Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Pesta


__ADS_3

Matahari sudah dijemput senja saat Haina sampai diapartemen. Ia melangkah gontai memasuki unit dan melempar tubuh di sofa ruang tengah.



Hari ini terasa menyenangkan dan penuh keseruan. Ia banyak belajar hal baru dari Marchel dan para suplier bahan yang mereka temui.


"Oh, aku hampir melupakan ini" gumamnya saat melihat kantong berisi udang mentah yang ia letakkan begitu saja di meja kaca. Ia beranjak ke dapur dan membersihkan sendiri udang itu, para pelayan sudah pulang karena jam kerja mereka hanya sampai pukul enam sore.



"Selesai juga!" seru Haina saat sudah menyimpan udang di freezer.


Ia langsung menuju ke kamar dan membersihkan diri.


Tak lama ia sudah selesai dengan ritual mandinya. Aroma sabun dan sampo menguar begitu wangi saat ia keluar dari kamar mandi. Haina lekas berpakaian. Ia harus menyiapkan makan malam.


Rupanya Ida dan Lili menyiapkan hidangan kesukaannya kali ini. Sapi lada hitam, tumis buncis, capcai dan kerupuk udang.


Haina sudah menata semua dimeja makan. Jam dinding menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh. Tapi Tuan Muda Harly belum juga kembali. Jadi ia memutuskan menunggu sambil mencoba menelepon.


Satu kali panggilan, tak ada jawaban. Begitupun panggilan kedua. Haina melempar ponselnya ke sofa.


Harusnya ia sudah biasa dengan keadaan itu. Dirinya yang selalu menunggu setiap hari. Meski ia enggan mengakui, tapi sering kali ia dibuat jengkel karena harus menunggu seperti itu. Tuan Muda Harly tak pernah mengabarinya jika akan pulang terlambat maupun tidak pulang sama sekali.


Disaat seperti itu hanya Jun penolongnya. Ia akan menanyai asisten sang suami. Menelepon sendiri atau mengirimi pesan langsung jarang ia lakukan. Karena apa? Ya, ia malas kalau mendapati kenyataan pesan atau teleponnya diabaikan.


"Menyedihkan sekali kalau harus selalu menanyai Jun. Lebih baik aku makan duluan!" Akhirnya ia bangkit dari duduknya dan melipir ke dapur untuk menikmati makan malam sendirian di minibar.


Begitu selesai ia langsung mencuci piringnya sendiri. Lalu menyalakan televisi diruang tengah. Apa Haina suka menonton televisi? Tidak juga, setidaknya suara televisi membuat hunian mewah itu tak terasa terlalu sepi. Tapi, Haina tetap kesepian. Ya, sudah biasa begitu sejak awal.


"Aku sudah kebal!" kata gadis itu sambil menepuk dadanya bangga.


Bangga? Tentu!


"Aku, Haina Pertiwi tidak akan mengemis cinta padanya" seru Haina lantang sambil mengacungkan remote televisi ke udara.


Tiba - tiba secara bersamaan pintu apartemen itu terbuka. Haina segera berjalan menuju ruang tamu melihat siapa yang datang. Ah! Sudah pasti suaminya. Siapa lagi yang tahu sandi apartemen itu selain dirinya, sang suami dan pelayan.


"Sudah pulang?" sapa Haina dengan senyum manis diplomatis.


"Apa yang kau teriakan tadi?"


"Apa? Tidak ada" Haina mengambil tas kerja dari tangan Tuan Muda Harly lalu mengikuti lelaki itu masuk ke kamar.


Tuan Muda Harly seperti biasa berdiri diruang ganti dan merentangkan tangannya. Aba - aba supaya Haina melepaskan jas yang ia pakai.


Haina mendekat dan meraih kerah jas. Tapi tiba - tiba sepasang tangan melingkari tubuhnya.

__ADS_1


"Hariku sangat melelalahkan. Tapi sepertinya istriku bersenang - senang dengan pengagumnya"


"Cih! Tidak tahu malu, menyindirku begitu"


"Bagaimana, kau senang kuberi kebebasan?"


Haina menggeliat minta dilepaskan. Tapi lelaki itu terus memeluknya.


"Aku sangat profesional, kami hanya bekerja. Dia juga sangat menghormatiku" sahut Haina akhirnya.


"Profesional?" ulang Tuan Muda Harly.


"Hmmm... hanya bekerja. Aku ini istri setia"


Tuan Muda Harly melepaskan gadis itu dari pelukannya dan memegangi kedua bahu sebagai gantinya.


"Kenapa aku merasa disindir olehmu?" gumamnya sambil menatap mata Haina penuh selidik.



"Itu tidak benar. Aku hanya meluruskan sebelum kau berpikir yang tidak - tidak lalu mengikatku dengan dasimu di kam..."


