
Matahari mulai beranjak naik saat Tuan Muda Harly beserta Jun menyelesaikan beberapa agenda darurat. Selanjutnya Jun akan melanjutkan pekerjaannya dan berangkat ke perusahaan seperti biasa.
Sementara Haina beserta dua pengawalnya sudah berangkat lebih dulu ke rumah sakit untuk membantu Pak Tanu dan Bu Hayati berkemas.
Haina memasuki ruang rawat VVIP itu dengan senyum mengembang diwajah. Karena dokter mengatakan Bu Hayati sudah pulih sepenuhnya dan hanya perlu kontrol sekali enam bulan untuk memantau keberadaan sel kanker yang bisa jadi masih tersisa.
Ruang rawat VVIP itu terlihat sangat bersih dan nyaman layaknya kamar di hotel bintang lima. Semua perabotan dasar tersedia dengan kualitas terbaik. Bahkan dilengkapi ruang makan dan area santai juga. Nuansa yang dihadirkan lewat pilihan furnitur dan kombinasi warna membuat penghuni kamar merasa betah didalamnya.
"Pakaian, peralatan mandi, dan berkas pengobatan semua sudah Ayah kemas didalam tas itu!" Pak Tanu menunjuk sebuah tas jinjing berukuran sedang diatas nakas khas rumah sakit versi mewah.
"Ayah memang suami idaman!" puji Bu Hayati dengan senyum bangga. Disahuti elusan dilengan oleh sang suami, lengkap dengan senyum hangat diwajah yang sudah mulai keriput itu.
Haina terkekeh geli. Melihat keromantisan kedua orang tuanya. Diam - diam ia berdoa dalam hati agar pernikahannya berjalan indah dan cinta tak memudar antara dirinya dan Tuan Muda Harly.
"Menua bersama dengan bahagia. Memiliki anak - anak yang manis juga. Lalu menghabiskan waktu lebih banyak saat tua ditempat yang indah dan tenang"
Bella dengan sigap mengumpulkan dua tas jinjing dan satu paper bag, meletakkan semua didekat pintu.
"Tuan muda sudah tiba, Nona"
Seisi ruangan menoleh ke pintu. Menunggu lelaki itu muncul. Hingga berapa saat belum ada juga yang melewati pintu itu.
"Maksud saya, Tuan muda sudah tiba menunggu di titik kumpul" senyum kikuk Steffi menampakan sebagian giginya.
"Kalau begitu mari ikuti kami, Nona, Tuan dan Nyonya" ajak Bella sambil mengambangkan tangan diudara, gestur mengajak khas para pengawal.
Haina beserta dua orang tuanya segera beranjak. Mereka berjalan beriringan menuju ke lobby.
"Dimana titik kumpul itu, Nak Bella?" ujar Pak Tanu yang penasaran.
"Tidak jauh dari sini, Tuan. Sekitar lima belas menit"
Lima belas menit terasa singkat karena ketiganya terlibat obrolan seru tentang kegiatan Haina di restauran. Tapi tentunya Haina tak sedikitpun membahas teror yang terjadi. Ia tak ingin dua orang paling disayanginya itu khawatir.
Mata mereka melebar dengan binar yang tak dapat disembunyikan. Sebuah pesawat jet pribadi telah siap mengakut mereka dan berdiri gagah di landasan bandara.
Haina segera merapat pada sang suami yang berdiri penuh percaya diri.
"Kau menyewa pesawat? Kita kan bisa naik mobil saja" gumam gadis itu setengah berbisik.
Senyum terbit diwajah Tuan Muda Harly. Ia sedikit dan membungkuk lalu membisikkan sesuatu.
"Seorang Tuan Muda Harly tidak pernah menyewa. Dia selalu membeli dan memiliki apapun yang dia mau, termasuk jet pribadi ini" menyombong dengan jumawa.
Haina mendesis panjang. Ia mungkin telah lupa siapa suaminya. Tuan muda kaya raya nan sombong dan arogan.
Tanpa banyak kata lagi semua mulai menaiki pesawat. Mereka disambut ramah oleh crew cabin didalam sana. Haina dan Tuan Muda Harly paling terakhir.
