Dinikahi Tuan Muda Arogan

Dinikahi Tuan Muda Arogan
DOR!


__ADS_3

Dua pengawal tumbang bersamaan. Mereka babak belur dan berdarah dimana - mana. Salah satunya bahkan mengelurkan darah di perut. Sabetan pisau mengenainya sampai merobek cukup dalam. Keduanya telah berusaha menghentikan aksi penculikan atas nona muda mereka. Namun sayang mereka kalah jumlah, belum lagi penculik menggunakan senjata seperti pisau dan tongkat baseball.


Steffi berlarian mengejar mobil van yang membawa Haina. Sekuat tenaga ia berlari. Tapi apalah daya sepasang kaki manusia tidak akan mampu mengejar laju roda yang dipacu cepat. Steffi terjerembab dengan napas tersengal di gate basement.


"Jangan sampai kehilangan mereka, Bella!" serunya seraya membenarkan earpiece ditelinga. Alat komunikasi itu pasti akan menyampaikan suaranya pada Bella.


Tapi Bella tidak menjawab.


"Bella! Bella! Jawab aku Bell!"


Steffi bangkit dan segera menelpon ambulance untuk dua pengawal yang kesakitan jauh dibelakangnya.


Bella tidak punya pilihan lain sekarang selain melaporkannya langsung pada Tuan Muda Harly. Sebelum terlambat atau tuan muda itu akan murka.


"Tuan muda. Maafkan kami, Nona diculik. Saat ini kejadian baru berlangsung lima menit. Bella mengejar, tapi saya tidak bisa menghubunginya saat ini" terang Steffi saat panggilan tersambung.


Kantor pusat Benjamin Corp.


Tuan Muda Harly berteriak kecang diruangannya. Tanpa membuang waktu ia melangkahkan kaki lebar - lebar. Sesal selalu datang kemudian. Ia menyesal tidak memperketat keamanan di apartemen dengan hanya menempatkan dua pengawal di unit dan dua lainnya di lantai dasar. Ia lengah lantaran sudah beberapa hari ini teror di Restoramie tidak lagi terjadi. Ia pikir keadaan cukup aman. Tapi siapa sangka, serangan mendadak seperti hari ini malah gagal membuat Haina tetap aman.


Jun berlarian mengikuti Tuan Muda Harly yang sudah diambang lift.


"Tuan! Detektif Toha melapor!" Jun menyetel mode speaker pada ponselnya.


"Halo, Tuan? Ini penemuan terbaru. Dalang dibalik teror sudah kami temukan. Polisi sedang menuju kesana untuk melakukan penangkapan. Namanya Tamara, pelaku adalah wakil direktur perusahaan perkebunan yang dinyatakan pailit beberapa waktu lalu, PT. Palma Jaya."


Tuan Muda Harly menyugar rambut dengan kasar. Sudah ia duga, Tamara dalang dibalik teror itu. Tapi sekali lagi sesalnya tak akan berguna saat ini. Lagi pula sebelumnya tak satupun bukti mengarah pada wanita itu.


"Pastikan dia tidak bisa melarikan diri!" titahnya.


Jika Tamara adalah dalangnya. Maka besar kemungkinan aksi penculikan kali ini juga didalangi wanita gila itu. Ia harus cepat menemukan Haina sebelum terlambat.


Dengan mobil Bentley flying spur hybrid miliknya Tuan Muda Harly membelah jalanan seorang diri. Sementara Jun akan mengomando semua orang mereka untuk memulai pencarian. Jun juga akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian kemudian ia akan segera menyusul Tuan Muda Harly.


Dengan pikiran kacau balau dan hati yang resah, gundah gulana lelaki bersetelan dark navy itu terus melaju tak tentu arah. Berdasar informasi dari Steffi, mobil van yang membawa Haina meluncur ke arah jalan protokol yang menuju pinggiran kota. Oleh karena itu ia memutar kemudi ke kanan dan terus melaju membelah jalanan.


Meski pikirannya sangat kalut ia masih bisa fokus menyalip kesana kemari, mendahului pengguna jalan didepannya. Ia tak peduli pada suara klakson dari kendaraan yang ia salip secara sembrono. Ia hanya harus melaju secepat mungkin sekarang. Berharap menemukan mobil van yang nomor platnya sudah ia kantongi.


"DX.67890.QQ" ia terus menggumamkan nomor plat mobil van para penculik itu.


"Bertahanlah sayang! Aku akan segera menemukanmu"


.


Bella sang pengawal wanita yang lihai dan cerdas. Saat mereka dialihdayakan menjadi pemburu tikus ia sudah curiga. Mana mungkin di apartemen mewah nan sangat terjaga kebersihannya itu ada tikus, pikirnya. Tapi ia bisa apa selain menuruti perintah sang nona muda. Toh melindungi Haina dari tikus bahkan kecoa sekalipun adalah tanggung jawabnya bersama Steffi.


