
Haina menunggu suaminya kembali dari ruang kerjanya. Usai makan malam tadi ia ditinggal Tuan Muda Harly yang menyibukkan diri diruang kerjanya. Ia duduk sofa sambil merangkai kalimat yang akan dikatakannya nanti. Pokoknya Haina harus mendapatkan izin itu secepat mungkin. Karena waktu pendaftaran ulang tinggal tiga hari lagi. Sedangkan ia perlu berkonsultasi lebih dulu tentang kelas memasak yang ingin ia ikuti.
Sudah hampir tengah malam namun Tuan Muda Harly tak juga kembali ke kamar mereka. Haina jadi gelisah dibuatnya. Bagaimana jika suaminya itu benar - benar marah padanya. Karena kejadian tadi, saat ia menolak untuk dicium.
"Apa coba kulihat dia diruang kerjanya?" gumam Haina.
Ia membuka pintu kamar dan melihat sekitar. Sepi, para pelayan sudah tak nampak satupun termasuk pengawal Haina yang sudah habis jam kerjanya saat Tuan Muda Harly kembali dari kantor tadi. Haina berjalan pelan menyusuri lantai marmer bewarna abu muda menuju ruang kerja yang terletak tak jauh dari kamar. Perlahan mendekat ke pintu coklat yang tertutup rapat. Ruang kerja itu tertutup rapat jadi Haina mencoba mengetuk pintu terlebih dahulu.
Tok...tok...tok!
"Ini aku, Haina...apa aku boleh masuk?" ujar Haina mendekatkan wajahnya ke daun pintu.
Tak ada suara sahutan terdengar dari dalam meski Haina sudah mencoba mengetuk pintu itu lagi. Haina memanyunkan bibirnya kecewa, padahal ia sangat berharap bisa segera menyelesaikan urusannya. Ia berbalik hendak kembali ke kamar namun Pak Sun datang dengan membawa nampan ditangannya.
"Anda belum tidur, Nona?" tanya Pak Sun setibanya di hadapan Haina.
Gadis itu tersenyum dan memandangi Pak Sun dengan mata penuh harap.
"Belum, Pak Sun. Ehm, Pak Sun membawa apa?" tanya Haina sambil melirik isi cangkir di nampan yang dibawa Pak Sun.
"Ini teh camomile, Nona. Tuan muda memintanya tadi"
"Ehmm, kalau boleh biar saya yang mengantarkan ya, Pak Sun?" ujar Haina dengan senyuman diwajahnya.
Pak Sun tersenyum mendengarnya. Lalu menyerahkan nampan ditangannya pada Haina. Setelah itu membuka pintu coklat itu untuk Haina.
Haina masuk sendirian saat Pak Sun sudah undur diri. Ia berjalan mendekat dan meletakkan cangkir teh di atas meja kerja yang ada disana. Tapi suaminya itu tidak ada di meja kerjanya.
"Kemana perginya?" gumam Haina pelan sambil celingukan mencari keberadaan suaminya.
Kemudian pandangan Haina tertumpu pada sebuah sofa panjang yang membelakangi meja kerja diruangan itu. Perlahan, Haina berjalan mendekat.
Ternyata benar, Tuan Muda Harly ada disana. Ia tertidur dengan posisi berbaring dan mata tertutup satu lengannya.
"Ternyata dia sudah tidur. Apa harus kubangunkan ya?" gumam Haina pelan sekali.
Haina jongkok sejajar posisi kepala Tuan Muda Harly.
__ADS_1
"Tuan...tuan...bangunlah dan tidur dikamar" ujar Haina.
Tuan Muda Harly bergeming. Maka Haina mencoba lagi dengan menepuk pelan bahunya.
"Tuan ayo bangun"
Berhasil. Tuan Muda Harly menarik lengan yang menutupi matanya. Tapi matanya masih memejam.
"Harus berapa kali kubilang, tidak ada Tuan" gumamnya dengan mata terpejam.
"Maaf aku lupa" cicit Haina.
Tuan Muda Harly bangun dari tidurnya dan duduk dengan punggung disangga tangan sofa, setengah tiduran.
Haina berdiri dan duduk di ujung sofa. Ia mengumpulkan udara sebanyak - banyaknya lalu membuangnya perlahan.
Haina sudah menjernihkan pikirannya sejak tadi. Bahwa ia bersikap tidak pantas ketika suaminya hendak meminta haknya dan seharusnya ia tidak boleh menolak sekalipun walau sebenarnya ia tak menginginkannya. Haina tahu ia sudah keterlaluan. Ia tahu kewajiban seorang istri, tahu bahwa dosa hukumnya bila tak memenuhi kewajiban itu. Akan tetapi ia mempuanyai alasannya sendiri dan ia ingin minta maaf untuk itu.
"Maafkan aku. Aku benar - benar minta maaf. Tapi aku punya alasan untuk itu. Seseorang pernah berusaha melecehkan aku dulu, saat aku masih remaja. Aku...masih mengingatnya, masih sangat ingat. Jadi aku...takut" ujar Haina dengan raut wajah sedih bercampur takut.
"Jadi kau berpikir aku melakukan hal yang sama dengan bajingan itu?"