"Hei, kau pasti bohong! Mana mungkin tidak pernah menyewa. Kau ingat seberapa sering kau menginap di hotel? Semua kamar mewah itu juga kau sewa, apa semua hotel itu punyamu?" balas Haina dengan senyum kemenangan di ujung kalimatnya.
Tuan Muda Harly terkekeh dibuatnya. Benar juga kata gadis itu? Dirinyalah yang terlalu berlebihan dalam menyombong.
"Akan aku pertimbangkan untuk membeli beberapa hotel kedepannya. Apa kau ada permintaan khusus tentang itu?" sahutnya tetap menyombongkan kekayaannya.
"Ah! Hotel tempat malam pertama kita terjadi. Kita bisa membuat kenangan baru disana. Bercinta tiga hari penuh misalnya"
Haina tak kuasa mengulum senyum. Kalimat demi kalimat lelaki itu berhasil membuatnya merinding.
"Astaga! Bagaimana ada orang sesombong itu dimuka bumi ini" keluh Haina sambil menggelengkan kepala kekiri dan kekanan sembari menaiki anak tangga.
Tuan Muda Harly yang menyusul dibelakangnya malah tersenyum bahagia mendengar gerutuan wanitanya itu. Ia jadi semakin semangat menggodanya.
"Lain kali ayo naik kapal pesiar! Kau pasti marah saat ada berita tentangku di kapal pesiar itu, Bukan? Kapal pesiar itu juga milikku"
Haina tak peduli lagi.
Tapi ia dikagetkan dengan lelaki muda yang sedang sibuk mengagumi interor pesawat. Siapa lagi kalau bukan Hagi.
"Kau mengajak adikku?" tanya Haina diambang pintu.
Tuan Muda Harly merekahkan senyum lagi.
"Ya. Tentu, ini adalah acara keluarga. Dia pasti karah kalau tidak diajak"
Haina terharu dibuatnya.
__ADS_1
"Kau senang?"
"Sangat!"
"Kalau begitu berterima kasih padaku!"
"Terima kasih suamiku"
"Itu saja tidak cukup, bukan?"
Haina mendelik. "Lalu?"
Tuan Muda Harly menunjuk bibirnya sendiri. Tanpa malu pada crew yang berdiri didekat sana, minta dicium.
Gadis itu jelas menolak. Ia bukan gadis tak tahu tata krama. Apa lagi ada keluarganya disana.
"Baiklah. Nanti kau harus membayarnya lebih banyak. Karena kau akan semakin bahagia nanti" gumam lelaki itu lalu merengkuh pinggang sang istri. Kemudian duduk di kursi bersebelahan.
"Hei! Saking noraknya sampai tidak lihat kakak sendiri datang!" seru Haina pada Hagi yang sedang asyik meraba setiap fitur di kabin pesawat dengan jemarinya.
Hagi menoleh lalu tersenyum dengan cengiran. Terlihat jelas ia sangat bersemangat.
Tak lama semua telah siap dikursinya masing - masing. Pesawat akan segera mengudara.
"Kau pasti merindukan bocah tengil itu. Bukankah sudah berbulan - bulan lamanya kalian tidak bertemu?" tanya Tuan Muda Harly saat Haina menoleh kebelakang.
"Tidak juga. Kami sering bertemu saat aku kabur darimu. Dia datang dan menginap setiap akhir pekan saat aku tinggal di lantai dua Beniq Bakery"
Tuan Muda Harly menganga tak percaya. Rupanya ia sudah tertipu selama ini. Hagi si tengil itu tahu keberadaan kakaknya sejak awal. Ia tersenyum masam saat bayangan tinju remaja lelaki itu mendarat di pipinya dulu.
"Pantas dia memukulku"
"Kau pantas dipukuli!"
"Aku tahu"
"Kalau tahu kau akan datang kesana waktu itu akan kuminta Hagi menghajarmu sampai pingsan! Anak itu pemegang sabuk hitam taekwondo!"
Perjalanan dengan pesawat jet mebgantarkan mereka sampai ke bandara di kota terdekat dari desa yang menjadi tujuan mereka. Melanjutkan perjalanan dengan mobil setelahnya.
