Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Istri yang cemburu


__ADS_3

*Halo readersku tersayang. Tolong banget ya dukungannya. Yang baca lumayan banyak untuk tulisanku yang pemula ini (Bagiku itu sudah cukup banyak hehe) Tapi like, komen dan votenya dikiiiittt banget. Sedih tau nggak 😭


Tolong semangati aku ya dengan like, komen, vote dan beri hadiah jika berkenan. Pliiis...mana tahu habis itu aku bisa dapat energi untuk up dua kali sehari 😆


Buat yang sudah beri dukungan makasi banyak ya 🥰*


Ditempat lain, sepasang anak manusia tengah melihat - lihat area pajangan lampu tidur.


"Aku sangat senang kau mengosongkan jadwalmu sore ini dan menemaniku memilih perabotan baru" Jiana mengusap punggung tangan Tuan Muda Harly mesra.


"Itu kan karena janjiku saat membujukmu kembali setahun lalu. Sekarang...."


"Jangan membicarakan sesuatu yang membuatku sedih, Harly. Kau tahu aku hanya punya kau, kan. Aku ini nyaris sebatang kara" celetuknya dengan ekspresi manja.


Mereka sedang berjalan - jalan disebuah toko perabotan rumah tangga. Keduanya mengenakan masker penutup mulut dan topi. Tuan Muda Harly bahkan menyempatkan diri membeli baju kasual. Semua demi menjaga privasi.


"Ren juga bisa menemanimu. Kalau kau berkata begitu dia akan sedih, kan" kata Tuan Muda Harly.


Mereka sampai di area yang memamerkan aneka sofa. Jiana menghadang langkah kekasihnya dan berjalan mundur dengan tangan saling bertaut di belakang pinggangnya.


"Apa kau berkata begitu karena gadis itu?" tanyanya dengan wajah tenang. Ia masih berjalan mundur dengan perlahan.


"Gadis itu istriku, Jia"


Jiana memasang senyum diplomatis diwajahnya. "Tapi aku kekasihmu. Akulah yang kau cintai bukan?" katanya percaya diri.


Jiana terhuyung karena menyenggol sebuah meja saat berjalan mundur. Tapi untunglah Tuan Muda Harly menangkapnya cepat dengan menarik tangannya. Tubuh mereka berdua jadi menempel.


"Kau belum menjawabku, Harly" Jiana menatap lekat dua bola mata kekasihnya. Namun pria itu diam saja dan melepas tubuhnya, lalu berjalan lebih dulu.


Jiana segera mengimbangi langkah lebar Tuan Muda Harly dan memegangi lengan lelaki itu.


"Jaga sikapmu Jia, aku tidak ingin ada paparazi dan menimbulkan berita negatif tentang pernikahanku" kata Tuan Muda Harly.


Jiana otomatis melepaskan lengan Tuan Muda Harly. Ia menatap wajah kekasihnya itu lekat.


"Kau takut dia cemburu?" selidik Jiana dengan nada tidak percaya.


Tuan Muda Harly tertawa kecil dan memandangi Jiana disampingnya.


"Kenapa aku harus takut? Tapi aku senang dia cemburu padaku" kata lelaki itu santai. "Ayo cepat pilihlah mana yang kau suka!"


Jiana masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Mengapa kau harus senang dia cemburu?" katanya tak terima.


"Dia menggemaskan kalau marah" celetuk lelaki itu asal.


Jiana semakin heran dengan kekasihnya itu. Bisa - bisanya sang kekasih berkata seperti itu tentang gadis lain padanya?


"Mengapa kau berkata begitu? Kau ingin aku cemburu?" Jiana terus menanyai lelaki disampingnya yang menyibukkan diri dengan mencoba menduduki sebuah sofa warna nude.


"Yang ini saja, cocok dengan seleramu" lelaki itu segera berdiri dan beranjak menuju area pameran nakas.


Jiana menyusul ia masih akan menanyai sang kekasih karena tidak mendapat jawaban atas pertanyaannya tadi.

__ADS_1


"Aku tidak akan cemburu hanya karena gadis desa itu. Dia sangat berbeda denganku" katanya. Sekarang fokusnya sudah bukan memilih perabot lagi.