"Lalu apa?" Tuan Muda Harly meninggikan nadanya dengan cepat menurunkan kakinya dari sofa, membetulkan posisi duduknya. "Kau bahkan menitikkan air matamu"
"Aku hanya tidak terbiasa. Aku tidak pernah berciuman sebelumnya, aku benar - benar..." Haina tak melanjutkan kalimatnya. Ia merasa tidak perlu menjelaskan apapun, tapi ia juga tak mau pria disampingnya itu salah paham padanya. "Tiba - tiba aku teringat kejadian itu, lalu..."
Tiba - tiba tubuh Haina didorong dengan cepat sehingga punggungnya beradu dengan tangan sofa.
Cup!
Satu kecupan lembut berhasil mendarat dibibir Haina. Kecupan singkat yang mampu membuatnya membeku ditempatnya. Kali ini jantung Haina kembali berdetak dengan sangat cepat. Tapi ia masih terpaku pada tatapan Tuan Muda Harly yang sangat dalam menatapnya.
Wajah kedua sangat dekat, dengan tubuh Tuan Muda Harly yang mengungkung Haina dibawahnya seakan mengantarkan getaran aneh disekujur tubuh Haina.
Tuan Muda Harly kembali memangkas jarak diantara mereka yang hanya sejengkal saja. Perlahan meraih tengkuk Haina lalu menyatukan bibirnya dengan bibir Haina. Kembali mengecup bibir ranum merah muda milik Haina.
Kali ini Haina tidak lagi berusaha menolak. Ia hanya diam saat bibir mereka kembali bertemu dalam kecupan yang singkat tetapi dalam.
__ADS_1
Tuan Muda Harly menarik wajahnya saat mengakhiri kecupan itu. Kali ini ia menatap Haina lebih intens. Dengan tatapan dalam yang mampu membuat Haina tetap membisu dengan wajah memerah sempurna. Lalu dengan cepat menyatukan kembali bibir mereka.
Kali ini bukan kecupan singkat lagi, tetapi ciuman. Ciuman hangat nan lembut seolah berusaha memberi kenyaman. Ia terus menyesap bibir istrinya pelan dan melepasnya sesekali.
Haina terhanyut begitu saja dengan ciuman itu. Matanya memejam dengan kedua tangannya mencengkram erat kain roknya. Sejujurnya ia gemetar, tetapi sesapan demi sesapan dibibirnya membuat perhatiaannya tak lagi pada rasa takutnya. Seakan terhipnotis dengan ******* yang mulai ia rasakan menjelajar setiap inci bibirnya. Kini kedua tangannya sudah berpindah mencengkram baju suaminya. Secara alamiah mengikuti nalurinya.
Tuan Muda Harly terus menyesap dan ******* bibir Haina dengan lembut. Menikmati setiap pertemuan bibir mereka dengan nafas yang saling menderu.
"Hahh..." Haina terkesiap saat Tuan Muda Harly menghentikan ciuman mereka. Kedua matanya otomatis terbuka. Ia berusaha mengendalikan nafasnya dan melepaskan perlahan cengkramannya dibaju suaminya.
Tuan Muda Harly melepaskan tengkuk Haina dan memebetulkan duduknya, beranjak dari atas tubuh Haina yang tersandar pada lengan sofa.
"Lihat! Kau baik - baik saja, kan." Ujarnya lalu berdiri dan beranjak menuju meja kerjanya. Ia duduk dikursi kerjanya dan segera membuka laptop dihadapannya.
Haina segera membetulkan duduknya dan menatap Tuan Muda Harly yang melanjutkan pekerjaannya. Suaminya itu terlihat fokus dengan apa yang dikerjakannya.
Haina berdiri dan perlahan berjalan mendekat ke meja kerja Tuan Muda Harly. Ia baru saja menyadari tujuan utamanya datang keruangan itu. Dengan ragu berusaha membuka mulutnya.
"Emh, aku..."
"Kembali ke kamar dan tidurlah!" titah Tuan Muda Harly yang masih fokus menatap layar laptop didepannya.
"Tapi aku..."
"Kembali dan tidurlah!" ujar Tuan Muda Harly dengan penekanan di setiap katanya.
Haina membungkam mulutnya yang hendak bicara. Dengan terpaksa menganggukkan kepalanya dan berbalik.
"Aku kesini untuk mendapatkan izinmu kenapa kau malah mengusirku setelah menciumku?" batin Haina.
Ia tak punya pilihan lain selain kembali ke kamar dan tidur. Malam ini ia gagal mendapatkan izin mengikuti kursus dan malah berhasil melakukan ciuman pertama dengan suaminya.
"Aaaaaaaaakhh!!!" Haina tidak percaya ia sudah berciuman dengan Tuan Muda Harly yang dingin dan arogan itu. Rasanya seperti mimpi, ia bahkan tidak pernah membayangkan itu sebelumnya.
Jantung Haina kembali berdebar mengingat ciuman tadi. Kini rasa benci yang pernah bersemayam dihatinya seolah melebur dan menguap entah kemana. Ia melihat dirinya yang tersenyum di kaca meja rias saat gambaran tengang ciuman itu berakhir di otaknya.
"Tidak! ini tidak baik. Kau tidak boleh jatuh cinta. Jangan jatuh cinta!" hardik Haina pada diri sendiri.
__ADS_1
*
tbc