"Ku kira kita akan naik helikopter!" goda Haina saat hanya mereka berdua di mobil. Tuan Muda Harly menyetir mobil itu sendiri. Haina duduk disampingnya.
Lelaki itu tergelak. Bisa saja gadis itu memikirkan sampai kesana.
"Jun gagal menyiapkannya tepat waktu. Jadi kita naik mobil" sahutnya.
Mobil yang ditumpangi oleh kedua orang tua gadis itu beserta adiknya telah lebih dulu melaju. Sedangkan mobil mereka berjalan sedikit lambat menurut Haina.
"Kita tertinggal!" keluhnya sambil terus melihat ke depan, berharap melihat mobil yang membawa keluarganya.
"Ya, biar saja. Aku sengaja"
Bukannya lurus lelaki itu malah membelokkan setir ke kanan. Haina menoleh kesamping dan melongo saat membaca papan penunjuk jalan.
"Objek wisata danau batu?"
Tuan Muda Harly tak menjawab dan terus melajukan kuda besinya sampai sepuluh menit kemudian ia baru berhenti.
"Kenapa kita kesini?" Haina melepas sabuk pengamannya hendak turun dari mobil.
"Tetap disini!" Tuan Muda Harly mencegah gerakan Haina saat akan membuka pintu mobil. Tanpa menunggu ia segera mendaratkan ciuman dibibir gadis itu.
"Aku ingin mengambil hadiahku dimuka!"
Belum sempat Haina bertanya bibirnya kembali disesap tanpa jeda. Hingga ia tak punya pilihan selain memasrahkan diri menerima setiap sentuhan itu. Bibir dan bagian tubuh lainnya yang menjadi kesukaan sang suami.
"Kau gila!" seru Haina saat tubuhnya ditarik. Ia duduk dipangkuan sang suami sekarang.
"Ya, aku gila. Sekarang ayo buat aku semakin gila, sayang!" dengan gerakan gesit ia menyibak atasan sleeveless turtelneck knit gadis itu sampai menggantung dibawah lehernya. Membuat pemandangan didepan wajahnya terpampang indah. Tanpa menunggu lagi ia segera mengeluarkan isinya dari penyangga bewarna hitam itu.
Haina memejamkan mata saat lidah sang lelaki menelusuri setiap inci bagian dadanya. Dengan tangan yang tak henti menjelajah kesana - kemari, sang suami membuatnya merasa melayang.
"Emmhhh..."
Rambut lelaki itu menjadi sasaran Haina melampiaskan rasa yang diterimanya. Mencengkramnya semakin erat saat sesapan dan belaian disertai remaasan didadanya.
__ADS_1
"Aku menginginkamu, sayang!" gumam lelaki itu dengan suara parau dan pandangan mata berkabut, seakan momohon dengan sangat.
Haina mengangguk mengerti. Kemudian dengan cekatan mulai membuka penutup dibawah sana. Mereka akhirnya menyatu dalam kenikmatan luar biasa. Saat Haina mulai bergerak meliukkan tubuhnya, maju dan mundur saat itulah Tuan Muda Harly tak hentinya bersuara. Desaahan dan erangan keduanya bersahutan seiring gerakan Haina diatas tubuhnya.
"Ahhh! Kau sangat cantik, sayang!"
"Aku mencintaimu"
"Hhhmmmhh...aku juga"
Tuan Muda Harly semakin menggila saat dua buah lembut didada sang istri semakin berayun cepat. Memantul seirama gerakan pinggul sang istri yang diapit dengan kedua tangannya, seolah membantu gadis itu untuk terus bergerak memanjakannya dibawah sana. Mulutnya tak tinggal diam. Menciumi dan menghisapp setiap inci kulit Haina yang berhasil diraihnya.
Haina semakin tak tahan. Sentuhan dan gesekan yang terjadi benar - benar membuatnya berubah menjadi liar. Ia meliuk kesana kemari. Semakin menghentakkan pinggulnya lebih dalam saat satu buah lembut didadanya dicengkram kasar. Ia meraih kaca jendela. Menahan tubuhnya yang serasa semakin tak terkendali saat ia terus begerak dengan indahnya. Bahkan pemandangan tubuhnya yang nyaris polos membuat gairahnya semakin memuncak.
