenti. Tapi ia tidak menatap lelaki itu. Ia lebih memilih menatap lalu lalang staff dijung koridor.
"Kau tidak mengajakku bicara lebih dulu sebelumnya. Jadi ada apa?" tanyanya tanpa menoleh. Mereka berseberangan.
"Kau ingin bicara disini?"
"Kalau kau ingin menanyakan pertanyaan yang sama dengan asistenmu yang sombong itu lupakan saja! Aku tidak sudi menjawabnya lagi"
Tuan Muda Harly berbalik dan melangkah sampai berhadapan tepat didepan wanita itu. Menelisik raut wajah angkuh yang mati - matian dipertahankan wanita itu didepannya.
"Jadi kau yang memberi tahu wanita gila itu tentang campur tanganku terhadap Palma Jaya?" ia sudah tak ingin lagi berbasa - basi. Sesuai laporan Toha, setelah meretas ponsel wanita itu secara ilegal. Rebbecalah yang memberi tahu Tamara.
"Apa maksudmu?"
"Terserah kau jika mau menyangkalnya sampai akhir. Tapi kuperingkan kau, jangan pernah menyakiti istriku seujung kuku pun, kalau kau..."
"Benar! Aku yang memberi tahu wanita psikopat itu. Lalu apa? Kau menuduhku terlibat dengan semua tindak krimanalnya?"
"Siapa yang tahu tentang itu!"
Usai mengatakan itu Tuan Muda Harly segeran berjalan meninggalkan Rebbeca yang masih terperangah.
Wanita itu menatap nanar punggung Tuan Muda Harly yang menjauh dab menghikang dibalik pintu.
"Sampai akhir, kau tidak pernah mempedulikan perasaanku."
__ADS_1
*
tbc.