
Pelukan sang suami terasa erat dan hangat. Tapi rasa sakit di hati Haina malah makin menjadi. Setetes air mata turun tanpa permisi. Jemari sigap mengusap cairan kesedihan itu.
"Kau tidak rindu padaku?" Tuan Muda Harly semakin mendekap erat istrinya.
Lelaki itu bersikap biasa seolah tidak ada yang terjadi dan itu membuat Haina jengah. Tadinya ia berusaha tidak peduli. Tapi diperlakukan seperti ini malah membuatnya semakin mempertanyakan hubungan mereka.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" katanya.
"Tanyakan!" Tuan Muda Harly menyandarkan dagunya dibahu Haina dan mengendus aroma istrinya yang wangi dan menenangkan.
"Berapa lama aku harus membayar utangku dengan cara ini?" tanyanya dengan suara pelan.
Seketika Tuan Muda Harly melepas pelukannya. Ia menarik bahu gadis itu dan memutarnya membuat mereka saling berhadapan. Pandangan matanya lekat meraba pikiran gadis itu.
"Kenapa bertanya kalau kau sudah tahu dan sadar telah menyerahkan seluruh hidupmu padaku" sungguh jawaban yang tidak Haina duga sekaligus ia benci.
"Aku..."
"Kau milikku kau tahu itu!"
"Kau tidak mencintaiku. Jadi kalau kau ingin bermain denganku sampai kau bosan dan akhirnya kembali pada kekasihmu kuharap kau memberi tahu lebih awal. Dengan begitu aku bisa mempersiapkan diriku...aku...."
"Kau pikir berapa lama waktu yang harus dihabiskan untuk membayar utangmu itu?" senyum smirk terbit diwajah tampannya. Ia mencengkram bahu gadis itu dengan tatapan lebih intens, "Harusnya kau tidak bertanya jika sudah tahu jawabannya"
Haina tak mampu menjawab. Lagi - lagi ia tak berkutik kalau sudah membahas perjanjian itu. Benar, harusnya ia sadar diri tak perlu sakit hati. Harusnya ia tak berharap agar tak kecewa. Tapi ia sudha terlanjur menaruh hati pada suaminya sendiri.
"Jadi ini salahku?" tanyanya pada diri sendiri.
Tuan Muda Harly tersenyum mendapati istrinya yang pasrah. Ia memeluk tubuh itu.
Haina menagis. Untuk pertama kalinya meluapkan kesedihannya dalam pelukan lelaki itu. Lelaki yang menjadi awal dan akhir perjalanan kehidupan pernikahannya. Lelaki yang memegang erat tali kekang dilehernya.
Namun anehnya pelukan suaminya terasa nyaman dan menenangkan. Belaian dirambut panjangnya dan hangatnya pelukan itu membuatnya berhenti menangis. Ia mendongak dan menatap suaminya.
"Bagaimana dengannya?" setidaknya ia harus tahu jawaban dari pertanyaan ini.
"Jangan memikirkan hal lain yang akan membuatmu sakit hati. Dia urusanku dan kau tetap milikku selamanya!" ujarnya lalu merengkuh gadis itu kembali kepelukannya.
Haina tak percaya dengan apa yang didengarnya. Bukankah itu artinya lelaki itu menginginkan keduanya?
.
Keesokan harinya Tuan Muda Harly dijemput Ren cukup pagi. Padahal ini akhir pekan tapi ia berpakaian sangat rapi dengan setelan mahal warna abu muda.
Haina memasangkan dasi warna serupa dengan aksen garis - garis. Setelah selesai ia mengusap bahu suaminya seperti seorang ibu sehabis memakaikan baju pada anaknya. Ia tersenyum puas padahal setelan ini ia pilihkan asal saja tanpa pikir panjang.
"Memang dasarnya aku sudah tampan" ujar Tuan Muda Harly seolah membaca pikiran Haina.
Haina tersenyum malu.
"Kenapa dia bisa tahu apa yang kupikirkan?"
Tanpa aba - aba tanganya digenggam dengan erat. Tuan Muda Harly berjalan keluar dan Haina mengikutinya. Mereka sampai diruang tamu dimana Ren sudah menunggu.
"Selamat pagi tuan muda, nona" sapa Ren dengan wajah datarnya itu.
__ADS_1
Tuan Muda Harly melepaskan genggaman tangannya dan melirik Ren sesaat.
Sepertinya Ren paham arti lirikan itu. Jadi dia keluar lebih dulu dan menunggu dibalik pintu.
"Jun akan menjemputmu siang nanti. Kita bertemu nanti malam" katanya pada Haina. Seulas senyum terbit diwajahnya.
"Kemana?"
Tuan Muda Harly tidak menjawab dan malah menangkup wajah Haina dengan kedua telapak tangannya.
Cup!
Sebuah kecupan mendarat dibibir istrinya yang kaget karenanya. Haina mengalihkan pandangannya ke pintu apartemen, salah tingkah dengan ciuman mendadak itu.
Tuan Muda Harly tersenyum melihat wajah malu - malu istrinya yang memerah.
"Kenapa kau jadi menggemaskan?" ujarnya.
Mendengar itu Haina semakin salah tingkah. "Kenapa tiba - tiba romantis?" batinnya.
Haina berdehem menetralkan perasaannya sendiri. Ia memasang senyum diwajahnya.
"Pergilah, Ren menunggumu"
Tuan Muda Harly mengelus pipi Haina yang bersemu merah. Lalu mencium kening istrinya dengan lembut.
"Aku pergi" katanya lalu melepaskan tangannya dari wajah istrinya.
"Sampai jumpa nanti" balas Haina sambil mengantar suaminya ke pintu.
