
Sekembalinya dari luar negri Tuan Muda Harly memutuskan untuk beristirahat di rumah besar karena lebih dekat dari bandara. Dengan diantar oleh Ren ia tiba dirumah besar itu dan langsung merebahkan diri di ranjang empuknya. Sungguh sangat melelahkan, perjalanan sehari semalam yang membuatnya kurang tidur.
Ia sudah tidur selama beberapa jam sebelum akhirnya Pak Sun datang dan membangunkannya sesuai pesannya tadi pagi.
Pak Sun datang dengan membawakan makan siang. Jadi ia menikmati makan siang di kamarnya.
"Sejak kapan Jiana tinggal disini?" tanyanya pada Pak Sun yang sedang menuangkan minuman.
"Sehari sejak Tuan dan Nona pindah ke apartemen. Nyonya besar yang mengizinkannya sampai apartemen barunya siap ditempati"
Tuan Muda Harly mengakiri makan siangnya dan mulai melahap potongan buah segar sebagai pencuci mulut.
"Nenek sungguh bertekad. Bahkan dia rela memasukkan orang yang dibencinya kerumah ini demi mengusikku" gumamnya disela kunyahan.
Pak Sun tersenyum simpul. Sebagai pegawai yang sudah mengabdi sejak usia muda ia dekat dengan tuan mudanya itu dan tahu banyak hal tentang kehidupan tuan mudanya.
"Saya dengar Nona Jiana akan mengambil tanggung jawab mengelola HB Humanity. Dia bilang pelantikan akan dilaksanakan bertepatan dengan hari jadi HB Humanity Sabtu mendatang. Dia bahkan mengirim undangan pada Nona" lapor Pak Sun.
Tuan Muda Harly tersenyum smirk lalu melahap potongan terakhir buah dengan garpu. "Dia akan memulai pertunjukkannya" katanya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Usai mengecek beberapa email masuk ia pergi ke ruang kerjanya. Ia akan meneruskan pekerjaan di rumah saja untuk hari ini.
"Harly akhirnya kau datang" seru Jiana yang entah sejak kapan ada diruangan itu. Ia berlari memeluk Tuan Muda Harly.
"Aku pikir kau akan pulang ke apartemenmu. Aku senang kau disini sekarang" katanya lagi sambil menuntun Tuan Muda Harly duduk di sofa panjang tengah ruangan.
"Kenapa kau disini? Aku harus memeriksa beberapa laporan" kata Tuan Muda Harly. Ia akan berdiri untuk pergi ke meja kerjanya.
Jiana menahannya dengan menarik lengan lelaki itu.
"Sebentar saja. Aku benar - benar merindukanmu sampai tidak bisa tidur semalam" Ia merebahkan diri disofa dengan kepalanya beralaskan paha Tuan Muda Harly.
"Kau tahu. Aku terharu dengan semua hadiah dan perhatianmu saat aku di luar negri. Kau memang tidak bisa mengunjungiku begitupun aku. Tapi itu membuatku semakin ingin bersamamu" wanita itu bercerita.
Tuan Muda Harly menyimak dan membiarkan Jiana tidur dipangkuannya. Ia terlarut dalam ingatan lima tahun terakhir saat wanita itu meninggalkannya.
"Dulu memang aku merindukanmu..." katanya.
Jiana tersenyum hangat. Perlahan ia meraih tangan lelaki itu dan meletakkan di kepalanya.
"Dulu kau sering mengelus rambutku saat aku sulit tidur. Aku benar - benar mengantuk sekarang tapi aku merindukan masa - masa itu. Bisakah kau melakukannya?" pinta Jiana dengan senyum manis diwajahnya. Ia berbaring dengan posisi terlentang.
Perlahan tangan Tuan Muda Harly membelai rambut indah wanita itu. Belaian lembut penuh sayang. Jiana terhanyut dengan suasana yang ia rindukan itu. Perlahan satu tangannya terulur membelai rahang kokoh Tuan Muda Harly.
Sementara itu dari celah pintu yang tak tertutup rapat sepasang mata indah gadis cantik menatap dengan mata berair. Menyaksikan syahdunya adegan sepasang kekasih tak halal yang saling belai mesra.
__ADS_1
Dadanya terasa sesak, perlahan cairan bening membasahi pipinya. Tapi cepat ia seka sebelum ada yang melihat. Ia harus pergi. Mana mungkin ia tahan berada disana lebih lama. Haina berbalik dan menemukan Ren yang berdiri selangkah di depannya.
"Anda disini?" sapa lelaki itu. Wajahnya datar tanpa ekspresi.
Haina tak merespon dan memutuskan segera hengkang. Menuruni anak tangga ia berpapasan dengan Jun.
"Kapan Anda datang Nona?" tanya Jun basa - basi. Wajahnya terlihat panik, meski ditutupi senyum ramah.
Haina diam saja. Tapi Jun mengejarnya hingga ke teras.
"Stefi! Bella!" seru Haina.
"Mereka sedang makan siang Nona. Saya menyuruhnya barusan" kata Jun.
Haina tidak peduli. Ia berjalan cepat meninggalkan teras dna menyusuri jalan menuju gerbang.
"Nona! Tunggu... biar Stefi dan Bella mengantar Anda" seru Jun.
