Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Sensitif


__ADS_3

Diseberang benua sana seorang lelaki tengah mengumpat tiada henti sesaat setelah menerima panggilan telepon dari sang asisten. Menghentakkan kaki berkali - kali lalu melempar satu demi satu pakaian yanh ditanggalkan dengan kasar dari tubuh kekarnya. Siapa lagi kalau bukan Tuan Muda Harly. Si suami durjana yang seolah hilang ditelan bumi saat istri sendiri dihina dan dipermalukan di depan umum.


"Ah! Sialan! Benar - benar bodoh!"


"Menghadapi nenek tua saja tidak bisa!"


"Percuma bayar mahal!"


Perlahan emosinya surut juga saat tubuhnya mulai nyaman dalam genangan air hangat dalam bathtube. Sensasi menenangkan ikut ditambah oleh lilin aroma terapi yang sudah dinyalakan sebelumnya. Ditambah pemandangan dari ketinggian kota Melbourn dimalam hari, terlihat indah dalam gemerlap dibalik dinding kaca.


Ah! Nyaman sekali. Sedikit meringankan beban pikirian tuan muda yang sedang membasuh tubuh.


Tapi tiba - tiba ia teringat lagi akan sang istri yang sengaja kabur dari pengawasannya.


"Kemana kau kabur kali ini?"


"Aku pasti akan menemukanmu!"


Ceklek! Suara pintu dibuka membuatnya menoleh ke kanan. Seorang wanita cantik berdiri sambil memegang botol wine berikut gelasnya ditangan. Ya, Jiana Amanda, tersenyum cantik kearahnya.


"Ayo kita rayakan malam ini!" serunya diambang pintu.


"Aku sedang mandi, kenapa kau masuk?"


"Hmmm...baiklah. Kutunggu, jangan lama!"


BLAMP!


Pintu dibanting kasar menggunakan kaki jenjang wanita itu. Tuan Muda Harly menggeleng melihat kelakuan Jiana yang masih sama seperti dulu. Penuh percaya diri dan karismatik bahkan pada saat seperti ini sekalipun.


Ia meraih ponsel yang diletakkan dimeja kecil disebelah bathtube lalu mendial sebuah nomor.


"Halo! Ini aku."


*


Hari kemarin terasa melelahkan, menyisakan setumpuk kekesalan sampai hari ini.


Haina berbaring sambil memeluk guling. Enggan sekali meninggalkan ranjang empuk miliknya. Eh, bukan! Renjang empuk di lantai dua Beniq Bakery, toko kue warisan ibu Ben. Ya, bukannya pulang ke apartemen Haina malah memilih mengungsi ke kamar lamanya di lantai dua Beniq Bakery, tempat pelariannya dulu.


Matahari hampir mencapai puncaknya, tapi ia masih ingin berlama - lama diatas ranjang. Tanpa peduli pada ponselnya yang terus bergetar. Ia mendengarnya tapi memilih tidak peduli. Sejak berpisah dengan Jun dan Steffi ia mematikannya, baru sejam yang lalu kembali menyala.


"Berisik sekali!" gumamnya, lalu menimpuk ponsel yang tergeletak dikarpet bulu dengan bantal. Sampai bunyi getaran itu teredam nyaris sempurna. Ia bahkan tidak berniat mengangkat satu panggilanpun. Sekedar mengecek nama penelepon saja ia enggan.


Gadis itu menggeliat. Getar ponsel sudah tidak mengganggunya kali ini berkat bantal itu. Tapi mendadak ia kehilangan minat untuk tetap rebahan diatas ranjang. Ia putuskan untuk mandi dan turun kebawah.


"Jam segini pasti kue dan roti buatan Rion sudah mulai dipajang dietalase."


Aroma manis khas butter menyambut saat Haina membuka pintu kaca. Tanpa menunggu lagi ia segera menghampiri etalase dan mengambil baki kue serta capit. Menyeleksi aneka kue dan meletakkan hasilnya dinampan.


Ia beranjak ke meja panjang di pojok ruangan tempat Rion sedang menata hasil panggangan kastangel.


"Astaga! Nona muda. Kenapa malah mukbang roti dipagi hari. Haruskah saya menyiapkan sarapan bergizi lain? Akan saya panggilkan koki sekarang!" celetuk Rion dengan senyum renyah.