"Cukup Haina, jangan besar kepala!" ia memberi peringatan pada dirinya sendiri. Tapi tak dapat dipungkirinya perubahan tiba - tiba ini membuat hatinya bahagia seolah bunga - bunga bermekaran di dalam sana.
Siangnya Jun datang menjemput Haina ke apartemen.
"Kenapa merepotkan diri menjemputku? Aku kan bisa pergi dengan Stefi dan Bella" Haina muncul diruang tamu dengan pakaian casual.
"Ini adalah loyalitas tanpa batas, Nona" sahut Jun dengan senyum diplomatisnya.
"Mau kemana?"
Jun bergeser ke nakas di bekakang sofa dan mengambil sebuah kartu undangan disana. Itu adalah undangan perayaan hari jadi HB Humaity yang dikirim seorang kurir beberapa hari lalu.
"Jadi kau yang mengirimnya?" tanya Haina. Ia memang tidak tahu siapa pengirimnya.
"Bukan tapi Jiana" kata Jun. Ia berjalan dan membuka pintu. "Ayo kita pergi menghadiri undangan saingan cinta Anda" ajak Jun sambil memegang kenop pintu dan satu tangan lainnya mengambang diudara mempersilahkan nona muda itu mengkutinya.
"Saingan cinta apanya!" mood yang bagus sejak pagi tadi tiba - tiba berubah jadi buruk.
Mereka pun berangkat menaiki mobil Jun. Sementara kedua pengawal Haina mengikuti dari belakang.
Mobil berhenti di sebuah butik mewah yang Haina ingat pernah kesana dengan Pak Sun dulu.
"Apa kau ingin membelikanku pakaian? Kalau begitu kan tadi tinggal pilih yang ada dirumah, kau malah menyuruhku pakai baju santai" protes Haina pada Jun yang sudah membukakannya pintu.
"Kita harus memilih yang berbeda Nona"
__ADS_1
Sesampainya didalam Haina melongo melihat siapa yang menungguinya disana.
"Kak Ruhi!" serunya gembira, moodnya kembali baik.
Mereka berpelukan sesaat.
"Apa - apaan kau ini. Aku tidak menyangka Tuan Jun menjemput aku langsung dan lebih kaget lagi bertemu kau disini" curhat Ruhi sambil menggandeng lengan Haina. Ia tersenyum malu - malu saat melirik Jun yang berdiri gagah disana.
Haina meminta penjelasan pada Jun lewat sorot matanya.
"Oh, begini... aku punya dua undangan acara HB Humaity jadi mengajakmu ikuy denganku. Tapi nanti aku akan sibuk mengurus keperluan Tuan Muda Harly jadi sebaiknya kau ditemani sahabatmu ini" mendadak Jun bersikap sok akrab. Ia lupa menceritakan kronologi bagaimana Ruhi bisa jadi teman Haina untuk ke pesta perayaan nanti.
Akhirnya Haina mengangguk menherti setelah beberapa saat. Ternyata Jun mengakui Haina sebagai sepupunya.
"Kenapa waktu itu kau tidak bilang dia sepupumu? Aku pikir dia kekasihmu, aku sempat patah hati tahu. Aku sudah menyukainya dari lama" bisik Ruhi.
Haina tertawa saja menanggapi hal itu.
"Jadi karena hal itu kakak tidak jadi menghubungiku?"
Obrolan mereka terus berlanjut sambil memilik gaun yang akan mereka pakai. Setelah memilih dengan beberapa perdebatan antara Haina, Jun dan seorang fashion stailys akhirnya kedua gadis itu selesai juga berpakaian dan kini sedang di dandani oleh penata rias.
Jun mendatangkan penata rias terkenal . Ia ingin Haina tampil memukau ke pesta nanti.
"Kau pasti akan menghadiri pesta sama sepertiku" kata seorang wanita yang tiba - tiba masuk keruangan itu.
Haina dan Ruhi kompak menoleh ke arah sumber suara.
"Jo...Jovanka?" Ruhi yang adalah seorang penggemar merasa sangat beruntung hari ini.
Ia dan Jovanka berfoto bersama sebelum akhirnya Ruhi pergi ke toilet. Bersamaan dengan itu sinpenata rias juga selesai dengan pekerjaanya. Jadi tinggallah Haina dan Jovanka diruangan.
"Selamat atas pernikahanmu" Jovanka terlihat tulus saat mengatakannya.
"Kau tahu siapa aku?" Haina masih was - was karena statusnya sebagai istri Tuan Muda Harly adalah rahasia.
"Ya, kau tenang saja. Aku ini pendukungmu" Jovanka tersenyum sambil menghampiri Haina yang masih dirias.
"Manfaatkan status dan semua yang bisa kau gunakan untuk menyingkirkan wanita itu" bisiknya di telinga Haina.
"Aku tidak tahu harus berkata apa padamu. Tapi kenapa kau mengataka itu padaku?" rasa penasaran jadi hinggap dipikiran Haina.
"Kenapa, ya? Mungkin karena aku sakit hati. Gara - gara dia aku tidak mendapatkan cinta pria pujaanku. Tapi kini Harly sudah punya istri aku yakin Jiana pasti tidak suka itu"
Haina tak tahu harus berkata apa. Dia memang tak tahu menahu tentang masa lalu Tuan Muda Harly.
"Aku pergi dulu. Managerku menunggu"
Jovanka berlalu dari ruangan itu.
"Dia sangat cantik dan anggun, yang sepertinya saja tidak bisa mengalahkan Jiana..." Haina menggelengkan kepalanya kuat - kuat. Ia tidak ingin rendah diri karena ia juga tak punya pilihan serta tak boleh berharap.
*
tbc.
__ADS_1
Halooo readers tolong bantu aku ya!Dengan like, komen, vote dan beri hadiahnya ya 😊😊😊