Tapi Haina tetap berjalan. Ia terus melangkahkan kaki menyusuri jalan aspal menuju gerbang di depan sana. Tapi gerbang yang dituju masih jauh dan belum tampak sama sekali padahal sudah cukup lama ia berjalan.
"Nona!" Rupanya Jun menyusul dengan
mobil. Tapi itu mobil Tuan Muda Harly,
Haina mengenali mobil itu. Jun menepikan mobil membuat Haina terpaksa berhenti dan memutari mobil itu untuk menjauh. Jun mengejarnya.
"Abaikan saja aku! Kenapa kau sok peduli!" teriak Haina tak kalah frustasi.
Ia menatap sengit lelaki muda itu. Tangannya mengepal tapi ia berusaha tenang.
"Aku ingin sendiri" katanya pelan.
Jun membuka pintu mobil.
"Kalau begitu ayo naik Nona. Saya akan mengantarkan Anda"
"Apa kau tuli? Aku ingin sendiri. Artinya aku tidak mau ikut kau!"
"Gerbang di depan sana masih jauh Nona. Sekitar delapan ratus meter lagi, Anda kuat berjalan dibawah terik matahari ini?"
Wajah Haina seketika jadi masam, bertambah masam saat ia terpaksa naik ke mobil itu. Rasanya ia kesal melihat mobil itu, padahal sebenarnya si pemilik lah yang ia hindari.
"Itu tidak seperti yang Anda lihat, Nona" ucap Jun tak mau buang waktu.
"Memangnya apa yang kulihat?" kata Haina ketus.
__ADS_1
"Rupanya kau sudah tahu mereka berduaan disana. Lalu apa perlunya menyusulku? Aku sudah hapal di kuar kepala isi perjanjian yang aku tanda tangani. Aku tidak berhak ikut capur" gadis itu berkata sambil membuang pandangan ke jendela mobil yang terus melaju.
Jun menghela napas berat. Rupanya nonanya itu kecewa dan mungkin terluka hatinya.
"Maafkan saya Nona" sesal Jun.
"Kenapa kau yang minta maaf padaku? Kenapa juga kau yang mengejar aku kesini? Kenapa selalu kau?" akhirnya Haina mengeluarkan uneg -uneg di kepalanya.
"Harusnya suamiku kan?" batinnya kesal.
"Saya senang anda marah Nona. Artinya Anda cemburu?"
Haina terperangah mendengar kalimat itu. Bisa - bisanya Jun berkata begitu.
"Tidak!" sanggahnya cepat.
"Anda cemburu, Nona. Anda jatuh cinta pada tuan muda!" dengan penuh penekanan Jun mendikte Haina yang menatapnya tak percaya.
"Jangan sok tahu!" bantah Haina lagi. Tidak ada seorangpun boleh tahu tentang perasaannya.
"Saya tidak sok tahu. Hanya saja terlihat dari sikap Anda saat ini" kekeh dengan argumennya.
"Aku marah bukan berarti cemburu atau cinta. Istri mana yang senang melihat suaminya selingkuh?" akhirnya Haina mengeluarkan kata itu juga.
'Selingkuh'! Ia sungguh tidak ingin hal itu terjadi. Tapi apa yang dilihatnya tadi di ruang kerja suaminya? Apa itu namanya kalau bukan selingkuh?
Jun menggaruk kepalanya dengan tangan kiri. Ia masih harus fokus dengan setir. "Hmmm... saya tidak yakin. Tapi mungkin ada. Hehe...."
" Kau ini! Aku tarik kata - kataku kemarin, aku benci kau!" Haina berpangku tangan menegaskan keseriusannya.
"Saya rela dibenci. Yang penting Anda sudah mencintai tuan muda" kata Jun enteng.
Haina melihat Jun yang tersenyum dari spion tengah sesaat setelah menyelesaikan kalimatnya.
"Karena itulah yang diinginkan tuan muda. Anda mencintainya dengan sangat. Sejak dulu tuam muda tidak pernah beruntung dengan wanita" Jun berbicara dengan raut wajah sendu.
"Yang benar saja? Kalau itu yang diinginkannya mengapa dia tak pulang selama seminggu? Malah berduaan dengan mantan kekasihnya disiang bolong..." Haina keceplosan juga akhirnya. Bisa jadi selama itu suaminya tidak bekerja dan malah asyik bermesraan dengan selingkuhannya?
"Saya sudah bilang, tidak seperti yang Anda pikirkan. Beberapa hari sebelumnya tuan muda menginap di hotel sedangkan Jiana di rumah besar dan hari ini tuan muda baru kembali dari perjalanan jauh sejak kemarin, tuan muda ke rumah besar karena lebih dekat dengan kantor dan bandara" jelas Jun panjang lebar.
"Huh! jadi karena perempuan itu tinggal dirumah jadi aku diusir ke apartemen begitu?"
"Tidak begitu, Nona. Tuan muda hanya ingin merasa nyaman" bela Jun lagi.
"Cih! Nyaman apanya? Nyaman berselingkuh tanpa ada aku yang akan membuatnya terganggu?" sarkas Haina semakin curiga.
__ADS_1
Aduh! Jun pusing menghadapi wanita yang sedang cemburu. Apalagi istri tuan mudanya.