Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Panik


__ADS_3

Haina mencuci wajahnya yang sudah kumal dan sembab karena menangis. Dikamar mandi yang luasnya tak seberapa itu ia mencoba menenangkan diri dengan mengatur napas.



TOK! TOK!


Suara ketukan pintu menginterupsi kegiatannya.


"Sayang, kau baik - baik saja?"


Haina melirik kesal kearah pintu, menunggu sesaat sampai dirinya benar - benar tenang lalu keluar. Ia berjalan santai seolah tidak ada yang terjadi, seolah lupa kalau tadi ia baru saja menangis tersedu didada lelaki yang menatapnya penuh damba itu.


"Aku baik. Sekarang pulanglah!" kata Haina saat Tuan Muda Harly menghampirinya.


Bukannya menjawab lelaki itu malah langsung memeluknya erat. Bahkan menciumi puncak kepalanya berkali - kali. Tapi Haina tidak diam saja, ia segera menarik diri dan melepaskan rengkuhan lengan Tuan Muda Harly dari pinggangnya. Lelaki itu menatapkanya keheranan.


"Jangan melewati batas. Aku bukannya sudah memaafkanmu" ucap Haina dingin.


Tuan Muda Harly melongo sesaat sebelum mengusap wajahnya kasar. Padahal ia sudah berpikir dan berharap lebih. Berpikir bahwa Haina memaafkannya usai menangis tersedu - sedu sambil terus berpelukan diatas ranjang.


"Kenapa? Maksudku, apa yang harus kulakukan agar kau segera memaafkanku?" tanya lelaki itu sabar.


Haina melipat tangannya dibawah dada lalu menggeleng.


"Jangan lakukan apapun. Bagaimana pun kau dan aku tidak cocok bersama" gumamnya yakin.


"Kenapa berkata begitu? Kau tahu kan, aku selalu melindungimu dari keluargaku sekalipun"


Haina terdiam. Itu ada benarnya, selama menjadi istri lelaki itu tak sekalipun ada yang berani menyentuhnya. Meski sering kali ia mendengar Nyonya Ananta menghina dan merendahkannya saat tinggal dirumah utama dulu, tapi nyatanya tak ada yang berani menyakitinya lebih dari itu.


Lalu, apa yang Haina takutkan? Bukankah sebenarnya itu hanya sebuah alasan. Meskipun apa yang dikatakannya memang tak sepenuhnya hanya alasan belaka. Ketakutan itu memang hadir dihatinya, takut keberadaannya sebagai istri Tuan Muda Harly terungkap. Lalu mendapat banyak kecaman atas latar belakang keluarganya. Ia tak ingin itu terjadi, mempersulit diri bukanlah pilihannya.


"Kau dan aku sangat jauh berbeda. Kau setinggi langit, sedangkan aku..."


"Sssshhtt!" satu telunjuk Tuan Muda Harly mendarat tepat di bibir Haina.


Kedua mata mereka beradu pandang. Mereka dapat melihat dalamnya perasaan dan luka satu sama lain. Sesaat, hanya kejujuran yang terpampang di mata keduanya.


"Aku tidak pernah menilai seseorang dari harta atau status sosialnya" gumam lelaki itu pelan.


"Tak semudah itu. Yang terikat bukan hanya kau dan aku, tapi ada keluargamu dan keluargaku. Aku tidak ingin terluka lebih dari ini. Apa kau tahu ayah dan ibuku selalu memikirkanku setiap hari. Kau tahu betapa sakitnya perasaan orangtuaku saat harus terus menyembunyikan pernikahanku?" Haina sekuat tenaga menahan diri agar tidak meneteskan air matanya lagi.


Dalam hubungan ini, ia harus mempertimbangkan kedua orang tuanya. Mereka yang terluka dan kecewa atas semua yang telah terjadi. Orang tua mana yang rela putrinya menjadi menantu yang tak diakui? Menjadi istri yang selamanya disembunyikan? Mereka bahkan tak bisa mengatakan bahwa putrinya sudah menikah dan dengan siapa. Itu saja sudah cukup menyesakkan bagi ayah dan ibunya.


