
Tuan Muda Harly melajukan Range Rover Sport plug - in hybrid kesayangannya menuju apartemen Jiana.
Usai makan malam tadi ia beralasan pergi menghadiri undangan seorang teman. Sang istri yang biasa ditinggal percaya begitu saja.
Apartemen wanita itu memang tak jauh dari apartemen miliknya. Berkendara sekitar sepuluh menit saat jalanan lancar seperti ini membuatnya segera sampai di basement apartemen Jiana.
Ia masih belum turun dari mobilnya. Sepuluh jarinya masih menempel di kemudi. Entah kenapa rasanya ia enggan untuk turun. Bayangan wajah Haina yang tersenyum mengantarnya ke pintu apartemen melintas dibenaknya.
"Nikmati waktumu" kata gadis itu sebelum menutup pintu.
Mendadak ada rasa tidak enak menelusup ke hatinya. Seperti rasa beralah, meninggalkan sang istri demi menemui wanita lain.
"Aku seperti suami yang berselingkuh" gumamnya sambil memainkan jari dikemudi.
Kau memang berselingkuh, kan? Sudah punya istri tapi masih mengakui wanita lain sebagai kekasih?
"Ah, masa bodoh. Kenapa aku harus peduli hal semacam itu" ia melepaskan jemarinya dari kemudi dan menarik handle pintu.
Mendadak ia berhenti saat pintu sudah terbuka separuh.
Apa kau jadi serakah sekarang?
Mendadak ia ragu untuk naik ke atas unit apartemen Jiana. Entah mengapa seolah ada dua sisi berlawanan yang menguasai pikirannya.
Satu sisi dirinya ingin melanjutkan langkah menaiki gedung itu dan bertemu Jiana. Rasanya ia ingin melihat wanita itu agar bisa mengendalikan diri sesuai rencana awal.
Rencana awal? Sekarang ia bahkan sudah jauh melenceng dari rencana awal. Ini akibat dirinya sendiri yang terbuai dengan kenyamanan dan pesona gadis muda yang telah mengisi hari - harinya itu. Semenjak ia mencoba menyentuh gadis itu, tubuhnya seakan candu untuk terus menyentuhnya lagi dan lagi.
Padahal awalnya ia sangat percaya diri tidak akan tergoda. Tapi nyatanya kini ia semakin tertarik pada sosok sang istri.
Dering ponsel disaku jaketnya membuatnya tersadar dari hiruk pikuk pikirannya sendiri.
Nama Jun tertera di ponsel yang menyala itu.
"Ada apa?" tanyanya cepat.
"Apakah Anda sedang sibuk Tuan?" Jun malah balik bertanya.
"Hmm...cepat katakan!"
"Saya ingin menemani Anda bertemu Jiana. Saya akan mengawal Anda" kata Jun diujung telepon.
Mendengar itu Tuan Muda Harly mengerutkan keningnya. Ia melihat ke sekeliling daj menemukan Jun yang duduk diatas sepeda motor sport miliknya. Sanh asisten melambaikan tangan dari area parkir tepat diseberang mobil Range Rover Sport miliknya.
Jun tampak turun dari motornya dan berjalan menghampiri tuannya.
"Kau menguntitku?" tanya Tuan Muda Harly dengan nada tidak suka.
Jun menggeleng cepat. Lalu membukakan pintu mobil lebar - lebar agar Tuan Muda Harly segera turun.
"Mana mungkin Tuan" kata Jun dengaj cengiran diwajahnya.
"Lalu?"
"Saya hanya punya firasat Anda akan datang ke tempat ini" Jun memberi alasan, padahal benar ia mengikuti tuan muda itu sejak keluar dari apartemennya.
Tuan Muda Harly menggeleng, tidak percaya begitu saja.
"Apa motivasimu?" cecarnya sambil berjalan masuk menuju unit apartemen Jiana.
