Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Siang Pertama


__ADS_3

Haina masih tercenung dengan situasi yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Perkumpulan antara ia, keluarganya dan suaminya. Memikirkannya pun tak pernah. Apalagi dengan perasaan campur aduk seperti ini. Masalahnya dengan Tuan Muda Harly belum selesai. Namun lelaki itu malah membuat masalah baru dengan bersandiwara di depan ayah dan ibunya. Padahal ia sudah menyiapkan diri bila inilah waktu yang dianggapnya tepat untuk memberi tahu kedua orang tuanya.


Eh? Tunggu, kenapa dia berperan seolah hubungan kami harmonis? Bukankah dia mengatakan pada orang tuaku bahwa aku ingin bercerai?


Tiba - tiba lamunannya terhenti, saat pertanyaan itu tiba - tiba melintas.


Haina menatap lekat sang suami yang duduk disampingnya. Lelaki itu sedang membukakan botol saus sambal. Wajahnya terlihat santai, seolah tidak sedang berakting.


"Ada apa? Apa kau sangat merindukan aku karena kemarin tidak pulang kerumah?" tanya lelaki itu usai memberikan botol sambal itu pada mertuanya.


Haina melengos ke samping. Menetralkan ekspresi kaget diwajahnya usai ketahuan menatap lama lelaki itu.


"Sayang?" panggil Tuan Muda Harly mesra.


Haina tak punya pilihan selain mengikuti sandiwara ini. Meski ia ingin sekali menyambung percakapan tadi dengan sang ayah, tapi ia akan bersabar dan menanyakannya nanti.


"Besok sediakan waktumu dan ikutlah dengan kami" ujar lelaki itu lagi.


"Hah? Apa? Kemana?" Haina jadi kikuk sendiri. Akibat terlalu banyak berpikir. Membuatnya tidak awas dengan situasi di depan mata.


"Ibumu akan menjalani pemeriksaan lebih lanjut dirumah sakit ibu kota besok" sahut sang ayah pula.


Wajah pria yang telah menua dengan cukup banyak keriput diusia yang belum senja itu kembali sendu. Tapi secepat kilat ditutupi dengan senyuman.


Haina menelisik wajah sang ibu yang memasang senyum getir.


Ibu bersedih? Apa yang sebenarnya terjadi?


Haina mencelos, menyadari sesuatu yang luput dari pengetahuannya. Sesuatu telah terjadi, tapi apa?


Tiba - tiba ia dikejutkan dengan genggaman pada tangannya dibawah meja. Suami liciknya itu mengenggam erat tangannya sembari menatap lekat dan tersenyum tipis.


"Sebenarnya ada sesuatu yang harus kau ketahui sekarang..." ujar lelaki itu kemudian. Lalu ganti menatap mertuanya.


Bu Hayati menunduk lesu lalu menghembuskan napas berat.


Pak Tanu mengusap bahu wanita itu penuh sayang lalu menatap putrinya yang keheranan.


Haina benar - benar penasaran dibuatnya. Wajah sendu itu, membuatnya berpikiran buruk.


"Katakan, Yah. Ada apa?" desak Haina tak sabar lagi.


"Hasil pemeriksaan terakhir ibumu..."


Haina mulai gemetar, rasa takut menjalar dengan cepat menguasai hati dan pikirannya. Namun Tuan Muda Harly semakin mengeratkan genggaman tangan dibawah meja.


"Sel kanker menyebar sampai ke organ lain, ibumu harus melakukan operasi lagi" gumam Pak Tanu pedih. Tak mampu menutupi rasa takutnya sendiri.


Haina menutup mulut tak percaya.


"Tapi dokter berpesan pada kita untuk tidak terlalu khawatir. Bila operasinya sukses Ibu bisa sembuh lagi" tambah sang ibu menenangkan. Meski sendirinya juga ketakutan.


Tapi melihat anak sulungnya didampingi dan diperhatikan dengan penuh cinta oleh suaminya mampu membuat wanita paruh baya itu menguatkan diri kembali. Beban dihatinya selama hampir setengah tahun terakhir pelan - pelan terangkat. Rasa bersalah pada putrinya seolah kian menguap saat melihat sendiri betapa sayangnya menantunya itu pada putrinya.


Haina seketika menangis tertahan. Derai air mata berjatuhan dipipi mulusnya. Melihat itu sang suami segera menariknya kepelukan. Mengusap punggunya pelan, memberi ketenangan.


"Tidak apa. Semua akan baik - baik saja. Aku berjanji Ibu akan segera pulih. Kita akan menyiapkan dokter terbaik" bujuk lelaki itu pada sang istri yang sesenggukkan dipelukan.


