
"Mencintaiku adalah tugas utamamu. Mematuhiku adalah kewajibanmu. Hafalkan itu dikepalamu ini!" perintah Tuan Muda Harly sambil mengetukkan telunjuknya tadi di kening Haina yang telentang dibawah kungkungannya.
"Kalau begitu saya memanggil apa?"
"Tidak ada saya!"
"Emm, aku memanggilmu apa?"
"Sayang!"
"Apa? Tidak mungkin!" seru Haina menyuarakan isi hatinya.
"Kau menolak?"
"Kalau begitu apa Anda menyukaiku?"
Tuan Muda Harly bangkit dan duduk disisi tempat tidur. Haina pun segera bangkit dari posisinya tadi, duduk disebelah suaminya.
"Tidak kan? Aku juga tidak..."
Tuan Muda Harly meliriknya tajam dengan rahangnya mengeras tanda tak suka dengan apa yang didengarnya barusan dari mulut istrinya.
"Ck!"
"Maksudnya aku akan berusaha..." ujar Haina tapi ia tak yakin.
Tuan Muda Harly mendengus malas mendengar jawaban Haina itu. Ia memutar tubuhnya kesamping dan menatap Haina dengan sorot mata dingin yang mampu membuat Haina merasa takut.
"Jangan banyak tingkah. Patuhi saja isi perjanjian itu tanpa membantahku"
Setelah mengatakan itu ia beranjak dan menghilang dibalik pintu.
"Ada apa dengannya? Ngotot sekali minta dicintai. Apa dia haus kasih sayang?"
Tuan Muda Harly itu benar - benar aneh. Begitulah pikir Haina. Mengapa seorang dengan status sosial setinggi dirinya memilih menikahi gadis desa? Bahkan tak ada rasa cinta diantara mereka. Pasti ada sesuatu yang tidak ia ketahui. Bukankah Tuan Muda Harly menikahinya karena sebuah alasan?
Ah, sudahlah. Haina memilih menyibukkan diri dengan mengecek media sosial sebuah lembaga kursus terkenal. Tempat itu menyediakan kelas memasak yang diinginkan Haina. Bukan hanya karena sudah terkenal dan mahal, tapi karena seorang chef terkenal idolanya juga mengajar disana.
"Aku ingin segera mendaftar. Apa dia akan mengizinkanku?"
*
Ruang kerja Tuan Muda Harly di rumah sedang dipakai rapat oleh pemilik beserta asistennya. Tiga cangkir kopi masih mengepulkan uap panas karena baru disajikan oleh Pak Sun.
"Nyonya besar pasti akan segera kembali begitu berita pernikahan Anda dirilis. Untuk itu kita sudah mengantisipasi kemungkinan - kemungkinan yang bisa saja terjadi, Tuan"
"Sediakan pengawal untuknya mulai besok. Dua orang seharusnya cukup, Nenek tidak akan bisa menindasnya"
Jun mengangguk mengiyakan perintah Tuan Muda Harly. Karena sejak awal urusan yang berkaitan dengan Nona Muda Haina menjadi tanggung jawabnya.
"Nona baru saja mengirim formulir pendaftaran ke sebuah lembaga kursus, Tuan" ujar Jun melapor usai memeriks notifikasi yang masuk di tabletnya.
"Dari mana kau tahu itu?" tanya Ren yang keheranan.
Jun hanya terenyum lebar dengan menampakkan barisan gigi putihnya, lalu mengakat tablet ditanganya ke udara.
"Kau meretasnya?" tanya Ren tidak percaya.
"Tuan Muda mengijinkanku meretas email milik Nona" sahut Jun dengan raut wajah polos. Ia tidak merasa itu salah. Ya, tidak masalah selama itu bisa membantu tugasnya untuk mengawasi nona muda, pikirnya.
Tuan Muda Harly hanya menyimak pembahasan dua asistennya itu sambil membaca laporan ditangannya, membalik dan menandatangani.
"Tuan besok tanggal tiga puluh Januari. Apakah sekretaris perlu mengirimkan bunga seperti biasa?" tanya Ren.
"Kirimkan saja seperti biasa" sahut Tuan Muda Harly setelah berpikir sejenak.
Jun melirik tuan mudanya, menelisik ekspresi yang muncul diwajah itu saat Ren mengajukan pertanyaan itu. Ia sedikit menyayangkan jawaban Tuan Muda Harly yang tak sesuai harapannya.
__ADS_1
*
Matahari sudah kembali ke peraduan sejak tadi. Sudah tak ada lagi satupun aktifitas terlihat dirumah besar itu, kecuali para petugas keamanan yang siaga di posnya. Rumah besar itu terasa sunyi. Sesunyi suasana di dalam kamar Tuan Muda Harly dan istrinya.
