
Ternyata survey pasar adalah kegiatan menarik yang sangat mengasyikan, setidaknya begitu bagi Haina. Pun, Marchel yang bersama gadis itu. Riang bukan main bisa jalan berdua dengan pujaan hati. Meski hanya menjelajahi pasar seafood dan pasar sayur. Hatinya tetap berbunga - bunga kala sang pujaan hati berjalan beriringan berdua dengannya.
"Tapi aku merasa ada yang aneh. Kenapa aku merasa kita diikuti?" celetuk Marchel saat mereka akan meninggalkan pasar seafood.
Haina yang menyadari kedua pengawalnya mengikuti hanya berusaha mengalihkan perhatian pria itu. Ia mengajak pria berdarah tionghoa itu membeli beberapa udang mentah.
"Dari pada mikir aneh -aneh lebih baik temani aku memilih udang segar, Ko!"
Haina melipir kesalah satu kedai seafood segar dan membeli sekilo udang tambak.
"Aku ingin masak udang saus pedas, pasti enak" ujar gadis itu sambil menenteng kantong kresek. "Oh, tomyam juga pasti enak!" serunya berubah pikiran.
Marchel mengukir senyum menyaksikan wajah ceria gadis pujaannya. Sulit sekali meminta waktu gadis itu. Padahal ia sangat ingin mengajaknya kencan atau sekedar membawa ke reatoran miliknya. Morgan sang anak pasti senang bertemu Haina.
Marchel
Senyum Haina manis kan 😋
"Ngomong - nngomong kapan kau ada waktu? Morgan sangat ingin bertemu kau" Marchel mempinpin jalan meninggalkan pasar menuju area depan. Disana ada banyak penjual makanan matang, cocok untuk jajan aneka makanan.
Haina mengikuti Marchel dengan wajah menunduk.
"Ko, apa koko masih berpikiran menjadikan aku ibu sambung untuknya?" bukannya menjawab ia malah bertanya balik.
Marchel berhenti agar Haina dapat menyamai langkahnya.
"Kenapa? Apa sungguh tidak ada harapan?" tanyanya dengan wajah memelas.
"Jangan pasang tampang melas ko!"
"Padahal aku sudah sangat berharap padamu tahu!"
Haina tertawa melihat tampang memelas yang tengah berdrama itu. Lelaki itu memang selalu menunjukkan perasaannya apa adanya. Tidak segan - segan melawak juga untuk menarik perhatiannya.
"Ko Marchel memang lucu. Tapi ada gadis lain diluar sana yang pasti menantimu dengan sabar"
Lagi - lagi Marchel memasang tampang memelas dan sedikit cemberut. Bibirnya dimanyunkan mendengar penolakan untuk kesekian kalinya.
"Aku ini serius!"
"Aku juga serius, ko. Aku sudah menikah. Kenapa koko tak pernah percaya padaku?"
Tak terasa mereka sudah sampai di area penjual jajanan pasar. Gerobak penjual makanan dan minuman beragam jenis berderet dikiri dan kanan.
"Kalau kau ajak aku bertemu dengan lelaki yang jadi suamimu itu, baru aku percaya. Sekalian tunjukkan buku nikah kalian" tutur Marchel sambil menarik tangan Haina agar mengikutinya menuju salah satu stand makanan disana. Lumpia terlihat cukup menggoda untuk dijadikan cemilan.
__ADS_1
Haina menarik tangannya agar terlepas dari pegangan lelaki rambut cepak itu. Ia tidak ingin ada laporan yang akan membuat tuan muda pemarah itu salah paham dan mengamuk. Bisa - bisa 'kebebasan' yang susah payah ia mohonkan mendadak dicabut.
"Hehe..." Haina hanya memperlihatkan deretan gigi putihnya saat Marchel tercengang kala ia menarik tangannya.
Lelaki itu hanya geleng -geleng kepala. Tak ambil pusing dengan hal itu.
Mereka memasan dua porsi lumpia basah untuk mengganjal lapar sebelum jam makan siang datang.
"Ayo cepat makan. Kita harus mengunjungi pabrik pengolah mie basah setelah ini"
Haina mengangguk dan mulai menikmati sajian lumpia di warung kaki lima itu. Sambil menikmati suasana pasar yang ramai, wajah Tuan Muda Harly melintas dipikirannya.
"Apa dia pernah makan jajanan seperti ini?"
.
Waktu jam pulang kantor sudah tiba. Seisi ruangan di lantai wakil presdir sedang sibuk membereskan sisa pekerjaan sebelum akhirnya meninggalkan ruangan. Ada juga yang sudah selesai dan pergi pulang lebih awal.
Tapi Tuan Muda Harly masih belum beranjak dari kursinya. Usai RUPS selesai ia masih menyempatkan diri memeriksa dan menandatangi beberapa laporan diruangannya.
Tapi ada seseorang yang menunggunya sambil mengerjakan beberapa pekerjaannya juga. Jiana memutuskan tidak kembali ke kantornya dan malah berdiam di salah satu sudut ruangan. Sebuah set meja dan kursi yang biasa dipakai untuk meeting kecil - kecilan.
