
Hari - hari memang sering terasa membosankan belakangan, bagi Ben semua terasa monoton. Ia hampir kehilangan gairah hidupnya.
Namun, ada satu hal menarik dengan pegawai purnawaktu di toko kue milik mendiang ibunya. Sora dengan tak tahu malu menyusup dan menumpang tinggal tanpa izin di lantai dua toko Beniq Bakery. Padahal lantai dua itu merupakan tempat tinggal lama ia dan ibunya saat masih kecil dulu. Tempat itu sangatlah berarti karena ada banyak kenangan manis disana. Hanya orang - orang tertentu yang diizinkannya untuk masuk. Seperti Haina dulu yang sempat menepati lantai dua itu, Haina adalah istri keponakannya, lagi pula kisah Haina menyentuh hatinya.
Tapi Sora? Gadis itu telah menyalahgunakan wewenangnya sebagai pemegang kunci bangunan itu. Sora adalah kasir yang dipercaya memegang kunci mesin kasir, kunci toko, dan kunci lantai dua. Lalu dengan tidak tahu malu malah menggunakan lantai dua dengan tanpa izinnya.
Setelah menaruh kecurigaan selama berhari - hari, Ben akhirnya memastikan apa yang terjadi. Ia mengecek cctv dan menyelidiki lebih lanjut. Sejak hari pertama kecurigaannya terbukti, Ben seolah tertarik untuk menelusuri latar belakang Sora. Kemudian satu ide gila terbesit dibenaknya. Hari ini Ben akan menjalankan ide gilanya itu.
Ben mengunjungi toko seperti biasa. Menjelang tutup toko, ia pamit pulang. Ia memarkir mobil dirumahnya yang memang tak jauh dari sana lalu berjalan kaki kembali ke toko. Dengan kunci cadangan miliknya ia masuk ke lantai dua yang berdiam diri disana.
Dalam kegelapan, akhirnya ia menangkap basah Sora. Gadis muda itu benar - benar seperti penyusup, bahkan sudah lihai bergerak dalam kegelapan.
Ben tidak akan membuang - buang waktu. Jadi ia menampakkan diri disaat yang tepat, saat gadis itu benar - benar kedapatan tinggal dan berkegiatan layaknya dirumah sendiri.
"Astaga!" Sial ataukah untung namanya. Saat akhirnya ia menghidupkan lampu, pemandangan indah namun terlarang tersaji didepan mata.
Sora, gadis cantik bertubuh semampai itu ternyata memiliki lekuk yang menggoda. Apalagi dalam keadaan nyaris telanjaang begitu. Tubuh bagian atas hanya tertutup bra dan bagian bawah hanya dibalut celana pendek ketat.
Ben menelan ludah dengan susah payah. Sementara gadis itu tidak sadar dengan penampilannya, mungkin karena saking kagetnya.
Sora menganga lebar dengan mata membeliak sempurna. Ekspresi kaget dan takutnya sangat kentara.
"Pakai bajumu!" Ben memerintah seraya memalingkan wajah. Ia masih cukup waras untuk mengendalikan dirinya. Tubuh Sora memang menggoda, tapi ia punya ide sendiri.
"Hah?" Sora terlihat linglung padahal hampir seluruh tubuhnya terekspos dengan pakaian dalam saja.
Reaksi Sora yang demikian malah membuat Ben semakin tersulut gaiirahnya.
"Pakai bajumu sekarang juga atau kau kutelanjaangi dan kuseret ke kantor polisi!"
Sora tersentak kaget. Ben terdengar marah dengan suara berat dan tegas. Sungguh berbeda dari sikapnya yang biasa santai dan tidak pernah terlihat marah, setidaknya begitu dimata para karyawan Beniq Bakery. Sora mundur selangkah dengan wajah pucat setalah menyadari bahwa ia telah menanggalkan pakaiannya. Ia berjalan mundur dan meraih pakaian yang tadi ditanggalkan lalu memakainya dengan asal.
Selama beberapa saat hanya ada keheningan diantara dua orang itu. Ben duduk dengan pongah di kursi meja makan yang ditarik ke tengah ruangan. Kaki panjangnya disilangkan sedang dua tangannya dilipat didepan dada.
