
Malam panjang akhirnya berlalu tanpa ia sadari. Mentari menebar semburat keemasan di cakrawala meski diluar belum terlalu terang. Ia menggeliat, terbangun dari lelapnya.
Tuan Muda Harly memegangi kepalanya yang terasa nyeri. Pandangannya masih kabur saat ia bangun dari tidurnya. Perlahan inderanya mengangkap suasana sunyi suite room yang kini ia tempati.
"Aakkh!" ia meraba kepalanya lagi. Perutnya terasa mual, bergejolak minta dikuras.
Ia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan cairan yang tak seberapa ke wastafel keramik berbentuk mangkok besar.
Sekarang nyeri kepalanya sedikit berkurang. Tapi ia masih merasa lemas.
Ia menatap dirinya dicermin dan menyadari dirinya tak berpakaian selembar kainpun.
"Sial! Apakah aku..."
Ingatannya kembali pada malam sebelumnya saat ia baru saja selesai beramah tamah dengan seorang tamu kenalan sang ayah. Oleh karena Tuan Utama Benjamin tidak menghadiri acara amal itu karena masih berada di Turki, ia harus menggantikannya menjamu tamu penting itu.
Potongan ingatan berlanjut saat ia masuk ke presidential suite room yang sudah disiapkam Ren sebelumnya. Saat masuk, musik klasik terdengar mengalun dan pendar cahaya di ruangan tengah menampilkan siluet seorang wanita.
Ia berjalan mendekat. Menelisik seisi ruangan. Meja makan ditata rapi dengan lilin menyala.
"Jiana? Ada apa ini?"
Wanita itu tersenyum dengan sangat manis. Lalu berjalan mendekatinya, melilitkan lengan dipinggang dan dadanya.
"Apa lagi? Makan malam romantis dengan kekasihmu!" ujar Jiana sambil memeluknya mesra.
Tuan Muda Harly merasa hal itu tidak benar. Suite room ini adalah miliknya, seharusnya Haina berada disini bersamanya. Lalu mengapa justru Jiana kini bersamanya?
Ia menarik diri dan melepaskan pelukan Jiana. Meski kekasihnya itu terlihat kecewa, namun masih tersenyum.
"Ren mengantarku kemari. Jangan marah padanya, oke?" Kata Jiana sambil menyibak rambutnya kebelakang. Ia berjalan ke arah meja makan dan menarik satu kursi.
"Duduklah. Kita harus bicara" katanya lagi.
Tuan Muda Harly menyugar rambutnya dengan satu tangan. Lalu menghela napas panjang. Akhirnya ia menurut dan duduk dikursi itu.
Sampai disana ia ingat kemudian meminum beberapa teguk wine yang sudah dituangkan di gelas dihadapannya.
Apa yang terjadi setelahnya?
Bayangan Jiana yang sedang berbicara dengan menggebu - gebu melintas. Tapi ia tak bisa mengingat apa yang dibicarakan wanita itu.
Kemudian potongan adegan ciuman tiba - tiba saat ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke tengah ruangan. Jiana menciumnya dan mengalungkan lengan dilehernya.
Lalu terdengar suara teriakan Jun. Selanjutnya adegan keributan di lift melintas dengan cepat.
Tuan Muda Harly akhirnya tersadar. Bahwa ia bersama istrinya semalam. Disini, di suite room ini.
Ia segera berlari kekamar tidur. Dan menadapati kehampaan diruangan mewah yang luas itu. Hanya ada dirinya. Ia berjalan cepat ke arah tempat tidur dan menemukan pakaiananya sendiri berceceran di lantai.
"Apa yang sudah kulakukan?" serunya sambil menyugar rambutnya kasar. Lalu segera memakai pakaiannya. Saat hendak memakai kemeja ia menemukan bekas cakaran di lengan atasnya.
Ia berusaha mengingat. Tapi ingatannya terhenti pada adegan saat ia menyeret Haina dan mendorongnya ke ranjang. Hanya itu! Ia tidak bisa mengingat apapun lagi.
Seketika kekalutan menguasai dirinya. Ia mencari - cari ke segala arah. Berharap menemukan petunjuk.
__ADS_1
"Haina, dimana kau?" gumamnya panik.
Ia menemukan ponselnya diatas meja ruang makan yang bergabung jadi satu dengan dapur.
.
Beberapa jam berlalu. Tapi keadaan masih sama. Lelaki itu masih belum menemukan keberadaan istrinya.
Haina hilang!
"Apa saja yang kalian lakukan? Kenapa dia bisa hilang dihotel ini? Apa ini hotel murahan?" hardiknya penuh emosi kepada jajaran staf berjabatan tinggi dihotel itu.
Kini ia berada diruang khusus staf. Menumpahkan amarah dan kekesalannya pada semua orang. Termasuk Jun, Ren, Steffi dan juga Bella.
"Kenapa? Kenapa kalian diam saja? Apa itu masuk akal? Di hotel sebesar ini istriku hilang! Lalu tidak ada satupun cctv merekam jejaknya? Kalian gila?"
Tak hentinya ia terus mengoceh dan memaki.
Semua orang hanya bisa menunduk dalam - dalam. Tidak ada yang bisa memberi jawaban. Faktanya Haina menghilang dan rekaman cctv semalam juga raib. Entah siapa yang sengaja menghapusnya.
"Tuan muda, harap tenang dan bersabar. Kami akan berusaha..."
"Ini sudah lima jam tapi tidak ada hasil! Istriku tidak ada dimanapun kalian mencarinya. Kau masih menyuruhku bersabar?" sentaknya memotong ucapa salah seorang staff hotel berkacamata.
