
Aroma Kitchen Studio—nama lembaga kursus tempat Haina sudah terdaftar sebagai siswa, terlihat begitu mengagumkan dimata gadis itu. Bersama seorang manager bernama Novia, Haina dituntun mengelilingi satu demi satu ruangan studio yang akan dipakai sebagai kelas memasak nanti. Semua peralatan memasak sangat lengkap dengan set yang rapi dan lega. Ia tidak sabar untuk segera memakai baju dan topi putih ala chef.
"Bagaimana, Apa kamu sudah tidak sabar?" tebak Novia.
"Hehe...kelihatan sekali ya Kak?"
"Iyalah, wajahmu terlihat seperti itu" ujarnya dengan senyuman.
Haina tersenyum senang. Dengan sekejap ia sudah akrab dengan manager tempat itu. Tadi ia sudah berkonsultasi mengenai kelas yang ingin ia ikuti. Haina memilih kelas intensif masakan nusantara dengan jadwal kelas dari Senin hingga Kamis. Hatinya terasa berbunga - bunga, ia akan menghabiskan waktu yang menyenangkan dua sampai tiga jam di sini tiap harinya.
Setelah berpamitan pada Novia, Haina segera pulang kerumah diantar Jun dan Dika. Haina tak hentinya tersenyum sambil memperhatikan jalanan dari jendela mobil.
"Untuk apa Anda belajar memasak, Nona? Anda tidak perlu memasak untuk menyenangkan hati tuan muda" celetuk Jun yang duduk di kursi depan. Ia dapat melihat raut gembira diwajah Haina dari spion tengah.
"Memangnya kenapa aku harus begitu?" sahut Haina.
"Bukankah Anda ingin mengambil hati tuan muda?"
"Aku tidak ingin..."
"Anda harus melakukannya, Nona. Anda harus melakukannya secepat mungkin. Anda harus bisa membuat tuan muda jatuh cinta sepenuhnya pada Anda!" ujar Jun berapi - api.
Haina mengerutkan keningnya tidak suka. "Kenapa dengan orang ini?" batinnya. Ia merasa semakin tidak suka saja pada pria muda itu.
"Begini, maksud saya begini. Anda kan sudah terikat perjanjian itu, bahwa Anda akan dengan setia mencintai tuan muda dan tidak akan pernah pergi darinya. Jadi...."
"Kenapa kau membahas itu? Bukankah itu harusnya menjadi rahasia?" ujar Haina sambil melirik Dika yang tetap fokus dengan kemudinya.
"Tidak perlu khawatir, Nona. Dika adalah orang pilihan saya. Dia sangat bisa diandalkan untuk menjaga rahasia..."
"Jangan bicara padaku!" sergah Haina membungkam mulut Jun yang sudah gatal ingin terus berbicara.
Jadilah mereka bertiga hanya diam saja sepanjang perjalanan pulang. Haina hanya ingin terus menikmati hari ini, hari yang menyenangkan baginya. Tapi keberadaan Nyonya Anggita di ruang tamu dengan tatapan tak sengit membuat hari indah Haina harus berakhir sore hari.
"Wah...wah, kemana saja kau ini? Pergi saja tidak minta izin" sindir Nyonya Anggita yang duduk di sofa ruang tamu sambil memainkan kuku bercat merahnya.
Haina menghentikan langkah di dekat sofa, lalu menatap bibi suaminya itu.
"Maaf, Tante. Soalnya saat aku mau pergi tadi Tante sedang tidur siang. Nenek juga sibu diruang bacanya dan tidak mau diganggu" ujar Haina.
"Aku bukannya peduli padamu ya. Tapi apa kau lupa? Harly tidak mau orang - orang tahu siapa istrinya. Bisa malu dia nanti!"
"Tapi suamiku sudah memberi izin, Tante. Aku ke kamar dulu, permisi" Haina bergerak meninggalkan ruang tamu demi menghindari ocehan tidak penting itu.
"Hei! Dasar gadis kampung, kembali kau. Aku belum selesai bicara padamu!" umpat Nyonya Anggita. Tapi Haina sudah hilang dibalik dinding yang memisahkan ruang tamu dan area dalam rumah. Ia hendak mengejar Haina dan mengomeli gadis itu lagi. Adalah tugasnya untuk membuat Haina tidak betah tinggal dirumah ini. Setiap hari ada saja yang dipermasalahkannya. Meskipun kedua pengawal Haina selalu mencegahnya untuk mendekat, tetapi ia selalu memanfaatkan setiap kesempatan yanh ada untuk mengusik Haina.
