
Bagaimana pun mewahnya kamar rumah sakit pasti lebih nyaman runah sendiri. Begitulah yang dirasakan Haina. Ia rindu suasana apartemen mewah mereka yang nyaman dan tenang. Haina diperbolehkan pulang dari rumah sakit hari ini, pukul sepuluh mereka sampai dirumah.
Dengan digendong suaminya wanita hamil itu memasuki unit dengan mengulum senyum.
"Kenapa?" tanya sang suami usai meletakkan tubuh Haina di kasur.
"Wajahmu sampai memerah karena menggendong tubuhku yang berat. Kau sih tidak mengizinkan aku jalan, padahal aku baik - baik saja." Haina beringsut ke sandaran tempat tidur untuk bersandar disana.
Dengan sigap Tuan Muda Harly menumpuk bantal sebagai penyangga agar Haina dapat bersandar dengan posisi yang nyaman.
Haina mengulum senyum dan langsung mengalungkan lengannya di leher sang suami saat lelaki itu selesai menata bantal. Ia mengecup sekilas bibir suaminya lalu menariknya dalam pelukan dengan cepat. Sampai - sampai suaminya tergagap dan berusaha menahan tubuhnya sendiri dengan tangan berada di kepala tempat tidur.
"Kau ini, hampir saja tubuhku mengenai perutmu." Tuan Muda Harly bergerak dan mencoba melepaskan rengkuhan Haina dilehernya. Namun Haina menahannya dengan posesif, tak membiarkan lelaki itu mengikis jarak.
Haina terkekeh sambil mengusapkan dagunya ke puncak kepala sang suami.
"Apa kau pakai minyak rambut atau sesuatu? Ini sangat wangi, aku suka."
"Vitamin rambut," jawab Tuan Muda Harly. Senyumnya mengembang, merasakan kehangatan dan kenyamanan didada Haina. Ya, istrinya itu menahan kepalanya tepat didada. Sehingga wajahnya bersentuhan dengan dada Haina yang tertutup kemeja tipis.
"Ini masih pagi dan kau masih harus istirahat diranjang. Kau tega sekali menyiksaku," gumam lelaki itu lagi dengan nada mengeluh.
Namun Haina tak peduli dan seolah pura - pura tak peka. Ia hanya ingin terus menempel dan merasakan harumnya rambut sang suami. Sesekali ia menempelkan hidungnya dan menghirup dalam - dalam aroma vanilla dari rambut Tuan Muda Harly.
Tuan Muda Harly hanya dapat pasrah sambil membalas pelukan. Melingkarkan lenannya di pinggang Haina dengan hati - hati agar tak sampai menekan dan menyakiti calon buah hati mereka diperut.
"Sayang, apa kau akan bekerja hari ini?"
"Ya, ada banyak pekerjaan menunungguku."
"Kalau begitu luangkan waktumu begitu aku pulih," Haina melepaskan pelukan posesifnya. Membuat pandangan mereka beradu dalam jarak cukup dekat.
"Kau ingin melakukan sesuatu?"
"Ya. Aku ingin membuat pesta kecil di restoranku bersama orang - orang yang aku sayangi," Haina berujar dengan semangat.
"Hanya pesta makan - makan, aku ingin menikmati makanan enak direstoranku. Kalau dipikir - pikir aku dan semua tim Restoramie belum pernah mengadakan pesta selamatan atau sykuran. Padahal selama beberapa bulan berjalan perkembangan restoran sangat memuskan. Aku ingin menghargai jerih paya mereka yang sudah berjuang bersamaku," Haina berujar panjang lebar mengungkapkan isi hatinya.
Seketika jantung Tuan Muda Harly mencelos. Sungguh, ia takut bagaimana bila Haina mengetahui apa yang terjadi pada Restoramie. Gadis itu akan sangat sedih dan marah, pikirnya.
"Tidak!"
"Hah?"