Pak Tanu dan Bu Hayati ikut terenyuh mendengar tangis sang anak. Sulungnya itu memang sangat menyayangi ibunya. Sudah terbayang dikepala betapa sedihnya Haina saat tahu sang ibu sakit. Maka dari itulah sejak hasil pemeriksaan keluar dua bulan yang lalu mereka menyembunyikannya rapat - rapat. Menjalani kemoterapi tanpa diketahui oleh sang anak. Melarang Hagi bahkan menantunya memberitahu sang anak. Karena pada saat itu mereka masih mencemaskan Haina yang dikiranya kesulitan beradapatasi dengan kehidupan pernikahannya. Mereka sungguh tak ingin menambah beban bagi Haina.


"Maafkan Ayah dan Ibu baru memberitahumu sekarang. Tapi jangan sedih lagi. Ibumu butuh semangat dan kekuatan kita" ujar Pak Tanu menenangkan Haina yang kesusahan menghentikan tangisannya.


"Benar kata Ayah. Jangan bersedih, jadilah kuat seperti biasa" bujuk Tuan Muda Harly sembari mengurai pelukan.


Akhirnya momen bersedih itu usai dengan pelukan diantara mereka. Tuan Muda Harly mengantar mertuanya kembali ke hotel untuk mengambil pakaian dan beberapa barang. Lalu memboyong mertua beserta istrinya kembali ke apartemen.


"Ini kamarnya Yah, Bu" Haina membukakan pintu kamar. Kamar tamu yang tersedia di apartemen itu. Setahunya dulu kamar itu kosong, hanya ada ranjang beserta kasur saja.


Wah! Kapan Harly mengatur semua ini?


Haina jadi bertanya - tanya sendiri. Kamar itu terlihat sangat nyaman dan indah. Perabotan lengkap mengisi setiap sudut kamar dilengakapi juga dengan televisi.



"Pak Sun menyiapkan semuanya kemarin" bisik sang suami ditelinganya.


Haina terkejut. Ternyata suaminya menyiapkan kamar yang nyaman untuk kedua orang tuanya. Ia terharu. Tapi cepat - cepat pasang wajah jutek saat ingat kejadian di UGD waktu itu.


"Nah, biarkan ayah dan ibu istirahat dulu. Ayo sayang" ajak Tuan Muda Harly sembari memeluk pinggang Haina.


Haina tak berdaya didepan kedua orang tuanya.


"Sampai bertemu makan siang nanti Yah, Ibu" gumam Haina pamit meski tak rela. Ia masih ingin disana. Mengobrol sambil memijiti kaki ibunya. Tapi ia harus mengurungkan niat saat melihat sang ibu kelelahan. Ibunya lebih butuh tidur.


"Ya sudah. Ibu akan tidur dulu sebentar" gumam wanita paruh baya itu sambil merebahkan punggung di sandaran ranjang.


"Kalau butuh sesuatu tekalah angka satu di telepon itu, Bu. Pelayan akan datang dan menyediakan semua" ujar Tuan Muda Harly sambil menunjuk interkom diatas nakas.

__ADS_1


Usai mendapat anggukan dari mertuanya ia segera keluar dengan memeluk pinggang istrinya.


"Kau curang!" gumam Haina pelan sekali. "Sekarang lepaskan aku"


Bukannya menurut lelaki itu malah menggendongnya tiba - tiba. Membuatnya memekik pelan.


BUGH!


Pukulan didada sepertinya tak mempengaruhi pria itu.


DUG!


"Aduh!" Haina meringis saat jari kakinya membentur daun pintu. Tuan Muda Harly membawanya ke kamar mereka.


"Aku bukannya licik sayang. Hanya saja aku harus pintar membaca situasi dan membuat keadaan jadi menguntungkan" ujar lelaki itu lalu merebahkan Haina diatas kasur.


Haina mendelik.


"Cih! Berarti kau tak tulus pada orang tuaku!" celetuknya.


"Kata siapa? Aku harus menyayangi dan merawat mertua dengan baik agar kau tak lari lagi dariku" kata Tuan Muda Harly yang sudah mengungkung sang istri dibawah tubuhnya.


"Menurutmu aku percaya?"


Tuan Muda Harly tersenyum lalu menyatukan bibir mereka sekilas. Kecupan ringan yang menyenangkan.


Delikan tajam mata Haina malah membuat leleki itu terkekeh.


"Jangan terlalu banyak berpikir, sayang. Aku lelah, menanggung rindu ini sendirian" ucapnya.


CUP!