__ADS_1
"Saya ingin menjadi malaikat pelindung tak bersayap untuk Anda dan Nona" celetuk Jun.
"Kau membual sekali lagi kuusir kau dari perusahaan!" ancam Tuan Muda Harly. Meski begitu ia tetap mengizinkan Jun mengiringi setiap langkahnya.
Mereka sampai di apartemen Jiana. Jun segera memencet bel. Sampai beberapa kali tapi Jiana tak kunjung membuka pintu.
"Apa Anda sudah menelepon mengabari kita akan datang?" tanya Jun sembari menempelkan tangan di bel.
Tuan Muda Harly menggeleng. Ia mengeluarkan ponsel, baru akan mencoba menghubungi Jiana.
"Tekan bel nya. Mobilnya ada dibawah, dia pasti ada di dalam" kata lelaki itu sembari menempelkan ponsel ditelinga.
Jun menurut dan terus membunyikan bel sampai akhirnya pintu itu terbuka juga. Namun bukannya Jiana malah orang lain yang muncul dibalik pintu. Membuat Tuan Muda Harly dan Jun melotot melihat siapa yang keluar dari pintu itu.
"Tu...tuan Ben!" seru Jun terbata.
Ben tersenyum dan menepuk bahu Jun beberapa kali.
"Oh, hai keponakanku yang tampan. Lama sekali kita tak saling bertemu. Mungkin karena kau begitu sibuk sampai melupakan pamanmu yang tampan ini" celoteh Ben dengan wajah memelas.
Tuan Muda Harly memasang wajah angkuhnya. Ia malas meladeni paman yang hanya lima tahun lebih tua darinya itu.
Dari dulu hubungan keduanya memang tak pernah harmonis. Ben selalu membuatnya kesal dan jengkel dengan semua tindak tanduknya. Entah mengapa tapi yang pasti Ben selalu berusaha mencampuri urusannya. Terlebih saat Tuan Muda Harly mulai mengencani Jiana dulu. Ben pun mendekati Jiana entah apa tujuannya.
"Kenapa kau disini?" tanya Tuan Muda Harly to the point.
Sudut mulut Ben terangkat tinggi, senyum lebarnya mengembang.
"Tidak ada alasan spesial. Hanya menyapa teman lama. Kau tidak lupa kan? Jiana dulu adalah asistenku sebelum dia ke Aussie" Ben menyingkir dari pintu agar kedua tamu Jiana itu bisa segera masuk.
Tapi seseorang lainnya muncul lagi dari dalam.
Jun melihat tidak suka ke arah Ren yang berdiri di ambang pintu.
"Sudah kuduga kau disini, kak. Kenapa kau terus membuat dirimu menjadi pecundang bodoh?"
Ben bersiul dan melewati keponakan beserta asistennya. Lalu berbalik sesaat.
"Aku jadi penasaran. Siapa yang akan kau pilih. Istrimu yang cantik dan muda atau mantan kekasihmu yang mempesona dan berpengalaman?" tuturnya dengan lirikan ingin tahu.
Tuan Muda Harly membuang muka dan meneruskan langkah meninggalkan pamannya.
Ben pun pergi seakan tak butuh jawaban atas pertanyaannya barusan.
"Aku jadi bingung mau berada dipihak siapa" gumamnya lalu menghilang dibalik pintu lift yang mengantarnya ke basement.
Di dalam unit milik Jiana kini sudah berkumpul tiga orang pria.
"Dimana Jiana?" tanya Tuan Muda Harly yang sudah mendudukkan diri di sofa beludru bewarna bude itu.
Ren dan Jun duduk bersebelahan di hadapannya.
"Jiana sedang mandi" kata Ren singkat.
"Lalu kau sedang apa disini?" tanya Jun sengit.
Ren yang mendengar nada tinggi adiknya langsung melempar pandangan kesalnya. "Itu urusanku. Kenapa kau ini senang sekali mengusikku hah?"