Sora duduk dengan kepala tertunduk dutepian ranjang. Gadis itu tak berani mengangkat wajahnya, namun sesekali mencuri pandang lalu dengan cepat menekuk wajahnya dalam - dalam. Ia tak tahu harus apalagi setelah mengucapkan permohonanan maaf berkali - kali, Ben tak satupun menyahuti.
Ben mengulas smirk mematikan. Geli sendiri dengan tingkah Sora yang seolah tak tahu bahwa Ben dapat mengamati setiap gerak - geriknya. Apalagi ekspresi Sora saat ini begitu unik dimata Ben. Wajah cantik itu terlihat takut sekaligus bingung dengan dua alis nyaris bertaut dan bibir mengerucut.
"Jadi, kau ingin ganti rugi atau ikut dengan polisi?" Ben mulai bergerilya.
"Hah?" Sora mengangkat wajah takut - takut.
"Pilih salah satu, jangan pura - pura tuli! Aku tak akan melepaskanmu dengan mudah," sentak Ben.
Sora menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Ia dilema dengan dua pilihan yang sama - sama berat baginya. Ganti rugi adalah mustahil karena ia tak punya sedikitpun uang. Sejak kabur dari rumah hampir setahun lalu dirinya harus banting tulang untuk menyambung hudup dan menyelesaikan studi. Rekeningnya nyaris kosong, paling hanya ada untuk biaya makan dan transportasi selama beberapa minggu kedepan. Selama ini Sora hanya mengandalkan gajinya sebagai kasir di Beniq Bakery.
Sedangkan dipolisikan adalah hal mustahil yang dapat ia pilih. Mana mungkin ia menghabiskan waktunya dipenjara dan menyia - nyiakan kebebasan yang selama ini diperjuangkannya.
"Tidak, tidak bisa begitu!" gumamnya setengah berbisik.
Sora bangkit dan langsung bersimpuh dikaki Ben. Diraihnya tangan Ben dan digenggamnya dengan ragu.
"Kak, aku mohon maafkan aku sekali ini. Aku mengaku salah. Aku sudah lancang menyelinap ditempat ini. Aku sungguh tidak tahu malu. Akan aku cicil ganti ruginya, tapi tolong jangan banyak - banyak, hehe..." gadis itu meringis sendiri.
Sudut bibir Ben terangkat, senyum smirknya kembali terbit.
"Berani sekali mengaturku!"
Sora menundukkan wajah sambil menggiguti bibir. Kebiasaan yang sulit ia hilangkan saat gelisah atau takut melanda.
"Sepuluh juta. Lunasi dalam satu bulan!" tutur Ben lantang.
"Hah? Se-seluluh juta?" ulang Sora tak percaya. Butuh tiga bulan penuh gajinya untuk mengumpulkan sebanyak itu. "Kak, bukankah itu terlalu banyak? Aku berusaha sehemat mungkin dalam menggunakan listrik, air dan gas selama aku disini?"
"Bayar atau penjara!"
"Kak, aku mohon sekali ini. Hemm?" Sora menununjukkan wajah imutnya. Berharap Ben akan luluh dan berbelas kasihan.
Ben mengulum senyum, menahannya sebisa mungkin. Wajah Sora yang terlihat imut dan menggemaskan sungguh menghiburnya. Tapi, sekarang belum saatnya untuk berhenti. Permainan baru saja dimulai.
"Berani menawar? Baiklah, lima belas juta!"
"Loh? Kak!"
"Dua pul...,"
"Se-sepuluh, sepuluh juta aku cicil. Enam bulan, eh tidak tujuh bulan!" potong Sora cepat.
"Hahahaa..."
Sora bingung sendiri mendengar tawa Ben yang terdengar sumbang.
"Kak?"
"Tidak bisa! Enak saja mau mencicil selama itu. Kau buang - buang waktuku!" Ben menarik tangannga yang digenganggam Sora dengan kasar, membuat gadis itu tersentak kaget. Ben merogoh ponsel lalu mendial nomor.