Lagi - lagi satu kecupan dicuri dari bibir cemberut Haina.


"Lancang! Kita sudah akan bercerai" balas Haina.


Tuan Muda Harly lagi - lagi tersenyum.


"Tidak akan. Kau tidak lagi punya alasan bercerai dariku. Soal malam pertama kita yang menyakitkan bagimu itu aku sungguh tidak sengaja. Kita sudah sepakat soal itu, kau dan aku akan kembali bersama..."


"Masalahnya kau itu selingkuh!" seru Haina tak terima.


"Benar. Aku memang brengsek! Masih membawa perasaan dari masalalu saat menikahimu. Tapi hanya sebatas itu, tidak lebih..."


"Kalian berciuman di hotel..."


"Cih! Kau juga mencium keningnya dipantai itu!" Haina mengabsen satu - persatu kesalahan lelaki tidak tahu malu yang sedang mengungkungnya. Memgangi kedua tangannya diatas kepala.


CUP!


Ah! Lagi - lagi satu kecupan mendarat dibibirnya. Haina tak tahan lagi.


"Jangan cium aku. Kita sedang membahas ciumanmu dengan mantanmu!" kesal Haina.


"Ciuman yang mana? Oh, aku ingat! Mengecup puncak kepalanya?"


Haina diam tak menjawab.


"Itu aku sengaja. Aku ingin tahu bagaimana reaksimu?"


Haina mendelik heran.


"Maksudmu?"


"Saat itu aku melihat paparazi mengikuti kami. Jadi aku ingin kau melihat hasil jepretan paparazi itu. Aku ingin lihat wajah cemburumu" terang lelaki itu dengan senyum mengejek.


Ya, Haina ingat. Setelah melihat foto itu, terbit cemburu dihatinya.


"Kau tahu? Foto itu langsung hilang dari pencarian hari itu juga? Karena aku sudah tahu dari Jun bahwa kau melihatnya" tambah lelaki itu lagi.


CUP!


"Ahh!" Kali ini ciuman disertai gigitan kecil.


Haina meronta hebat. Tapi kalah tenaga.


"Kau bohong!"


"Tidak. Jun menyadap ponselmu, jadi aku tahu semua"


Haina menganga dibuatnya. Betapa lelaki itu begitu ingin mengekangnya dulu. Sampai menyadap ponselnya?


"Percayalah padaku sayang!"


Apa? Benarkah begitu? Atau kau terlalu pandai mengarang cerita. Batin Haina sambil melirik tajam Tuan Muda Harly.


"Kalian berpelukan mesra saat di UGD!"

__ADS_1


"Itu hanya salah paham. Dia yang memelukku. Memang salahku tidak langsung mendorongnya sampai jatuh kelantai agar kau tak salah paham. Tapi saat itu dia sakit dan sendirian. Sebagai teman aku tak bisa mengabaikannya begitu saja" jelas Tuan Muda Harly.


Ia ingin semua salah paham beserta dramanya ini segera berakhir. Agar tak ada lagi yang dapat membuat gadis itu ragu kepadanya.


"Teman?" gumam Haina.


"Ya, teman. Bagiku hanya sebatas teman sekarang"


Haina bisa percaya itu. Dari sorot mata sang lelaki, yang menatapnya lekat. Tak terbaca adanya kebohongan disana.


"Baiklah, tapi ak- hemmmppt"


Tanpa banyak kata lagi Tuan Muda Harly membungkam bibir Haina dengan ciuman. Ia sudah tak tahan lagi. Menatap bibir ranum itu terus berceloteh dengan jarak sedekat itu. Ia harus memuaskan dahaganya saat ini juga. Menyesap dan meluumat bibir merah muda itu dalam - dalam.


Ciuman panas penuh gairaah itu membuat Haina tak lagi berkutik. Ia pasrah dalam buaian lelaki itu. Ciuman itu semakin menuntut, membuatnya membuka bibir suka rela. Dan Tuan Muda Harly melepaskan tangannya begitu saja. Yakin gadis itu ikut menikmati ciuman mereka.


Belitan lidah tak terelakkan lagi. Haina melayang dibuatnya saat pagutan panas sang suami disertai remaassan di dada kanannya.


"Enngh..." lenguhan singkat Haina lolos begitu saja saat ciuman dibibir berganti ke lehernya. Sementara tangan nakal itu masih bermain di dadanya.


Haina terlena. Sungguh, rasa nikmat yang mendera telah menjalar hingga ke inti tubuhnya. Ia tak dapat lagi memungkiri bahwa ia juga merindukan sentuhan lelaki itu. Ah! Haina malu tapi mau.