Tuan Muda Harly mengerang lagi dan lagi. Setiap hentakan sang istri terasa begitu nikmat. Sangat cantik dan menggoda. Meliuk dan menatapnya sendu dengan rambut yang sudah berantakan.
Ah! Sungguh wanitanya itu sangat memabukkan.
Keduanya terengah saat pelepasan masing - masing telah didapat.
"Ahhh...."
"Terima kasih istriku! Aku sangat menikmatinya" gumam lelaki itu sambil terus mengatur napas.
Haina menggigit bibir saat denyutan dibawah sana masih terus terjadi. Tubuh mereka berkeringat dengan napas yang putus - putus. Wajahnya jadi memerah, malu sudah pasti. Tapi kenikmatan yang diraih sungguh setimpal. Bahkan sekarang ia masih membenamkan dirinya sendiri diatas milik sang suami.
Tuan Muda Harly membelai punggung Haina yang lembab. Dengan satu tangannya meraih panel lalu mengatur pendingin udara agar keringat mereka cepat kering.
Haina tersandar ditubuh sang suami yang memeluknya mesra. Deru napasnya terasa hangat dikulit dadanya yang belum tertutup.
"Ha-Harly! Gawat!" Haina tersentak kaget.
"Kenapa?"
"Aku rasa ada yang melihat kita!" Matanya mengerjap sambil terus menelusuri sekitaran tepian danau. Sekarang ia semakin malu. Bagaimana tidak, bercinta didalam mobil siang bolong saat matahari hampir berada di puncaknya. Parahnya lagi dirinyalah yang memimpin permainan.
"Ah! Aku sungguh tidak tahu malu" sesal Haina. Ia mulai membenahi pakaiannya dan merapikan rambut, menyisiri dengan jari.
Tuan Muda Harly terkekeh geli melihat wajah cemberut Haina. Padahal tadi gadis itu terlihat sangat bersemangat dan menggoda.
"Jangan khawatir. Kaca film mobil ini membuat kita tidak terlihat!"
"Ta-tapi mereka pasti melihat..."
"Apa?"
"Melihat mobil ini bergoyang" gumam Haina malu - malu.
Ia akan bangkit dari tubuh sang suami dan kembali ke kursinya lagi. Tapi lelaki itu menahannya lalu mengecup bibirnya sekali lagi.
"Tidak perlu malu. Mereka adalah pengawal yang mengikuti kita"
"Apa?" Mata Haina membola.
Ah! Sial! Kalau begitu ia akan semakin malu dan tidak berani menampakkan wajahnya didepan para pengawal itu nanti. Akan jauh lebih baik jika mobil yang terpakir tidak jauh dari mobil mereka itu adalah milik orang lain. Haina tidak perlu pusing menyembunyikan rasa malunya.
"Kau jahat!"
Akhirnya kedua sejoli itu tiba juga di desa. Haina tak hentinya menoleh ke jendela, mengamati setiap tempat yang mereka lalui.
"Hei, itu sawah tempat kau terjungkal waktu itu!" seru Tuan Muda Harly antusias saat berbelok di pertigaan area persawahan desa.
Haina melirik tajam pada lelaki yang terus tersenyum jahil. Mengingat kenangan saat pertama pertemua mereka dulu. Saat itu takdir bekerja sesuai suratannya. Mempertemukan dua anak manusia yang sama sekali berbeda. Siapa sangka keduanya bisa berjalan sejauh ini.
"Sudah sampai!" seru Tuan Muda Harly lalu menepikan mobil.
Haina melongo ke kanan dan kiri. Ada yang aneh, mereka salah tempat. Suaminya itu pasti tersesat sampai ke ujung desa.
"Apa aku yang salah mengenali tempat. Ini dimana?" Haina mengingat - ingat kembali gambaran tatanan desa yang ada dimemorinya. Rasanya tempat ini terasa asing. Bukankah disekitar sini dulunya adalah padang rumput?
Tapi lelaki itu dengan percaya diri membentangkan tangan menyambut Haina yang baru turun dari mobil.
"Surprize!"
*
tbc.
__ADS_1