Tuan Muda Harly terdiam. Selama ini ia hanya fokus pada Haina, pada kerinduannya dan hasratnya untuk kembali hidup bersama. Tanpa mengingat sekalipun perasaan mertuanya yang terluka dan kecewa karena perjanjian pranikah yang ia siapkan dulu. Tapi bukankah ia sudah membatalkan perjanjian itu. Perjanjian yang hanya menguntungkan dirinya sendiri, sudah ia musnahkan. Ia ingin dirinya dan Haina saling memiliki satu sama lain, layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Lalu apa masalahnya sekarang?

__ADS_1


"Aku bisa memperbaiki semua. Aku bisa saja membuat semua orang tahu bahwa kau istriku meskipun aku ingin. Tapi aku menyembunyikan identitasmu bukan karena latar belakang kita berbeda" tutur Tuan Muda Harly menatap penuh perasaan.


Haina terdiam. Mencerna maksud ucapan Tuan Muda Harly barusan. Kalau bukan karena itu, lalu apa?


"Dengarkan aku, sayang. Aku melakukan semua itu demi melindungimu dan keluargamu"


"Melindungi dari apa? Dari penilain orang - orang tentangku? Tentang aku yang hanya gadis desa miskin?" Mendadak ia jadi insecure dengan diri sendiri. Melupakan keperyaan dirinya selama ini.


"Itu benar. Tapi bukan itu masalahnya. Aku melindungimu dari orang yang bisa saja memanipulasi perasaanmu atas keadaanmu"


Haina semakin tak mengerti perkataan suaminya.


"Jangan bertele - tele! Maksudnya sama saja kan?" sanggahnya kemudian.


"Sulit bagiku untuk menjelaskan semua padamu. Tapi aku mohon jangan membohongi perasaanmu sendiri. Kau masih mencintaiku. Jadi aku hanya ingin kau yakin bahwa perbedaan latar belakang bukan halangan untuk kita bisa bersama" bujuk Tuan Muda Harly sambil memegani kedua bahu Haina dan menatapnya intens.


"Tidak semudah itu..."


Haina menghindar dan melangkah menjauhi suaminya. Ia memilih menyendiri di dekat jendela.


Ia tak punya keyakinan sebesar itu untuk memilih melanjutkan hidup sebagai istri Tuan Muda Harly. Semua yang telah terjadi cukup memberinya pelajaran dan gambaran kehidupan seorang nona muda Benjamin yang seharusnya. Ia tak percaya diri akan hal itu.


"Apa yang kau takutkan? Nenekku yang tidak menyukaimu? Jangan memikirkan hal itu. Ayahku bahkan tak mempermasalahkan"


Haruskah ia megabaikan ketakutan tentang perbedaan latar belakang diantara mereka? Mampukah ia terus melangkah disaat semua orang akan mencibir dan menganggapnya tidak pantas?


Haina meragu.


"Aku akan meminta restu kedua orangtuamu dengan benar kali ini. Aku ingin memulainya kembali dengan benar. Memperbaiki kesalahanku, memohon maaf pada ayah dan ibumu atas tindakanku dulu" tambah Tuan Muda Harly.


"Berjanjilah kau tidak akan mengkhiati aku lagi" ucap Haina dengan nada bergetar. Pelupuk matanya sudah dipenuhi genangan air mata yang siap tumpah. Teringat sakitnya hati saat bayangan kemesraan Tuan Muda Harly dan Jiana dulu. Haina tidak ingin merasakan itu lagi.


"Tidak akan!" sahut Tuan Muda Harly cepat. Seolah mendapat angin segar. Wajahnya sumringah seketika mendengar kalimat yang keluar dari bibirnya.


"Seber apa besar cintamu padaku?"


"Sebesar keinginanku untuk terus bernapas melanjutkan hidup. Kau adalah oksigenku sekarang" rayuan mautpun dilontarkan lelaki yang sedang dimabuk cinta itu. Ia mendekat dan mengelus rambut Haina dengan sayang.


"Cih! Kau memang buaya!" seru Haina sambil memukul dada Tuan Muda Harly.