"Ah, maksudku kenapa merayakannya di restoran? Kalian sudah biasa berjibaku disana, pilih tempat lain saja bagaimana?" dengan hati - hati Tuan Muda Harly berusaha menghentikan niat Haina. Bisa repot urusannya kalau Haina ingin mengadakan acara itu dalam waktu dekat. Keadaan restoran di hari kedua pasca terbakar hebat masih kacau balau dengan garis polisi dimana - mana. Tidak mungkin mengadakan acara ditempat itu.
Haina mendelik dengan wajah cemberut lalu kembali mengalungkan lengannya dileher sang suami. Wajah mereka nyaris tanpa jarak.
"Ini adalah pesta syukuran Restoramie tentu harus dirayakan disana supaya semakin bermakna," ujar Haina sembari memindai wajah suaminya.
"Eheem .... Bagaimana dengan kapal pesiar. Aku yakin kalian pasti belum pernah naik, cobalah rayakan pestamu disana," Tuan Muda Harly masih mencoba membujuk. Ia akan menyodorkan kemewahan dari semua fasilitas Benjamin Corp jika perlu.
"No!" Haina menggeleng pelan meski sempat berpikir sejenak.
"Ah! Rayakan di The Haina. Aku bisa siapkan kamar suite gratis untuk semua teman dan timmu," bujuk lelaki itu lagi.
"Tuan muda kau sungguh royal dan baik hati."
"Ahahha! Ya, demi kau."
"Tapi tidak, terima kasih. Kami tidak punya banyak waktu karena harus tetap buka restoran," tolak Haina tanpa ragu.
"Oh! Kalau begitu di restoran Benjamin!"
"Ck! Sayang, kenapa kau ngotot sekali? Apa ada sesuatu?" Haina mengernyit. Ia merasa suaminya aneh karena terus menghalangi niatnya membuat pesta di restorannya sendiri.
Tuan Muda Harly mengerjap berulang kali saat Haina terus menatap matanya dengan tatapan selidik. Seakan ingin melubangi wajahnya dengan tatapannya itu. Jadi ia menoleh kesamping.
"Oho! Kau mengabaikanku? Kau membuatku curiga."
Tuan Muda Harly segera memandang Haina lagi dengan senyum diplomatisnya.
"Tidak ada yang perlu kau curigai, sayang. Aku hanya ingin membantumu dengan memberi ide yang lebih baik. Aku ingin kau dan semua timmu merasa senang dengan perayaan itu," Tuan Muda Harly berkata dengan sungguh - sungguh agar terlihat meyakinkan.
"Benar?"
"Tentu! Bukankah akan menyenangkan bagi mereka terutama pata staff? Mereka tinggal hadir dan menikmati pesta dari pada mereka harus repot menyiapkan pestanya lebih dulu."
Haina mulai terpengaruh dan merasa apa yang dikatakan Tuan Muda Harly ada benarnya juga. Kasihan juga timnya kalau harus membereskan restoran sampai larut malam jika mereka berpesta disana.
__ADS_1
"Baiklah, aku setuju. Akan aku pikirkan tawaran mana yang lebih cocok!"
Tuan Muda Harly tersenyum lega. Haina tak keras kepala dengan keinginan awalnya.
"Bagus!" serunya senang.
"Terima kasih kau sudah perhatian dan memikirkan tim restoranku," Haina berucap dengan tulus dengan diiringi senyum manis diwajahnya.
"Aku tidak perhatian pada orang lain. Aku hanya perhatian pada istriku!"
Haina terkekeh pelan.
"Benar, kau memang Tuan Muda Harly, suamiku yang paling mencintaiku," Haina kembali tersenyum. Perlahan ia mendekatkan wajahnya lalu melummat dengan lembut bibir suaminya.
Tuan Muda Harly tak tinggal diam. Ia menyambut ciuaman itu dengan senang hati. Ia menepatkan satu tangannya di tengkuk sang istri sedang satu lainnya dipinggang istrinya.
