
Malam ini, malam pertama mereka menginap di penthouse milik mereka di The Haina. Bukan hanya mereka yang menghabiskan malam disana. Keluarga Benjamin dan Pak Tanu juga menginap, menggunakan kamar lainnya di lantai berbeda. Grand Opening pun memberi kesempatan menginap gratis bagi kolega Benjamin Corp dan beberapa tamu ekslusif lainnya.
Seperti janji mereka sore tadi, malam ini akan dihabiskan dengan bertukar cerita. Mereka harus melakukan itu, saling mengutarakan isi hati. Haina tengah duduk ditepian kasur sembari mengoles krim malam dan menepuk - nepukkan ke kulit wajah. Sedang sang suami sibuk mengeringkan rambut dengan handuk, tipe yang tidak suka menggunakan hair dryer.
"Sudah selesai, sayang. Sekarang ayo berbaring," ajak lelaki itu. Ia sudah merebahkan tubuhnya diranjang super empuk.
Haina melirik dengan ekor mata lalu beringsut mendekat. Ia mengambil tangan kanan sang suami lalu merentangkannya. Dijadikan bantal kepalanya. Ia berbaring lalu memutar tubuh agar dapat memeluk suami tercinta.
"Jadi, bagaimana keadaan bayi kita?" Tuan Muda Harly membuka cerita.
"Delapan minggu, dia sehat dan tumbuh dengan baik. Sejauh ini aku tidak ada pantangan makan. Hanya saja, aku hanya berselera bila yang memasak adalah pria tampan. Apa menurutmu bayi kita perempuan?"
"Hah?" wajar saja kan Tuan Muda Harly menganga tak percaya. Membuat Haina terkekeh geli.
Haina ingat saat ia ditinggal pergi ke Australia. Ia kehilangan selera makan dan baru bisa makan lahap saat dimasakkan Ben. Di kafe dekat The Haina yang juru masaknya adalah seorang pemuda tampan bertato. Sejak itu ia hanya memesan makanan dari restauran dengan koki yang tampan.
"Ck! Itu sih, kau yang genit!" sanggah Tuan Muda Harly dengan ekspresi tidak sukanya.
"Kalau benar perempuan bagaimana?"
"Tidak masalah!"
"Tapi dia anak pertama dan anak seorang Tuan Muda Harly Benjamin?"
"Hmm, mari jangan pikirkan itu sekarang. Cukup jaga dirimu dan bayi kita," Tuan Muda Harly berkata demikian karena ia pun tak mempermasalahkan jenis kelamin anak.
__ADS_1
Haina tidak lagi membahas soal jenis kelamin anak. Meskipun ia punya sedikit perasaan cemas apabila keluarga Benjamin berharap bayi yang dikandungnya adalah bayi laki - laki. Untuk sekarang ia akan mengenyampingkan perasaan itu. Lagi pula ia tidak ingin janinnya terpengaruh apabila ia sendiri terus berharap bahwa janinnya berjenis kelamin laki - laki.
Mereka terus bercerita. Mebahas keikutsertaan Jiana dalam perjalan bisnis di Australia. Haina mendengarkan dengan seksama cerita sang suami, walaupun ia sudah mendengarnya juga dari Jiana. Bahwa pertemuan mereka hanyalah sebatas urusan bisnis semata.
"Lalu bagaimana Jiana bisa terlibat dengan kejutan kehamilanmu?"
"Ah, itu, aku minta bantuan Jun soal itu. Tidak kusangka dia langsung setuju," cerita Haina, bohong. Ya, gadis itu tentu tidak akan menceritakan yang sebenarnya. Bahwa ia dan Jiana bertemu tiga hari yang lalu. Lalu Haina sengaja menemui Jiana. Memanfaatkan kenangan bersejarah Jiana tentang pantai ini yang dulu sering ia kunjungi bersama Tuan Muda Harly.
"Lalu bagaimana dengan keributan di lobby perusahaan dengan Nenek?"
"Soal itu, seseorang mengirim fotomu dan Jiana padaku. Jadi, aku datang dan ingin penjelasan dari Jun. Tapi disana malah bertemu nenekmu," terang Haina. Ia bahkan akhirnya memanfaatkan foto - foto itu untuk mengerjai Tuan Muda Harly.
"Aku minta maaf soal itu. Aku juga tidak habis pikir mengapa nenek masih belum ikhlas dengan apa yang terjadi di masa lalu. Sekarang keegoisannya semakin menjadi, sudah banyak yang menderita karena dirinya. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Ayah bahkan sudah menyerah..."
Waktu berlalu, Tuan Utama menemukan jodohnya. Sanyangnya Melanie yang saat itu hanya gadis biasa dan merupakan seorang anak janda miskin tidak memuaskan standar Nyonya Ananta tentang seorang menantu yang pantas. Namun cinta sepasang sejoli itu akhirnya tetap terjalin sampai Tuan Muda Harly hadir ke dunia. Nyonya Ananta tidak pernah puas dengan menantunya dan sering kali menyiksa batin Melanie. Padahal setelah melahirkan Tuan Muda Harly, Melanie mengalami baby blues yang cukup parah, sedangkan sang suami harus menetap sementara di Australia demi memajukan bisnis. Ia hanya kembali sekali dalam beberapa bulan.
