Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Haina, Jun & Ben


__ADS_3

Haina turun dari sepeda motornya usai memarkirnya di halaman depan Restoramie. Memasuki teras ia melihat tanaman rambat sudah tumbuh subur dipagar besi. Restoran yang akan launcing minggu depan itu terlihat asri dan indah. Tembok bahkan diwarnai sesuai warna favoritnya, hijau lumut.



Haina berdiri diambang pintu dan mengamati Marchel yang sedang meracik minuman bersama Alya.


"Hei, Haina sudah datang!" seru Olga, wanita hamil itu datang dari arah dalak restoran sambil membawa kaleng susu.


Sontak Marchel dan Alya yang fokus pada gelas minuman meneggakkan kepala.


"Oh, bidadariku! Sudah lama sekali kita tak bersua!" seru Marchel antusias. Ia bahkan melepaskan celemeknya dan berlari kesamping Haina.


"Aduh, Ko, lebay sekali. Hampir tiap hari kan kita berempat video call. Bulan lalu juga aku datang kesini!" ujar Haina.


Marchel tergelak dan segera mengajak Haina berkeliling. Pengerjaan renovasi Restoramie sudah rampung seratus persen. Bahkan semua kursi, meja, dan aneka aksesoris penghias ruangan reatoran itu juga sudah ada.



"Woahh! Ini luar biasa, Ko!" seru Haina girang. Seluruh sudut restoran dipenuhi tanaman hijau yang memanjakan mata.


"Benar, ini luar biasa. Kita menghabiskan banyak uang untuk membuat ini"


"Jadi, ayo kita hasilkan banyak uang!" seru Alya yang berlari kesana menyusul Haina dan Marchel.


"Dan mari buka cabang di kota lain!" tambah Haina.


"Lalu ayo kita pecahkan rekor penjualan di bulan pertama. Restoran keluarga terlaris di ibukota!" seru Olga juga dari meja bar minuman.


"Uhuuuuuu!!!" seru mereka bersama sambil bertepuk tangan meriah.


Keempat orang itu kemudian melanjutkan rencana diskusi di kursi dekat taman.


.


Saat matahari kembali ke peraduan, Haina turut kembali ke tempat tinggalnya sekarang. 'Beniq Bakery' terlihat masih melayani penmbeli.


Haina terus naik ke lantai dua, dengan tangga yang berdiri kokok di dinding bagian samping kanan bangunan dua lantai itu.


"Nona!"


Haina menoleh ditengah tangga saat suara seseorang terdengar memanggil.


"Sudah kubilang aku bukan nonamu lagi! Keras kepala!" gerutu Haina. Ia berdiri ditengah tangga dengan berpangku tangan. Tidak berniat turun menyambangi.


"Tapi kan Anda tetap menoleh. Itu artinya Anda masih merasa menjadi nona muda Benjamin!"


"Juuuuunnn!" teriak Haina geram. Ia balik badan dan turun ke bawah, hendak memukuli Jun dengan ranselnya.


Tapi Jun menangkisnya dengan lengan. Berlindung meski pasrah dipukuli.

__ADS_1


Kapan Jun berhasil menemukan Haina? Jawabannya adalah sejak malam pertama Haina menghilang. Malam itu, Ben yang panik setelah tidak sengaja menabrak Haina di sekitaran hotel menelepon asisten keponakannya itu. Lantaran satu panggilan telepon pada keponakannya itu tak terjawab, lantas ia menghubungi Jun.


"Kalau sudah puas kupukuli sebaiknya pergi!" usir Haina setelah berhenti memukuli lengan Jun dengan ranselnya.


"Kalau Nona sudah puas memukuliku sebaiknya kita masuk ke toko roti dan bicara, Nona!" tawar Jun pantang menyerah.


"Ishh! Kau ini memang keras kepala sama seperti tuanmu yang arogan itu!"


Jun cengengesan dibuatanya.


"Pergilah! Jangan datang sebelum mebawa surat gugatan cerai yang sudah ditandatangani tuanmu!"


Triiingg...triiing!


Suara lonceng kecil di pintu kaca menandakan pintu terbuka. Seseorang muncul dari dalam.


"Tuan Ben! Anda disini?"


Haina otoomatis menoleh ke arah pintu.


"Ya. Aku tiba - tiba rindu ibuku, jadi aku kemari lagi. Besok hari ulang tahunnya" gumam Ben sambil menyandarkan badan ke pintu kaca.


Haina dan Jun yang sudah mengetahui cerita pilu tentang ibu Ben hanya bisa tersenyum getir.


"Ayo, masuklah! Aku memesan banyak makanan. Sulit menghabiskannya sendririan" seru Ben kemudian kembali ke dalam.