Tuan muda itu sudah kusyuk dengan majalah bisnis ditangannya. Sebuah kacamata baca bertengger manis dihidung mancungnya. Memperlihatkan tampilan yang berbeda dari pria berkulit putih itu.
Hening. Tak ada suara karena Haina sedang mengurung dirinya di kamar mandi mematut dirinya didepan cermin wastafel.
"Yang benar saja, kenapa semua baju tidurnya modelnya begini?" gerutu Haina pelan hampir berbisik. Kedua tangannya masing - masing ia gunakan menutupi bagian dada dan pahanya yang terbuka.
"Tidak bisa! bagaimana kalau Tuan Muda itu berpikir macam - macam?"
Ia kembali ke ruang ganti dengan mengendap - endap. Mengamati barisan pakaian yang tergantung rapi. Haina menarik satu buah rok plisket sebetis dan sebuah sweater rajut lalu membawanya ke kamar mandi.
Setelah selesai mengganti pakaiannya Haina segera menyimpan kembali baju tidur kurang bahan itu ketempatnya. Pokoknya ia tidak sudi memakainya, setidaknya untuk saat ini.
Malam sudah larut jadi ia harus segera merebahkan dirinya untuk tidur. Perlahan ia keluar dari ruang ganti lalu berjalan menuju tempat tidur disisi yang tidak diduduki Tuan Muda Harly yang masih asik dengan majalah bisnisnya.
Masih berdiri, Haina mengambil satu buah bantal dan memeluknya di dada.
"Bagaimana menanyakannya ya? Tuan Muda haruskah saya tidur di kasur ini atau boleh tidur di sofa? Ehemm...Tuan Muda dimana saja akan tidur?..." gumamnya dalam hati sedang memikirkan kalimat apa yang akan ia keluarkan dari mulutnya.
"Naiklah, kau tidur disampingku." ujar Tuan Muda Harly yang masih menekuni majalah bisnis itu. Ia tidak melihat istrinya yang menciut di ujung sana. Terperangah mendengar perkataannya.
"Apa? Seharusnya kau menyuruhku tidur di sofa atau di lantai seperti di novel yang pernah kubaca" protes Haina dalam hati.
Tuan Muda Harly mengalihkan pandangan dari majalah bisnisnya untuk menatap Haina yang masih setia berdiri sambil memeluk bantal.
"Cepat naik. Atau kau mau kugendong, lalu memulai malam pertama kita?"
Deg!
"Apa? Malam pertama? Kenapa kau membahasnya Tuan Muda? Padahal aku ingin kau amnesiaaaaa...Huaaaa!"
"Jika kau tak mau maka cepat naik dan tidurlah. Matikan lampunya aku mengantuk" ujar Tuan Muda Harly kemudian. Ia meletakkan majalah bisnis dan kacamatanya di nakas samping tempay tidur lalu merebahkan badannya dan menarik selimut sampai perut.
"Baik Tuan" ujarnya kemudian lalu mengambil remote dan menekan tombol untuk mematikan lampu. Menyisakan satu lampu tidur kecil yang terpajang di dinding. Ia beranjak naik dan menimbun dirinya dengan selimut saat tubuhnya sudah rebah dikasur. Ya, akhirnya mereka tetap tidur satu ranjang tanpa melakukan apapun. Setidaknya malam ini dirinya masih akan tetap utuh.
Haina mencoba tidur dan memejamkan matanya. Padahal tadi kantuk sudah menuerangnya, kini malah ia tidak bisa tidur karena gelisah dan tidak nyaman. Rasanya canggung dan sangat asing. Berasa di satu kamar dan satu tempat tidur dengan suami yang baru saja menjadikannya istri hari ini. Dengan pernikahan yang mendadak pula.
"Berhenti bergerak kesana kemari. Kau berisik!" celetuk Tuan Muda Harly dengan mata terpejam.
"Baik Tuan" jawab Haina dengan tubuhnya yang sudah mematung dibalik selimut.
"Tidak ada tuan!"
"Baik Kak"
"Kau adikku?"
"Emmh...tidak suamiku"
"Panggil namaku"
"Tapi Anda lebih tua..."
"Kalau begitu panggil aku sayang!"
"Eh! Karena Anda terlihat sangat awet muda dan modis jadi lebih baik panggil nama..."
"Huaaa...apa - apaan dia ini?"
"Cepat tidur!"
"Ya Tuan"
"Ck!"
__ADS_1
"Ya, Harly" kata Haina sepelan mungkin.