Jun tersenyum smirk lalu mengambil bantal sofa dan melemparnya pada sang kakak.
__ADS_1
"Kau selalu tidak ada dirumah akhir - akhir ini. Jadi apa kesinikah kakakku sang bujangan tampan setiap malam?" celetuk Jun dengan wajah sok polos.
"Aku ini kakakmu. Tunjukkan sopan santumu!" seru Ren dan mengembalikan lemparan bantal dari Jun dengan lebih keras.
Tuan Muda Harly yang menyaksikan tingkah konyol kakak beradik itu hanya geleng - geleng kepala.
"Harly! Kau datang?" suara ceria Jiana terdengar bersamaan dengan tubuhnya yang keluar dari balik pintu kamar bercat putih.
Wanita itu setengah berlari dengan wajah berbinar. Lalu menghambjr ke sofa yang sama dengan Tuan Muda Harly. Memeluk dengan manja lengan pria itu.
"Baru sebentar kita tak saling bertemu tapi sudah saling merindukan seperti ini. Aku merasa bahagia" gumamnya menyandarkan kepala dibahu sang kekasih.
Tuan Muda Harly menoleh ke samping memperhatikan wajah Jiana dengan seksama. Seakan sedang memikirkan banyak hal tentang wanita itu dikepalanya. Ia memandangi wanita itu cukup lama sebelum akhirnya mengalihkan perhatiannya kepada Ren.
"Kalian berkumpul tanpa aku" selorohnya dengan wajah datar.
Jiana yang masih terhayut dengan tatapan dalam kekasihnya tadi belum merespon juga. Ia masih asyik menikmati wajah tampan sang kekasih.
"Saya hanya datang mengantarkan makan malam untukknya. Kebetulan saya pergi makan malam direstoran yang Jiana suka. Jadi..."
"Wah kakakku ini memang sahabat sejati. Memang patut kuacungi jempol. Tapi tahukah kau belakangan ini ibu tiri kita yang cerewet itu selalu menanyakanmu?" potong Jun begitu saja hingga mendapatkan pelototan dari sang kakak.
Jiana tiba - tiba melempar bantal sofa ke arah Jun. Tapi Jun sigap menangkapnya.
"Ren memang setia dan selalu ada untukku. Kau tidak boleh iri! Hanya karena dia menamaniku makan malam Kau kan juga tahu aku paling tidak suka makan sendirian. Apalagi saat malam!"
Jun memutar bola matanya malas mendengar pembelaan Jiana untuk Ren. Baginya itu terdengar seperti alasan klasik yang dibuat - buat.
"Kau memang licik!" gerutu Jun sambil membuang muka.
"Dasar tidak sopan!" balas Jiana tak kalah kesal.
Bagaimana tidak kesal. Adik sahabatnya itu selalu cari masalah bila berjumpa dengannya. Entah kenapa, untuk alasan apa ia tak tahu.
"Berhentilah ribut!" sergah Tuan Muda Harly.
Jun dan Jiana langsung pasang wajah malu. Menyadari tingkah kekanak - kanakan mereka.
"Kenapa Ben kesini?" tanya Tuan Muda Harly pada Jiana dan Ren yang sudah ada disini saat ia bertemu Ben tadi.
"Hanya menyapa!"
"Dia mencari saya!"
Sahut Jiana dan Ren bersamaan. Tapi jawaban keduanya berbeda. Membuat Tuan Muda Harly bingung dan melirik keduanya bergantian.
"Dia mencari Ren!"
"Tuan Ben hanya menyapa!"
Sekali lagi Jiana dan Ren menyahut bersamaan. Namun kali ini jawaban masing - masing malah tertukar.
Tuan Muda Harly menautkan alis dengan kerutan dikening. Sementara senyum smirk Jun tersungging jelas di wajahnya.
"Pencundang!"
*
tbc.
__ADS_1