"Aahh...jangan!" Dessah Haina saat sang suami menyibak kaosnya keatas sampai dekat leher. Menampakan gundukan tersembunyi miliknya.


Tuan Muda Harly menatapnya dengan kata berkabut. Deru napas pria itu bahkan terdengar ditelinganya.


"Ini masih siang" tutur Haina menjelaskan larangannya tadi. Rasanya ia tak tega pula pada lelaki itu.


Tuan Muda Harly tersenyum. Lalu mendekatkan bibir ke telinga wanitanya.


"Aku senang kau tidak trauma denganku" bisiknya. Membuat Haina geli sendiri. "Sekarang, biarkan aku melanjutkan. Jadikan ini siang pertama kita"


Haina terdiam dan pasrah saat sang suami mulai menikmati tubuh bagian atasnya. Dengan susah payah menahan desaah nikmatnya agar tak keluar. Takut ada yang mendengar. Pelayan diluar sana atau kedua orang tuanya.


"Aahh" Haina mendessah cukup keras saat tiba - tiba kedua dadanya dikeluarkan dari penyangganya. Bra warna marun itu masih terpasang seperti semula membuat sembulan dada gadis itu semakin menggoda.


Tuan Muda Harly yang sudah lama menanti momen ini menatap dengan mata berbinar. Seolah melihat makanan kesukaanya disana. Lalu segera membanamkan wajah disana.


Menguulum dengan rakus dan sedikit kasar. Satu tangannya tak mau mengabaikan dada sang istri yang satunya lagi. Sungguh! Hasrat kelelakiannya menuntut untuk dipuaskan.


Haina meraung saat kedua puncak dadanya dimanjakan bergantian.


"Har-ly... aaahh!" Haina lanjut menggigit bibirnya sendiri agar suara memalukan itu tertahan.


Melihat itu sang suami kembali mencium bibirnya. Haina semakin terhanyut dan mengalungkan tangan dileher suaminya.


"Sekarang, sayang. Bolehkah?" tanya lelaki itu mendayu. Sungguh terlihat seperti bayi minta disusui. Menatap sang istri dengan wajah polos dan mata berkaca - kaca.


Haina tak dapat berkata - kata dibuatnya lalu mengangguk pelan tanda setuju.


Tanpa menunggu sedetikpun sang suami kembali mengulum puncaknya. Menurunkan kedua tali penyangga dibahu sang istri tanpa melepas sesapan didadanya.


"Istriku, kau sangat cantik. Aku mencintaimu!" ucap lelaki itu saat melepas salah satu puncaknya. Membuat Haina semakin terbang melayang.


Tuan Muda Harly bergerak kebawah lalu dengan mudahnya menarik rok tutu yang dikenakan sang istri. Menyisakan segitiga warna marun pula.


Perlahan ia melepasnya dan membuang ke lantai. Sambil terus meneguk ludahnya kasar. Ia mulai melucuti pakaiannya sendiri.


Sekarang mereka sama polosnya. Hanya satu bra yang masih menggantung di perut atas Haina. Baju kaosnya sudah dibuang entah kemana tadi oleh sang suami.


"Sayang kau sangat cantik" puji lelaki itu lagi.


Haina yang menggeliat dibawah kungkungannya yang tanpa pakaian begitu menggoda. Tubuh ramping itu begitu ranum minta dinikmati. Apalagi dua buah lembut yang berdiri menantang dengan pucuk menegang bewarna merah muda kecoklatan itu. Begitu menggemaskan, membuatnya ingin menyesappnya lagi.


"Eenghhh..." lenguhhan sang istri semakin merdu saat ditekuni kedua buah lembut itu.


Sang suami semakin liar menikmati sajian penuh kenikmatan dari sang istri. Bahkan saat ia melepaskan yang satu hendak pindah pada yang lain menimbulkan bunyi decapan yang begitu nyaring memenuhi ruangan kamar.


"Eemmhhh..."


Satu jari sang suami mulai nakal memainkan inti tubuhnya. Disertai ciuman dibibir lalu beralih lagi ke leher dan kembali ke dadanya.


"Aaakkhh..." Haina tak tahan lagi. Pelapasan pertamanya datang membuat gelombang nikmat itu menerjang intii tubuhnya.


Selanjutnya giliran sang suami yang memanjakan pusakanya melalui celah surga dibawah sana.


Penyatuan keduanya untuk kedua kalinya itu pun terjadi. Dalam keadaan sadar, saling menginginkan, saling menikmati.


Sungguh! Siang pertama yang indah dan tak terlupakan.


*


tbc.



__ADS_1


__ADS_2