Haina terkekeh. Sedikit terhibur dengan banyolan Rion. Patissier Beniq Bakery itu nampak ceria seperti biasa. Tak sekalipun membahas skandal videonya sejak ia tiba siang kemarin. Mungkin dia memilih mengabaikan dan tidak peduli, yang jelas senyumnya nampak tulus.


"Jadi, kau akan tinggal di atas mulai sekarang?" suara Ben terdengar dari arah dapur.


Lelaki itu tampak melenggang dengan celemek dan topi diatas kepala.

__ADS_1


"Cocok, paman," puji Haina usai memindai penampilan Ben.


"Sebaiknya pikir ulang. Keponakanku tersayang tak henti meneror ponselku sejak semalam. Aku sampai sulit tidur!" gerutu Ben. Ia menghenyakkan bokong disebelah Haina lalu mencomot satu croissant dari nampan gadis itu.


"Kenapa paman malah membuat kue disini dan bukannya pergi ke kantor?" kilah Haina. Ben memang menjabat CEO Benjamin Exporta.


"Aku akan mengundurkan diri mulai besok. Jadi, kapan kau akan kembali ke apartemenmu?"


"Kenapa mengundurkan diri? Apa rekening paman sudah tidak mampu menampung banyaknya uang?" celetuk Haina polos lalu memasukkan potongan croissant ke mulut.


"Harly ingin kau segera pulang. Dia mencemaskanmu!" Ben berseru setelah tidak kunjung ditanggapi serius oleh Haina. "Setidaknya angkatlah telepon darinya!"


Haina mendorong nampan menjauh dari hadapannya. Mengelap sisa remahan kue dibibir lalu melempar tisu ke atas meja.


Cih! Mencemaskanku? Serius? Omong kosong!


"Kalau Paman masih cerewet juga, aku mogok makan!" seru Haina lalu bangkit dan beranjak pergi.


"Astaga! Astaga! Lihat gadis itu. Kemarin wajahnya sendu dan mendung sekali tapi hari ini berani dan angkuh sekali!" Ben geleng - geleng tak percaya melihat tingkah Haina yang lain dari biasanya itu.


Biasanya gadis itu selalu terlihat lembut dan bertingkah dewasa. Hari ini berbeda, menampakkan sisi lain yang baru pertama dilihatnya.


"Mungkin sedang dalam mode merajuk Tuan. Wanita!" gumam Rion yang tadinya itut tercengang.


Haina kembali dan mentatap tajam ke arah dua lelaki itu. Membuat Ben dan Rion menoleh bersamaan saat bunyi bell pintu terdengar.


"Kalau ada yang mencariku katakan aku tidak ada!" seru Haina lalu segera hengkang tanpa menunggu jawaban.


"Hahaha...persis seseorang. Dia pandai membuatku jengkel sekarang!" ujar Ben.


Sementara itu dilantai dua, diruangan kamar itu Haina mengusap perut. Ia masih merasa lapar, lapar sekali. Sayang egonya menuntutnya pergi dari toko kue itu. Padahal ia juga tidak makan kemarin malam dan melewatkan sarapan pagi tadi.


"Aku bisa pesan makanan ke Restoramie!" serunya senang. Ada banyak menu kesukaannya di Restoramie. Mendadak selera makannya menggebu sekarang. Segera saja ia meraih ponsel dilantai lalu mengirimi pesan pada Alya, agar pesanannya cepat sampai.


Hampir dua jam menunggu, pesanan makanan belum juga datang. Sedang perutnya sudah meronta minta diisi, terbukti dari bunyi khas perut orang lapar yang terus bersenandung memberi signal.


"Lama sekali!" keluhnya seraya mengecek penunjuk waktu di ponsel.


Sudah hampir pukul dua siang rupanya, pantaslah ia begitu kelaparan. Beberapa potong kue dan roti yang dimakannya tadi sudah tak mampu memberinya energi. Sampai tungkainya terasa lemas.


Haina mencoba menelepon ke Restoramie pada akhirnya.


Tok! Tok! Tok!


"Kak! Buka pintunya!"


Haina seketika memfokuskan pendengaran saat samar - samar suara yang sangat ia kenali dari balik pintu.


"Kak! Ini aku, Hagi."


Tidak salah tebakan Haina. Itu Hagi adiknya.