Tuan Muda Harly berhenti berjalan dan menatap wanita itu lurus. Kedua tangannya ia masukkan ke saku celana. Ia sedikit membuka masker mulutnya.


"Aku tidak tahu kau juga bisa berpikiram sempit!" sindirnya.


Jiana jadi gelagapan dibuatnya. Ia adalah wabita dengan kepribadian nyaris sempurna, begitulah ia mencitrakan dirinya selama ini. Ia selalu terlihat berkelas. Mampu bergaul dengan kalangan atas, ia sudah menjadi bagian dari kalangan elit. Tapi ia juga tidak membiarkan dirinya menjadi picik. Apalagi merendahkan status sosial seseorang.


"Bukan begitu..."


Tuan Muda Harly memanggil pramuniaga yang mengikuti mereka dari jauh.


"Kirimkan sofa itu, meja ini dan lampu itu juga!" titahnya, memotong omongan Jiana.


Jiana tak bisa berkata apapun lagi saat ini, karena keberadaan dua orang pramuniaga yang melayani mereka.


.


Matahari sudah tenggelam diperaduan. Saatnya pulang ke apartemen. Tuan Muda Harly mengantar Jiana dan segera kembali. Kali ini ia menyetir sendiri.


"Kau tidak naik?" tanya Jiana usai menutup pintu. Ia mencondongkan tubuhya agar dapat melihat wajah sang kekasih.


"Tidak, aku lelah. Naiklah!" sahutnya.


Merekapun berpisah begitu mobil milik Tuan Muda Harly melaju meninggalkan basement.


Sepuluh menit perjalanan ia sampai di apartemennya. Lelaki itu segera naik ke lantai teratas gedung apartemen mewah itu.


Begitu pintu dibuka aroma harum roti yang baru keluar dari oven menyambutnya. Ia berjalan ke arah dapur dan menemukan istrinya yang baru saja selesai memanggang kue.


"Kau sudah pulang?" tanya gadis itu. Ia masih sibuk memindahkan roti dari loyang ke baki untuk dianginkan.


"Apa yang kau lakukan? Aku belum mandi. Cepat lepaskan aku!" seru Haina sambil menggoyangkan badannya minta dilepaskan.


Tapi Tuan Muda Harly malah mempererat pelukannya sampai Haina tak bisa bergerak lagi.


"Beberapa hari ini aku jarang memelukmu. Apa karena itu kau jadi semakin berani padaku?" tanyanya. Ia meletakkan dagu di bahu istrinya.


Haina mendelik tidak suka. Ia meletakkan capit roti dan loyang yang sudah kosong dengan sembarangan sehingga menimbulkan suara nyaring.


"Lihat! Kau benar - benar marah padaku" kata lelaki itu lagi.


Haina kesal, ia menoleh ke samping dan mendapati suaminya tersenyum dengan tampang tak berdosa.


"Dasar gila! Tukang selingkuh!"


Haina mengumpat dalam hati, tapi wajahnya tetap tenang. Ya, dia sudah berjanji akan mengendalikan diri. Dirinya tidak akan lemah hanya karena diselingkuhi suami diktatornya itu.


"Sekarang kau memakiku dengan tatapan matamu!" gumam Tuan Muda Harly lagi. Ia melepaskan pelukan dan memutar tubuh istrinya. Mereka jadi saling berhadapan.


"Istriku terlihat sangat cantik saat marah" godanya sembari memegangi kedua bahu Haina.


Haina membualatkan matanya lebar. Ia baru saja mendengar Tuan Muda Harly menggombalinya. Padahal tadinya ia ingin bersikap masa bodoh dan seolah tidak mengetahui apapun. Jadi ia memilih diam.


"Kau pasti cemburu padaku!" kata Tuan Muda Harly yang memandangi mata istrinya lekat.

__ADS_1


"Apa?" akhirnya Haina bereaksi juga.


Tuan Muda Harly tersenyum puas dengan raut marah istrinya saat ini.


"Kenapa aku harus cemburu?" tanya Haina dengan tenang. Ia sudah berhasil menguasai diri. Bahkan senyum tipis terukir dibibirnya.


