Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
Istri Rahasia


__ADS_3

Kantor pusat Benjamin Corp. menjulang tinggi dihuni ratusan karyawan dengan kinerja terbaik. Begitu sibuk dengan aktifitas kantor yang padat di jam kerja.


Disanalah Haina kini, lebih tepatnya di lobi kantor. Ia duduk di sebuah sofa dekat tanaman hias.


Mata Haina menatap kagum ke segala arah. Ini kali pertamanya masuk ke sebuah gedung kantor perusahaan besar. Lobi itu sangatlah luas, bagian depan tersedia sofa - sofa besar yang sangat empuk beserta meja kaca yang terlihat mewah. Banyak orang duduk disofa itu, ada yang sedang berdiskusi ada juga yang sendirian seperti dirinya.


Dua sisi dinding lobi yang menghadap ke jalan raya terbuat dari kaca besar yang semakin menambah kemewahan saat mata memandang. Di beberapa titik terdapat tanaman hias yang menjulang cukup tinggi dalam pot - pot besar. Benar - benar sangat indah dimata Haina.


"Ini seperti gedung perusahaan yang kulihat di drama - drama itu" ujar Haina dengan mata berbinar.


Haina melihat lagi sekelilingnya mencoba mencari keberadaan orang yang ditunggunya. Ya, Haina datang ke kantor suaminya karena suatu alasan.


Ponsel ditangannya tiba - tiba bergetar, lalu menampilkan satu notifikasi dipojok atas layar menandakan sebuah pesan baru saja masuk. Cepat Haina membuka pesan itu lalu membacanya.


^^^Tuan Muda Arogan^^^


^^^Aku sudah mengabulkan permohonanmu. Jangan banyak tingkah dan jadilah istri yang patuh!^^^


Begitulah isi pesan itu, pesan pertama dari suaminya. Haina mematikan layar ponselnya kemudian menyimpannya di tas jinjing yang dibawanya.


"Cih! Banyak tingkah apanya. Aku bahkan sudah terkurung dirumah selama dua minggu" gumam Haina sedikit kesal. Apalagi orang yang ditunggunya juga tak kunjung tiba.


Pagi tadi Haina dikejutkan oleh Pak Sun yang mengatakan bahwa Tuan Muda Harly mengizinkannya mengikuti kursus. Tentu saja ia sangat bahagia dibuatnya. Kabar yang sangat ditunggunya sejak bangun pagi tadi.


Tuan Muda Harly bahkan tak bicara apapun padanya sejak bangun tidur hingga berangkat ke kantor. Haina juga enggan untuk mengajaknya bicara lagi sejak ciuman semalam. Ia bahkan tak berani menatap langsung mata suaminya.


Mata Haina menangkap sosok pria tampan yang berjalan cepat ke arahnya dari kejauhan. Itu Jun, ia tampak melewati meja resepsionis lalu melewati standing barrier yang memisahkan ruang tunggu lobi dan area dalam lobi yang dijaga dua orang petugas keamanan.


"Maaf membuat Anda menunggu, Nona" ujar Jun yang sudah berdiri di hadapan Haina.


"Hmm...tidak apa" ujar Haina tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Apa Anda mencari Tuan Muda? Maaf mengecewakan Anda, Nona. Tapi sayalah yang akan menemani Anda ke tempat kursus" ujar Jun dengan senyum jahil.


Haina mendelik malas menanggapi tebakan Jun yang memang benar adanya. Entah mengapa ia sedikit kecewa tak mendapati suaminya saat ini.


"Saat ini Tuan Muda Harly sedang sangat sibuk, Nona. Ada tamu dari luar negri" jelas Jun lagi.


"Aku tidak mencarinya!" seru Haina berbohong.


"Haha...wajah Anda terlihat imut saat berbohong"


"Cih!" Haina memalingkan wajah ke sembarang arah. Tiba - tiba Haina menangkap basah seseorang yang sedang memandanginya dari kejauhan.


Seketika Haina bangkit dari duduknya dan berlari ke arah orang itu.


"Haina...Haina...Haina!" seru seorang gadis berpakaian kantor yang modis.


"Kak Ruhi!" Haina menghambur kepelukan gadis yang sudah merentangkan tangan menyambutnya.


Mereka berdua berpelukan sambil melompat - lompat kecil. Saling tertawa dan merengkuh satu sama lain, mengabaikan tatapan orang - orang yang melihat.


"Emh, aku ada perlu disekitar sini" ujar Haina kikuk melirik ke sembarang arah.


Ruhika memasang wajah penuh kecurigaan dan mendekatkan mulutnya pada daun telinga Haina. Membisikkan sesuatu yang sukses membuat mata Haina membola.


