
Sejak kata sayembara tercetus dari mulut Tuan Muda Harly, Jun pusing tujuh keliling. Padahal pekerjaannya menumpuk.
"Anda tidak bisa melakukan itu, Tuan. Bagaimana kalau keluarga Nona didesa melihat sayembara itu. Lalu menyadari kalau Nona hilang?" bujuk Jun dengan sabar.
Mereka memang mengatakan kepada Pak Tanu dan Bu Hayati bahwa Haina sering ikut Tuan Muda Harly dinas ke luar kota atau luar negri. Agar tidak curiga saat nomor ponsel Haina tidak aktif.
"Lagi pula kita tidak bisa menunda lagi kan? Alasan yang aku buat akan segera basi. Mereka akan curiga juga akhirnya!" rengek Tuan Muda Harly.
Jun terdiam dibuatnya.
"Saya harus memikirkannya dulu, Tuan" ujar Jun kemudian.
"Apa lagi yang kau pikirkan? Aku sudah mengambil keputusan, kenapa kau keberatan?"
"Bukannya begitu, Tuan. Kita hanya perlu memikirkan cara yang lebih baik dari itu" bujuk Jun sabar.
"Tidak ada cara yang lebih baik! Katamu semua detektif yang mencari Haina adalah yang terbaik dibidangnya. Tapi hasilnya nihil!" sanggah Tuan Muda Harly. Yakin dengan keputusannya.
"Tapi itu artinya Anda mengumumkan siapa istri Anda pada publik"
Tuan Muda Harly terdiam. Ia merenung cukup lama.
Jun geleng - geleng kepala melihat sorot mata Tuan Muda Harly yang memancarkan kegelisahan. Ia menghembuskan napas panjang dan bangkit dari kursi.
"Lebih baik saya pikirkan cara lain dulu, Tuan" gumam Jun sembari merapikan kembali kursi ke tempatnya.
Tuan Muda Harly masih duduk dengan diam. Mencerna ucapan Jun tadi.
Jika ia melanjutkan rencananya. Identitas Haina sebagai nona muda keluarga Benjamin akan terungkap. Ia tidak mau itu terjadi. Ia harus memikirkan ulang resiko yang mungkin timbul.
Melihat tuan mudanya yang tidak lagi merespon, Jun pamit kembali ke ruangannya.
"Kalau Nona tidak keras kapala ingin bercerai, aku tidak perlu berada disituasi ini" gumamnya saat mendudukkan diri dikursi kerjanya.
Sejujurnya ia tidak tega melihat Tuan Muda Harly yang merana. Mengira bahwa istrinya pergi jauh dan bersembunyi entah dimana. Dua bulan bukan waktu yang sebentar. Bagi Tuan Muda Harly yang super power menemukan seseorang adalah perkara gampang. Hanya saja, selama dua bulan itu pula lusinan orangnya tak mampu menemukan keberadaan Haina. Jun yakin tak lama lagi Tuan Muda Harly akan curiga juga. Bahwa ada campur tangan pihak lain yang membuat kabur kenyataan yang sebenarnya.
"Apa mereka berdua harus bertemu lagi dengan cara ini?" gumamnya lagi.
Kalau dipikir - pikir. Bukankah ia memang berniat membuat sepasang suami istri itu kembali bersatu?
__ADS_1
Hanya saja saat ini Haina berkeras tidak mau bertemu Tuan Muda Harly. Tekadnya bulat minta cerai. Bahkan surat gugatan cerai dari pengadilan sudah dititipkan pada Jun.
Tentu saja Jun belum dapat menyerahkan surat itu karena situasi yang ia buat sendiri beberapa waktu lalu.
FLASH BACK
Siang itu di Beniq Bakery. Jun mampir usai mendapat telepon dari Haina. Kebetulan ia juga sedang berada diluar.
"Aku sudah yakin dengan keputusanku! Katakan kalau kau sudah menemukan aku. Aku akan segera mengurus surat gugatan ceraiku!" tutur Haina saat selesai mengunci mesin kasir. Ia akan berganti sift dengan Sora.
Jun mendesah keras. Sudah terbayang didepan mata, apa yang akan terjadi jika ia menyampaikan berita ini pada Tuan Muda Harly.
Jadi Jun memutuskan akan menunda dulu memberi tahu Tuan Muda Harly.
"Apa tidak bisa dipikirkan lagi, Nona?" bujuk Jun.
"Tidak!" Tolah Haina tegas.
