
Sejak salah paham itu terjadi Tuan Muda Harly belum sekalipun berhasil menemui istrinya itu. Siang ini ia malah menemukan surat dari pegadilan, perihal perceraian yang pernah diungkit Haina.
"Ah! Sial. Dia benar - benar serius" gumam lelaki itu saat membaca sekilas surat dalam amplop coklat itu.
Kalau sudah begini. Ia harus mengeluarkan segala cara, jurus apapun agar tak kehilangan istrinya. Termasuk menggunakan uang dan kekuasaanya.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" seru tuan muda itu sambil berjalan ke tepi ruangan.
Jun masuk segera setelahnya.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya Jun. Pasalnya ia hanya disuruh datang.
Tuan Muda Harly menghidupkan mesin penghancur kertas kemudian memanggil Jun agar mendekat dengan isyarat tangan.
Jun segera memposisikan diri satu langkah disamping tuannya.
"Surat panggilan dari pengadilan?" gumam Jun sambil melirik takut - takut pada Tuan Muda Harly.
"Rupanya istriku ini sangat serius. Tapi dia tidak tahu kalau aku benar - benar serius dengan pernikahan ini" gumam Tuan Muda Harly.
Ia menarik lembaran kertas dari amplop lalu memasukkannya ke mesin penghancur kertas. Seketika kertas itu hancur menjadi serpihan kecil. Tuan Muda Harly tersenyum tipis, lalu menatap Jun lekat.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan setelah ini, bukan?" tanyanya.
Jun terdiam sesaat. Kemudian mengangguk pelan.
"Tentu, Tuan. Akan saya urus secepatnya" sahut Jun mantap.
Tuan Muda Harly menatap jauh ke balik dinding kaca. Seolah dapat melihat sang istri dari kejauhan. Ia mengukir senyum lalu menggumamkan nama sang istri.
"Sangat rindu" gumamnya mengakhiri sesi melankolis siang ini. Ia kemudian kembali ke mejanya dan menyibukkan diri. Begitu pula Jun, segera kembali ke ruangannya.
*
Hari berlalu begitu cepat bagi orang - orang yang sibuk. Haina dan seisi restaurant termasuk kedalamnya. Setiap hari sibuk melaksakan tugas sepenuh hati demi menyenangkan perut para pengunjung.
Pagi ini Haina sedang memantau pasokan bahan baku yang sedang proses bongkar. Seafood, daging merah dan putih, mie mentah, sayuran dan aneka bumbu bergantian masuk diantar pihak suplier yang datang bersamaan. Bahan - bahan itu dimasukkan ke dapur melalui pintu belakang restauran.
"Kualitas seafood Pak Gun memang terbaik!"puji Haina saat mengecek box sterofoam besar berisi udang segar.
"Haina! Kesinilah!" seru Alya dari arah tengah restauran.
Haina menoleh dan segera menyahuti. Mencuci tangannya sesaat lalu memanggil Alya.
"Kak!"
Alya datang dan berhenti di ambang pintu.
"Keluarlah, biar aku disini" ujar Alya.
"Ada apa sesuatu diluar?" seilidik Haina. Pasalnya beberapa hari ini Tuan Muda Harly sibuk mengirimi hadiah atau datang mencarinya.
"Jangan khawatir, yang ini pasti kau senang" sahut Alya sambil tersenyum usil.
Haina membalas tersenyum. Melenggang pergi ke bagian depan restaurant.
"Ayah! Ibu!" seru Haina kegirangan.
Tak ada angin tak ada hujan, kedua orang tuanya datang memberi kejutan.
"Kemarilah, Nak" gumam sang ibu.
Mereka berpelukan erat. Sungguh lama sekali mereka tidak bertemu.
__ADS_1
Bu Hayati menelisik keadaan anak gadisnya yang sudah tak gadis lagi itu dari ujung kaki sampai ujung kepala. Menatap haru sang putri yang beberapa waktu ini tak bisa ia jumpai.
"Anak ibu semakin cantik!" ungkap Bu Hayati dengan senyuman.
Haina terkekeh geli. Ia segera mengajak Ayah dan Ibunya duduk ditempat ternyaman di restauran. Masih pagi sehingga tak ada meja terisi.
Haina memilih meja dekat jendela. Lalu memanggil seorang pelayan agar menyuguhkan makanan dan minuman.
"Restaurantnya sangat bagus, Ayah tidak menyangka anak ayah bisa mengelola restauran sebagus dan sebesar ini" ungkap Pak Tanu dengan mata berbinar, menyaksikan setiap detail sejauh mata memandang.
"Iya yah. Semua berkat teman - temanku, Yah!" sahut Haina.
"Kamu beruntung, Nak" balas sang ibu pula.
"Bagaimana Ayah dan Ibu bisa datang kesini?" Haina baru tersadar akan hal itu. Jarak desa mereka ke ibukota terbilang jauh, memakan waktu hampir empat jam dengan jalur darat.
Pak Tanu dan Bu Hayati saling pandang kemudian mengulas senyum.
"Suamimu yang membawa kami kemari" terang sang ayah.
Haina terkejut. Tidak menyangka dengan jawaban sang ayah. Bagaimana bisa?
"Menantu sendiri yang menjemput kami kemarin. Mengantarkan kami ke hotel. Katanya kamu sedang menginap di rumah teman, membahas pekerjaan. Jadi kami menginap di hotel dulu karena menantu sendirian di apartemen" terang Bu Hayati pula.
Haina tak berkedip mendengar penjelasan sang ibu. Ini di luar dugaannya.
"Menantu bilang, anak ayah sangat sibuk dengan usaha baru ini. Jadi belum sempat bertemu, pun kamu tidak bisa ikut kemarin" sahut Pak Tanu pula.