"Ohooo... kau menyindirku lagi?"


"Tidak! Sekarang ayo cepatlah mandi"


Haina segera melepaskan jas yang dipakai sang suami tanpa menghiraukan lagi tatapan tajam Tuan Muda Harly.



"Undangan untukmu!"


Haina membalik undangan dan membacanya dengan bersuara.


"Pesta amal?"


"Benar. Itu acara tahunan yang diselenggarakan yayasan milik Benjamin. Pesta untuk mengumpulkan donasi untuk segala kegiatan amal dibawah HB Humanity!"


"Oh. Pesta yang seperti itu!"


Tiba - tiba wajah gadis itu terlihat murung. Bayangan pesta waktu lalu masih segar diingatannya. Dirinya yang hanya menjadi penonton dari kejauhan. Lagi pula rasanya ia tidak nyaman ada di pesta semacam itu. Sangat asing dan canggung.


"Pastikan pilih gaun yang benar. Jangan sampai aku melihatmu pakai gaun pamer kulit!" gertak Tuan Muda Harly sambil menanggalkan kemejanya sendiri.


"Kenapa kau ingin aku hadir?" Haina ingin mencoba menawar. Lebih baik ia tak hadir diacara seperti itu. Lagi pula sebagai apa? Istri tersembunyi? Tamu yang meramaikan acara? Ah ya, rasanya yang terakhir mungkin lebih tepat. Tapi tetap saja Haina tak ingin datang ke acara itu.


"Kenapa kau sekarang jadi banyak tanya? Kemana dirimu yang patuh dan penurut itu, hemm?" Tuan Muda Harly mendekat dengan tubuh bagian atasnya sudah polos.

__ADS_1


"Ma...mau apa? Cepat sana mandi. Kau bau..."


"Ba...bau?" seru Tuan Muda Harly tak percaya. Bagaimana mungkin tubuhnya yang selalu terawat dan wangi parfum mahal itu bau?


"Maksudku kau segera mandi agar tubuhmu semakin wangi, hehe..." Haina menarik tangan Tuan Muda Harly agar masuk ke kamar mandi.


"Ingat! Siapkan dirimu, aku akan menyuruh Jun, ah tidak... aku akan mengirim stylish prifesional..."


"Ya, baiklah!"


Haina segera menutup pintu saat suaminya itu sudah masuk ke kamar mandi.


*


Akhirnya hari pesta amal itu tiba juga. Pesta diadakan disebuah hotel bintang lima di pusat kota. Haina duduk manyun menunggu tim stylish profesional memilihkan gaun, sepatu dan juga tas jinjing untuknya.


Pesta diadakan malam hari. Jadi sore ini Jun datang dengan membawa stylish. Tidak tanggung - tanggung, stylish datang dengan banyak sekali barang.


"Kenapa repot sekali. Lebih baik kau pilihkan saja baju dibutik dan suruh aku memakainya!" protes Haina pada Jun.


Wajahnya saja sudah menampakkan rasa enggannya untuk datang ke pesta.


"Tuan muda yang memerintahkan, Nona. Budak uang ini hanya bisa patuh" tutur Jun.


"Apa nanti aku akan ditemani Kak Ruhi?"


"Ya, benar sekali"


"Oh ya. Waktu aku pingsan diacara itu. Kenapa kau mengatakan hal konyol itu pada Kak Ruhi? Dia jadi berpikiran yang aneh tentangku!"


"Itu sama sekali tidak benar, Nona. Teman anda orang yang baik"


"Sejak kapan dia menyangi aku sebagai adik? Tuan Muda Harlymu yang arogan dan diktator itu memperlakukan aku seperti mainan. Dan Kak Ruhi jadi bertanya banyak hal padaku. Membuatku terpaksa bohong padanya"


"Emm...kalau itu, saya hanya bisa minta maaf Nona" sahut Jun dengan wajah polos tak berdosa.


Percakapan mereka terhenti saat tim stylish mulai melakukan pekerjaannya. Membuat Haina menjadi gadis cantik yang berbeda.


Sesuai rencana, Haina dan Jun menjemput Ruhi disebuah salon tak jauh dari hotel tempat acara dilangsungkan. Gadis cantik itu juga sudah siap dengan penampilan tak kalah memukau.


"Dia jomblo. Cantik, cerdas, wanita karir dan masih muda. Jadi apa dia tipemu?" tanya Haina saat mobil yang membawa mereka berhenti di parkiran salon.


Jun salah tingkah mendengar pertanyaan tiba - tiba itu.


Ruhi terlihat keluar dari salon itu dengan senyum mengembang diwajah cantiknya. Berjalan menghampiri mobil mereka.


"Lihat senyumnya itu! Jangan pura - pura tidak tahu dia suka padamu"

__ADS_1


*


tbc.


__ADS_2