Namun ternyata firasatnya tidak salah. Setelah lima menit menyusuri seisi kamar dan menajamkan penglihatan ke setiap sudut dan sela kamar bersama Steffi, Ita dan Lili hasilnya nihil. Tidak ada tikus. Mereka dikelabui dengan mudahnya. Nona muda Benjamin yang harus mereka jaga dengan nyawa sudah menghilang tanpa membawa ponselnya.


Mereka berlarian di lorong apartemen. Berpencar adalah ide bagus. Jadi Steffi menyisir basement sementara ia akan memeriksa lobby. Benar saja, dua pengawal pria yang siaga disana tidak ada ditempat. Sesuatu telah terjadi. Menunggu pihak manajemen apartemen memberi laporan dari hasil pengamatan cctv akan memakan waktu lama.


Malalui earpiece ia mendengar salah satu pengawal memberi informasi. Nona muda mereka diculik. Bella segera berlari ke teras lobby. Menemukan sebuah taksi yanga baru saja menurunkan penumpang dan membantu menurunkan koper.

__ADS_1


Sebuah mobil van terlihat baru saja melintas dari basement gate. Celaka! Bella tak punya banyak waktu.


Tanpa pikir panjang Bella memasuki taksi dan melajukan mobil transportasi milik sebuah perusahaan taksi besar di kota. Tanpa mempedulikan teriakan si supir taksi Bella terus mengendarai taksi itu mengejar mobil van yang membawa nonanya.


Lima belas menit berlalu. Bella masih fokus membelah jalanan dengan mata elangnya mengunci target. Sebuah mobil van dengan plat bermonor DX.6789.QQ.


Sialnya ia menjatuhkan earpiecenya entah dimana saat di lobby. Begitupun ponsel tak ada disakunya. Ah! Tuan Muda Harly pasti akan menghukumnya setelah ini. Ia sama sekali tak bisa menghubungi siapa pun saat ini.


Kendaraan didepannya tiba - tiba melambat ketika mendekati bibir terowongan. Bella tak menyia - nyiakan kesempatan itu untuk bergerak maju, lebih dekat pada target. Benar saja, tiga puluh meter didepan sana Bella dapat mengenali target.


Tak terlalu banyak kendaraan disana. Hanya saja sepertinya ada sesuatu didepan sana, sehingga semua kendaraan melambatkan laju mobil mereka. Sampai titik tertentu, tepat di bibir terowongan Bella menghentikan taksi yang dikendarainya. Mencari tahu ada apa didepan sana sekaligus memastikan target tak lolos dari pantauannya.


Rupanya ada kecelakaan didepan sana. Sedang dievakuasi oleh pengguna jalan lain.


Sirine polisi terdengar mengaung dari arah belakang. Bella memerhatikan dari kaca spion, dua mobil berhenti beberapa meter dibelakangnya.


Tapi Bella tak punya waktu mencari tahu tujuan para polisi itu. Apakah mereka sedang berpatroli saja ataukah sedang ikut mengejar targetnya, mobil van yang menculik nona muda Benjamin.


Ah, sial! Mereka mengejarku karena taksi sialan ini.


Tok! Tok!


Kaca taksi itu diketuk dengan keras. Tiga orang polisi berdiri siaga dibalik pintu. Bella menghembuskan napas panjang. Kesal, ada saja pengganggu yang menghambat misinya. Bella terpaksa membuka kaca mobil taksi itu.


"Kami mendapat laporan adanya pencurian taksi dengan nomor seri yang sama dengan taksi yang Anda kendarai. Harap turun sekarang juga!" perintah polisi.


Bella membuka pintu dan menghempaskan dengan kasar. Hingga tiga polisi itu melongo. Bella tak punya waktu meladeni tiga polisi yang sedang mengejar pencuri taksi.


"Kalau begitu apa Anda sekalian tidak mendapat laporan penculikan? Saya sedang mengejar nona muda kami yang diculik. Minggir!" Bella merangsek diantara tiga polisi.


Bella bukan pengawal biasa. Ia prajurit terlatih sebelumnya. Kemampuan beladirinya tak perlu diragukan lagi. Tapi ia sungguh terdesak sekarang. Jadi Bella memilih mengeluarkan senjata dari balik jasnya. Menodong tiga polisi itu seketika.


"Saya memiliki lisensi! Cepat hubungi markas kalian dan konfirmasi kasus penculikan nona muda kami!" perintah Bella telak.


Tiga polisi itu siaga sambil memegang senjata di pinggang. Sedangkan salah satunya menghubungi pusat komandonya.


"Ah! Sial. Lama sekali!" Bella melangkah menjauh meninggalkan polisi itu. Berlarian diantara sela kendaraan yang merapat didepan sana.


"Nona!" teriakan Bella melengking mendapati Haina disana tersungkur di aspal sambil meringis memegangi bahunya.