Astaga! Luar biasa! Pandai sekali dia bercerita.
Haina membatin tanpa menunjukkan perasaan sebenarnya. Ia hanya mampu tersenyum menanggapi cerita itu.
Eh, tapi kenapa Ayah dan Ibu memanggil dan menyebutnya seakrab itu?
"Sebenarnya apa yang ayah dan ibu bicarakan dengannya kemarin?"
"Emmh...maksudku Harly cerita apa saja?" selidik Haina hati - hati.
Pak Tanu mengulas senyum sendu lalu mengelus bahu sang istri.
"Suamimu, dia menyesali semuanya..."
DEG!
Jantung Haina berdebar kencang. Seketika tubuhnya menegang. Ia takut suaminya itu menceritakan yang sebenarnya. Apalagi tentang perceraian mereka. Haina tidak sanggup membayangkan bagaimana reaksi kedua orang tuanya. Karena sampai detik ini ia terus menyembunyikan kenyataan. Selalu menceritakan yang baik - baik saja. Tak pernah sekalipun ia mengeluhkan apa pun. Ia selalu berusaha ceria setiap kali bertelepon dengan ayah dan ibunya. Semua itu demi menjaga perasaan kedua orang tuanya. Agar tak ada lagi rasa bersalah di hati sang ibu. Tak ada lagi penyesalan bagi sang ayah. Ia harus terlihat bahagia.
"Dia sengaja datang menemui kami. Meminta maaf atas semua yang telah terjadi..."
DEG!
DEG!
DEG!
Dasar licik! Apa dia berusaha memanfaatkan keadaan keluargaku untuk menekanku?
Rasanya gemuruh didadanya semakin menjadi. Membuat perut terasa mulas, saat katakutannya segera nyata didepan mata.
"Menantu sangat ingin memperbaiki semua..."
"Dia ingin kamu juga memaafkannya..."
Sungguh, wajah Haina pasti sudah pucat sekarang. Keringat dingin mulai membasahi kedua telapak tangannya. Dengan gemetar ia berusaha menyembunyikan perasaannya.
Tapi dihadapan sang ibu, Haina gagal berakting. Senyum dan tatapan matanya mampu dibaca oleh wanita yang sudah melahirkannya itu.
__ADS_1
Bu Hatayi menggenggam tangannya erat. Mengusap punggung anak gadisnya itu.
"Kamu baik - baik saja, Nak? Tanganmu berkeringat" ujar sang ibu yang duduk disampingnya.
DEG!
Lagi, debaran jantungnya terasa semakin heboh.
"Eh, oh... iya baik. Lalu bagaimana kelanjutannya, Ayah?" tanya Haina mengalihkan perhatian sang ibu.
Wajah Pak Tanu terlihat semakin serius. Dengan kedua tanganya saling menggenggam di atas meja, ia sedikit mencondongkan badannya.
"Menantu bilang, ingin memulai semua dari awal. Jadi dia ingin kamu melupakan niatmu untuk ber...."
Haina tak tahan lagi. Rasanya keringat dingin juga membasahi punggungnya sekarang. Ia ingin menyudahi pembahasan ini. Melihat wajah sendu sang ibu semakin membuat perutnya mulas.
"Aduh! Yah, Bu. Aku ingin ke toilet dulu" celetuknya tiba - tiba. Berdiri dan segera berlari ke toilet.
Sementara kedua orang tuanya saling pandang. Lalu mengedikkan bahu, sama - sama kebingungan.
"Mungkin kebelet pipis, Pak" ujar Bu Hayati menenangkan.
Dua orang pelayan datang menyajikan dua gelas jus mangga, kentang goreng, dan juga dua piring nasi goreng yang dibuat dadakan.
"Silakan Bapak dan Ibu" tutur pelayan itu sebelum meninggalkan meja.
Sementara itu Haina membasuh wajahnga ditoilet. Menatap lekat bayangannya sendiri dikaca yang ditempel didinding. Dengan wajah yang masih basah itu ia segera mengatur napasnya, menenangkan diri.
Bila kedua orang tuanya sudah tahu tentang niatnya untuk bercerai, maka ia berdoa semoga keduanya tidak kecewa dan bersedih. Ia berjanji akan hidup lebih baik dan menemukan kebahagiaanya sendiri.
Ya, itulah yang akan ia tekankan untuk menenangkan kedua orang tuanya. Ia tahu pasti berat bagi ayah dan ibunya. Orang tua mana yang tak bersedih bila rumah tangga sang anak hancur?
Jangan takut, Haina!
Usai menyemangati diri sendiri ia menelisik penampilannya di depan kaca. Lalu meninggalkan toilet dan segera kembali ke tempat orang tuanya menunggu.
DRAP!
DRAP!
DRAP!
Langkah kakinya berat menyusuri lantai vinyil motif kayu itu.
DEG!
"Astaga!" serunya dari balik dinding. Ia sampai membekap mulutnya sendiri karena kaget.
"Apa yang dia lakukan disini?"
Haina kemudian keluar dipersembunyiannya saat melihat kedua orang tuanya tersenyum dan sesekali tertawa kecil bersama seorang lelaki bersetelan jas lengkap. Siapa lagi kalau bukan Tuan Muda Harly.
"Hai, sayang!" seru lelaki itu saat Haina sudah dekat dengan meja tempat ketiga orang itu duduk menunggunya.
Tuan Muda Harly berdiri dan segera menggamit pinggangnya. Memeluk mesra lalu mendaratkan ciuman di kening.
CUP!
Ah!
Haina sungguh asing dan kikuk dengan situasi ini. Apa yang terjadi?
*
tbc.
__ADS_1