Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Kabar dari Australia


__ADS_3

Demi membunuh waktu agar sepi tak merayap dihati, Haina menyibukkan diri di Restoramie dari pagi sampai sore. Saat pulang ke apartemen ia kembali sendirian. Meski ada Steffi disana, ia tetap merasa sendirian. Ini harusnya hari terakhir perjalanan bisnis Tuan Muda Harly di Australia.


"Suamiku, sesibuk itu kah kau sampai tak sempat meneleponku?"


Haina menatap layar ponsel penuh harap. Barangkali saja lelakinya itu akan menghubunginya, mengabari besok akan kembali. Tapi sudah berjam - jam ia menunggu tak satupun telepon atau pesan masuk ke ponselnya. Bahkan telepon dan pesannya pun tak satupun direspon.


Menjelang tengah malam satu pesan membangunkannya dari tidur yang baru beberapa saat. Dengan semangat ia meraih ponsel dinakas, mengusap cepat layar demi melihat pesan apakah gerangan.


Kak, semua baik - baik saja? Ibu terbagun dari tidurnya dan menanyakan kabar Kakak.


Haina mendesah panjang. Rupanya pesan Hagi. Ia jadi kecewa. Tapi teringat sang Ibu yang sedang mengkhawatirkannya Haina jadi tak punya waktu untuk meresapi kekecewaanya untuk saat ini. Jemari lentiknya menari diatas layar ponsel. Mengetikkan pesan balasan.


"Tentu baik. Katakan pada Ibu untuk lebih banyak beristirahat. Kakak selalu dijaga dan diperhatikan disini." Begitulah bunyi pesan itu.


Haina menghela napas lalu menjatuhkan tubuh ke kasur. Tidak seperti pesannya pada Hagi, ia tidak merasa baik. Ada sesak dan kecewa yang menggelung dihatinya.


.


Keesokan hari di Restoramie, Haina tengah mengamati beberapa staf dapur yang sedang membersihkan aneka bahan makanan yang baru saja datang beberapa saat lalu. Ia sengaja berkeliling, memperhatikan setiap detail pekerjaan para staf.


Sekarang ia berada di gudang persedian yang menyimpan semua bahan segar. Ruangan berpendingin itu tampak rapi dan penuh bahan makanan. Haina meraih beberapa jagung muda dari dalam show case dan memeriksa kesegarannya. Ia tampak puas, saat melihat jagung muda itu masih segar padahal itu datang tiga hari yang lalu.


"Kenapa menyendiri diruangan pendingin?" suara seseorang diambang pintu.


Haina menoleh seketika. Mendapati Marchel yang tersenyum padanya. Lelaki itu begitu tulus dengan senyum manisnya. Membuat wajah orientalnya terlihat semakin ramah dan tampan.


"Eh, ada Koko. Kapan datang?"


Marchel memang sudah jarang datang ke Restoramie sejak penjualan berjalan baik dan tak ada kendala seperti teror yang terjadi beberapa waktu lalu. Lelaki itu selalu disibukkan dengan urusan reataurantnya sendiri di kota sebelah. Berlokasi di dekat sebuah universitas ternama dan beberapa gedung perkantoran besar membuat reastaurant milik Marchel berkembang pesat akibat ramainya pengunjung.


Marchel mendekat dengan sebuah amplop coklat ditangannya. Senyum yang tadinya merekah perlahan surut bersama langkahnya.


"Baru saja. Semua baik?" tanya lelaki itu.


Haina mengangguk sambil mengedarkan pandangan ke seluruh isi ruangan berpendingin itu.

__ADS_1


"Ini untukmu. Maaf aku lancang membukanya lebih dulu karena tidak ada nama pengirimnya. Aku takut teror seperti waktu itu terjadi lagi," terang Marchel seraya menyodorkan amplop coklat itu yang disambut ragu - ragu oleh Haina.


"Tidak apa, Ko. Aku mengerti."


Haina melirik amplop itu depan belakang. Memang tidak tercantum nama pengirimnya disana. Hanya ada namanya sebagai penerima.


"Ini dikirim melalui kurir, sampai kemarin sore. Tapi kau sudah pulang saat amplop ini datang" tutur Marchel.


Haina mengangguk saja. Ia ingin segera mengetahui apa isinya. Tapi lelaki dihadapannya menatap intens dirinya seakan menunggunya melihat isi amplop itu.


"Bukalah sekarang!" desak Marchel.


Meskipun sedikit keberatan dengan keberadaan Marchel disana gadis itu tetap membuka amplop itu dan mengelurkan isinya. Lagi pula Marchel sudah terlanjur melihat isinya.


DEG!


Sepasang pria dan wanita berpakaian indah sedang berdansa dan tersenyum sambil saling menatap. Mereka sedang berpose saling mendekap dengan tangan bertaut. Nuansa malam nan romatis dikelilingi ramainya suasana sebuah pesta yang megah. Ini hanya sebuah foto. Oh, bukan hanya satu. Ada beberapa foto lainnya, mereka sedang mengobrol bersama orang berkulit putih berwajah bule.


Sepasang insan yang tak lain dan tak bukan adalah suamianya sendiri Tuan Muda Harly dan Jiana Amanda. Difoto selanjutnya terlihat berjalan sambil melempar senyum, tengah menyapa orang - orang. Lelaki itu memberikan tangannya untuk digandeng Jiana.