Haina dapat bernapas lega saat samar - samar mengenali Bella yang berlari ke arahnya. Setidaknya ia tidak sendiri sekarang. Bahunya terasa sangat nyeri juga pipinya yang sempat ditinju penculik. Haina baru saja memanfaatkan momen evakuasi korban kecelakaan didepan sana yang membuat para penculik lengah. Saat mereka tak fokus pada dirinya yang tadinya pingsan, Haina meraih pisau dari pinggang pria bertato disebelahnya yang sedang memantau situasi dengan membuka pintu mobil disana.


Dengan satu gerakan cepat Haina menabrak si pria bertato dan sambil mengambil pisau lipat yang terselip asal dipinggangnya.


Sialnya Haina terjatuh usai mendapat pisau itu. Para penculik itu seketika turun dan mengepungnya. Tapi disana juga ada kerumunana orang yang sedang mengevakuasi korban kecelakaan. Para pengendara lain juga siaga didepan kemudi mereka. Haina tahu pergerakan para penculikan itu pasti terbatas sekarang.


"Tolong!" Seru Haina mencari atensi.


Bella sudah sampai disana. Segera menodong senjata pada barisan para penculik. Sementara polisi yang tadi mengejarnya juga sudah ada disana. ikut mengepung para penculik.


Haina semakin lega. Sekarang besar kemungkinan ia akan selamat. Tiga orang polisi bersenjata serta Bella dengan senjatanya juga. Ia akan selamat.

__ADS_1


Sialnya itu hanya harapan Haina saja. Satu orang polisi lengah dan tumbang karena hantaman keras dikepala. Seketika senjatanya direbut dan tembakan pertama meletus dikaki si polisi lainnya.


"Aaaaarkkkhhh!" jeritan Haina beriringan dengan para pengguna jalan lain yang seketika ketakutan setengah mati.


Sedetik kemudian Haina terperanjat saat tubuhnya diseret dari posisi duduk diaspal jadi berdiri dan lehernya dikunci oleh lengan berotot penculik bertato. Kepalanya ditodong senjata milik polisi yang tumbang. Haina gemetar dengan wajah pucat pasi. Kini ia berada dalam situasi hidup dan mati.


Ditatapnya Bella yang masih berdiri tegak dengan senjaga ditangan.


"Buang senjata kalian atau gadis ini kutembak!" seru penculik bertato. Empat orang kawanannya siaga dibarisan yang sama.


Situasi semakin kacau saat para pengguna jalan berhamburan meninggalkan lokasi. Jerit mereka semakin menambah panik para polisi yang mulai gentar.


Tapi Bella terlihat cukup tenang. Seakan memberi aba - aba, pengawal berdarah Italia itu mengedipkan mata tiga kali tanpa sedikitpun mengurangi siaganya.


Haina meringis merasakan moncong senjata menekan pelipisnya. Napasnya memburu seirama debaran jantungnya yang semakin menggila. Ia jelas ketakutan saat ini. Ia tidak dapat mengerti maksud isyarat Bella tapi ia terus bertahan dan berusaha fokus meski tungkainya semakin lemas tak bertenaga.


"Jatuhkan senjaga kalian bodoh!" ulangi penculik bertato.


Para polisi dan Bella menurut, menjatuhkan senjata mereka ke aspal perlahan.


Seringaian penculik bertato itu tertangkap diekor mata Haina. Ia benar - benar diambang maut sekarang. Haina memejamkan mata seiring deraian air matanya yang meleleh dipipi.


"Katakan apa mau kalian? Berapa pun nominal yang kalian inginkan akan kami siapkan!" seruan Bella membuat para penculik tampak tergiur.


Mereka jelas sangat tahu siapa yang mereka sandera saat ini. Istri tuan muda Harly Benjamin. Salah satu konglomerat negri ini. Tapi sesaat mereka teringat kesepakatan dengan penyewa jasa mereka. Saling pandang dan tersenyum licik.


"Ayo cepat sebutkan nominalnya! aku harus segera menyiapkan bukan?"


Para penculik mulai bisik - bisik. Tapi Haina dalam genggaman penculik bertato mulai lemah dan pusing, hampir saja ia pongsan lagi. Ia mencengkramkan kuku - kukunya pada telapak tangan sekuat tenaga. Rasa sakit ditelapak tangan setidaknya mampu membauatnya tetap terjaga.


Dor!


Dor!


Dor!


Tiga tembakan Bella tepat mengenai tiga penculik di bagian perut, lengan dan tungkai kaki. Sedangkan penculik bertato merapatkan moncong senjata ke pelipis Haina dengan membabi buta. Tatapan matanya yang kesana kemari jelas menyiratkan ketakutannya. Tiga rekannya telah tumbang sedang satunya lari terbirit - birit. Sekarang tinggal dirinya.


"Sialan kalian semua!"


"Aaaaarrgghhh!"


DOR!


DOR!


DOR!


"Bella....Bell"


"Nona...nona...nona"

__ADS_1


*


tbc.


__ADS_2