"Kenapa kau bisa ada disini? Bukannya harusnya sekolah sekarang? Kau bolos?" cecar Haina saat wajah Hagi terpampang dibalik pintu.


Hagi mengedikkan bahu dengan wajah datar. Melihat kakaknya baik - baik saja cemas yang sempat ia rasa sepanjang perjalanan seketika surut. Ia segera masuk tanpa menjawab. Menghempaskan tubuhnya di sofa dekat jendela. Lelah karena buru - buru datang dari kota sebelah, tempatnya menuntut ilmu.


"Cepat jawab!" Haina berkacak pinggang menghampiri Hagi yang rebahan santai di sofa. Lapar membuatnya lebih sensitif.


"Tuan muda arogan itu menelepon aku. Bilang kalau kakak merajuk karena dia terlambat pulang. Jadi dia menyuruhku memastikan keadaan kakak!" terang Hagi, kali ini ia mengubah posisi jadi menyamping dan menopang kepala dengan satu tangan.

__ADS_1


Hah! Berlagak perhatian dengan mengirim Hagi kesini? Apa dia juga bilang kalau pergi dan bermesraan dengan mantan kekasihnya disana?!


Ting tong!


Kali ini suara bel terdengar. Haina menyuruh Hagi membuka lewat isyarat mata. Remaja lelaki itu segera turun dari sofa dan membuka pintu. Ia kembali dengan banyak tentengan dikedua tangan. Rupanya pesanan makanan Haina telah datang.


"Ayo letakkan semua di meja!" seru Haina sambil berjalan ke arah kitchen set di seberang meja makan. Sudah tidak sabar segera menyalin semua makanan itu ke perutnya yang keroncongan.


Begitu Hagi membuka satu demi satu kotak berlogo RR itu aroma aneka makanan tercium nikmat dihidungnya. Tapi lain hal dengan Haina.


"Unghh...Hueekkk!"


"Loh, Kakak kenapa?"


Haina semakin menutup rapat lubang hidungnya dengan satu tangan. Sedang satu tangan lainnya meraba perut yang terasa bergejolak.


Haina tak tahan lagi. Ia segera menuju kamar mandi dan memuntahkan apa saja yang bisa ia keluarkan.


"Kak!" pekik Hagi saat melihat Haina muntah - muntah dikamar mandi.


"Perutku sakit!"


Setelah membersihkan mulutnya gadis itu segera berbaring di ranjang.


Hagi sudah menyimpan semua makanan itu di kulkas kecil yang tersedia dekat meja makan. Ia begitu sigap dan telaten menangani orang sakit. Ia tak kesulitan untuk menemukan minyak angin dan beberapa obat yang mungkin dibutuhkan kakaknya. Sebuah kotak obat tersedia disudut kamar, tergantung rapi disana.


"Apa perlu ke dokter?" tanya Hagi sembari menyodorkan minyak angin.


Haina menggeleng lemah dan meraih minyak angin. Membalurkan cukup banyak ke kulit perutnya yang tertutup kaos.


Ia memang sensitif dengan bebauan saat magh menyerang. Aroma menyengat makanan dapat membuat rasa mualnya menjadi.


Namun kali ini cukup parah sampai membuatnya hilang nafsu makan seketika. Jadi ia terpkasa menelan satu pil obag magh.


"Tuan muda arogan itu pasti marah kalau tahu kakak sakit begini. Apa kakak ingin bubur?"


"Tidak," sahut Haina lirih.


"Lalu Kakak ingin makan apa? Soto? Sate?"


Haina hanya menggeleng.


"Mie instan?" pancing Hagi. Mie instan salah satu kesukaan sang kakak.


"Tidak mau..."


"Lalu apa?"


"Rujak sepertinya enak!"


"Jangan bercanda! Magh kambuh malah minta rujak." Hagi bersungut - sungut menolak permintaan kakaknya itu.


Tapi sedetik kemudian ia terkejut saat kedua bola mata Haina berkaca - kaca lalu menumpahkan tetes air mata.


"Kena-..."


"Tidak ada yang mengerti dan menuruti keinginanku. Aku hanya ingin rujak kenapa kau malah menceramahiku...huaaa...."


Hagi kebingungan mendapati kakaknya yang tiba - tiba berubah cengeng.

__ADS_1


"Sensitif sekali..." gumamnya pelan.


__ADS_2