Ciuman yang saling berbalas menyatukan perasaan mereka dalam sesapan dan lummatan lembut namun menuntut. Saling mencium dengan perasaan yang masih menggebu seolah itu adalah ciuman pertama. Menyalurkan cinta dan kasih bagi satu sama lain dengan tautan bibir. Sampai mereka terengah saat gairah mulai bangkit dan menuntut lebih dari sekedar berciuman.
"Sayang, kau sebaiknya segera pergi ke kantor," tutur Haina setelah mengatur napasnya.
Tuan Muda Harly tersenyum dengan wajah pasrah. Ia tahu betul Haina mencoba mengusirnya agar mereka tak sampai kelepasan menyalurkan kerinduan yang sudah lama tertahan. Terutama dirinya yang sudah sangat ingin kembali menggagahi sang istri. Namun apa daya, mereka harus bersabar untuk sementara waktu.
"Baiklah, aku pergi. Jaga dirimu dan jangan turun dari ranjang kalau bukan untuk mandi dan ke toilet!"
Haina mengangguk patuh. Ia mengusap lembut satu sisi wajah suaminya dengan sayang. Sungguh sebenarnya ia ingin berduaan dan bermesraan lebih lama lagi. Tapi ia harus sadar diri dengan kondisi tubuhnya sendiri. Mereka harus menahan diri demi si buah hati di dalam perut.
Tuan Muda Harly balas mengusap pipi Haina sembari menatap lekat - lekat wajah wanita yang dicintainya. Sekali lagi ia daratkan ciuman lembut penuh perasaan dibibir sang istri sebelum akhirnya pergi.
*
Hari berlalu dengan cepat. Haina sudah kembali pulih dan berkatifitas dengan baik. Kedua orang tuanya pun sudah kembali ke desa. Tapi Haina masih belum diizinkan oleh suaminya untuk kembali bekerja di restoran. Ia tidak mengeluh untuk itu. Ia paham bahwa Tuan Muda Harly hanya ingin mengutamakan keselamatannya dan calon anak mereka.
"Sayang, kupikir kapal pesiar akan sangat mengesankan. Tapi Ibu mabuk laut, aku ingin Ibu dan ayah juga hadir diperyaan itu," Haina berujar setelah menyelesaikan sarapannya dimeja makan.
"Lalu bagaimana menurutmu? Pilih The Haina, Benjamin's Restaurant, atau kau mau tempat yang lebih mewah? Aku bisa siapkan segalanya," sahut Tuan Muda Harly enteng. Lelaki itu kemudian menyesap kopinya lalu bangkit untuk segera pergi bekerja.
Haina masih berpikir. Ia hanya ingin acara yang disiapkannya nanti menjadi acara yang bermakna dan menyenangkan bagi mereka semua. Ia bahkan sudah mengusulkan bonus untuk staff restoran. Tanpa ia tahu bahwa semua staff sedang menganggur saar ini karena musibah kebakaran itu.
Para staff dan pemilik restoran lainnya itu sudah dikondisikan oleh Tuan Muda Harly agar bersandiwara seolah semua baik - baik saja. Tak satupun dari mereka berani buka mulut karena khawatir dengan kondisi Haina yang akan terganggu bila tahu kejadian sebenarnya. Tuan Muda Harly bahkan sudah memblokir semua pemberitaan tentang kebakaran itu.
Cup!
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tuan Muda Harly mengusap rambut Haina dengan sayang.
"Tidak ada. Hanya sedang mengingat - ingat siapa saja yang akan aku undang."
"Undang keluargamu saja. Aku tak ingin kau kelelahan karena acara itu!" Tuan Muda Harly memperingatkan Haina lagi soal itu.
Istrinya itu memang sempat ingin mengundang keluarga Benjamin juga. Tapi ia melarangnya dengan dalih kesehatan Haina.