Begitulah akhirnya mereka jatuh tertidur ke alam mimpi setelah Haina menyerah dan memutuskan memanggil suaminya dengan nama saja.
*
Pemirsa. Kabar bahagia baru saja datang dari mantan tunangan aktris kenamaan tanah air, Jovanka Lauren. Pengusaha konglomerat Harly Benjamin mengumumkan telah menikah. Sampai berita ini diterbitkan tim redaksi kami belum berhasil mengetahui siapakah nona muda baru keluarga Benjamin Corporation yang dirahasiakan identitasnya itu....
Suara pembawa berita sebuah acara gosip ditelevisi memancing bisik - bisik di dapur rumah besar keluarga Benjamin. Para pelayan saling melempar statemen.
"Pasti Tuan Muda menutupinya karena takut dipermalukan" celetuk Margareth sinis.
"Kupikir juga begitu. Lagian aku tidak menyangka Tuan Muda bisa menikahi gadis desa itu" sahut Anggi.
"Bagaimana dia bisa menggoda Tuan Muda dengan tampang polosnya itu? Apa aku tanya padanya saja? Siapa tahu bisa ikut dapat anak konglomerat juga. Hahaha" ucap yang Rani dari tim dapur.
"Hei, jaga bicara kalian. Apa kalian tidak takut ocehan kalian itu didengar Pak Sun?" Sambar Vivi tidak terima.
"Kau itu kenapa sih? Tidak usah mengaturku. Mau sok - sok an membela supaya ketiban untung?" Margareth maju membusungkan dadanya tak terima dinasehati junior seperti Vivi.
"Aku cuma mengingatkanmu, Kak. Bagaimana kalau Pak Sun dengar dan kalian dapat masalah." ujar Vivi menahan kesal dihatinya. Padahal ia berniat baik, tapi malah mendapat amarah dari senior satu timnya itu.
"Pak Sun sedang keluar, jangan sok peduli padaku!" bentak Margareth.
"Tapi tetap saja kalian tidak boleh membicarakan Nona seperti itu" kali ini Vivi melembutkan suaranya, malas sekali bila mencari ribut dengan orang didepannya.
"Hahaha...Nona nona nona. Geli aku mendengarnya. Lihat saja nanti kalau Nyonya besar sudah kembali apa kau masih bisa bersama Nonamu itu? Berdoa saja agar dia tidak segera ditendang dari rumah ini" sambil berkacak pinggang Margareth tak henti menyuarakan kebenciannya pada Haina.
Tanpa mereka sadari seseorang yang berdiri dekat rak pajangan piring antik menyaksikan semua itu. Seseorang yang sedang mereka bicarakan, Haina berdiri mematung sambil memegang tumbler minumnya.
"Nona!" seru seorang pelayan yang menyadari keberadaan Haina.
Semua pelayan yang ada didapur bangkit seketika dari duduknya dan berbaris rapi. Bagaimanapun gadis mantan pelayan itu tetaplah nona mereka.
Tapi Margareth tidak berpindah dari posisinya berdiri tadi dan hanya melirik malas pada Haina.
"Jadi kamu sangat tidak suka padaku ya?" tanya Haina pada Margareth.
"Siapa lagi yang tidak suka padaku?"
Semua diam saja tak berani menjawab.
"Maafkan kami Nona, tolong jangan laporkan pada Pak Sun apalagi Tuan Muda" ujar Rani dengan wajah pias ketakutan.
Haina tersenyum tipis. Lalu melihat satu persatu wajah mereka yang tadi menggunjingya.
"Kalau kalian begitu tidak suka padaku aku tidak masalah. Aku tidak bisa memaksa kalian untuk menyukaiku. Tapi jangan sampai aku melihat lagi kalian menangatakannya didepan mataku"
Margareth tersenyum mengejek, seakan tak ada rasa takut pada Haina.
"Kenapa? Kamu jengkel sekali ya padaku? Kalau kamu begitu tidak menyukaiku kamu bisa meminta tolong pada suamiku untuk menceraikan aku. Aku akan mengantarmu keruang kerjanya nanti sore"
Mendengar itu semua pelayan itu jadi ketakutan. Bagaimana kalau tuan muda murka dan memecat mereka?
"Tidak Nona. Itu tidak perlu...saya mohon jangan marah. Mohon maafkan kami" kata Rani.
"Saya juga minta maaf Nona. Tolong maafkan saya" ujar Anggi juga memohon belas kasihan.
"Ayo kak minta maaf juga pada Nona" desak Vivi pada Margareth.
Dengan berat hati akhirnya permintaan maaf itu keluar juga dari mulut Margareth.
"Saya minta maaf Nona"
*
tbc.
__ADS_1