Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Wanita Gila


__ADS_3

DOR!


Rasanya suara letusan senjata api masih terus berdengung ditelinga. Tubuh bersimbah darah. Suara teriakan dimana - mana. Sirine mobil polisi bersahutan bersamaan sirine ambulance.


Petugas medis berseragam putih berlarian dari dalam IGD menjemput tubuh - tubuh yang bersimbah darah. Brangkar diturunkan dan langsung dibawa ke dalam ruang IGD.


Ditengah sibuknya petugas medis menangani korban luka tembak itu Tuan Muda Harly berdiri mematung. Tatapannya nanar menyisir seluruh ruangan. Mencari dimanakah tubuh wanitanya terbaring.


Satu demi satu gorden pembatas disingkap. Derap langkahnya cepat disertai deru napasnya yang menggebu.


"Haina!"


Gadis itu nampak pucat pasi terbaring di sebuah brangkar di sudut ruang. Matanya memejam dengan bekas lebam dibawahnya.


Tuan Muda Harly menggenggam tangan wanitanya seraya meraba wajah gadis itu dengan hati - hati.


"Sayang, ada apa denganmu?" lirihnya takut.


Suara langkah kaki berdatangan dengan cepat. Berdiri disisi brangkar, seorang dokter dan dua perawat segera menangani Haina.


"Apa istriku baik - baik saja? Kenapa dia tidak sadar?"


Lelaki itu enggan menyingkir dan terus menggenggam tangan wanitanya.


"Silakan Tuan tunggu diluar atau pekerjaan kami akan terganggu" seru salah seorang perawat.


Tuan Muda Harly melotot tajam. Bisa - bisanya ia diusir saat Haina membutuhkannya.


"Tuan, ayo kita menunggu diluar. Dokterlah yang dibutuhkan Nona saat ini bukan Anda" gumam Jun yang baru saja tiba.


Tapi Tuan Muda Harly hanya mundur beberapa langkah seraya mengamati sang istri yang diperiksa.


Jun tak punya pilihan lain selain menarik lengan Tuan Muda Harly. Membawanya keluar dari ruangan itu.


"Nona, pasti akan baik - baik saja. Kita harus mengurus kekacauan ini dulu, Tuan" Jun kemudian pergi meninggalkan tuannya.


Ia harus memeriksa keadaan Bella dan tersangka pemembakan yang juga dihadiahi timah panas oleh Bella.


"Bagaimana keadaanya?" Jun menanyai seorang perawat yang nampak keluar dari ruang operasi. Bella terkena dua tembakan di perut dan lengannya.


"Operasi masih berlangsung!" jawab perawat itu singkat lalu berjalan cepat melaksanakan tugasnya.

__ADS_1


Jun hanya bisa melihat pintu ruangan yang tertutup itu. Berdoa agar Bella selamat. Gadis pengawal itu telah bekerja keras menyelamatkan Haina dari penyanderaan si penculik. Berkatnya Haina tidak terluka parah, begitu tebakan Jun. Meski nona mudanya itu tidak sadarkan diri sekarang. Setidaknya tidak ada peluru bersarang ditibuhnya saat ini. Jun bisa sedikit tenang.


Diujung lorong Tuan Muda Harly muncul bersama dua anggota polisi. Mereka akhirnya ikut dengan polisi itu untuk dimintai keterangan.


Sampai tengah malam mereka masih menunggui di rumah sakit tanpa pergi barang sedetikpun. Tuan Muda Harly dapat bernapas lega saat dokter menjelaskan bahwa Haina hanya mengalami cedera dan syok ringan. Gadis itu mendapat jahitan di dahi. Dari bahu sampai ke lengan kiri dipasangi arm sling untuk menunjang bahu yang mengalami cedera.


Tuan Muda Harly menggenggam tangan Haina lembut. Ia masih terjaga memikirkan banyak hal.


Benarkah Tamara dalang dibalik penculikan Haina hari ini? Jika benar, motif apa yang mendasari tindakan krimanal wanita itu? Sampai saat ini ia bisa menyimpulkan dua opsi sebagai motif wanita itu. Pertama, dikarenakan cemburu buta pada perhatian Andreas terhadap Haina. Kedua, wanita itu ingin membalas dendam padanya? Atas campur tangannya kebobrokan para petinggi PT. Palma Jaya terbongkar hingga berujung pailit.


Opsi pertama mungkin saja. Berdasarkan laporan Toha, wanita itu tidak rela diceraikan Andreas. Ia masih berusaha rujuk kembali. Tamara sering tertangkap kamera cctv sedang mengintai Andreas yang mendatangi Restoramie. Mungkin saja wanita itu kelewat cemburu dan melampiaskan kekesalannya pada Haina. Bahkan ia juga tahu Tamara adalah pelaku bullying yang sangat parah terhadap Haina enam tahun lalu.


Sedangkap opsi kedua ia tidak begitu yakin. Hanya ia dan Jun yang tahu tentang hal itu. Semua dilakukan sangat rapi sampai tak ada celah bagi siapapun untuk menghetahuinya. Meskipun bisa saja kemungkinan itu yang terjadi, ia masih meragukannya. Tapi bila sampai benar maka ia merasa sangat bersalah pada Haina sekarang. Seandainya ia tak menghancurkan PT. Palma Jaya waktu itu, mungkin wanita itu tidak akan senekat ini.


Tapi bisa jadi opsi pertama dan kedua menjadi motif secara bersamaan. Bukan tidak mungkin bagi seseorang yang berkuasa untuk mencari tahu campur tangan Tuan Muda Harly dalam kehancuran PT. Palma Jaya.