Benar, kesabarannya setipis tissue. Hal konyol yang ia dengar membuatnya murka.
"Bagaimana bisa rekaman cctv terhapus begitu saja? Kalian benar - benar tidak becus!" umpatnya lagi.
Kemudian ia berlalu pergi. Semua orangnya mengekori dengan was - was. Takut kalau tuan muda arogan itu kembali meneriaki mereka.
"Suruh orang kita mencari Haina sekarang Juga. Kenapa kau diam saja?" sentaknya pada Jun dan Ren.
"Temukan dia secepatnya!" titah Tuan Muda Harly saat sudah duduk diruang kerjanya di kantor pusat Benjamin Corp.
"Baik Tuan" sahut Ren dan Jun bersamaan.
Bella dan Steffi bertugas mencari keberadaan Haina ditempat yang memungkinkan. Seperti rumah teman, AK Studio maupun rumah keluarganya di desa.
Jun memarik tangan Ren saat membuntutinya ke toilet.
"Kau lihat! Ini semua akibat kebodohanmu!" cerca Jun geram.
Ren menyungging senyum masam.
"Kau gila? Ini semua tidak akan terjadi kalau kau tidak mencuri kartu akses itu dari mobilku. Kau sendiri yang melemparkan gadis itu ke jurang!" balasnya kesal.
Jun tertawa dengan nada sumbang.
"Kak, sadarlah! Dia istrinya, sudah seharusnya dialah yang ada disana semalam. Bukan Jiana cinta mati bodohmu itu!" hardik Jun.
Ren mengepalkan tangannya dan pergi begitu saja dari toilet. Ia tidak jadi menggunakan toilet di lantai itu dan akan pergi ke lantai bawah.
Ia sudah keluar dari lift. Sudah menyelasaikan urusannya di toilet dan akan kembali keruang kerjanya.
__ADS_1
"Jia!" serunya mendapati Jiana yang bersitegang dengan dua sekretaris di mejanya.
"Ren! Lakukan sesuatu!" seru Jiana meminta dengan raut gelisah.
Rupanya dua sekretaris wanita yang merupakan bawahannya tegas menolak saat Jiana terus meminta bertemu atasan mereka.
Ren menggeleng pelan. Tuan Muda Harly sudah melarang siapapun masuk keruangannya. Ia tidak ingin menambah perkara. Atau atasan tertingginya itu akan murka sekali lagi.
"Ayolah Ren!" pinta Jiana lagi.
Ren menggeleng dan mengajak Jiana pergi dari sana.
Mereka memasuki ruang tunggu khusus tamu di lantai wakil presdir. Syukurlah ruangan itu kosong.
"Dia tidak mau menemuiku, apa itu karena gadis itu?"
"Gadis itu menghilang. Entah sejak kapan, tapi kami belum menemukannya dimanapun dan masih mencarinya" jelas Ren.
Jiana terdiam dengan ekpresi sulit dibaca.
"Entah aku harus senang atau prihatin. Tapi Harly mungkin menyakitinya semalam. Dia bahkan mengabaikan aku..."
"Harusnya kau senang. Gadis itu pergi dengan sendirinya. Tuan muda akan melupakan masalah itu, hanya perlu menunggu waktu"
Jiana menggeleng pelan. Sejak semalam dadanya terasa sesak. Pikirannya kacau, mengingat pertengkaran yang sempat terjadi semalam.
"Bagaimana kalau dia tidak mengiginkan aku lagi? Apa aku salah selama ini mengejar karirku sambil terus bertahan dalam situasi sulitku?" Jiana berucap dengan suara bergetar.
"Tidak! Sudah kubilang kau hanya harus bersabar!" seru Ren sedikit berteriak.
Jiana terperangah dan menatap Ren nanar.
"Kami bertengkar hebat. Dia marah padaku karena masuk kesana tanpa izinnya. Seharusnya aku tak mendengarkan saranmu, Ren!" tuturnya penuh sesal lalu berjalan pergi dari sana.
Sementara itu diruangannya, Tuan Muda Harly membanting dokumen diatas meja. Tidak satupun dokumen itu ia selesaikan. Ia sama sekali tidak bisa fokus.
Potongan ingatan kejadian semalam terus melintas dikepalanya. Tapi ingatan itu tetap berhenti sampai ia mendorong Haina ke kasur.
Ia menyugar rambutnya lagi dengan kasar. Mencoba memusatkan pikirannya dan menggali lagi ingatan kejadian semalam.
"Aaarrghh! Sial!"
Tak ada yang berhasil ia ingat. Sekarang pikirannya malah dipenuhi suara isak tangis Haina yang terus mengiang ditelinga. Hal itu semakin membuatnya frustasi.
"Apa yang terjadi? Apakah aku menyakitinya?" gumamnya menatap lurus.
Benar. Ia sudah bisa menduganya saat mendapati dirinya tak berpakaian pagi tadi di suite room hotel itu. Lalu bercak darah yang ia temukan diseprei putih, semakin memperkuat dugaannya.
"Brengsek!" geramnya kesal pada kekacauan yang terjadi hari ini.
"Kenapa? Kenapa aku harus kehilangan akal sehatku?" tanyanya pada diri sendiri. Ia juga sangat bingung. Mengapa beberapa teguk anggur saja sudah bisa membuatnya hilang kendali, bahkan ia tidak dapat mengingat dengan jelas kejadian semalam. Aah! Semuanya jadi kacau. Sungguh kacau!
__ADS_1
*
tbc.