Sayangnya Nyonya Ananta memanfaatkan itu. Berpura - pura akan menjaga menantu dan cucunya, menahan mereka ditanah air. Tapi kenyataannya Melanie semakin dihancurkan mentalnya. Dipermalukan disetiap acara keluarga, dihina latar belakangnya dan dicerca karena tidak berpendidikan tinggi. Hal itu terus berlangsung tanpa ia bisa mengadu akibat muslihat ibu mertua.
Bagi Nyonya Ananta semua itu adalah bentuk pelampiasannya atas ketidakharmonisan rumah tangganya. Menjadikan menantu yang lemah sebagai sarana pelampiasan sakit hatinya. Lantaran sang suami enggan memperbaiki hubungan mereka.
Sampai peristiwa naas itu terjadi. Tuan Habibie, Nita dan Ben mengalami kecelakaan serius. Mengakibat Nita tewas di lokasi kejadian, Tuan Habibie mengalami koma karena perdarahan di otak dan juga cedera ditulang belakang. Namun Ben kecil baik - baik saja.
Saat itulah rangakian penderitaan terus bergulir silih berganti di keluarga konglomerat itu. Tuan Habibie yang hanya mengingat Nita setelah bangun dari komanya. Melupakan Nyonya Ananta smapai maut menjemputnya.
Kemudian Ben dikirim paksa ke luar negri bahkan saat ia masih diawal masa remajanya. Tuan Utama yang akhirnya kembali ke tanah air tak dapat mencegah kepergian adik bungsu dari ibu tirinya itu lantaran memperdulikan perasaan ibunya.
__ADS_1
Melanie hamil anak kedua saat Tuan Muda Harly berusia tujuh tahun. Namun belum sempat ia memberi tahu sang suami. Ia telah dijebak dengan sebuah fitnah besar, bahwa kehamilannya adalah buah perselingkuhan. Masalahnya mental Melanie sudah terlanjur dihancurkan sejak awal. Ia tak sanggup terus melanjutkan hidup dibawah tekanan mertua. Ia memilih pergi tanpa membawa Tuan Muda Harly kecil.
Dalam pelariannya ia jatuh sakit dan meninggal tak lama kemudian bersamaan dengan bayi yang dikandungnya. Tanpa suami dan anak disisinya. Semua itu meninggalkan luka mendalam bagi Tuan Utama serta putra mereka, Tuan Muda Harly. Kehilangan yang begitu besar tak dapat tergantikan dengan apapun. Penyesalan yang tak akan pernah ada obatnya.
Tuan Utama memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan. Ia jadi penggila kerja sepeninggal Melanie, tanpa sadar mengabaikan Tuan Muda Harly kecil yang butuh dirinya. Namun siapa sangka, Tuan Muda Harly kecil mampu mengatasi sepi dan kurangnya kasih sayang. Ia sedari kecil terbiasa melihat penderitaan orang - orang terdekatnya, sampai ia sendiri memaklumi semua yang terjadi. Menerima keadaan tanpa banyak protes meski ia merindukan kehangatan keluarga. Tapi ia bisa apa saat ia masih tak berdaya sebagai anak kecil dan hanya bisa bergantung pada pengawasan sang nenek.
Perlahan Nyonya Ananta mulai menunjukkan ambisinya untuk mengatur hidup Tuan Muda Harly. Mengekang dan membatasi hal - hal yang dianggap tak berguna, seperti hobi, teman dan juga kekasih. Hal itu terus terjadi tanpa dapat dicegah. Menjadikan masalah tak berkesudahan sampai hari ini.
"Aku tidak menyangka sepahit itu kisah keluarga ini," tutur Haina saat sang suami selesai bercerita. Haina ikut prihatin dan merasa bersedih atas apa yang menimpa sang suami.
Tuan Muda Harly semakin mengeratkan pelukan. Membagi sedikit perasaan sedihnya kepada sang istri. Mereka saling memeluk dan diam sesaat.
Haina mengelus rambut sang suami yang kini membenamkan wajah didadanya. Memberikan kenyamanan sebanyak yang ia bisa. Hanya itu yang dapat ia lakukan saat ini. Ia tahu dalam diamnya, sang suami menitikkan air mata. Menumpahkan luapan perasaan dari luka dimasa lalu.
"Aku benar - benar tidak ingin kehilanganmu. Sangat menyakitkan bila membayangkan...," tenggorokan lelaki itu tercekat.
"Tidak akan! Aku akan selalu bersamamu. Aku janji."
Tuan Muda Harly mengurai pelukan lalu segera mengakat kepala. Menciumi kening dan wajah sang istri penuh sayang.
"Terima kasih, masadepanku. Kau dan anak kita adalah segalanya bagiku."
*
tbc.
__ADS_1