Haina tertawa mendengarnya lalu menjauhkan diri dari Ruhika yang sigap menangkapnya. Keduanya tertawa lagi, kali ini lebih pelan. Mereka sudah sadar bahwa ada banyak orang sibuk disana. Termasuk Jun yang masih berusaha bersabar menunggu nona mudanya. Ia masih betah berdiri dekat tanaman hias , matanya cermat mengamati setiap pergerakan sepasang gadis yang terlihat sangat akrab.


"Aku sudah harus pergi, Kak. Ayo kita bertemu lain waktu" ujar Haina dengan mimik sedih yang didramatisir.


"Sayang sekali. Maaf ya, beberapa bulan ini aku sangat sibuk jadi tidak bisa mengabarimu lebih awal" ujar Ruhika dengan raut wajah dibuat lebih sedih.


"Tidak masalah, Kak. Aku pergi dulu, ya"

__ADS_1


"Baiklah. Tapi janji lain kali ceritakan padaku, kenapa kamu bisa ada disini...dengan pakaian bagus dan hand bag mahal ini!" ujar Ruhika dengan satu alis terangkat menampilkan wajah penuh selidik.


Seketika Haina salah tingkah dan memperhatikan penampilannya sendiri dari pantulan bayangannya di dikaca besar yang berada tak jauh dari sana. Ia sendiri juga tak habis pikir, kenapa ia bisa lupa dan nyaman sekali memakai pakaian bagus dan tas mahal yang baru pertama dipakainya seumur hidup.


"Ini dikasih pinjam sama teman, Kak. Aku menginap dirumah teman di sekitaran sini" ujar Haina beralasan.


"Baiklah baik, aku percaya saja apa katamu. Pergi sana, aku juga harus kembali bekerja"


Haina tersenyum menampakkan deretan gigi putihnya, lalu melambaikan tangan pada Ruhika yang terlihat tidak rela dengan perpisahan mereka. Tapi kemudian mereka berjalan saling menjauh, Haina kembali ke tempat dimana Jun menunggunya dan Ruhika segera menghilang dibalik kerumunan para karyawan yang sedang menunggu lift.


"Bisa kita segera pergi?" tanya Haina sesampainya ia dihadapan Jun.


"Tentu, saya juga menunggu Anda sedari tadi" sahut Jun kemudian.


Keduanya berlalu menuju mobil yang sudah terpakir tepat di pintu lobi. Dika keluar dan segera membukakan pintu untuk Haina. Sedangkan Jun sudah mendaratkan tubuhnya di kursi depan sebelah pengemudi. Kemudian mobil segera melaju meninggalkan gedung Benjamin Corp.


"Dimana kedua pengawal itu, Dika?" tanya Haina pada Dika yang fokus menyetir.


"Mereka sedang melakukan tugas lainnya, Nona. Anda bisa merasa aman selama bersama saya" Jun yang menyahut.


Haina diam saja. Toh tak ada gunanya juga para pengawal itu ikut, ia malah merasa kasihan pada kedua pengawal itu apabila terus mengekorinya kemanapun. Pasti sangat membosankan pikirnya.


"Saya tidak tahu Anda memiliki teman yang bekerja di Benjamin Foods, Nona" ujar Jun lagi.


"Apa kalian semua harus tahu tentang apa saja?" sindir Haina.


"Maksud saya Anda harus berhati - hati mulai sekarang. Teman Anda bekerja di gedung sama dengan tuan muda, meskipun dia hanya akan menginjakkan kaki diantara lantai tiga sampai lantai dua belas" ujar Jun lagi.


Haina menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Lagi - lagi ia diingatkan tentang statusnya yang harus dirahasiakan.


"Kau tenang saja. Aku tidak punya alasan lain untuk datang ke gedung itu lagi" sahut Haina kemudian.

__ADS_1


Tiba - tiba saja hatinya merasa sedikit kesal. Bukan karena Jun yang mengingatkannya, tapi karena takdir yang harus ia jalani. Seumur hidupnya Haina tidak pernah mengeluh tentang apa pun. Ia gadis yang selalu punya kekuatan untuk terus maju menggapai impiannya, meski banyak halangan menghadang. Tapi ia punya semangat yang tak gampang padamkan, keluarga yang begitu ia cintai.


Tapi setelah bertemu Ruhika tadi Haina menyadari sesuatu, bahwa ia sudah bukan Haina yang dulu lagi. Bukan karena jati dirinya yang berubah, ia masih tetap Haina si gadis desa. Tapi karena ia sekarang adalah istri Tuan Muda Harly, seorang istri yang harus terus bersembunyi.


__ADS_2