Saat sedang asyik dengan renungannya jemari Haina dalam genggamannya bergerak menggelitik telapak tangannya.


"Akhirnya kau bangun, sayang."


Haina mengerjapkan mata saat pendar cahaya dari lampu tidur diruang rawatnya memasuki retina. Samar - samar ia mengenali ruangan itu sebagai ruang rawat pasien. Ia berada dirumah sakit sekarang.


"Syukurlah, terima kasih Tuhan."


membuka mata beberapa saat lalu. Seolah tak ada sisa tenaga ditubuh langsingnya. Ia menggapai tepian ranjang dengan tangan kanannya.


"Kenapa kenapa kenapa?" sang suami bertanya dengan panik. Mengira wanitanya kesakitan dan membutuhkan bantuan dokter. Ia pun sigap menekan tombol darurat kepala brangkar.


"Aku ingin duduk," sahut gadis itu lirih. Belum lama ia siuman tapi sudah ingin menegakkan badannya. Ia harus menanyakan banyak hal.


Bagaimana keadaan Bella? Pengawalnya itu tertembak tepat didepan matanya usai menghadiahkan timah panas pada penculik yang menyanderanya. Bella sempat lengah saat Haina terjatuh ke aspal. Rupanya si penculik bertato itu masih sadar dengan senjata api masih ditangannya. Menembak Bella membabi buta dengan sisa - sisa tenaganya saat Bella hendak memeriksa keadaan Haina.


"Jangan, sayang. Berbaring saja," Tuan Muda Harly menahan bahu Haina dengan lembut lalu mengatur sandaran punggung agar Haina dapat berbaring dengan nyaman dalam posisi setengah duduk.


"Bella baik - baik saja. Jangan khawatir sayang."


"Dia tertembak didepan mataku. Bagaimana aku tidak khawatir."


"Ya, aku tahu. Operasi pengangkatan peluru berjalan lancar. Bella akan segera sadar saat kondisinya mulai stabil. Besok mungkin ia akan siuman," terang Tuan Muda Harly dengan detail agar Haina tak terlalu kahwatir.


Haina mengela napas lega. Syukurlah Bella selamat. Jika tidak, ia akan merasa bersalah seumur hidup. Karena dirinya Bella tertembak, demi melindunginya. Ia merasa bodoh, andai saja ia tak terprovokasi pesan petaka itu semua tak akan jadi begini. Bella tak akan tertembak dan dua pengawal lainnya tak akan terluka karena kecerobohannya.

__ADS_1


"Bagaimana dengan pengawalku yang lain?"


"Mereka baik - baik saja. Jangan khawatirkan mereka. Sebaiknya kau jangan terlalu memikirkannya. Tidak ada yang lebih penting selain kesembuhannmu."


Haina menggeleng. Bagaimana lelaki itu bisa memintanya untuk tidak khawatir? Orang - orang terluka karena melindunginya. Sungguh ia merasa bersalah sekarang. Tapi bagi sang suami semua tidaklah penting selain keselamatannya. Apa keselamatan dan nyawa para pengawalnya tidak penting baginya? Haina sungguh tak terima dengan pemikiran sang suami.


"Aku hanya ingin kau cepat pulih sayang. Jangan teralalu banyak berpikir. Istirahat saja agar kau cepat pulih," bujuk lelaki itu untuk keksekian kalinya.


*


Keesokan harinya, Tuan Muda Harly dan Jun datang ke kantor polisi. Selain untuk menekan para penegak keadilan itu untuk mengusus tuntas penculikan terhadap Haina, mereka juga harus menemui Tamara.


Wanita itu sudah tertangkap sore kemarin. Toha menepati janjinya untuk tak membiarkan Tamara kabur dan melarikan diri.


Dibalik jeruji besi Tamara terduduk dilantai dengan wajah masam. Penampilannya acak - acakkan dengan rambut kusut dan pakaian yang robek dibeberapa bagian. Ia terus menyumpahi dua orang yang mengaku detektif pembela kebenaran yang menggagalkan niatnya melarikan diri.


Tuan Muda Harly menyungging senyum smirk melihat penampilan Tamara dibalik jeruji.


"Wanita ular! Aku akan membuatmu membayar perbuatanmu!" serunya dengan kedua tangan disaku.


Tamara seketika menoleh mendapati Tuan Muda Harly disana. Senyum mengejek lelaki itu menambah masam raut wajahnya.


"Kenapa Tuan Muda Harly yang terhormat malah datang kemari? Harusnya kau menjaga istri sialanmu itu sekarang. Sekarang jangan salahkan aku bila sesuatu yang lebih buruk mungkin segera terjadi. Hahaha...." Tamara masih duduk ditempatnya. Enggan menghampiri Tuan Muda Harly.


BRAK!


Tuan Muda Harly memukul jeruji besi dengan kedua tangannya. Menimbulkan bunyi keras yang berhasio mengusik Tamara.


Wanita itu bangkit dan mendekat.


"Kasihan sekali gadis nakalmu itu. Tapi itu memang pantas dia dapatkan. Siapa suruh jadi perempuan gatal!" tuturnya tanpa rasa bersalah.


"Kau..."


"Tuan!"


Belum sempat lelaki itu meneruskan kalimatnya. Jun datang dan membisikkan sesuatu yang membuat matanya melebar sempurna. Kedua tangannya mengepal erat. Rahangnya mengeras dengan gigi saling beradu kuat.


"Apa yanh kau lakukan pada istriku, wanita gila!"


"Hahaha...."

__ADS_1


*


tbc.


__ADS_2