Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Kesal


__ADS_3

Usai menerima telepon di balkon Harly pamit pada istrinya. Ia bilang akan kembali ke kantor dan pulang larut. Tapi naytanya sampai pagi ia tak pulang ke apartemen baru mereka.


Jadi pagi ini Haina kebingungan saat mendapati lemari pakaian yang ada diruang ganti kamar utama itu benar - benar kosong. Padahal Haina ingin segera mandi dan bersiap berangkat ke AK Studio.


Haina mengacak rambutnya kesal saat Jun yang ia hubungi tak juga mengangkat panggilan. Ya, siapa lagi yang bisa ia mintai bantuan. Bahkan suaminya sendiri menelantarkannya di apartemen yang nyaris kosong ini.


Merasa haus Haina pergi ke dapur dan memeriksa lemari pendingin. Kosong melompong. Bahkan kubus ajaib itu tak tersambung arus listrik.


"Ck! Pagi hari yang kacau!" teriak Haina menutup lemari pendingin dengan keras. Ia lanjut memeriksa setiap laci dan sekat kitchen set yang di dominasi warna putih itu. "Tidak kusangka aku terdampar di apartemen kosong ini!" gerutu Haina lagi.


Ting Tong!


Suara bel menarik perhatian gadis itu. Ia segera berlari menuju pintu. Tanpa melihat layar interkom ia membuka pintu lebar, berharap penyelamat datang pagi ini.


"Selamat pagi Nona!" sapa Jun riang. Di belakangnya ada Stefi dan Bela yang menunduk hormat pada Haina.


"Kemana saja kau? Aku dari tadi meneleponmu tahu? Dasar menyebalkan!" cerca Haina.


Mau tidak mau Jun harus siap menjadi objek pelampiasan kekesalan Haina pagi ini. Sejak semalam ia sudah memendam kesal dan jengkelnya pada tuan muda arogan yang adalah suaminya sendiri.


Jun salah tingkah saat melihat raut wajah merajuk nonanya. Ia segera masuk saat Haina sudah meninggalkan mereka di ambang pintu.


"Maafkan aku Nona. Tadi aku sedang antri membelikan Anda bubur ini" ujar Jun mencoba memberi alasan. Ia meletakkan paper bag bertuliskan nama restoran terkenal di atas meja dapur.


Haina melirik paper bag itu dengan ekor matanya. Ia memang lapar karena ia tak makan malam kemarin. Berharap menghabiskan waktu dengan suaminya agar mereka lebih dekat, rupanya ia malah ditinggal.


Stefi berjalan ke dapur dan mencari mangkok serta sendok. Tapi ia sama terkejutnya dengan Haina tadi. Ia jadi geleng - geleng kepala dibuatnya.


"Tidak ada apapun disini, aku curiga apa disini juga tidak ada air" sindir Haina.


Jun dengan sigap mengeluarkan ponsel dan mengetik sesuatu disana. Setelah itu ia membuka paper bag yang ia bawa dan mengeluarkan isinya.


"Ayo sarapan dulu Nona. Keperluan Anda sedang dalam perjalanan kesini. Apartemen ini memang kosong karena belum pernah ditempati oleh siapapun" jelas Jun. Ia lanjut menata bubur yang dikemas dengan kotak mika beserta satu botol air mineral, untunglah ada sebuah sendok plastik disana.


Bela dan Stefi bergegas menuju pintu saat ada bel terdengar. Rupanya para pelayan datang membawakan pakaian dan semua kebutuhan lainnya. Mereka berlalu lalang memasukkan barang dan menyusunnya ditempat semestinya.


Haina segera menghabiskan sarapannya saat melihat arloji di tangan Jun menunjukkan pukul delapan. Itu artinya ia harus segera mandi dan bersiap.

__ADS_1


.


Haina sudah rapi dan siap berangkat. Ia menyampirkan tas selempang ke bahunya.


"Dimana Jun? Siapa yang akan mengantarku?" tanya Haina pada Seffi dan Bela yang kedapatan bermain ponsel diruang tamu.


Keduanya kaget dan segera menyimpan ponsel masing - masing di saku celana. Bela tersenyum kikuk dan menghampiri Haina.


"Tuan Jun sudah berangkat ke kantor saat Anda mandi. Mulai hari ini saya dan Stefi yang akan mengantar Anda, Nona" sahut Bela.


Haina tak ambil pusing. Mereka segera keluar dan pergi ke AK Studio dengan tenang.


Sesampainya disana Haina bertemu Marchel, Olga dan juga Alya yang sedang mengobrol di dalam kelas. Mereka terlihat antusias saat Haina datang.


"Hei, kami sudah menunggumu dari tadi" seru Alya.


Haina duduk dikursinya setelah meletakkan tas selempangnya dimeja.


"Kurasa sebaiknya kita segera mengeksekusi rencana kita, Na. Marchel punya kenalan pemilik gedung yang bisa disewa" kali ini Olga yang bicara.


Marchel mengangguk mengiyakan. Ia merapatkan kursinya pada tiga perempuan cantik di kelas itu.