Tes!


Tetes demi tetes cairan bening mengalir deras membasahi pipi Haina. Ia tak sanggup lagi memeriksa beberapa foto lainnya yang masih tersisa di amplop. Debaran jantung berpacu lebih cepat bersama sesak yang menghimpit semakin kuat didadanya.


Tidak! Haina tidak ingin menangis. Ia menyeka dengan kasar pipinya yang basah menggunakan telapak tangan. Sedang foto itu kembali ia masukkan ke amplop coklat itu. Seseorang harus menjelaskan ini padanya bukan?


"Maaf, Ko. Aku harus segera pergi!" Haina berlari tanpa menunggu jawaban Marchel.


Marchel menatap punggung gadis yang dipujanya selama beberapa tahun terakhir itu dengan tatapan sulit diartikan. Ia berjalan perlahan meninggalkan ruangan itu demi melihat Haina yang pergi bersama pengawalnya.


Di mobil Haina terus mencoba menghubungi suaminya. Namun tak satupun panggilannya dijawab. Semakin membuatnya gusar dan kecewa.


Meskipun ia terus berusaha menyangkal pikiran buruk yang bersarang dikepala. Tapi ia tak bisa memungkiri rasa cemburu yang mengerogoti ketenagan batinnya.


Tenanglah! Itu tidak seperti kelihatannya.

__ADS_1


Mereka hanya sedang menghadiri sebuah pesta. Ya, wajar saja Harly butuh seorang teman wanita untuk acara itu. Mereka hanya berdansa bukan bermaksud bermesraan.


Lalu, masuk ke kamar hotel? Bisa saja bukan hanya mereka yang ada diruangan. Kamar hotel juga menyediakan tempat yang cocok untuk mengadakan pertemuan.Ya, aku yakin begitu. Seperti kamar hotel yang pernah kami tempati waktu itu*.


Tak henti batinnya bermonolog, memberi keyakinan akan semua penyangkalan pikiran buruk dikepala. Tapi meskipun ia terus menggumamkannya didalam hati, sudut hatinya yang lain terus merasa sakit dan terluka.


Mengapa semua terasa aneh? Harly tidak mengajak aku pergi menemaninya. Dia bilang ini mendadak? Apa iya jadwal seorang wakil presdir sepertinya bisa begitu tidak terduga?


Semenjak skandal video pelecehan terhadapku terungkap dia tidak pernah lagi membahasnya selain pada hari pertama video itu tersebar. Pihaknya hanya menyangkal bahwa hal itu tidak benar lalu pada hari itu juga videonya menghilang.


Harly! Sebenarnya apa yang kau pikirkan tentang aku setelah hari itu? Apa kau sengaja menghindariku setelahnya? Berasalasan kesibukanmu di kantor.


Apakah...kau malu dengan keberadaan aku dan masalaluku setelah hari itu?


Mobil berhenti. Haina segera turun diikuti Steffi dibelakangnya. Hanya Steffi yang berada didekatnya karena Bella masih diirawat dirumah sakit. Namun pengawal pria terus berjaga disekitarnya.


"Nona, Anda akan menemui siapa? Apa Nona yakin mau masuk?" tanya Steffi.


"Kenapa? Apa Harly berpesan agar aku tidak mengunjungi perusahaan? Apa dia melarangku menampakkan muka?" cecar Haina sedikit menaikkan intonasinya.


Haina tidak peduli meski Steffi tidak memberinya jawaban yang memuaskan. Ia hanya terus menuruti kata hatinya. Melangkah masuk, berjalan dengan langkah lebar di lobby kantor pusat Benjamin Corp.


Tapi Haina lupa, bahwa orang - orang sudah tahu wajahnya. Ya, mungkin berkat video itu khalayak mengenalinya sebagai istri Tuan Muda Harly dengan cara yang menyedihkan. Tatapan penuh selidik, tatapan menghakimi, tatapan jijik dan mengasihani terhujam padanya. Orang - orang berpakaian kantor itu terus berbisik dengan rekan disebelahnya. Tidak peduli Haina meliriknya atau tidak, mereka terus berbisik dan bergunjing saat Haina terus melangkah sampai melewati meja resepsionis. Tapi Haina tidak ingin mempedulikannya.


"Maaf, Nona! Anda tidak diperbolehkan naik!" ujar seorang resepsionis cantik sambil mendekati Haina setelah melewatinya.


Haina menoleh dengan tatapan tidak suka. Melirik tajam resepsionis itu dengan raut bengis. Berani sekali resepsionis itu menghentikan langkahnya.


Steffi maju selangkah dan mendekati respesionis itu.


"Apa kau tidak tahu berhadapan dengan siapa? Ini nona muda, istri Tuan Muda Harly. Jaga sikapmu!" sentak Steffi.


Resepsionis itu tampak ketakutan tapi ia seperti tidak punya pilihan.


"Maaf, mohon maafkan saya Nona. Tapi ini perintah langsung dari atas" gumam resepsionis itu takut - takut.

__ADS_1


Dari atas? Siapa? Apakah Harly atau Jun? Benarkah mereka sungguh setega ini padaku?


__ADS_2