Tanpa pikir panjang lelaki itu segera memagut bibir Haina yang sedang manyun. Menciumi sang istri dengan penuh kelembuatan, menyalurkan perasaan rindu dan cintanya yang menggebu. Menyesap manisnya bibir yang selalu menggodanya setiap kali ia menatap.


Haina terhanyut dalam ciuman dalam dan panjang itu. Menerima setiap sentuhan dari lelaki yang juga ia rindukan. Menyatukan bibir mereka dengan gairah dan kerinduan menggebu. Saling menyecap dan meluummat. Deru napas mereka hangat satu sama lain, mengiringi hasrat sepasang suami istri yang saling merindu.


Ciuman dibibir kini pindah ke pipi, lalu belakang telinga. Tangan kokoh Tuan Muda Harly semakin merengkuh erat pinggangnya. Tubuh mereka samakin rapat, mengantarkan getaran hasrat untuk terus melanjutkan keiintiman.

__ADS_1


"Aah!" satu desahhan mengalun indah dari bibir Haina saat ciuman Tuan Muda Harly semakin memabukkan, membasahi daun telinganya. Memberi sensasi geli disana.


Haina semakin dimabukkan saat belaian lembut terasa hangat dipunggungnya. Lalu ciuman dari bibir basah Tuan Muda Harly mendarat di lehernya.


"Emmhh!" tak kuasa gadis itu menahan diri saat menikmati setiap sentuhan bibir sang suami.


Tuan Muda Harly melapaskan bibirnya dari leher mulus sang istri. Menatap dengan mata berkabut penuh damba. Lalu kembali menyambar bibir ranum Haina yang semakin menggoda.


Perlahan membuka kancing kemeja putih Haina satu persatu sampai terlepas semua. Bibir mereka masih terus bergelut. Ia menyibak kemeja gadis itu hingga bahu Haina polos, kemeja putih itu menggantung dilengan.


Kulit mulus Haina tertimpa cahaya lampu terlihat bersinar dan semakin indah. Mengundang hasrat sang suami untuk menjamahnya dengan bibir.


Kecupan, sesapan dan sedikit gigitan bergantian mendera bahu, leher dan dada gadis itu. Membuatnya tak kuasa menerima cuumbuan sang suami. Ia menggigit bibir kuat saat tali bra disibak dan tangan sang suami membelai lembut kulitnya. Dengan satu gerakan penutup dada itu diturunkan hingga bulatan lembut itu menggantung indah.


"Kau sangat cantik, sayang" gumam Tuan Muda Harly menatap indahnya pemandangan didepan mata. Ia mendorong pelan sang istri sampai ke tepian ranjang. Lalu merebahkannya perlahan.


Haina menggeram pelan saat dirinya terbuai dengan sentuhan nikkmat didadanya. Ia tergolek pasrah diranjang single bed itu saat sinar bulan memantul lembut dari jendela.


Sedang sang suami terus bergumul dengan kenikmatan yang membuatnya semakin mendamba, ingin lebih dan lebih lagi. Deru napasnya semakin berat dan menggebu. Ia membuka kemejanya sendiri dan kembali melabuhkan ciuman dibibir Haina.


"Hhmmpp!"


"Ada apa?"


Haina tiba - tiba melepaskan pagutan bibir mereka. Meringis dan memicingkan mata.


"Sayang, kau kenapa?" tanya Tuan Muda Harly panik.


Lelaki itu benar - benar tampak merasa bersalah. Rasa cemas menderanya saat melihat Haina yang terlihat tidak baik - baik saja. Wajahnya terlihat pucat dan terus meringis. Ia dengan hati - hati membangu Haina yang ingin bangun dari posisinya.


"Apa yang kau rasakan?"


Haina meraba kepalanya. Ia merasa pusing.


"Sayang?" tanya lelaki itu lagi. Semakin gelisah saat menyadari Haina berkeringat sangat banyak, seperti saat beberapa kali ia bertemu Tamara.


"Kepalaku pusing" sahut Haina.


Tuan Muda Harly memucat. Bagaimana kalau Haina trauma padanya? Mengingat malam pertama mereka yang menyakitkan bagi wanitanya, bukankah hal itu mungkin? Panik! Ia semakin panik.


*


tbc.


__ADS_1


__ADS_2