__ADS_1
"Ya. Polisi?"
"Ja-jangan!" Sora bangkit dan merebut ponsel Ben dengan spontan. Ia sendiri sampai kaget dengan perbuatannya.
"Kemari!" titah Ben dengan wajah datar namun suaranya ketus, tidak bersahabat. "Aku benci mengulangi perintahku dua kali, Sora!"
Sora mendekat dan merapatkan kepalanya sambil bersimpuh. Ia menyerahkan kembali ponsel Ben tanpa berani melihat wajah lelaki itu.
"Berhubung kau sudah lancang dan tak tahu malu padaku, maka kau harus mengganti semua dengan tubuh dan waktumu selama sebulan penuh."
Sora memberanikan diri mendongak drmi memastikan apa yang dia dengar.
"Tu-tubuh? Tubuhku?" suara Sora bergetar.
"Tempat ini sangatlah penting dan berarti bagiku. Tidak sembarang orang boleh masuk apalagi tinggal disini. Jadi, selama sebulan penuh kau akan jadi pelayanku...,"
"Syukurlah," spontan Sora berucap syukur. Mengira dirinya salah paham dan sekarang aman.
"Jadi pelayanku, asisten pribadi, dan kekasihku!"
"A-apa?"
"Kau tuli?"
"Ti-tidak, Kak."
"Kalau begitu kemasi barangmu sekarang juga dan ikut aku!"
Tidak smapai sepuluh menit dua orang itu sudah turun dari lantai dua. Sora menjinjing satu buah koper besar yang terlihat berat dengan susah payah. Ben enggan membantu dan melipir pergi lebih dulu.
Mereka berjalan kaki saja. Rumah Ben hanya jarak dua blok dari komplek pertokoan itu.
Sora memberengut kesal karena terpaksa menuruti perintah bosnya. Lagi pula ia sadar diri dengan kesalahannya. Sudah menumpang tinggal tanpa izin di kamar yang super nyaman dan lengkap fasilitasnya selama satu bulan.
Mereka berhenti didepan sebuah pagar tinggi. Pagar terbuka menampakkan seorang satpam yang tersenyum ramah.
"Selamat malam, Tuan."
Ben membalasnya dengan senyum simpul kemudian melenggang masuk.
Sora menggeret kopernya mengekori Ben, meninggalkan satpam yang tampak bertanya - tanya.
"Kamarmu disana!" Ben menunjuk sebuah pintu.
Sora memasukkan kopernya dan mulai membuka isinya. Seraya memperhatikan kamar itu sekilas. Sekali lagi Sora bersyukur dengan keadaan saat ini. Ben memberinya kamar yang bagus, luas dan nyaman.
Rumah Ben memang tak terlalu besar namun mewah. Hanya ada tiga kamar selain kamar pelayan. Ben menempati kamar disebelah kamar Sora.
Tok! Tok!
Suara ketukan dipintu menghentikan tangan Sora yang sibuk menata barang dilemari.
"Ya, sebenar Kak!" Sora bergegas membukakan pintu.
Ben menyodorkan secarik kertas lalu pergi tanpa sepatah kata. Sora menerimanya dengan wajah bingung.
Usai menutup kembali pintu ia duduk dikasur dan mulai menelaah tulisan diselembar kertas itu.
"Hah? Ini gila! Ini keterlaluan!"
Sora menghempaskan tubuhnya dan kekasur dan berguling kesana kemari. Meluapkan kekesalannya yang menggunung.
"Ini sih namanya kerja paksa! Ini tidak adil!"
"Kuat Sora! Kau pasti bisa. Cuma sebulan, iya sebulan tidaklah lama." Bagimana pun tidak ada jalan lainbselain pasrah. Ia tidak bisa membayar dan tidak mau berurusan dengan polisi.
"Huaaa... Bagaimana ini? Apa yang Kak Ben inginkan dariku sebagai kekasih?" Sungguh ia tak habis pikir. Bagaimana bisa memikirkan ide itu? Memanfaatkan kesalahannya dan memerasnya dengan semua tugas itu. Sora membenamkan wajahnya dibantal dengan kesal kemudian tangan dan kakinya bergerak bebas memukul kasur.