"Ya, aku tahu. Baiklah, jangan khawatir. Aku akan pilih restoran The Haina saja," ujar Haina lirih.
Sebenarnya ia pikir The Haina bukan ide bagus. Ia takut akan dikira ingin pamer pada semua orang kalau hotel itu miliknya. Namun Haina juga tidak punya ide lain apa lagi sang suami sangat posesif padanya belakangan ini. Ia bahkan tidak diizinkan bermain ponsel dengan dalih radiasi tidak baik bagi janin. Haina pun tak protes karena hal itu ada benarnya. Jadi ia hanya pakai ponsel seperlunya.
"Cepat pulang, sayang!" Haina melepas kepergian suaminya ke perusahaan dengan lambaian tangan.
.
Beniqno Benjamin, putra kedua pendiri Benjamin Corps. Semenjak ia resmi mengundurkan diri dari perusahaan kekuarga menjadi pengangguran banyak uang. Pria itu hanya bermalas - malasan setiap harinya. Ia hanya akan mengunjungi Beniq Bakery setiap sore dan menghabiskan waktu disana sampai malam hari.
Sebenarnya Ben juga bosan dengan rutinitasnya yang itu - itu saja. Namun keluar dari perusahaan keluarga adalah pilihannya agar mendapatkan kedamaian hidup. Lagi pula ia memang tak ada niat untuk mengelola lebih jauh lagi perusahaan itu meski sebenarnya kemampuannya sangat diakui. Tuan Muda Harly bahkan memintanya untuk kembali. Seperti sore ini, keponakannya itu kembali menelepon. Memintanya kembali bekerja dan menduduki posisinya sebagai CEO Benjamin Eksporta.
"Akan aku pikirkan! Saat ini aku sedang sibuk. Aku harus menangkap penyusup," sahutnya sambil menempelkan telepon diantara telinga dan bahunya. Kedua tangannya ia pakai untuk menyusun puzzle.
"Kau main detektifan dengan siapa?" tanya Tuan Muda Harly diujung telepon.
"Bukan permainan, ini sungguhan. Teleponnya kututup kalau tidak ada lagi yang penting."
"Baiklah. Pertimbangkan lagi tawaranku, tidak ... terima saja dan kembali bekerja secepatnya."
Panggilan telepon mereka berakhir. Ben meletakkan asal ponselnya dimeja. Sedangkan matanya kembali di fokuskan pada puzzle.
"Penyusup ilegal, hari ini tamat riwayatmu!" Ben mengulas senyum smirk lalu menyudahi permainan puzzlenya.
Sore berganti malam, saatnya menutup toko. Para pekerja Beniq Bakery mulai bersiap menutup toko.
Ben mengenakan jaketnya dan memasukkan ponsel ke kantong celana.
"Aku pulang dulu. Terima kasih atas kerja keras kalian hari ini!" Ben berpamitan lalu melenggang keluar toko. Menaiki mobil mewahnya siap membelah jalanan.
__ADS_1
Sora, sang kasir bernapas lega saat melihat Ben meninggalkan toko. Ia mengunci mesin kasir dan menyimpan kuncinya di loker.
"Selamat malam, aku pulang dulu!"
"Daaahh! Sampai jumpa besok!"
Sora melambaikan tangan dengan ceria begitu mereka semua berpencar usai mengunci toko.
Gadis dua puluh satu tahun itu mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Mengamati dengan hati - hati situasi lalu melangkah menuju tangga lantai dua.
"Aman!" gumamnya senang. Ia langsung balik badan dan beranjak dari sana.
Perlahan ia menaiki anak tangga dengan santai. Sambil bersenandung riang gadis itu kemudian merogoh saku lalu mengeluarkan sebuah kunci. Ia berhasil membuka pintu tanpa kendala dengan kunci itu.