"Ayolah, Nona" rengek Jun memelas.
"Bukankah kau sendiri yang mengingatkan aku tentang pasal terakhir dalam perjanjian itu? Aku bisa menggugat cerai pihak pertama tanpa satu halanganpun. Semua hutangku dianggap lunas saat kekerasan dalam rumah tangga terjadi. Aku juga punya bukti visum. Jadi, dia bisa apa?" Haina merasa diatas angin.
"Beri tahu dia, tapi jangan katakan padanya keberadaanku. Sebelum dia menandatangani surat yang kusiapkan nanti, jangan sampai kami bertemu" ujar Haina sebelum akhirnya naik ke lantai dua.
Maka Jun tidak punya pilihan lain selain tetap menyembunyikan keberadaan Haina. Sembari terus berusaha membujuk gadis itu agar membatalkan niatnya, ia juga tidak akan memberitahu tentang niat Haina yang ingin bercerai pada Tuan Muda Harly.
FLASH BACK OFF
Jun memijat pangkal hidunganya. Beban kerjanya sudah banyak, ditambah lagi mengurusi persoalan rumah tangga orang lain. Semakin panas saja otaknya.
"Baiklah. Akan kupikirkan cara amannya nanti" simpul Jun akhirnya.
Bagaimana pun dua orang itu pasti akan bertemu juga. Toh, mereka masih suami istri sekarang. Itu artinya masih ada kesempatan, bukan?
Untuk itu Jun akan menyiapkan sebuah skenario lanjutan.
*
Tuan Muda Harly melangkah gontai memasuki unit apartemennya. Begitu sandi ditekan, ia menghela napas panjang.
__ADS_1
Haina sedang berada didapur. Sisa aroma masakan masih tercium dari arah dapur.
Gadis itu segera melepas celemeknya saat sang suami sampai dirumah. Mendekati sambil memasang senyum tipis. Lalu mengambil alih tas kerja dari tangan suaminya.
Dengan patuh mengkuti sampai ke ruang ganti. Melepaskan jas, dasi dan kemeja dari tubuh Tuan Muda Harly. Lalu mereka makan malam bersama dengan menu makan malam lezat yang menggugah selera.
Setelahnya, Haina membuatkan teh herbal atau kopi lalu menghidangkannya bersama roti atau biskuit yang ia buat sendiri. Mereka menghabiskan waktu sebentar di depan televisi. Meskipun hanya Haina yang menonton.
Mereka pergi tidur setelah cukup mengantuk. Ia akan tidur dengan memeluk tubuh harum istrinya. Mencium aroma manis dari tubuh itu, lalu memejamkan mata dengan mudahnya.
"Aku melihatmu lagi" gumam Tuan Muda Harly saat sudah sampai diatas ranjang.
"Kenapa aku baru sadar kau secantik itu?"
"Aku rindu, sangat merindukanmu"
"Kau selalu muncul, tapi menghilang setelahnya"
"Aku tidak tahu akan sesulit ini tanpamu"
Perlahan pelupuk matanya berair. Ia menutupinya dengan lengan dan mencoba menahan cairan bening itu. Perasaan kehilangan semakin dalam. Rindunya semakin menggebu. Setiap sudut ruangan di apartemen ini menampilkan bayangan Haina. Ia ingin memeluknya. Namun sayang itu hanya ilusi.
"Ternyata rindu itu berat" gumamnya lirih.
Kini hanya sesak didadanya. Tidak ada lagi aroma manis milik Haina yang akan memberi ketenangan. Sendirian, melewati malam demi malam dengan perasaan campur aduk.
Ia terlambat menyadari bahwa cinta sudah hadir dihatinya. Betapa bodohnya dirinya, sekarang barulah ia tahu.
Semua sudah dicerna dipikirannya dengan baik. Tentang perasaannya pada Jiana yang sebenarnya telah lama pudar, yang ada hanya ingatan kebahagian dari percintaan mereka dulu. Serta harapan dari masalalu tentang hubungan mereka.
Ia ingat saat mengambil keputusan dalam menikahi Haina. Tidak ada keraguan pada saat itu. Ia hanya terus melangkah, mencari kepuasan diri. Menunjukan bahwa ialah yang berhak mengatur hidupnya sendiri. Meski cara yang ia tempuh malam membuat keadaan menjadi semakin rumit. Namun, sama sekali tak ada sesal dengan keputusan itu.
"Aku akan menemukanmu, bagaimanapun caranya. Tunggulah!"
*
tbc.
__ADS_1