Jun yang menyaksikan hal itu segera mencegat janda paruh baya itu. Ia berdiri tepat di depannya.
"Sialan! Jangan ikut campur bodoh!" hardik Nyonya Anggita.
"Tolong jaga tingkah laku Anda, Nyonya. Jangan sampai tuan muda mendengar ini dan membuatnya marah" saran Jun.
"Haha...kau pikir aku takut padanya?"
"Terserah Anda jika ingin terus mengganngu Nona Haina, maka jangan menyesal kalau tuan muda membatalkan hadiahnya untuk kedua adik sepupunya"
"Hadiah?" ulang Nyonya Anggita.
__ADS_1
"Benar! Tuan muda berencana menghadihakan masing - masing satu persen saham di perusahaan induk saat kelulusan Nona Agatha dan Tuan Andrew nanti, tapi..."
Mata Nyonya Anggita membola dan berbinar, bibirnya tersenyum lebar menampkan deretan giginya. Kedua tangannya ditautkan di depan dada. Sungguh kabar yang sangat gembira baginya. Saham perusahaan induk sangatlah berharga dibanding saham lain yang dijanjikan ibunya sendiri.
"Tuan muda mungkin akan berubah pikiran melihat sikap Anda pada Nona" sambung Jun dengan raut wajah sedih yang dibuat - buat.
Seketika bianar bahagia di wajah Nyonya Anggita pudar. Ingatan tentang ia yang sering mengomel dan menyindir Haina berputar diotaknya. Ia menggelengkan kepalanya cepat. Tidak, itu tidak boleh terjadi. Dulu akibat ia yang tak mau menurut pada sang ayah untuk terjun mengurusi bisnis keluarga, ia malah asyik berkeliling manca negara dan berfoya - foya. Sampai ia menikah dengan seorang seniman asal Kanada dan mengancurkan hidupnya sendiri, mencicipi barang haram dan tertangkap polisi. Sang ayah kecewa dan tak mewariskan saham perusahaan sedikitpun untuknya. Kini kesempatan ada didepan mata. Bukankah memasukkan kedua anaknya sebagai eksekutif di perusahaan induk adalah impiannya sejak dulu?
"Aku berjanji akan memperlakukan Haina dengan baik. Kau jangan khawatir, aku akan menjaganya dari Ibu." ujar Nyonya Anggita bersemangat.
"Benarkah saya bisa memegang kata - kata Anda, Nyonya?" selidik Jun.
"Tentu saja" jawab Nyonya Anggita mantap.
"Baiklah kalau begitu, Pak Sun akan mengawasi Anda" ujar Jun dengan senyum diplomatis diwajahnya.
Nyonya Anggita menganggukkan kepalanya cepat. Tentu, ia tidak akan membuang kesempatan. Jika nanti kedua anaknya sudah mendapat saham perusahaan induk, ia akan membujuk kakak dan keponakannya agar berjanji memberi jabatan eksekutif untuk kedua anaknnya.
"Kalau begitu saya permisi, Pak Sun akan segera kembali dari urusannya di luar. Kedua pengawal Nona sedang dinas luar..."
"Aku tahu...aku tahu. Haina akan baik - baik saja, kau percayalah. Aku akan mengamatinya dari jauh" ujar Nyonya Anggita dengan senyum lebar.
Jun mengangguk mengerti, ia menundukkan kepala dan beranjak pergi dari hadapan Nyonya Anggita.
"Tunggu!"
Tiba - tiba Nyonya Anggita mengejar Jun dan menghentikan langkahnya. Ia mendekat dan berbisik di telinga Jun.
"Ibuku mulai menjalankan rencananya. Dia akan mengganti CEO HB Humanity dengan seseorang dari luar negeri" bisiknya ditelinga Jun.
Jun melirik Nyonya Anggita, mencari kejujuran dari ucapan wanita itu di matanya.
"Perempuan itu!" potong Nyonya Anggita cepat.
Jun terdiam sesaat. Mendapati informasi yang benar - benar tak ia inginkan. Mendengarnya saja sudah membuatnya jengah.
"Baiklah, saya permisi" pamit Jun lalu benar - benar menghilang di balik pintu.
*
Haina keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri. Ia segera berpakaian dan menyiapkan pakaian ganti milik suaminya.