"Aaaarrggh!" Sora memekik keras sekeras yang ia bisa.
Tring!
Satu pesan masuk dari Ben.
Tidur! Tugasmu dimulai besok pagi. Terlambat bangun, terima hukumanmu!
"Astaga! Dia benar - benar serius. Matilah aku. Hiks!"
Pagi datang dengan cepat. Alarm ponsel Sora berteriak membangunkannya. Sora menggeliat dan meregangkan tubuh. Beriap dengan piyama yang masig melekat ditubuh. Ia hanya mencuci muka dan mengikat rambutnya asal.
Sora menjelajah rumah itu dan menemukan dapur. Ia mulai memeriksa kulkas dan mengeluarkan bahan makanan. Omelet dan roti bakar tersaji setengah jam kemudian.
"Rumahnya kelihatan bersih. Syukurlah aku jadi tidak perlu bersih - bersih pagi ini," Sora mengembangkan senyum paripurna.
__ADS_1
Sekarang ia tinggal bersiap dan berdandan rapi. Entah apa yang akan ia lakukan nanti yang penting ia harus bersiap dulu.
Setengah jam kemudian Sora sudah siao dan rapi dengan setelan formal yang dia punya. Rok span hitam sedikit diatas lutut, kemeja putih yang pas dibadan dan sebuah blazer hitam terlihat cocok ia kenakan. Gadis itu keluar kamar hendak memualai sarapan. Namun ia jadi ingat Ben, ia beridiri didepan pintu kamar Ben dan mengetuknya.
Ceklek!
Ben muncul dibalik pintu, berdiri dengan handuk melilit pinggang.
Sontak membuat Sora merona karena malu. Tubuh atletis dan jangkung itu begitu harum dan menggoda. Tapi gadis itu masih punya malu dan sopan santun jadi ia memalingkan wajah.
"Siapkan pakaianku setiap pagi!" Titah Ben. Ia menyingkir dari pintu setelah menarik Sora agar segera masuk kekamar.
Sora menelan ludah susah payah. Berdekatan dengan lelaki dewasa yang hanya mengenakan handuk membuatnya gugup dan berdebar. Belum lagi tangannya yang digenggam erat, terasa hangat dan lembut.
"Lakukan tugasmu sekarang!"
"Ah? Iya," Sora menurut dan mulai memlihkan setelan kerja diruang ganti.
"Pakaikan!" Ben menjulurkan dasi setelah berpakaian.
Sora menerima dengan ragu. Namun tangannya segera bekerja, dasi itu terpasang rapi.
Ben mengkir senyum jahil. Rasanya menyegarkan ada hiburan dipagi hari. Ia mencondongkan kepala dan sedikit menunduk sampai jarak antara dirinya dan gadis itu tak sampai sejengkal.
Sora berdebar tak karuan. Wajah Ben begitu dekat, semakin dekat. Reflek matanya memejam rapat dan kuat sambil menekuk wajah dalam - dalam.
Tuk!
"Berharap kucium ya? Sayang sekali, aku belum berniat," ujar Ben.
Reflek mata Sora membuka. Ia bernapas lega, ternyata Ben tidak mencium bibirnya.
"Belum tahu kalau nanti malam. Bisa saja aku ingin lebih dari itu," ujar Ben lagi. Ia langsung pergi meninggalkan Sora yang mematung dengan wajah panik.
Gadis itu mencebikkan bibir dengan hati gusar. Tidak tahu lelaki itu serius atau mengerjainya, yang pasti Sora tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
Mereka mulai sarapan dalam keheningan. Sora melayani Ben dengan baik, mengisi piring dan menuangkan minuman. Tak ada komentar dari Ben, lelaki itu masih diam dan melahap sarapannya dengan hikmat.
Sora mengekor dengan setengah berlari. Kaki Ben benar - benar cepat dengan langkah lebarnya. Salahnya juga sibuk mengagumi tampilan kantor pusat Benjamin Corp. Ia terkagum - kagum melihat desain interior lobby yang megah dan indah.