Jiana, menyibukkan diri dengan memandangi wajah Tuan Muda Harly saat pekerjaannya sudah selesai. Ia menutup tamblet dan memandang lurus lelaki itu. Dari mejanya, ia bisa mengamati kesibukan Tuan Muda Harly.
Jiana tersenyum lalu berpindah dari tempat itu menuju meja kerja Tuan Muda Harly.
"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Jiana saat Tuan Muda Harly menutup semua laporan dihadapannya lalu berjalan dan duduk di sofa panjang tengah ruangan.
"Cukup untuk hari ini" gumam Tuan Muda Harly sambil melepaskan kancinh pergelangan tangannya. Dasi juga ia kendorkan agar lebih nyaman.
Jiana menghembuskan napas panjang lalu menghirup oksigen sebanyak - banyaknya dan melepaskan perlahan. Ia ikut duduk dekat Tuan Muda Harly.
"Apa yang menjadi beban pikiranmu? Sampai seeprti itu?" tanya Tuan Muda Harly. Ternyata ia menyadari tingkah Jiana sedari tadi, seperti akan bicara sesuatu yang penting.
"Emm... sebenarnya aku ingin meminta waktumu untuk bicara hal serius. Tapi sepertinya akhir - akhir ini kau sangat sibuk" tutur Jiana membuka pembicaraan.
Ya, seiring berjalannya waktu kepercayaan dirinya mulai goyah. Ia tidak bisa hanya menunggu lelaki dihadapannya memberi kepastian tentang kapan ia bercerai dengan istrinya. Mengingat waktu sebulan yang diberikan Nyonya Ananta sudah hampir habis.
"Harly, kau tahu aku sudah tidak muda lagi. Aku empat tahun lebih tua daripada kau"
"Lalu?"
"Kapan kau akan mencerikan istrimu?" tanya Jiana to the point.
__ADS_1
Tuan Muda Harly terkekeh dan menggaruk alisnya. Ia terdiam sejenak.
"Pertanyaanmu membuatku mengingat lima tahun penantianku. Rasanya aku menunggumu sangat lama. Kau tidak kembali meski aku membujukmu dan mengirim banyak hadiah agar kau luluh. Tapi... sekarang kau datang sendiri dan menanyakan itu..."
"Aku tahu aku salah!" potong Jiana cepat. Ia jadi gelisah saat melihat ekspresi wajah Tuan Muda Harly yang dapat ia baca. "Keadaan juga sulit bagiku. Ada hal yang tak dapat aku bagi denganmu! Keadaanku membuatku harus menjauh waktu itu. Tapi aku menunggu saat yang tepat untuk kembali. Dan sekaranglah waktunya. Aku..."
"Kau kembali saat nenekku menyuruhmu!"
Jiana terkesiap mendengar kalimat itu. Bagaimana lelaki itu tahu apa yang terjadi?
"Walaupun bukan nenekmu yang menyuruhku kembali aku akan tetap berusaha kembali kali ini. Aku tidak akan rela kehilanganmu dengan cara seperti itu" sanggah Jiana menggebu. Ia tidak menyangka Tuan Muda Harly akan mempermasalahkan kepergiannya dan penolakannya selama ini. Yang ia yakini adalah lelaki itu akan menerimanya kembali dengan mudahnya.
"Aku tidak tahu ada apa diantara kalian. Atau sejak kapan kalian jadi akrab. Tapi aku kutanya padamu, kau sangat mengenalku kan?"
Jiana diam tak bergeming. Menatap sang kekasih dengan raut wajah sendu.
"Aku benci diatur!"
"Bukan begitu... aku tidak mengaturmu. Aku hanya ingin tahu rencanamu. Bukankah kau menikah demi membuatku kembali?"
Tuan Muda Harly diam seribu bahasa saat pertanyaan Jiana terasa tepat sasaran.
"Iya. Itulah niat awalku. Tapi sekarang?"
Apa rencananya sekarang? Tanpa ia sadari ia telah tersesat dalam skenarionya sendiri.
"Apa rencanamu?" tanya Jiana sekali lagi.
"Bersabarlah sedikit lagi" pada akhirnya hanya kalimat itu yang mampu ia ucapkan.
*
tbc
Tuan Muda Harly
PENGUMUMAN!
Aku ingin mengganti visual Tuan Muda Harly dalam cerita ini. Dikarenakan aku menemukan berita sumbang tentang visual sebelumnya yang aku pakai. Hal itu membuat halusinasiku tentang tokoh di novel ini jadi buyar. So, demi kelancaran penulisan cerita ini, visual Tuan Muda Harly akan aku ganti dengan yang baru. Semoga kalian suka ya. Dan bagi yang tidak suka boleh berhalu ria dengan visual lain yang kalian inginkan.
Aku akan mengganti foto yang sudah terlanjur ada di bab sebelumnya.
**Mohon dukungannya dengan like, komen, vote dan hadiah ya readers. Cerita ini aku tulis untuk ikut lomba. Jadi dukungan kalian sangat aku butuhkan ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Sekali lagi Like....likee...like yang buaanyak 🥲**
__ADS_1