Haina dan Jun saling lirik.


Jun tersenyum lega dan melangkah masuk ke dalam toko.


Mereka bertiga duduk di meja panjang yang biasa digunakan untuk aktifitas bekerja krayawan toko kue itu.


"Woaahh! Semuanya sudah habis" seru Haina senang saat melihat ke arah etalase pajangan. Ia beranjak dari duduknya menuju pintu kaca. Membalik sign board penanda toko roti sudah tutup, lalu kembali duduk.


"Bisa kita mulai makan? Kebetulan aku lapar" tutur Haina dengan mata berbinar melihat berbagai hidangan fast food di meja itu.



"Makanlah! Semua terlihat lezat" sahut Ben mulai menyuap satu burger double beef ke mulutnya.


"Kenapa seorang tuan muda kaya raya seperti Anda makan malam dengan makanan tidak sehat ini?" celoteh Jun yang belum menyentuh makanan itu.


"Jangan cerewet, makan saja!" sahut Ben sambil mengunyah. Tapi pertanyaan itu membangkitkan sisi melankolisnya. "Mungkin aku terbiasa karena jarang sekali makan makanan rumahan" ucapnya miris.


"Kalau begitu Anda harus segera menikah!" celetuk Jun.


Ben menyunggingkan senyum masam.


"Menikah bukan solusi untuk masalahku" gumamnya lalu lanjut mencomot kentang goreng.

__ADS_1


Haina melihat kegetiran di mata Ben yang lahap memakan makanannya. Ia teringat diri sendiri, yang menjadikan pernikahan sebagai solusi menyelamatkan ibunya dari penjara. Ia sadar semua berjalan mungkin karena takdir. Tapi bolehkan sekali ini ia lari dari takdir itu?



"Emm...Nona. Kapan Nona akan kembali?" tanya Jun usai mereka makan sambil menikmati segelas minuman kaleng dingin.


Haina menghela napas panjang. Ia menyibak rambut dengan kedua tangannya, lalu menatap Jun cukup lama.


"Aku tidak ingin lagi kembali padanya. Sekarang tidak ada yang aku takutkan. Dia tidak bisa lagi mengancam aku seperti dulu" sahut Haina akhirnya.


"Tapi Anda mengulur waktu cukup lama Nona"


"Itu kan sudah kukatakan alasannya. Aku hanya ingin memberinya sedikit pelajaran" gumam Haina.


Jun mengehela napas panjang.


"Aku masih berharap Nona mau merubah keputusan. Tuan muda benar - benar mencintai Anda. Dia sangat kehilanagan saat Anda pergi. Sampai sekarang pun dia masih mencari keberadaan Anda"


Haina bangkit dari duduknya dan membawa kaleng minumannya.


"Sudah dulu bujuk rayumu. Aku lelah" sahut Haina lalu pergi begitu saja melewati pintu kaca dan bertemu Ben yang sedang merokok di luar.


"Sudah mau naik?" tanya Ben seraya membuang puntung rokoknya ke tong sampah.


"Sudah, paman. Terima kasih makan malamnya"


Ben mengangguk dengan segaris senyum di bibirnya. Ia masih memandangi punggung Haina yang mulai hilang dibalik tembok lantai dua gedung miliknya itu.


"Apa yang harus aku lakukan dengan keponakanku yang bodoh itu?" gumamnya, lalu berbalik dan masuk ke toko.


"Pulanglah kalau kau sudah selesai!" katanya pada Jun yang masih asik menikmati minuman kaleng.


Jun menenggak sisa tegukan terakhir dari minuman rasa cincau itu lalu mengelap sudut bibitnya dengan ujung kemejanya.


"Woaahh...Anda dan Nona sangat kompak. Selalu mengusirku tiap kali aku kemari" keluh Jun berapi - api.


Ben mendudukkan bokong di kursi disudut ruangan yang sudah sepi itu. Lalu menyilangkan kaki dan mengibaskan tangannya.


"Cepat pulang sana!" usirnya lagi.


Jun mendengus pelan lalu bangkit dari duduknya. Ia menggamit jas yang tadi disampirkan di meja kasir lalu berjalan menuju pintu keluar.


"Pamit dulu, tuan. Terima kasih atas makan malam yang tidak sehat tapi sangat lezatnya. Permisi!" tutur Jun lalu sedikit menundukkan kepala sebagai tanda hormat.


Ben kembali mengibaskan tangannya cepat agar Jun segera pergi.


"Anak muda memang merepotkan!" gumamnya menyaksikan pintu kaca yang bergoyang sedikit usai ditutup Jun.


__ADS_1


*


Tbc.


__ADS_2