"Cepat sedikit! Kalau tersesat kau kutinggal!" seru Ben yang menoleh tanpa berhenti berjalan.
Pagi ini ia harus menghadiri rapat di kantor pusat.
Sora mengeri sambil menggerutu dalam hati. Ia butuh menyesuiakan diri dengan situasi baru ini. Belum lagi ia juga gugup dan cemas lantaran harus bekerja sebagai asisten Ben, ia sudah tahu sebelumnya posisi Ben sebagai CEO Benjamin Exporta. Namun ia juga senang jika nanti dapat mencantumkan riwayat pekerjaan sebagai asisten pribadi sebuah perusahaan besar di surat lamarannya nanti.
Pintu dibukakan seorang sekretaris. Ben segera masuk dan duduk santai disebuah sofa panjang. Sora berdiri dengan kikuk disampingnya.
Gadis itu sempat mengamati siapa pemilik ruangan kantor yang besar dan luas itu. Ia mengulum senyum karena senang bisa menapakkan kaki di ruangan ini.
"Kejutan sekali kau langsung datang untuk bekerja setelah kemarin kuminta, apa ini mimpi?" Tuan Muda Harly datang dan menghempaskan bokong di di sofa panjang.
Lelaki itu merasa Ben sedikit aneh, mengingat kemarin ia malas - malasan mengangkat telepon darinya. Sekarang tiba - tiba saja Ben datang dan kembali menempati posisinya.
"Mimpi?" Ben menyunging senyum lalu mencubit dengan sedikit keras.
"Aakkhhh, aduh!" Sora menjerit karena rasa pedih akibat cubitan Ben dilengannya. Gadis itu mengerucutkan bibir, menahan makian dalam hati.
Tuan Muda Harly sontak kaget dengan mata terbelalak.
"Bukan mimpi, ini nyata!" kata Ben enteng. Merasa tak bersalah.
"Kegilaan apa ini?" ujarnya kemudian.
"Baiklah, apa yang akan kita bahan kali ini. Aku harus segera kembali ke kantorku, pekerjaanku pasti menggunung," sahut Ben mengalihkan topik.
Tuan Muda Harly menghela napas panjang atas tingkah paman mudanya itu. Ia yakin ada sesuatu yang beda antara Ben dengan asisten barunya, namun ia memilih tak ambil pusing. Asal Ben kembali bekerja seperti sedia kala ia sudah bersyukur.
Dua pria itu kemudian meninggalkan ruangan Presdir diikuti asisten mereka masing - masing.
Jun bahkan mengenal Sora. Ia bertanya - tanya tentang keberadaan Sora disisi Ben. Tapi Sora tidak bisa menjawab dengan gamblang.
"Aku dapat tawaran magang, Kak," sahut Sora.
"Benarkah? Kalau begitu kau beruntung. Biasanya pemagang hanya kebagian di departemen pemasaran atau departemen administratif lainnya, tapi kau bisa magang jadi asisten pribadi CEO Benjamin Eksporta. Itu keren, Sora. Perusahaan yang dipegang Tuan Ben adalah incaran para pemagang dari tahun ke tahun. Honornya besar, perusahaan multinasional dan pemagang terbaik pasti mudah jadi pegawai tetap." Jun menerangkan panjang lebar karena ia dan Sora sudah akrab. Dulu ia mengunjungi Beniq Bakery setiap hari untuk membujuk Haina kembali dari pelariannya.
Sora hanya mengukir senyum. Karena ia belum tahu seperti apakah tugasnya nanti. Bisa saja Ben akan membuat pengalaman magang pertamanya ini buruk atau malah berkesan.
"Haha... Ya, semoga semua berjalan lancar untukku, Kak," sahut Sora. Ia kembali mengulas senyum manis, membuat wajahnya semakin enak dipandang.
Jun ikut tersenyum dan menepuk bahu Sora.
Sora tersipu malu dengan perhatian dan kelusan Jun padanya. Senyumnya semakin terkembang duduk dikursi belakang ruang rapat. Tak tahu saja Ben memperhatikannya dengan muka masam.
*
__ADS_1