"Sudah sesore ini kenapa Jun belum mengabari kapan tuan muda akan pulang?" gumam Haina. Biasanya Jun akan mengirim pesan bahwa Tuan Muda Harly sudah dalam perjalanan pulang, maka Haina akan segera turun dan menyambutnya di teras depan berasama Pak Sun.
Matahari sudah benar - benar terbenam sekarang. Tapi Haina tak juga mendapati satupun pesan masuk di ponselnya. Ia juga tak ingin menelepon, rasanya ia masih canggung kalau harus mencari - cari keberadaan suaminya lebih dulu.
Tok...tok...tok!
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Haina. Seseorang membuka pintu kamar. Haina segera bangun dari duduknya.
"Jangan - jangan itu dia"
Haina tersenyum senang dan berdiri dengan anggun. Seseorang muncul dari balik pintu.
"Nona, Tuan Muda berpesan agar Anda segera makan malam dan tidak usah menunggunya." ujar Pak Sun yang muncul dibalik pintu bersama Vivi dan Rani yang membawa makanan di nampan lebar.
Seketika Haina berhenti tersenyum lalu mempersilahkan Pak Sun beserta Vivi dan Rani masuk. Ia hanya mengamati saja dua pelayan yang sedang menata makanan di atas meja kaca. Serta Pak Sun yang menuangkan air dari sebuah teko kaca, lalu meletakkan teko kaca itu disamping piring kosong.
__ADS_1
Rasanya ia ingin bertanya pada Pak Sun, kapan suaminya akan pulang. Tapi ia enggan dan hanya bungkam menyaksikan Pak Sun dan dua pelayan lain pamit dari kamar itu.
"Selamat menikmati makan malam Anda, Nona" ujar Pak Sun sebelum benar - benar hilang di balik pintu.
Haina menghelas napas panjang menatap hidangan diatas meja. Ranya ia tak berselera.
Tiba - tiba ponselnya berbunyi, Haina segera mengambilnya dari atas nakas dan melihat nama dilayar. Ia menggeser tombol hijau.
"Halo?" ujarnya.
"Kakak sedang apa?" tanya Hagi, adik Haina.
"Tidak ada, sedang menunggu teleponmu saja" ucap Haina lalu mendudukkan diri di sofa.
"Wah, ternyata setelah menikah dengan tuan muda kaya kakakku benar - benar jadi kurang kerjaan ya"
Haina tersenyum kecut mendengarnya.
"Tentu saja, kakakmu disini tinggal makan saja" celetuk Haina menanggapi keisengan adiknya diujung telepon.
"Cih! Pamer"
"Hahaha... Cepat katakan ada apa? Tidak biasanya kamu menelepon kakak malam - malam.
"Hmm, cuma ingin bilang. Besok aku akan pulang ke desa. Sebenarnya ingin mengajak kakak pulang bersama. Apa bisa?" tanya Hagi.
"Hmm, sepertinya kakak belum bisa dulu kalau besok" ujar Haina lesu.
"Kenapa? Apa suami kakak tidak akan mengizinkan?" tebak Hagi.
Haina diam sejenak. Ia bahkan belum bertemu suaminya seharian ini. Mau bicara dan minta pulang ke desa tentu harus menunggu waktu yang pas.
"Apa suami kakak baik pada kakak?" tanya Hagi kemudian karena tidak mendapat jawaban.
"Tentu dia baik" sahut Haina cepat.
"Kakak bahagia?" tanya Hagi lagi.
"Iya tentu saja" sahut Haina cepat.
"Ya sudah kalau begitu. Kalau kakak tidak mengabari sampai besok pagi berarti kakak tidak bisa ya?"
"Hmm...sepertinya begitu" sahut Haina ragu. Sebenarnya ia sangat ingin pulang ke desa. Ia sudah rindu orang tuanya.
"Baiklah, kututup teleponnya"
"Hmm...ya. Kakak akan makan malam. Kamu jangan lupa makan Gi"
"Ya...penggemar makanan seperti aku mana mungkin lupa makan"
Keduanya tergelak lalu saling memberi ucapan selamat malam dan menutup sambungan telepon.
Seketika suasana kamar besar itu terasa sangat sepi. Haina merasa sedikit kesepian dan satu pertanyaan Hagi tadi kembali melintas dibenaknya. Apa ia bahagia?
"*Bukankah terlalu cepat untuk menilai kalau aku bahagia atau tidak sekarang?"
*
__ADS_1
tbc*.