Senyumnya mengembang kala melihat kasur didepan mata. Kasur single yang akhir - akhir ini ia tempati. Lantai dua Beniq Bakery telah menjadi tempat persinggahannya sebulan belakangan.
"Sebelum istirahat harus berbenah dulu!"
Gadis itu menanggalkan kemeja dan celana kulot panjangnya. Menyisakan camisol dan celana pendek ketat, tubuhnya terbungkus dengan minim. Ia tak menghidupkan lampu, bermodalkan cahaya rembulan dari balik jendela saja. Ia tak ingin memberatkan tagihan listrik bila harus menghidupkan lampu.
Ya, Sora memang menumpang tinggal tanpa izin. Ia pun terpaksa melakukan hal itu. Jadi ia tak ingin membuat pemilik bangunan itu curiga dengan kehadirannya di langai dua bangunan itu. Sora hanya akan menghidupkan lampu jika memang sangat membutuhkannya. Misal, ketika ia sedang makan atau memasak hidangan sederhana.
Sora sudah terbiasa dengan cahaya remang - remang yang dipantulkan bulan dan menembus kaca jendela kamar studio itu. Jadi ia tak kesulitan menemukan letak sapu dan pengki.
Sora mulai menyapu. Tak sampai dua menit ia selesai menyapu dan merapikan karpet.
"Tinggal mandi dan makan!" serunya senang.
Gadis cantik bertubuh langsing semampai itu meraih beberapa helai kain dari karton dibawah kolong tempat tidur. Ia meletakkan karton itu lagi ke bawah kolong setelah menata pakaian dalam dan sebuah piyama model terusan diatas kasur.
Sora mulai menanggalkan camisolnya dan meletakkannya sembarang diatas kasur. Sekarang jemarinya mulai bergerak untuk menanggalkan celana pendek ketatnya.
"Berhenti!"
Mata Sora membeliak sempurna sedang tubuhnya membeku.
"Si-siapa?" Sora bergidik ngeri membayangkan ada penyusup dikamar itu.
"Ma-maling!" Teriakan Sora terbata karena takut. Ia tak berani balik badan walaupun yakin suara itu nyata dan ia sadar ada orang lain disana.
"Berani sekali kau teriak maling!" suara itu terdengar lagi. Tegas dan dingin.
"Aaakk! Bagaimana ini?" Sora bergumam lirih.
"Pergi maling! Sebentar lagi akan ada mobil polisi yang lewat karena patroli. Pergi sebelum aku teriak dan kau tertangkap!" Sora memilin jemarinya karena semakin takut. Takut jika maling itu akan mencelakainya.
"Maling? Hahha..."
"Hah? Ke-kenapa dia tertawa?" Sora bergerak melipir ke arah kitchen set. Ia harus mengambil sesuatu untuk melindungi diri. Pisau misalnya. Sora ketutan setengah mati tapi ia harus berani untuk menyelamatkan nyawanya.
Sora berhasil meraih tepian meja dapur itu. Ia akan mencari tempat penyimpanan pisau.
"Dimana, dimana itu?" Sora yang panik tidak dapat menemukan letak pisau dapur dalam kegelapan.
Trriiiing!
Tiba - tiba lampu menyala dengan terang benderang.
Sekali lagi bola mata Sora membeliak sempurna.
"Malingnya menghidupkan lampu?"
Sora tanpa ragu meraih pisau dapur dan menggenggamnya dengan kedua tangan lalu segera balik badan. Dengan gerakan serampangan mengacungkan pisau ke udara dihadapannya.
"Hah?"
"Aaaaarrrgghhh!"
Sora kaget bukan main.
"Kak ... Kak Ben?" Celaka. Sora tertangkap basah, menyelinap dan menempati lantai dua toko tanpa izin.
"Pakai bajumu!"
"Hah?"
"Pakai bajumu sebelum aku telanjaangi kau dan kuseret ke kantor polisi!"
*
__ADS_1
Tbc.