Sebulan saling mengenal dan mengikuti kursus bersama membuat mereka cepat akrab. Kesamaan hobi dan cita - cita membuat mereka akhirnya melahirkan satu ide. Ya, mereka akan bekerja sama dengan membuka sebuah restoran. Haina dan Alya akan menjadi pengelola langsung. Sementara Marchel akan jadi tutor dan investor saja, karena ia juga punya restoran yang sedang ia rintis di kota seberang. Adapun Olga ia tidak bisa terjun langsung untuk saat ini karena ia dalam kondisi hamil.


"Kalau begitu sebaiknya kita segera mematangkan konsep dan menyiapkan banyak menu untuk kita coba" kata Haina.


Mereka mengangguk setuju. Rencana baik memang harus segera diwujudkan agar semangat tetap menggelora di dada.


"Pagi semua!" sapa Bu Siska riang sembari berjalan ke mejanya di tengah kelas.


Pembicaraan mereka terpaksa dilanjutkan setelah kelas usai. Haina sangat tidak sabar dengan rencana mereka. Gambaran kesibukannya mengelola restoran berseliweran di kepalanya.


*


"Tuan ini surat penugasan CEO baru


HB Humanity. Anda harus segera menandatangani karena Presdir sedang berada di Turki saat ini" Ren menyerahkan surat itu kehadapan Tuan Muda Harly.

__ADS_1


"Bagaimana persiapan acaranya?" Tuan Muda Harly menandatangani usai membacanya dan menyerahkan pada Ren.


"Hampir sembilan puluh persen siap Tuan" sahut Ren.


Hari jadi HB Humanity yang ke tiga puluh lima akan dilaksanakan minggu depan. Mendiang pendiri Benjamin Corp. sangat mencintai perusahaan ini karena itu adalah wujud dari kepedulian dan rasa syukurnya atas kemakmuran yang ia peroleh dalam mendirikan dan mengelola Benjamin Corp. Oleh karena itu segala hal yang berhubungan dengan HB Humanity akan menjadi perhatian penting bagi Tuan Muda Harly sebagai penerus suksesi.


"Ayo lanjut dengan agendaku!" titah Tuan Muda Harly. Ia bangkit dan memasang jasnya bersiap untuk kunjungan ke beberapa swalayan besar milik Benjamin Corp. Sesuai jadwal ia pilih ia akan menyidak langsung beberapa swalayan bermasalah. Benjamin & Son adalah nama jaringan swalayan milik Benjamin Corp.


Meski tidak sebesar jaringan swalayan milik keluarga Cornor, Tuan Muda Harly sangat memperhatikan perkembangannya. Karena Benjamin & Son pertama kali di besut olehnya dan sang ayah saat pertama ia bergabung ke perusahaan.


"Baik Tuan. Pertama kita akan ke Ben's Grand Mall lalu ke Citra Mall dan Elevaria Plaza" runut Ren mengikuti langkah tuan mudanya.


Ceklek!


Pintu dibuka dari luar saat Ren hendak membuka pintu.


"Selamat pagi menjelang siang Wakil Presdir. Jiana Amanda ingin melapor dan mengambil surat tugas, tapi tampaknya Tuan akan segera keluar" Jiana muncul diekori Jun dibelakangnya. Menyapa dengan riang atasannya.


Tuan Muda Harly mematung sejenak kemudian mengulas senyum. Sudah lima tahun ia tak bertemu langsung wanita didepannya. Setelah bertahun - tahun ia membiarkan wanita cinta pertamanya itu hidup di luar negri, akhirnya wanita itu kini datang sendiri menemuinya.


"Aku akan keluar, setelah beberapa tugas aku akan kembali lagi setelah makan siang" ujar Tuan Muda Harly.


"Kau dapat bergabung bersama kami saat makan siang nanti" tawar Ren pada Jiana.


Tuan Muda Harly diam saja tanda tak keberatan. Ren mendesak Jiana memberi jawaban dengan mengangkat satu alisnya.


"Boleh juga, aku..."


"Sebaiknya tidak Tuan. Kita akan makan siang di restoran milik Chef Renita di Elevaria Plaza. Bukankah kita akan melobinya untuk bergabung di Ben's Grand Mall?" sela Jun cepat.


Tuan Muda Harly mengangguk. Seingatnya memang ia sudah merencanakan itu. Ia ingin Chef Renita yang terkenal dikalangan pencinta makanan itu membuka restoran di Mall miliknya. Tapi sejauh ini Chef Renita menolak karena ingin fokus pada satu restoran saja. Ia ingin Chef Renita berubah pikiran dan segera menandatangi kontrak yang ia tawarkan.


Ben's Grand Mall, Benjamin Foods dan Benjamin Exporta adalah tiga perusahaan yang menjadi induk Benjamin Corp. Ketiganya berada dalam satu managemen yang dikelola di kantor pusat Benjamin Corp.


"Kurasa lain kali saja kita makan siang bersama" ucap Jiana kecewa. Meski ia sangat ingin segera menghabiskan waktu bersama tuan muda itu, ia harus bersabar sementara waktu.


*

__ADS_1


tbc.


__ADS_2