"Jun bilang kau melihat artikel itu"


"Lalu kenapa? Aku tidak cemburu karena hal sepele seperti itu" bantah Haina.


"Tapi matamu berkata lain. Kau marah padaku karena kau cemburu. Kau cemburu karena mencintaiku! Aku senang kau begitu" bantah Tuan Muda Harly tidak mau kalah.


"Itu tidak benar. Pokoknya aku tidak cemburu!" seru Haina dan berbalik pergi meninggalkan dapur. Ia harus cepat pergi untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah tak dapat berpura - pura lagi.


Semakin lama ia meladeni godaan suaminya semakin ia tidak akan dapat menahan diri. Sudah cukup ia dijadikan boneka selama ini. Haina tidak ingin harapan menghancurkan hatinya lebih dari ini.


Haina sudah menanggalkan bajunya dan mengguyur tubuhnya dengan air. Masa bodoh dengan suaminya yang pasti menunggu giliran memakai kamar mandi. Untuk berjaga - jaga ia sudah mengunci pintu kamar mandi.


Tapi sang suami terus mengganggunya dengan menggedor pintu kamar mandi.


"Ya ampun, ada apa dengannya sih? Kenapa dia berubah menjadi usil begitu? Harusnya dia tetap jadi tuan muda sok cool saja!" gerutu Haina smabil mempercepat mandinya.


Tak lama ia keluar dari kamar mandi dengan memakai baju lengkap. Ia sudah membawa baju gantinya tadi.


"Kau semakin berani melawanku, ya? Aku memerintahkanmu membuka pintu tapi kau pura - pura tuli" Tuan Muda Harly berkacak pinggang dan berpura - pura marah.


Haina menggeser tubuhnya dari ambang pintu kamar mandi.


"Maafkan aku sayang. Kau pasti gerah sehabis pulang dari bekerja keras mencari nafkah untuk kita. Tapi aku malah membuatmu menunggu dengan memakai kamar mandinya. Sekarang ayo cepat masuk! Akan kusiapkan pakaianmu" ujar Haina panjang lebar. Sekarang otaknya sudah benar - benar jernih usai diguyur air saat mandi. Jadi ia tidak akan terpancing.


Tuan Muda Harly semakin senang melihat istrinya yang berpura - pura tidak marah padanya. Ekspresi gadis itu saat tersenyum dan bicara dengan tenang tapi matanya tak dapat berbohong, tatapan dingin yang justru membuatnya terlihat imut dan manis baginya.


Kalau dulu ia selalu menuntut sang istri untuk selalu menurut dan patuh padanya. Tapi kini ia justru senang melihat istrinya itu marah dan berusaha membantahnya. Entah kenapa ia merasa itu menyenangkan.


"Ayo ikut mandi dengan ku!" titah tuan muda itu.


"Aku bisa masuk angin kalau mandi dua kali. Kau saja mandi sendiri. Ayo cepat!" Haina membukakan kancing baju suaminya. Seperti biasa ia akan membantu melucuti pakaian suaminya saat akan mandi. Tapi ia baru menyadari bahwa pakaian yang sedang ia bukakan kancingnya saat ini bukanlah pakaian kerja seperti biasa. Hanya sebuah kemeja santai bewarna abu tua dan celana chino bewarna abu muda.


"Kau tidak bekerja hari ini?" selidik Haina.


"Aku bekerja sampai sore lalu menemani Jiana berbelanja perabotan untuk apartemen barunya" ujar lelaki itu santai.


Tiba - tiba Haina berhenti dari aktifitasnya menanggalkan kemeja padahal tinggal tarik kemeja itu akan terlempas sempurna.


"Oh, seperti sepasang pengantin baru. Dia pasti sangat senang" ujar Haina tanpa melihat suaminya.


"Dia memang senang" kata Tuan Muda Harly tidak tahu malu.


Haina pergi begitu saja dan meninggalkan suaminya yang mematung dengan kemaja menggantung di lengannya.


"Hei, kau mau kemana? Kau pasti cemburu!" serunya senang.


*


tbc.

__ADS_1



Kira - kira benigilah ya, wajah Haina saat berpura - pura tidak marah dengan tatapan mata memakinya.


__ADS_2